Tag: Pilpres 2019

Foto Anies Dibakar dan Amien Rais “Politikus Comberan”?

Foto Anies Dibakar dan Amien Rais “Politikus Comberan”?

Adahati.com – Foto Anies dibakar dalam aksi demo oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Front Aksi Mahasiswa. Aksi demo tersebut terjadi di depan Balai Kota hari ini (16/4/2018), tapi entah mengapa ada foto Anies dibakar segala.

Adakah keuntungan yang didapat dari foto Anies dibakar tadi? Jika ada, apa untungnya? Atau foto Anies dibakar tadi sekadar ingin memperlihatkan dalam aksi demo tersebut ada pertunjukkan teatrikalnya yang cukup menarik untuk ditonton?

Sebenarnya mana yang lebih menarik, aksi demo yang menanyakan realisasi program yang dijanjikan Anies-Sandi atau teatrikal foto Anies dibakar tadi?

Pertanyaan lainnya, mengapa hanya foto Anies yang dibakar, sedangkan foto Sandi tidak? Bukankah yang ditanyakan adalah realisasi program yang dijanjikan oleh mereka berdua? Berita foto Anies dibakar tadi ada di sini.

Apakah cukup menyeramkan berita foto Anies dibakar? Jika ada sebagian pihak yang menganggapnya seperti itu, bagaimana dengan pernyataan Amien Rais yang menyebut “partai setan”, sedangkan setan dianggap cukup menyeramkan?

Di sisi lain setan dianggap cukup menyeramkan menurut sebagian pihak, tapi sebagian pihak lainnya mungkin saja menganggap setan itu lucu, dan lucunya seperti politikus. Tentu tidak semua politikus, supaya tidak dianggap menggeneralisasi.

Apakah cukup menyeramkan ada yang menganggap Amien Rais “politikus comberan”?

“Ucapan Amien Rais tentang ‘partai setan’ tidak ada kaitannya dengan demokrasi, melainkan hanya tingkah laku politikus comberan yang seenak udelnya saja, dan hal ini tidak boleh terjadi di Indonesia,” kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah di sini.

Mungkin kurang tepat jika pernyataan politikus Partai Hanura tadi cukup menyeramkan, karena comberan lebih cenderung menjijikkan.

Namun lebih menjijikkan mana dibanding dengan pernyataan politikus PAN ini?

“Sekarang yang ngomong comberan itulah yang nggak ngerti. Kotoran dia itu,” kata Ketua DPP PAN Ali Taher di sini.

Ada foto Anies dibakar, ada politikus yang bawa-bawa setan, ada istilah “politikus comberan”, ada kotoran disebut juga, apakah semua ini pertanda suhu politik semakin panas, meski Pilpres 2019 baru berlangsung tahun depan?

Ah, biasa saja. Siapa bilang suhu politik semakin panas? Bisa jadi mereka hanya caper (cari perhatian) seperti yang ditudingkan kepada politikus yang telanjang dada itu.


Wacana Politik Prabowo Cawapres Jokowi Muncul Lagi

Wacana Politik Prabowo Cawapres Jokowi Muncul Lagi

Adahati.com – Wacana politik kocak ala Srimulat, yaitu Prabowo Cawapres Jokowi terdengar lagi gaungnya atau kembali diangkat ke permukaan.

Pertanyaannya, mengapa wacana politik Prabowo Cawapres Jokowi ini muncul lagi ke permukaan? Padahal gaungnya sudah mulai meredup.

Ketua Umum PPP Romahurmuziy yang pertama kali melontarkan wacana politik Prabowo Cawapres Jokowi, kemudian diulanginya lagi di sini. Menurutnya Presiden Jokowi khawatir terjadi kegaduhan yang melebihi Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Beliau menyampaikan, bayangkan gaduhnya republik ini. DKI Jakarta saja yang satu provinsi luar biasa gaung perbedaannya. Kemudian intoleransi meningkat dengan simpul-simpul agama,” katanya.

Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang air matanya jatuh berlinang dan bercucuran karena terharu mendengar alasan munculnya wacana politik tadi.

Ternyata ada niat yang baik di balik wacana politik Prabowo Cawapres Jokowi ini. Wajar jika ada sebagian pihak yang air matanya jatuh berlinang dan bercucuran, apalagi jika sebagian pihak tadi termasuk bagian atau kelompok “teletubbies romantis melankolis” yang memang pada dasarnya mudah terharu.

Namun tak lama setelah wacana politik Prabowo Cawapres Jokowi ini kembali digaungkan, datang bantahan dari pihak Partai Gerindra.

Menurut Wakil Sekjen Partai Gerindra Andre Rosiade memang benar ada tawaran tadi, tapi langsung ditolak, bukan menyambut wacana politik Prabowo Cawapres Jokowi tersebut dengan sikap positif seperti dikatakan oleh Romahurmuziy.

“Itu kan dongeng Romy saja. Kalau Pak Prabowo mau jadi cawapresnya Jokowi, tentu sudah diterima Pak Prabowo. Tidak mungkin Partai Gerindra deklarasi pencapresan Prabowo 11 April kemarin,” katanya di sini.

Dongeng? Apakah dongeng itu termasuk fiksi, seperti halnya kitab suci menurut Rocky Gerung yang masih hangat dibicarakan oleh sebagian pihak hingga saat ini?

Entah siapa yang sedang mendongeng terkait wacana politik kocak ala Srimulat Prabowo Cawapres Jokowi, karena baik Jokowi maupun Prabowo belum memberikan tanggapannya, padahal mereka adalah obyek dalam wacana politik ini.

Kesimpulan sederhana dari dimunculkannya kembali wacana politik Prabowo Cawapres Jokowi ini bisa jadi cuma iseng supaya ada berita dan ada yang namanya masuk berita, baik yang melontarkan maupun pihak yang menanggapinya.

Atau jangan-jangan wacana politik kocak ala Srimulat Prabowo Cawapres Jokowi ini muncul lagi adalah bagian dari strategi dan taktik politik dengan tujuan tertentu, misalnya sekadar meledek kubu Prabowo?

Entah sekadar iseng atau bagian dari strategi dan taktik politik dengan tujuan tertentu, lupakan saja dulu sejenak. Lebih baik markiper (mari kita perhatikan) yang bukan termasuk dongeng, yaitu TPCS (Trik dan Problem Catur yang Sederhana).

Prabowo Cawapres Jokowi

  • Putih giliran melangkah, dan hitam mati dalam dua langkah.
  • Apakah ini sebuah dongeng? TPCS bukan dongeng, tapi entahlah kalau wacana politik kocak ala Srimulat, Prabowo Cawapres Jokowi.

Gens Una Sumus.


Jokowi Dipasangkan dengan Anies Pasti Menang?

Jokowi Dipasangkan dengan Anies Pasti Menang?

Adahati.com – Muncul lagi wacana politik kocak ala Srimulat terkait Pilpres 2019. Jokowi dipasangkan dengan Anies Baswedan? Tidak ada alasannya yang jelas mengatakan Jokowi dipasangkan dengan Anies pasti menang.

Sebelumnya sudah ada beberapa wacana politik kocak ala Srimulat, antara lain:

Memang tidak ada larangan untuk melontarkan wacana politik kocak ala Srimulat seperti Jokowi dipasangkan dengan Anies atau siapapun, tapi di sisi lain juga tidak ada larangan untuk menanggapinya, entah lewat sebuah senyum atau tertawa.

Hidup ini terasa hambar jika tidak ada kelucuan yang bisa membahagiakan manusia, tapi menurut pendapat sebagian pihak, untunglah ada politikus yang lucunya bisa melebihi badut. Makanya tidak perlu heran jika ada politikus yang bicara tentang setan, padahal bisa jadi dirinya sendiri mirip “politikus setan”.

Sebelumnya sudah dikenal istilah “politikus badut”, kini tambah lagi “politikus setan”, dan entah apa lagi nantinya. Bagaimana dengan “politikus bau kencur”?

Adanya “politikus bau kencur” yang ikut memberikan pernyataan terkait “kitab suci adalah fiksi” yang dilontarkan oleh Rocky Gerung seharusnya pun tidak perlu bingung.

