Tag: PKS

Benarkah Polling Fadli Zon di Twitter Cukup Mengharukan?

Benarkah Polling Fadli Zon di Twitter Cukup Mengharukan?

Adahati.com – Polling Fadli Zon di Twitter soal tingkat kesejahteraan masyarakat menyediakan tiga opsi pendapat, yaitu lebih sulit, lebih mudah dan ‘begitu-begitu saja’. Dari polling Fadli Zon tadi hasilnya sebanyak 66 % menjawab lebih susah, 20 % mengatakan lebih mudah, dan 14 % yang menjawab begitu-begitu saja.

Fadli Zon pun menilai orientasi pembangunan era Jokowi adalah infrastruktur yang mengambil porsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sangat besar tapi justru membuat hidup masyarakat kian sulit saja.

Mengetahui ada polling Fadli Zon dan hasilnya tadi, kemudian pernyataan hidup masyarakat semakin sulit saja saat ini, tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang terharu dan air matanya pun jatuh berlinang.

Semakin deras air mata itu jatuh berlinang apabila politikus Partai Gerindra lainnya pun mengikuti jejak Fadli Zon. Dengan demikian bukan hanya ada polling Fadli Zon saja, tapi cukup banyak polling-polling lainnya di Twitter.

Jika Fahri Hamzah pun mengadakan polling, dan diikuti oleh para politisi PKS kemungkinan besar rasa haru tadi semakin membahana, karena hasil pollingnya diperkirakan tidak jauh berbeda atau mendekati hasil polling Fadli Zon.

Terjadi banjir air mata karena banyak yang terharu dengan kehadiran polling-polling politikus di Twitter? Setelah itu akan ada lagi polling-polling berikutnya di Facebook, Google+, dan media sosial lainnya?

Memang tidak ada larangan bagi Fadli Zon mengadakan polling di Twitter, Facebook, Google+, atau media sosial lainnya. Juga tidak ada larangan bagi siapapun yang ingin terharu dengan adanya polling Fadli Zon tadi.

Namun di sisi lain tidak ada larangan juga bagi mereka yang ingin tertawa ngikik.

Sayangnya pernyataan fadli Zon bahwa hidup masyarakat kian sulit saja dibantah oleh Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira yang menurut pendapatnya ada kemajuan di bidang ekonomi berdasarkan hasil sejumlah lembaga survei dengan metode kuantitatif. “Dari aspek kestabilan (ekonomi) relatif stabil. Mulai nilai kurs, inflasi dan lainnya.” (merdeka.com, 20/10/17)

Mudah-mudahan akibat bantahan dari Andreas Hugo Pareira tadi akan lahir sebuah puisi dari seorang politikus dengan judul yang cukup mengharukan juga.

Misalnya judul puisi tersebut adalah “Hatiku Hancur Berkeping-keping, Malam Bagai Siang, dan Siang Bagai Malam”.

Mengapa ini harus terjadi
Di tengah kebahagiaan
Malam bagai siang
Siang bagai malam

Layu Sebelum Berkembang

*The Lohmenz Institute.


Anies “Kalah Selangkah”, Agus Mainkan Taktik yang Jitu?

Anies “Kalah Selangkah”, Agus Mainkan Taktik yang Jitu?

Adahati.com – Anies Baswedan baru saja dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, tapi sudah menuai kontroversi terkait frasa “pribumi”.

Sebagian pihak menyayangkan ucapan “pribumi” dalam pidatonya tadi, dan menganggapnya jauh panggang dari api dengan pernyataannya yang ingin menyatukan warga Jakarta yang terpecah belah akibat Pilkada DKI 2017.

Memang ada juga nada pembelaan dari sebagian pihak lainnya terkait ucapan “pribumi” dari gubernur baru tadi, antara lain mengatakan pengecam Anies adalah mereka atau pihak-pihak yang sampai saat ini belum bisa klakson.

(Sebenarnya “klakson” atau “move on”? Jangan-jangan remason).

Terlepas klakson, move on, atau remason, hal yang biasa terjadi saling kecam dan bela. Politikus PKS Hidayat Nur Wahid pun tak ketinggalan ikut membela Anies. Menurutnya Ketua Umum PDIP Megawati dan Presiden Jokowi pun pernah mengucapkan kata “pribumi”. Anies pun sempat terkesan ngeles dan mengatakan frasa “pribumi” tadi konteksnya penjajahan Belanda.

Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang teringat dengan pantun jenaka yang pernah populer beberapa tahun silam di mana kalimat pertama dari pantun jenaka tadi menyebutkan “jaka sembung bawa golok”.

Belanda, Megawati, Jokowi, lalu? Jangan-jangan jika blunder lagi akan ada Amerika, Israel, Rusia, Vietnam, Korea Utara, Myanmar, Kamerun, Uganda, Zimbabwe, atau Hasto Kristiyanto, Puan Maharani, Tjahjo Kumolo, dst?

Terlepas sebagian pihak tadi teringat pantun jenaka atau tidak, Anies cenderung sudah melakukan blunder, tapi tidak demikian halnya dengan putra SBY, Agus Yudhoyono yang diasumsikan telah memainkan taktik yang jitu.