Hal yang wajar dan biasa saja jika ada “politikus bau kencur” mengatakan “fiksi adalah fakta yang tertunda”, meski di sisi lain mungkin saja ada sebagian pihak yang tertawa ngakak terbahak-bahak hingga guling-guling di ubin.

Makanya, bersyukurlah ada yang mirip “politikus badut”, “politikus setan”, “politikus bau kencur”, dan entah apa lagi istilah lainnya, karena mereka bisa membuat hidup ini tidak terasa hambar lewat pernyataan-pernyataannya yang lucu. Tentu saja tidak semua politikus seperti itu, supaya jangan dibilang menggeneralisasi.

Kembali lagi bahas wacana politik kocak ala Srimulat, yaitu Jokowi dipasangkan dengan Anies Baswedan, dan hanya berdasarkan yakin saja saat mengatakan Jokowi dipasangkan dengan Anies 100 % menang.

Memangnya siapa yang mengajukan wacana politik kocak ala Srimulat Jokowi dipasangkan dengan Anies Baswedan untuk Pilpres 2019 ini?

Disebutnya seorang pakar politik di sini, dan pakar politik itu pun mengatakan:

“Kalau ingin menang, Jokowi harus mengambil Anies sebagai cawapres, 100 persen menang. Kalau ingin rame ambil TGB,” katanya.

Jokowi dipasangkan dengan Anies Baswedan 100% menang? Serius nih, Jokowi dipasangkan dengan Anies pasti menang? Mudah-mudahan tidak ada yang tertawa ngakak sambil berujar Jokowi dipasangkan dengan sandal jepitpun pasti menang.

Ya, sebagian politikus dan pakar politik membuat hidup ini tidak terasa hambar karena mereka itu lucu, dan bisa membuat orang lain tertawa ngakak terbahak-bahak.


Ganti Presiden, Asal Jangan Prabowo dan Gatot?

Ganti Presiden, Asal Jangan Prabowo dan Gatot?

Adahati.com – Ganti presiden? Boleh saja sebagian pihak mengatakan atau menginginkan hal seperti itu, sama halnya dengan sebagian pihak lainnya yang tidak menginginkan adanya pergantian presiden dengan pertimbangan negara ini akan kembali mundur secara politik dan ekonomi karena para calon potensial pengganti presiden yang ada sekarang ini kemungkinan besar tidak akan lebih baik nantinya.

Presiden Jokowi melontarkan lelucon politik terkait frasa ganti presiden tadi dengan mengatakan masak kaos bisa ganti presiden. Tapi masih ada kata-kata tambahannya, yaitu yang bisa melakukan pergantian presiden adalah rakyat.

Lelucon politik ganti presiden tadi dibalas oleh seorang ketua umum “partai gurem” Yusril Ihza Mahendra dengan lelucon politik lainnya. Masak baju kotak-kotak bisa jadi presiden, mengacu pada bagian kampanye politik Jokowi pada Pilpres 2014 lalu.

Yusril Ihza Mahendra pun terkait frasa ganti presiden tadi mengatakan: “Aspirasi orang ya boleh-boleh saja. Kalau misal dikatakan ada orang bikin kaus #2019GantiPresiden ya sah saja. Aspirasi nggak bisa dihalang-halangi,” ujarnya di sini.

Presiden Jokowi mengatakan yang bisa ganti presiden adalah rakyat, sedangkan Yusril Ihza Mahendra mengatakan sah saja kalau ada orang yang bikin kaos ganti presiden karena hal itu merupakan aspirasi masyarakat.

Pertanyaannya, apakah masih banyak pihak-pihak yang merasa terharu? Air matanya jatuh berlinang dan bercucuran setelah mendengar ungkapan yang bisa menggantikan presiden adalah rakyat, pakai kaos ganti presiden adalah aspirasi masyarakat?

Jika masih ada pihak-pihak yang merasa terharu dan air matanya pun jatuh berlinang serta bercucuran, tidak tertutup kemungkinan lebih banyak lagi pihak-pihak yang merasa heran. Kok begitu saja terharu? Bukankah yang namanya aspirasi rakyat atau aspirasi masyarakat itu sudah ada sejak “zaman kuda gigit besi”?

Pernyataan seperti anti pihak asing, asing sudah menguasai ekonomi, rakyat jadi susah karena pihak asing, bukankah pernyataan seperti ini pun sudah ada sejak “zaman kuda gigit besi”? Meski di sisi lain terpingkal-pingkal karena ada yang yakin dengan pendapat pihak asing, negeri ini akan bubar beberapa tahun lagi.

Tapi itulah lelucon politik.

Jadi, ganti presiden itu boleh saja, asal jangan Prabowo dan Gatot Nurmantyo, itu pun dengan catatan seandainya mereka maju Pilpres 2019.

Apa alasannya? Alasan ini dan alasan itu bisa dicari, tapi kalau sudah merupakan aspirasi rakyat atau aspirasi masyarakat, mau bilang apa?

Makanya, jangan mudah terharu, ketawa aja.


Hubungan PDIP dan Partai Demokrat Memburuk?

Hubungan PDIP dan Partai Demokrat Memburuk?

Adahati.com – Benarkah hubungan PDIP dan Partai Demokrat memburuk?

Berawal dari pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang mengaitkan slogan Partai Demokrat “Katakan Tidak pada Korupsi” dengan dugaan keterlibatan pemerintahan SBY dalam kasus korupsi e-KTP saat menanggapi nama Puan Maharani dan Pramono Anung disebut oleh Setya Novanto menerima uang sebesar USD 500 ribu.

Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik pun terkesan gerah dan mengatakan Hasto Kristiyanto adalah juru bicara yang buruk bagi PDIP.

Artinya buruk juga hubungan PDIP dan Partai Demokrat saat ini?

Politikus PDIP lainnya, Rio Sambodo tak terima atas pernyataan Rachland Nashidik tadi. Menurutnya tidak ada yang salah atas pernyataan Hasto Kristiyanto.

“Apa yang disampaikan Sekjen PDI Perjuangan adalah kebenaran, bahwa PDI Perjuangan berada di luar pemerintahan, tidak dalam kapasitas desainer kebijakan, dan meminta agar Gamawan Fauzi memberi penjelasan secara gamblang ke rakyat? Apakah pernyataan itu salah?” katanya seperti dikutip dari merdeka.com.

Saling sindir antar politikus beda parpol tadi apakah menandakan hubungan PDIP dan Partai Demokrat kembali kurang harmonis saat ini? Bukankah Presiden Jokowi yang juga merupakan kader PDIP sempat menghadiri Rapimnas Partai Demokrat beberapa waktu lalu yang menandakan hubungan kedua parpol tadi mulai cair?

Diperkirakan ada beberapa politikus PDIP yang kurang senang jika Partai Demokrat merapat ke Presiden Jokowi dan ikut pula memberikan dukungan politiknya untuk Pilpres 2019, tapi sambil “menjual” AHY sebagai cawapres.

Jika hal ini sampai terjadi, sulit mengalahkan AHY nantinya pada Pilpres 2024, sementara PDIP pun tentu ingin juga ada kadernya yang tampil sebagai capres, tapi siapa yang akan mampu mengalahkan AHY pada Pilpres 2024?

Apakah Puan Maharani atau kader PDIP lainnya mampu mengalahkan putra SBY tadi, sementara dalam kurun waktu 2019-2024 nama AHY semakin bersinar saja?

Tanpa dukungan SBY/Partai Demokrat pun diperkirakan Jokowi dan cawapresnya akan memenangkan Pilpres 2019 atau cukup dengan dukungan politik parpol yang ada saat ini, karena terlalu gemuk pun bisa repot nantinya bagi-bagi “kue kekuasaan”, apalagi jika “kue kekuasaan” itu dalam bentuk wakil presiden.

Terlepas hubungan PDIP dan Partai Demokrat kurang harmonis atau sebaliknya saat ini, ada baiknya juga koalisi parpol pendukung Presiden Jokowi jangan terlalu gemuk, sebab yang gemuk-gemuk itu makannya banyak.

Selain itu, Pilpres 2019 pun kurang menarik lagi jika capres dukungan koalisi parpol lain jumlah parpolnya sedikit, serta kalah telak pula nantinya sehingga dikhawatirkan ada pihak yang galau tingkat tinggi, karena tidak siap menerima kekalahan telak tadi.