Putra SBY yang satu ini diberitakan mengujungi Ahok di rutan Mako Brimob, Depok, hari ini. Tidak ada yang kontroversial atau menghebohkan atas kunjungan Agus Yudhoyono tadi. Pertemuannya dengan Ahok antara lain berisi saling mendoakan, semoga tetap sehat, silaturahmi dan kata-kata biasa lainnya.

Ahok, Agus dan Anies adalah tiga kandidat gubernur pada Pilkada 2017 lalu. Jika Ahok boleh dibilang sudah “tamat” karir politiknya, tapi Agus dan Anies masih memiliki kans untuk tampil dalam gelanggang politik Pemilu 2019.

Diperkirakan mereka itu masih memiliki kans untuk menjadi cawapres (sila baca Cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019).

Biasa saja, tidak ada yang kontroversial atau menghebohkan atas kunjungan Agus Yudhoyono ke rutan Mako Brimob menjenguk Ahok, tapi kalau ditarik ke konteks politik – bukan konteks penjajahan Belanda – apa yang dilakukan oleh putra SBY tadi kemungkinan besar akan menuai simpati.

Apakah artinya Anies sudah “kalah selangkah”? Baru saja dilantik oleh Presiden Jokowi, apalagi nantinya jika benar Anies menghadapi “hari-hari neraka” yang bisa menyebabkan terjadinya blunder-blunder lainnya? Apakah Agus pun kembali memainkan taktik jitu yang bisa mengundang simpati publik?

Jangan-jangan sebentar lagi Anies pun akan berkunjung ke Mako Brimob menjenguk Ahok supaya tidak “kalah selangkah” dengan putra SBY tadi.

Sumber gambar youtube.com.

*The Lohmenz Institute.


Prabowo Terharu karena Dikangeni oleh Kader PKS?

Prabowo Terharu karena Dikangeni oleh Kader PKS?

Adahati.com – Benarkah Prabowo terharu? Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang bingung dan bertanya apa penyebab Prabowo terharu.

Pada Pilpres 2014 lalu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendukung pasangan capres Prabowo-Hatta saat menghadapi Jokowi-JK, tapi untuk Pilpres atau Pemilu berikutnya masih belum ada keputusan tetap dan sah.

Hal ini dikatakan oleh Sekjen PKS Mustafa Kamal di sini, namun menurutnya kader PKS masih kangen dengan sosok seorang Prabowo.

“Kader sudah cukup akrab dengan Pak Prabowo lah ya dan itu sudah dilakukan semenjak Pilpres yang lalu. Masih kangen juga dengan Pak Prabowo,” katanya.

Prabowo terharu setelah mendengar pernyataan Sekjen PKS tadi? Siapa yang tidak terharu dan luluh hatinya karena masih dikangeni oleh banyak orang, bukan hanya satu dua orang saja? Semua ini cenderung merupakan sebuah pujian. Wajarkah apabila Prabowo terharu karena masih dipuji dan dikangeni?

Mengenai pujian ini sekilas balik sejenak pada kejadian beberapa waktu lalu. Politikus Prabowo pada saat berorasi di Aksi Bela Rohingya sempat celingukan mencari kader Partai Gerindra. “Mana ini ke (kader) Gerindra? Kalau (partai) kebangsaan cari yang adem-adem brengsek itu, jangan mau kalah sama PKS.”

Pujian pun dilontarkannya kepada ormas yang hadir di sana, sedangkan kader partainya sendiri yang tidak ikut Aksi Bela Rohingya sempat disindirnya. Prabowo pun mengaku Partai Gerindra banyak menyontek dari PKS.

Selengkapnya – Aksi Bela Rohingya Sekadar Ajang Pencitraan Prabowo? -.

Prabowo memuji kader PKS, dan menurut Sekjen PKS Mustafa Kamal kader partainya masih kangen dengan sosok Prabowo, apakah semua ini pujian yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam, atau sekadar basa-basi politik saja?

Terlepas tulus atau tidaknya, sekadar basa-basi politik atau bukan, tidak ada yang aneh dan baru jika dua pihak atau lebih saling memuji, apalagi dilakukan oleh para politisi. Bukan sesuatu yang aneh dan baru juga bila terjadi tikam menikam di belakang, meski di depan terkesan saling memuji satu sama lainnya.

Hal yang biasa di dalam politik, dari dulu pun sudah ada. Meski Brutus pernah ditolong, tapi Julius Caesar tetap ditikamnya juga, bukan?

Sampai saat ini belum ada tanggapan dari Ketua Umum Partai Gerindra atas pernyataan Sekjen PKS tadi bahwa kader PKS masih kangen dengan Prabowo.

Di sisi lain kata “kangen” tadi mengingatkan pada sebuah band lokal, dan salah satu lagunya yang cukup terkenal adalah Yolanda.

Kamu di mana, dengan siapa
Semalam berbuat apa
Kamu di mana, dengan siapa
Di sini aku menunggumu dan bertanya

*The Lohmenz Institute.

Sumber gambar youtube.com.