“Bubaaaaaaaar…!”

Maksudnya koalisi parpolnya bubar setelah kalah telak di Pilpres 2019.


JK akan Dilibatkan, Apakah Memang Diperlukan?

JK akan Dilibatkan, Apakah Memang Diperlukan?

Adahati.com – JK akan dilibatkan dalam menentukan pasangan calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi Presiden Jokowi pada Pilpres 2019. Hal ini dikatakan oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto.

Karena diperkirakan pasti ada capres dan cawapres tandingan nantinya, wajar saja kubu Presiden Jokowi menyiapkan pendamping atau cawapres Jokowi, tapi mengenai JK akan dilibatkan dalam hal ini apakah memang diperlukan?

JK akan dilibatkan dalam menentukan pasangan Presiden Jokowi pada Pilpres 2019 tinggal wacana politik saja seandainya kubu Presiden Jokowi langsung menunjuk ketua umum sebuah parpol yang seperti orang sudah kebelet ingin menjadi cawapres, tapi diperkirakan yang kebelet-kebelet seperti ini tidak akan terpilih nantinya.

Tapi sekali lagi, JK akan dilibatkan terkait masalah cawapres Jokowi ini apakah memang diperlukan? Bukankah siapapun cawapres Jokowi asal tidak memiliki “cacat politik” yang berlebihan sudah bisa dipastikan akan memenangkan Pilpres 2019?

Koalisi parpol pendukung Presiden Jokowi pun tetap solid dan diperkirakan masih tetap solid hingga tiba masa pertarungan politik pada Pilpres 2019 nanti.

Apakah tidak cukup meminta saran dari ketua umum dan petinggi parpol pendukung mengenai siapa pendamping atau cawapres Jokowi? Untuk apa lagi JK akan dilibatkan?

Seandainya bukan lagi hanya sebatas JK akan dilibatkan, tapi memang benar JK terlibat dalam menentukan cawapres Jokowi, maka Pilpres 2019 pun kurang menarik lagi karena semakin mendekati kepastian siapa pemenangnya.

JK terlibat berarti JK pun mendukung Presiden Jokowi untuk menjabat dua periode, kemudian datang lagi SBY/Partai Demokrat menyatakan dukungan politiknya, lalu apalagi yang diharapkan oleh Prabowo atau bakal capres lainnya? Kemenangan pun akan semakin sulit saja diraih oleh Prabowo atau siapapun lawannya Jokowi.

Maka dari itu, bukankah sebaiknya JK dan SBY bersikap netral saja? Agar Pilpres 2019 masih tetap berlangsung seru dan menarik. Usai Pilpres 2019 pun masih seru dan menarik seandainya terulang kembali ada pihak-pihak yang tidak siap menerima kekalahan, meski ujung-ujungnya berakhir dengan cipika-cipiki juga.

Muaaach!

JK akan dilibatkan, apakah memang diperlukan?

*Sumber gambar: youtube.com.


Kaus Kuning yang Dikenakan Presiden Jokowi

Kaus Kuning yang Dikenakan Presiden Jokowi

Adahati.com – Kaus kuning dikenakan Presiden Jokowi saat olahraga pagi bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Kebun Raya Bogor, Sabtu (24/3/2018).

Presiden Jokowi pun mengatakan sambil olahraga pagi mereka membahas masalah cawapres untuk Pilpres 2019.

Rupanya ada juga pengamat politik yang mengartikan kaus kuning yang dikenakan Presiden Jokowi tadi sebagai sinyal politik yang cukup kuat bahwa Airlangga Hartarto adalah cawapres Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Ada juga politikus Partai Golkar yang mengatakan isu Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto cawapresnya Jokowi pun mulai menjadi perbincangan yang serius di Rapat Kerja Nasional Golkar yang digelar pada 22-23 Maret 2018 lalu.

Siapa yang akan menjadi cawapresnya Jokowi pun membuat seorang ketua umum sebuah parpol seperti orang yang sudah kebelet ingin jadi cawapres, dan wara-wiri ke sana ke mari meminta dukungan politik agar kebeletnya tadi bisa tuntas seketika.

Ada yang pakai kaus kuning, ada yang ingin menggiring opini bahwa ketua umum parpolnya layak menjadi pendamping Jokowi pada Pilpres 2019, dan ada juga ketua umum sebuah parpol seperti orang yang sudah kebelet ingin jadi cawapres.

Kaus kuning dan kebelet?

Ada-ada saja, semuanya bisa dihubung-hubungkan atau dikait-kaitkan. Pilpres 2019 yang baru berlangsung tahun depan ini pun sudah melahirkan beberapa wacana politik kocak ala Srimulat, misalnya Prabowo Cawapres Jokowi.

Presiden Jokowi sendiri pun tidak memberikan keterangan yang begitu jelas mengapa dirinya memakai kaus kuning saat olahraga pagi bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Kebun Raya Bogor tadi.

Mungkin saja bukan sebagai sebuah isyarat politik, tapi kebetulan kaus warna lain sedang dicuci, sementara yang ada hanya kaus kuning saja.

Semua kemungkinan masih bisa terjadi, sama halnya dengan pendapat sebagian pihak yang mengatakan mungkin saja Indonesia sudah bubar pada 2030.

Semua serba mungkin atau dimungkin-mungkinkan, sedangkan alasan yang mendukung kemungkinan-kemungkinan tadi bisa dihubung-hubungkan atau dikait-kaitkan seperti halnya kaus kuning yang dikenakan Presiden Jokowi.

Ada yang pakai kaus kuning, ada yang seperti orang sudah kebelet, ada wacana politik kocak ala Srimulat, dan entah ada apa lagi esok atau lusa nanti.


Lucinta Luna Capres atau Cawapres, Mungkin Saja Cair?

Lucinta Luna Capres atau Cawapres, Mungkin Saja Cair?

Adahati.com – Lucinta Luna capres? Lucinta Luna cawapres?

Sampai saat ini belum ada wacana politik kocak ala Srimulat “Lucinta Luna Capres” atau “Lucinta Luna Cawapres”, namun kalau berdasarkan kemungkinan seperti dikatakan oleh sebagian pihak bahwa mungkin saja “Indonesia Bubar 2030”, maka mungkin juga nantinya ada wacana politik “Lucinta Luna Capres” atau “Lucinta Luna Cawapres”.

Dalam politik segala hal masih mungkin bisa terjadi, karena politik itu cair. Bukankah hal ini cukup sering dikatakan oleh para politikus?

Tinggalkan sejenak pameo-pameo tadi, dan kembali bahas kemungkinan adanya wacana politik kocak ala Srimulat “Lucinta Luna Capres” atau “Lucinta Luna Cawapres”.

Tapi siapa sebenarnya Lucinta Luna? Apakah ia seperti “politikus karbitan” yang namanya selama ini tidak pernah beredar di belantara jagat politik nasional, tapi tiba-tiba muncul dan dikatakan layak menjadi cawapres, bahkan capres?

Lucinta Luna bukan seorang politikus, baik politikus yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat maupun “politikus karbitan” yang sedang diusahakan agar dikenal oleh masyarakat, tapi ia hanya seorang penyanyi dangdut yang saat ini namanya sering menghiasi media sehubungan dengan adanya isu transgender.

Lucinta Luna membantah dirinya seorang transgender, juga mengadakan sayembara dengan hadiah Rp 1 miliar. Menurutnya isu-isu tadi telah merugikannya, tapi ia pun kebingungan karena akibat isu transgender tadi dirinya pun kini kebanjiran job.

“Banyak banget tawaran isi acara ini itu. Pusing ya kaka-kaka managerku ditelponin tyuzz” kata Lucinta Luna seperti dikutip dari style.tribunnews.com.

Secara strategi dan taktik boleh dibilang siapapun yang berada di belakang isu transgender Lucinta Luna ini tak kalah, bahkan bisa jadi lebih unggul dari strategi dan taktik politikus yang berkait dengan capres, cawapres dan Pilpres 2019.

Transgender pun mengingatkan masyarakat pada pameo “politik itu cair”, karena bisa berubah-ubah dari lelaki menjadi perempuan atau sebaliknya.

Setelah mengetahui siapa Lucinta Luna, dan kemungkinan adanya wacana politik kocak ala Srimulat “Lucinta Luna Capres” atau “Lucinta Luna Cawapres”, bagaimana dengan tanggapan masyarakat? Diperkirakan sebagian ada yang terkejut, kaget, bisa juga geli sambil mengatakan ada-ada saja, mosok ada wacana politik seperti itu.

Di sisi lain tergantung Lucinta Luna juga. Meski nantinya ada wacana politik kocak ala Srimulat, dan banyak politikus serta parpol yang ingin mengusung Lucinta Luna capres atau cawapres, tapi kalau ia menolak semuanya menjadi sia-sia saja.

Politik itu cair, saking cairnya bisa meluap hingga jauh, akhirnya ke laut.

*****

Artikel politik lainnya:


Elektabilitas Prabowo Turun karena “Gol Bunuh Diri”?

Elektabilitas Prabowo Turun karena “Gol Bunuh Diri”?

Adahati.com – Elektabilitas Prabowo masih jauh di bawah elektabilitas Presiden Jokowi dari berbagai hasil survei yang pernah dilakukan. Hal ini menimbulkan wacana politik “Prabowo King Maker” atau jangan Prabowo yang maju dan menantang Presiden Jokowi pada Pilpres 2019 karena bisa dipastikan akan kalah nantinya.

Sebagian pihak berpendapat masih ada kemungkinan elektabilitas Prabowo akan naik dan elektabilitas Jokowi turun sehingga selisihnya pun tidak terlalu besar. Tapi ada juga yang berpendapat kemungkinan perbedaan elektabilitasnya bisa semakin jauh saja. Bukankan selain ada kemungkinan yang bersifat positif, bisa juga sebaliknya?

Namun menurut Fadli Zon pada tulisan sebelumnya di sini – Benarkah Prabowo Salah Satu Capres pada Pilpres 2019? – tak mungkin Prabowo jadi cawapres atau king maker. Meski ia membenarkan ada pertemuan antara Prabowo dan Gatot Nurmantyo serta tokoh-tokoh lainnya, Fadli Zon mengatakan pertemuan itu silaturahmi biasa saja.

Politik tak lepas dari trik atau taktik. Hal yang wajar saja jika ada seorang politikus yang bermain taktik demi suatu tujuan, misalnya meningkatkan elektabilitasnya.

Pernyataan Prabowo yang mengatakan negara ini bisa bubar pada 2030 yang sedang hangat dibicarakan saat ini diperkirakan hanya sebuah taktik biasa saja dengan tujuan agar elektabilitas Prabowo naik, tapi reaksi masyarakat terlihat cenderung negatif dan menilai pernyataan Prabowo tadi – terlepas sumbernya dari mana – terkesan pesimistis, bahkan ada politikus Partai Demokrat yang menilai “Prabowo Pemimpin Zaman Old“.

Jika yang terjadi bukan elektabilitas Prabowo naik, tapi justru turun, bukankah hal ini sama saja dengan “gol bunuh diri”? Apakah nantinya ada alasan dan desakan yang kuat agar Prabowo tidak maju sebagai capres atau memberikan kesempatan kepada sosok lain, serta menggenapi wacana politik “Prabowo King Maker”?

Tapi benar atau tidaknya elektabilitas Prabowo turun ada baiknya menunggu hasil survei karena diperkirakan akan ada lembaga survei yang merilis hasil surveinya dengan tema “Elektabilitas Prabowo Setelah Pernyataannya Indonesia Bisa Bubar pada 2030”.

Jika hasil surveinya mengatakan elektabilitas Prabowo turun, maka perkiraan di atas tadi benar. Prabowo sendiri pernah mengatakan tidak percaya dengan hasil-hasil survei yang ada, tapi entahlah kalau hasil surveinya menunjukkan elektabilitas Prabowo naik.

Terlepas elektabilitas Prabowo naik atau turun setelah pernyataannya Indonesia bisa bubar pada 2030, juga terlepas ada atau tidak taktik “gol bunuh diri”, bagi mereka yang percaya dengan pernyataan Fadli Zon sebaiknya menunggu hingga April 2018, karena Fadli Zon pernah mengatakan Partai Gerindra akan mengumumkan secara resmi pengusungan Prabowo sebagai capres untuk Pilpres 2019 pada bulan itu.

Bagaimana dengan mereka yang kurang yakin atas pernyataan Fadli Zon dan beranggapan elektabilitas Prabowo semakin turun saja karena adanya “gol bunuh diri”? Apakah sebaiknya tetap menunggu hingga April, sementara ada istilah “April Mop”?

Kata-kata bijak modern mengatakan “orang sabar senyumnya lebar”.


Benarkah Prabowo Salah Satu Capres pada Pilpres 2019?

Benarkah Prabowo Salah Satu Capres pada Pilpres 2019?

Adahati.com – Benarkah Prabowo salah satu capres pada Pilpres 2019?

Pertanyaan di atas tadi mungkin saja dilontarkan oleh sebagian pihak yang tidak percaya, ragu atau heran, tapi Fadli Zon berusaha meyakinkan bahwa bisa dipastikan Prabowo salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti. Tak mungkin jadi cawapres, apalagi sekadar berperan sebagai king maker bagi pihak lain.

Pernyataan Fadli Zon tadi diperkirakan menanggapi wacana politik “Prabowo Cawapres Jokowi“, sedangkan Prabowo king maker pun sebuah wacana politik yang dilontarkan oleh sebagian pihak yang berasumsi tingginya elektabilitas Presiden Jokowi dibanding Prabowo akan sulit dikalahkan. Maka dari itu, bukan Prabowo salah satu capres yang akan bertarung dengan Presiden Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Karena dianggap “Prabowo sudah basi”, perlu sosok lain yang masih “segar” sebagai penggantinya. Belakangan muncul lagi wacana yang mengatakan sosok pengganti yang dinilai tepat adalah Gatot Nurmantyo. Beberapa waktu lalu pun ada pertemuan antara Prabowo dan Gatot Nurmantyo, tapi menurut Fadli Zon hanya silaturahmi biasa saja, dan tidak ada kesepakatan politik terkait Pilpres 2019.

“Ya ada pertemuan. Silaturahmi biasa saja beberapa waktu lalu. Tetapi tidak membicarakan sampai satu kesimpulan. Banyak juga tokoh lainnya ketemu,” katanya.

Benarkah Prabowo tak mungkin jadi king maker-nya Gatot Nurmantyo atau sosok lain seperti kata Fadli Zon? Benarkah sudah bisa dipastikan Prabowo salah satu capres pada Pilpres 2019 seperti kata Fadli Zon? Benarkah pertemuan Prabowo dan Gatot Nurmantyo sekadar silaturahmi biasa saja seperti kata Fadli Zon?

Jika mengikuti pernyataan Amien Rais terkait bagi-bagi sertifikat yang dilakukan oleh Presiden Jokowi, mungkin saja ada sebagian pihak yang mengatakan seperti ini, misalnya: “Ah, ngibul tuh. Masak cuma silaturahmi biasa saja”.

Sementara banyak tokoh-tokoh lain yang hadir pada pertemuan itu. Jangan-jangan bukan Prabowo salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti.

Bagaimana tanggapan Fadli Zon jika ada sebagian pihak yang mengatakan seperti itu?

Menurut Fadli Zon pernyataan Amien Rais itu sebuah kritik, seharusnya Pemerintah mengkaji pernyataan Amien Rais itu, apalagi sekarang adalah era demokrasi.

Seharusnya Fadli Zon mengkaji juga, jika ada pernyataan sebagian pihak tadi, “Ah, ngibul tuh. Masak cuma silaturahmi biasa saja”, dan menilainya sebagai sebuah kritik, bukan pencemaran nama baik, apalagi sekarang era demokrasi.

*Sumber gambar: youtube.com.


Prabowo Memiliki IQ Tinggi dan Ganteng, Kata Siapa?

Prabowo Memiliki IQ Tinggi dan Ganteng, Kata Siapa?

Adahati.com – Prabowo memiliki IQ tinggi dan ganteng, kata siapa?

Sebelum dahi ini berkernyit, entah itu karena bingung, heran, takjub, terpana dan seterusnya, ada baiknya pikiran ini dalam keadaan jernih terlebih dahulu.

Hal ini diperlukan, sebab pikiran yang tidak jernih bisa menyebabkan seseorang tiba-tiba tertawa ngikik yang tidak jelas juntrungannya.

Prabowo memiliki IQ tinggi dan ganteng, bukan sebuah pernyataan yang berasal dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, melainkan pernyataan yang berasal dari Ketua Bidang Advokasi Partai Gerindra Habiburokhman.

“Orang bertanya, (calon presiden harus) pintar atau sederhana? Pak Prabowo dua-duanya, IQ 152, Bos. Itu superior. Satunya, IQ bagaimana nggak ngerti, sederhana bisa dipoles,” kata Habiburokhman di sini.

Masih ada pernyataan Ketua Bidang Advokasi Partai Gerindra ini, yaitu: “Semua ada di Pak Prabowo, ganteng iya, merakyat iya. Satunya kan ganteng kita pertanyakan, merakyat kita juga tidak atau apakah itu pura-pura atau bukan.”

Jika pikiran ini sudah jernih dan tahu siapa yang mengatakan Prabowo memiliki IQ tinggi dan ganteng tadi, mari dibahas kedua masalah ini secara santai saja.

Perlu juga diketahui Habiburokhman mengatakan Prabowo memiliki IQ tinggi dan ganteng terkait dengan Prabowo layak untuk menjadi capres pada Pilpres 2019.

Apakah modal Prabowo nyapres karena wajah yang ganteng seperti dikatakan oleh Habiburokhman tadi bisa menarik antusias para pemilih di Pilpres 2019 memberikan suaranya kepada Ketua Umum Partai Gerindra ini?

Diasumsikan Prabowo memang benar termasuk salah satu capres di Pilpres 2019, bukan ditelikung oleh orang lain yang berambisi ingin jadi capres juga.

Istilah ganteng biasanya ditujukan kepada lelaki, sama halnya dengan cantik yang diarahkan kepada perempuan. Tapi bukankah selama ini penilaian mengenai seperti apa perempuan yang cantik itu relatif? Cantik itu relatif, berarti ganteng juga.

Mengenai IQ tinggi, IQ superior dan sejenisnya, teringat ucapan Stephen Hawking, fisikawan top yang baru beberapa hari lalu meninggalkan dunia yang fana ini.

Kata Stephen Hawking, “Orang yang membanggakan IQ mereka adalah pecundang“.

*Sumber gambar: flickr.com


Koalisi Nasional, Wacana Politik Kocak ala Srimulat Juga?

Koalisi Nasional, Wacana Politik Kocak ala Srimulat Juga?

Adahati.com – Koalisi Nasional? Tumbuhan apa lagi itu Koalisi Nasional?

Jika ada sebagian pihak yang mengira Koalisi Nasional adalah sejenis tumbuh-tumbuhan, maka perkiraannya tadi meleset jauh.

Tapi jika ada sebagian pihak lagi yang menganggap Koalisi Nasional adalah wacana politik  kocak ala Srimulat lainnya, mungkin ada benarnya. Tumbuh satu, tumbuh seribu, tapi sekali lagi Koalisi Nasional bukan sejenis tumbuhan.

Saat ini yang berkait dengan Pilpres 2019 sudah menimbulkan beberapa wacana politik kocak ala Srimulat. Meski baru berbulan-bulan lagi Pilpres 2019 diselenggarakan, tapi bukan menjadi halangan untuk menghadirkan wacana politik kocak ala Srimulat lagi. Sebelumnya sudah ada tiga wacana politik kocak ala Srimulat, yaitu Prabowo Cawapres Jokowi, Poros Ketiga, dan Jokowi Capres Tunggal Pilpres 2019.

Ada benarnya juga pendapat sebagian pihak yang mengatakan politikus itu lebih lucu dari pelawak, bahkan ada yang mengatakan tak jauh berbeda dengan badut yang bisa membuat orang tertawa terpingkal-pingkal. Bukan hanya tertawa terpingkal-pingkal di tempat, tapi bisa membuat orang lain tertawa ngakak sampai guling-guling di ubin.

Wacana politik kocak ala Srimulat memiliki alasan, meski alasannya tadi cenderung perbaba (pernyataan basa-basi). Begitu juga dengan alasan keinginan terbentuknya Koalisi Nasional yang secara garis besarnya adalah “demi kepentingan nasional”.

Bwa-ha-ha-ha…sebagian pihak pun tertawa terpingkal-pingkal, namun tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak lainnya yang merasa terharu. Air matanya pun jatuh berlinang dan bercucuran.

Demi kepentingan nasional, oh yeaaah…kata sebagian pihak yang merasa terharu tadi. Mungkin saja saking terharunya lahirlah sebuah puisi yang bisa meraih hadiah Nobel, tapi hadiah Nobel tahun berapa sebaiknya jangan ditanya.

mataku berkaca-kaca dan tangisku pun langsung meledak
ketika kudengar ia mengatakan demi kepentingan nasional
gemuruh di dalam dada ini seperti gelombang yang mendesak
aku pun merasa terharu dengan ucapannya yang sedikit binal

demi kepentingan nasional, oh yeaaah…
demi demokrasi yang rasional, oh yeaaah…

Diperkirakan Koalisi Nasional ini akan memunculkan calon tunggal.

Artinya akan ada wacana politik kocak ala Srimulat yang mendukung wacana politik kocak ala Srimulat yang sudah ada sebelumnya?

Ampun di jeeeeee…

*Sumber gambar: wikipedia.com.


SBY dan Jokowi Sedang Memainkan Drama Politik Ini?

SBY dan Jokowi Sedang Memainkan Drama Politik Ini?

Adahati.com – SBY dan Jokowi kembali bertemu, kali ini bertemunya dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat 2018 yang diselenggarakan di Sentul International Convention Center, Bogor, Sabtu (10/3/2018).

Presiden Jokowi yang diundang oleh Agus Harimukti Yudhoyono beberapa hari lalu pun menyempatkan diri untuk menghadiri acara Partai Demokrat tersebut.

Apakah SBY dan Jokowi sedang memainkan sebuah drama politik, katakanlah drama politik “teletubbies romantis melankolis”?

Diperkirakan semakin banyak saja penganut paham “teletubbies romantis melankolis” ini, padahal cenderung tidak jelas, muter-muter kayak gangsing atau kalau ngomong gak langsung pada tujuan, kadang terlihat seru, tegang dan mencekam saat berbeda pandangan, tapi ujung-ujungnya tetap berpelukan dan cipika-cipiki juga.

Tapi sekali lagi, apakah benar SBY dan Jokowi sedang memainkan sebuah drama politik “teletubbies romantis melankolis”?

Presiden Jokowi saat memberikan kata sambutan dalam Rapimnas Partai Demokrat tadi mengatakan dirinya adalah seorang demokrat, sama halnya dengan SBY. Tepuk tangan pun langsung bergemuruh, tapi entahlah ada atau tidak kader Partai Demokrat yang airmatanya jatuh berlinang dan bercucuran saking terharunya.

SBY pun dalam kata sabutannya memberikan sebuah sinyal bahwa partainya akan berkoaliasi dengan partai pengusung Presiden Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

“Jika Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak, sangat bisa Partai Demokrat berjuang bersama Bapak (Jokowi),” ujar SBY di sini.

Tapi ada syaratnya, kata SBY menambahkan. Syaratnya pun standar atau biasa saja, yaitu membangun kebersamaan, memiliki visi dan misi yang sama, serta koalisinya pun harus berjalan harmonis, saling percaya dan menghargai.

Terlihat hubungan politik SBY dan Jokowi semakin baik dan cair. Diperkirakan hanya tinggal menunggu waktu saja dukungan politik Partai Demokrat akan diberikan kepada Presiden Jokowi untuk Pilpres 2019 nanti. Sialnya, SBY pun mengatakan capres yang didukung oleh partainya baru akan diumumkan berbulan-bulan kemudian.

Kubu sebelah pun pusing dan bapernya bisa berbulan-bulan juga, karena masih berharap Partai Demokrat akan mengalihkan dukungan politiknya, tapi diperkirakan ujung-ujungnya masih tetap sama saja, yaitu SBY dan Jokowi pada akhirnya akan saling berpelukan dan cipika-cipiki juga…muaaach!

Sakitnya hati ini…
Namun aku rindu – Diana Nasution.

*Sumber gambar: youtube.com.


Pernyataan Amien Rais Ini Benar dan Layak Didukung

Pernyataan Amien Rais Ini Benar dan Layak Didukung

Adahati.com – Pernyataan Amien Rais ini benar?

Pernyataan Amien Rais, Ketua Majelis Kehormatan PAN belakangan ini dinilai cukup kontroversial jika menyangkut pemerintah atau Presiden Jokowi.

Sebagian pihak tidak setuju jika pernyataan Amien Rais tadi dinilai cenderung negatif. Hal yang biasa dan wajar saja di negara demokrasi jika Amien Rais atau warga negara lainnya melontarkan kritik kepada pemerintah atau Presiden Jokowi.

Namun sebagian pihak lagi bersikukuh dan mengatakan Amien Rais bukannya mengkritik, tapi asbun (asal bunyi) saja. Beda antara kritik dan asbun.

Apakah pernyataan Amien Rais kali ini benar atau asbun?

Menurut Amien Rais, PAN tidak akan mendukung Jokowi sebagai capres pada Pilpres 2019, dan menutup kemungkinan untuk itu. Rupanya Amien Rais pun tidak setuju dengan wacana politik kocak ala Srimulat “Jokowi Capres Tunggal Pilpres 2019”.

Ia pun mengaku sudah bertemu dengan pimpinan Partai Amanat Nasional, dan partainya siap berkompetisi dengan partai politik pendukung Jokowi.

“Yang jelas, saya sudah ketemu pimpinan PAN, tidak mungkin mendukung yang ada sekarang ini supaya timbul kompetisi,” begitu pernyataan Amien Rais di sini.

Ya, pernyataan Amien Rais tadi benar! Tanpa kompetisi atau persaingan, maka hidup ini pun akan terasa hambar dan menjemukan. Bukan hanya di bidang politik saja yang butuh kompetisi atau persaingan tadi, juga di bidang lainnya.

Tak perlu mengingatkan dan mengatakan “persaingan yang sehat” seperti yang biasa diucapkan oleh sebagian pihak penganut paham “teletubbies romantis melankolis”.

Tanpa disebut pun persaingan itu memang sehat, kecuali bagi mereka para teletubbies yang takut bersaing atau berkompetisi. Maunya berpelukan terus dan cipika-cipiki, kemudian bersembunyi di balik frasa “persaingan yang sehat”.

Pernyataan Amien Rais tadi benar! Semoga saja didengar oleh pihak-pihak yang berkepentingan sama dan juga direalisasikan, bukan hanya asbun (asal bunyi).

Maka dari itu, silakan Amien Rais, PAN, dan parpol lainnya mengusung pasangan capres idaman hati (jika memang ada), sekaligus menghapus wacana politik kocak ala Srimulat “Jokowi Calon Tunggal Pilpres 2019“.

Hidup tanpa kompetisi atau persaingan ibarat sayur busuk kurang garam.

*Sumber gambar: youtube.com.


Ada Apa Sebenarnya di Balik Ucapan Presiden Jokowi Ini?

Ada Apa Sebenarnya di Balik Ucapan Presiden Jokowi Ini?

Adahati.com – Ucapan Presiden Jokowi cukup sering ditanggapi secara berlebihan, terutama oleh lawan-lawan politiknya. Sekitar seminggu lalu pun ada ucapan Presiden Jokowi yang sempat membuat sebagian pihak seperti orang yang sedang kebakaran jenggot berkait dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Setelah Ketua Umum PSI Grace Natalie dan pengurus lainnya bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan pada Kamis (1/3/2018), Grace mengatakan seperti ini:

“Kami silaturahmi dan Pak Jokowi memberikan tips-tips bagaimana agar PSI dapat mencapai target menang Pemilu 2019.” (dikutip dari kompas.com). “Tadi beliau banyak kasih ide-ide dan seru-seru, keren-keren idenya,” kata Grace menambahkan.

Kebakaran…kebakaraaaaaaan…!

Ya, ada yang kebakaran jenggot.

Lucunya, sebagian pihak yang kebakaran jenggot tadi adalah politikus-politikus yang berasal dari parpol yang lebih besar dibanding PSI yang baru disahkan sebagai salah satu parpol peserta Pemilu 2019. Artinya PSI itu belum pernah ikut Pemilu, baru nanti pada tahun 2019, sedangkan para politikus yang kebakaran jenggot tadi entah berapa kali parpolnya pernah ikut Pemilu. Siapa yang gak geli?

Menurut Grace, Presiden Jokowi memberikan ide-ide yang seru dan keren. Tentunya ada ucapan Presiden Jokowi yang keluar, tapi tidak diucapkan secara langsung, dalam hal ini Grace yang menyampaikannya ke media, itu pun tidak diuraikannya secara detail.

Bayangkan, bukan ucapan Presiden Jokowi secara langsung, tapi lewat perantara, pun tidak diuraikan secara detail, tapi ada saja politikus yang kebakaran jenggot.

Termakan trik atau taktik PSI, padahal trik atau taktik yang dimainkan oleh pengurus PSI tadi – diasumsikan trik atau taktiknya bertujuan mendongkrak nama PSI agar lebih dikenal oleh masyarakat – sederhana dan biasa saja.

Masih berkait dengan ucapan Presiden Jokowi, kali ini diucapkannya secara langsung ke media menanggapi keinginan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mendampinginya sebagai cawapres pada Pilpres 2019, seperti ini ucapan Presiden Jokowi:

“Bagus, bagus. Semakin banyak calon semakin bagus.” 

Mungkin saja ada sebagian pihak yang berlebihan menanggapi ucapan Presiden Jokowi ini, juga terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Ada apa sebenarnya di balik ucapan Presiden Jokowi tadi? Pertanda Cak Imin yang akan menjadi cawapresnya pada Pilpres 2019 nanti?

Bukankah ada tiga kali kata “bagus” diucapkan oleh Presiden Jokowi?

Hadeuuuuuh…capek deh!


AHY dan Jokowi Bertemu Hanya “Iseng-iseng Berhadiah”?

AHY dan Jokowi Bertemu Hanya “Iseng-iseng Berhadiah”?

Adahati.com – AHY dan Jokowi bertemu di Istana Kepresidenan pada Selasa (6/3/18) lalu. Pertemuan antara putra sulung mantan Presiden SBY, Agus Harimukti Yudhoyono atau AHY dan Jokowi ini menimbulkan dugaan, spekulasi, opini terkait kemungkinan terbentuknya pasangan capres Jokowi-AHY untuk Pilpres 2019.

Jauh hari sebelum pertemuan antara AHY dan Jokowi tadi, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf mengatakan AHY memenuhi kriteria sebagai pendamping Jokowi pada Pilpres 2019. Tak lama setelah AHY dan Jokowi bertemu, ada lagi pernyataan dari politikus Partai Demokrat lainnya.

“Ya semua kemungkinan di politik kan terbuka. Anything possible (apapun mungkin), gitu lho,” kata Ketua DPP Partai Demokrat Didik Mukrianto.

Sebelumnya sudah ada tiga wacana politik kocak ala Srimulat, yaitu Prabowo Cawapres Jokowi, Poros Ketiga, dan Jokowi Calon Tunggal Pilpres 2019.

Apakah nantinya akan ada lagi politikus yang menghembuskan wacana politik kocak ala Srimulat lainnya, “Jokowi-AHY Pasangan Capres Ideal”?

Ada-ada saja. Benar juga pendapat yang mengatakan politikus itu lebih lucu dari pelawak. Entah lucu atau tidak, kemudian timbul frasa “politik itu cair”.

Mungkin saja ada sebagian pihak yang bertanya seperti ini: Bukankah ingus juga cair?

Entah apa lagi yang cair, tapi satu hal yang sudah jelas adalah pertemuan antara AHY dan Jokowi di Istana Kepresidenan pada Selasa lalu terkait Rapimnas Partai Demokrat (10-11 Maret 2018). Presiden Jokowi diundang untuk hadir pada acara tersebut.

Ada juga sebagian pihak yang mengatakan AHY dan Jokowi bertemu hanya “iseng-iseng berhadiah” atau mirip peribahasa “sambil menyelam minum air”.

Di satu sisi pertemuan antara AHY dan Jokowi tadi terkait undangan Rapimnas Partai Demokrat, sedangkan di baliknya ada sebuah maksud dan tujuan, yaitu hubungan antara SBY dan Megawati diharapkan nantinya pun akan cair.

Politik itu cair, ingus juga cair, hubungan antara SBY dan Megawati pun nantinya cair? Partai Demokrat pun pada akhirnya akan cair atau bergabung dengan lima parpol lainnya mendukung Jokowi untuk menjabat Presiden RI periode berikutnya?

Ya amplop, ternyata cair itu berbahaya juga. Jangan-jangan kubu sebelah sedang kebakaran jenggot. Mosok jenggotnya pun ikut cair?

*Sumber gambar: youtube.com.


Partai Gerindra Ingin Menghapus Wacana Politik Kocak?

Partai Gerindra Ingin Menghapus Wacana Politik Kocak?

Adahati.com – Partai Gerindra sudah lama memberi isyarat akan kembali mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2019.

Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, menurut pendapat sebagian pihak, entah sekadar menghibur atau menyemangati diri untuk terus berjuang meraih kemenangan yang gemilang hingga titik darah yang penghabisan.

Jika mengutip frasa yang pernah populer pada zaman Orde Baru, ada “Semangat 45”.

Getar jiwa pun membahana
Mengusir mendung yang ada
Kekalahan hanya kemenangan yang tertunda
Merdeka, merdeka, merdeka!

Serukan semangat empat lima
Jangan ragu, laksanakan segera!
Delapan penjuru mata angin jadi saksi
Kemenangan itu datang sudah pasti (oh, yeaaah…)

Entah mengapa frasa “Semangat 45” yang sempat populer di zaman Orde Baru nyaris tak terdengar lagi saat ini. Tapi zaman memang sudah berubah, teknologi dan informasi berkembang pesat, serta manusia pun tak lepas dari rasa bosan.

Apakah Partai Gerindra tidak bosan mengajukan Prabowo sebagai capres? Jika menyimak pernyataan para petinggi Partai Gerindra di media, tidak demikian halnya, bahkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menggunakan istilah “rematch”.

“Ya Pak Jokowi kan incumbent. Lalu Pak Prabowo. Mungkin enggak tahu ada calon ketiga atau ini lagi. Rematch,” kata Fadli Zon di sini.

Rematch! Sepertinya ada “Semangat 45” yang menggetarkan jiwa, namun seiring perjalanan waktu semangat tadi diasumsikan telah memudar mengingat antara lain:

  • Elektabilitas Presiden Jokowi jauh di atas elektabilitas Prabowo.
  • Manuver politik PDIP yang mengumumkan Jokowi sebagai capres di Denpasar, Bali beberapa waktu lalu menimbulkan sentimen politik positif bagi Jokowi, sedangkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebaliknya.
  • Wacana politik kocak ala Srimulat “Prabowo Cawapres Jokowi” pun dikumandangkan oleh politikus dari parpol pendukung Jokowi yang terkesan melecehkan dan memurukkan bakal capres Partai Gerindra tadi.

Semakin berkembang wacana politik kocak ala Srimulat tadi akan semakin memurukkan nama Prabowo. Cara yang mudah untuk mengatasinya adalah segera mengumumkan Prabowo sebagai capres yang diusung oleh Partai Gerindra.

“Waktu saja tetapi maksimal akhir Maret ini kan kita sudah jelas deklarasi calon presiden dari Gerindra,” kata politikus Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad di sini.

Jadi juga rematch? Wacana politik kocak ala Srimulat “Prabowo Cawapres Jokowi” sudah tidak ada lagi bulan April nanti? Begitu juga wacana politik kocak ala Srimulat lainnya “Jokowi Calon Tunggal Pilpres 2019“?

Ternyata masih ada juga “Semangat 45” itu.

*Sumber gambar: youtube.com.


Jokowi Calon Tunggal Pilpres 2019 Yakinlah Tidak Benar!

Jokowi Calon Tunggal Pilpres 2019 Yakinlah Tidak Benar!

Adahati.com – Jokowi calon tunggal Pilpres 2019 boleh dibilang sebuah wacana politik kocak ala Srimulat seperti pernah dibahas sebelumnya di sini.

Selain Jokowi calon tunggal Pilpres 2019 tadi masih ada lagi wacana politik kocak ala Srimulat lainnya, yaitu “Poros Ketiga” dan “Prabowo Cawapres Jokowi“.

Diperkirakan masih akan ada wacana politik kocak selanjutnya mengingat saat ini masih bulan Maret 2018, tapi sudah ada tiga wacana politik kocak yang digulirkan.

Ada benarnya juga pendapat sebagian pihak yang mengatakan politikus itu sebenarnya lebih lucu dari pelawak.

Wacana politik kocak Jokowi calon tunggal pilpres 2019 ini jika benar nantinya menjadi kenyataan tidak tertutup kemungkinan akan ada sebagian pihak yang merasa geli dan sebagian pihak lainnya setuju sambil menganggukkan kepalanya mirip bebek.

Meski Undang-Undang membolehkan Jokowi calon tunggal Pilpres 2019, tapi entah apa kata dunia nanti. Apakah sudah hilang jiwa petarung itu? Tidak ada lagi rasa malu membiarkan Jokowi sendiri dan bertarung dengan kotak kosong? Padahal sebelumnya nyaring koar-koar soal kejantanan, kegagahan, atau mirip seperti itu yang bisa membuat air mata jatuh berlinang dan bercucuran saking terharunya.

Tapi untunglah wacana politik kocak tadi kemungkinan besar tidak akan menjadi kenyataan setelah ada pernyataan dari Wakil Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto yang cenderung menolak Jokowi calon tunggal Pilpres 2019.

“Bukan karena benci Pak Jokowi. Kalau semua ke Pak Jokowi bisa calon tunggal. Kita enggak mau calon tunggal. Calon tunggal malah enggak elok,” katanya di sini.

PAN pun akan mengajukan calon alternatif. “Sampai hari ini kecenderungan kuat itu di atas 80 persen, ya kita ingin menghadirkan calon alternatif.”

Meski tidak disebut siapa calon alternatifnya tadi, tapi bisa dipastikan bukan Amien Rais mengingat usianya sudah tua, tidak memiliki pengaruh politik lagi dan mampu bertarung serta mengalahkan Jokowi pada Pilpres 2019.

Tapi entah siapapun calon alternatifnya nanti, wacana politik kocak ala Srimulat “Jokowi Calon Tunggal Pilpres 2019” kemungkinan besar tidak akan menjadi kenyataan mengacu pada pernyataan politikus PAN di atas tadi.

Baguslah!

*Sumber gambar: youtube.com.


Jangan Biarkan Jokowi Menjadi Calon Tunggal Pilpres 2019

Jangan Biarkan Jokowi Menjadi Calon Tunggal Pilpres 2019

Adahati.com – Jangan biarkan Jokowi menjadi calon tunggal pada Pilpres 2019 nanti. Entah apa artinya jika Pilpres 2019 tidak ada capres lainnya selain Jokowi.

Meski sekarang ini sudah ada wacana politik kocak ala Srimulat, yaitu “Prabowo Cawapres Jokowi” dan “Poros Ketiga”, sebaiknya calon tunggal tidak termasuk bagian dari kelucuan Pilpres 2019 berikutnya.

Kalau memang masih ada jiwa petarung itu, jangan biarkan Jokowi sendiri. Tolong hentikan segera cipika-cipiki ala “teletubbies romantis melankolis” yang sering bersembunyi di balik kata-kata puitis seperti demi kedamaian, keamanan, persatuan, dan kesatuan serta segala tetek bengek-bengek tetek lainnya.

Sebelumnya Presiden PKS Sohibul Iman melontarkan wacana poros ketiga: “Dan ini mengulang koalisi DKI, asyik kan? Asyik menurut saya. Ada PKS-Gerindra, ada Istana, kemudian ada Cikeas, mungkin kurang PPP karena sudah ke sana. Kenapa tidak dipikirkan seperti itu?”, katanya di sini.

Apakah ukuran semakin sehat sebuah demokrasi karena ada tiga pasangan capres? Atau wacana poros ketiga ini sekadar wacana “teletubbies romantis melankolis”?

Dua atau tiga poros, kelucuan yang berkait dengan Pilpres 2019 diyakini oleh sebagian pihak masih akan ada lagi setelah wacana politik kocak ala Srimulat “Prabowo Cawapres Jokowi” dan “Poros Ketiga”. Ternyata tidak meleset keyakinan sebagian pihak tadi karena kini ada lagi wacana atau pendapat tentang “Calon Tunggal”.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo justru memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan Presiden PKS Sohibul Iman tadi. Menurutnya tidak ada tiga poros, tapi satu poros saja, yaitu poros pendukung Presiden Jokowi. “Kalau saya masih yakin tidak ada poros baru, hanya ada poros Jokowi aja” katanya dikutip dari Tempo.co (3/3/18).

Masih menurut pendapat Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, calon tunggal bukan sebuah masalah, justru calon tunggal berguna untuk mensejahterakan rakyat.

Ampun di jeee…jangan biarkan Jokowi menjadi calon tunggal atau tidak ada lawannya di Pilpres 2019 nanti karena nyali bertarung itu sudah hilang.

Kelucuan apa lagi berkait dengan Pilpres 2019 setelah wacana politik kocak ala Srimulat “Prabowo Cawapres Jokowi”, “Poros Ketiga” dan kini “Calon Tunggal”.

*Sumber gambar: youtube.com.


Poros Ketiga Hanya Sebuah Wacana Politik Kocak Lainnya?

Poros Ketiga Hanya Sebuah Wacana Politik Kocak Lainnya?

Adahati.com – Wacana poros ketiga saat ini sedang berusaha ditawarkan, dan entah apa keuntungan yang akan diperoleh dari wacana politik yang terkesan kocak ini.

Batas akhir pendaftaran pasangan capres untuk Pilpres 2019 bulan Agustus nanti sekitar 5 bulan lagi, dan sampai saat ini bakal capres 2019 yang sudah diumumkan secara resmi oleh sebuah parpol baru Presiden Jokowi saja.

Manuver politik PDIP yang mengumumkan bakal capres yang diusungnya tidak menjelang batas akhir pendaftaran pasangan capres tadi menuai sentimen politik positif bagi Jokowi dan PDIP, sementara bakal capres kubu seberang, yaitu Prabowo Subianto sebaliknya.

Sentimen politik positif ini makin tinggi saja dengan dihembuskannya wacana politik kocak ala Srimulat, yaitu “Prabowo Cawapres Jokowi” yang terkesan melecehkan, meski diimbuhi dengan kata-kata puitis seperti pasangan Jokowi-Prabowo akan menghadirkan kedamaian, persatuan, dan kesatuan serta tetek bengek lainnya.

Wacana politik kocak ala Srimulat ini akan hilang dengan sendirinya jika Prabowo sudah diumumkan sebagai capres oleh koalisi parpol yang memenuhi syarat presidential threshold. Namun sampai saat ini koalisi tersebut belum jelas atau masih di awang-awang, dan semakin tidak jelas dengan munculnya wacana poros ketiga.

Diasumsikan poros pertama adalah koalisi parpol pendukung Jokowi, poros kedua Partai Gerindra dan PKS, sedangkan poros ketiga Partai Demokrat, PKB dan PAN. Strategi dan taktik politik apa yang ditawarkan dari wacana poros ketiga ini?

Menurut Presiden PKS Sohibul Iman, demokrasi di Indonesia akan semakin sehat, dan ia pun menyamakannya dengan Pilkada DKI 2017.

“Dan ini mengulang koalisi DKI, asyik kan? Asyik menurut saya. Ada PKS-Gerindra, ada Istana, kemudian ada Cikeas, mungkin kurang PPP karena sudah ke sana. Kenapa tidak dipikirkan seperti itu?” katanya di sini.

Apakah ukuran semakin sehat sebuah demokrasi karena ada tiga pasangan capres? Atau wacana poros ketiga ini sekadar wacana “teletubbies romantis melankolis”?

Jangan-jangan sebuah bentuk ungkapan frustrasi karena elektabilitas Presiden Jokowi jauh di atas Prabowo, apalagi figur tokoh lainnya? Atau masih bingung bagaimana caranya menghambat langkah Jokowi untuk kembali menjabat presiden periode berikutnya, maka ide yang ada dan ditawarkan adalah poros ketiga?

Terlepas ada dua atau tiga poros nantinya, kelucuan yang berkait dengan Pilpres 2019 diyakini oleh sebagian pihak belum berhenti atau masih ada lagi setelah wacana politik kocak ala Srimulat “Prabowo Cawapres Jokowi” dan kini “Poros Ketiga”.

*Sumber gambar: youtube.com.


Benarkah Prabowo Sedang Berada di Persimpangan Jalan?

Benarkah Prabowo Sedang Berada di Persimpangan Jalan?

Adahati.com – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto terkesan kurang tegas saat menanggapi wacana politik kocak “Prabowo Cawapres Jokowi”.

Wacana politik kocak ala Srimulat atau sindiran politik tadi belakangan ini semakin kencang dihembuskan oleh politikus atau pihak-pihak yang cenderung mendukung Jokowi untuk menjabat presiden periode berikutnya.

Selain terkesan kurang tegas atau menolak wacana dirinya dijadikan cawapres Jokowi, Prabowo pun cenderung melontarkan “kata-kata standar” atau perbaba (pernyataan basa-basi). “Saya katakan, tentunya saya adalah mandataris partai. Jadi ya kita akan mendengarkan suara partai,” ujarnya di sini.

Menurut pengakuannya, ia terlebih dahulu akan meminta masukan dari sahabat dan kerabat sebelum mengambil keputusan untuk maju pada Pilpres 2019, tapi apapun keputusan yang akan diambilnya nanti semata-mata untuk kepentingan rakyat dan negara. “Yang terbaik untuk rakyat itu yang akan kita lakukan,” ujarnya.

Kembali sebuah pernyataan yang cenderung perbaba. Entahlah, ada atau tidak sebagian pihak yang terharu, air matanya jatuh berlinang dan bercucuran setelah mendengar pernyataan Prabowo yang cenderung perbaba tadi.

Berbeda dengan pernyataan Fadli Zon yang secara tegas menolak wacana politik kocak ala Srimulat tadi. Menurut Fadli Zon sudah merupakan harga mati Prabowo jadi capres, bukan cawapres. “Ya (harga mati), jadi calon presiden lah,” katanya.

Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang heran dan bertanya seperti ini:

  • Ada apa dengan Prabowo? Mengapa ia tidak tegas menolak wacana politik kocak ala Srimulat itu?
  • Benarkah Prabowo mulai bimbang dan ragu untuk maju sebagai capres mengingat elektabilitasnya masih jauh di bawah elektabilitas Presiden Jokowi?
  • Selain itu parpol-parpol yang ingin diajak berkoalisi dengan Partai Gerindra dan mengusungnya sebagai capres pun belum jelas sampai saat ini?
  • Jika dipaksakan maju dan menantang Jokowi kemungkinan besar akan kalah? Daripada kalah untuk yang kedua kalinya lebih baik jadi wakil presiden saja yang sudah pasti ada di tangan? Bukankah menjadi wakil presiden pun bisa melakukan hal yang terbaik bagi rakyat, negara, nusa, dan bangsa?

Sejumlah pertanyaan lainnya mungkin masih ada di benak mereka yang heran dengan tanggapan Prabowo yang terkesan kurang tegas, tidak langsung menolak seperti halnya Fadli Zon terkait wacana politik kocak ala Srimulat “Prabowo Cawapres Jokowi”.

Namun di sisi lain, perlu diingat juga bahwa politik tak jauh dari trik atau taktik. Di depan mungkin terlihat lemah, bimbang, dan ragu, atau seperti sedang berada di persimpangan jalan, tapi sebenarnya sedang menyusun kekuatan, strategi dan taktik politik yang diperlukan untuk Pilpres 2019 nanti.

Apakah bulan Maret ini, atau paling lambat pertengahan Mei nanti akan ada pengumuman secara resmi atau deklarasi Prabowo capres 2019?


Prabowo dan Partai Gerindra Menunggu Saat yang Tepat?

Prabowo dan Partai Gerindra Menunggu Saat yang Tepat?

Adahati.com – Prabowo dan Partai Gerindra diperkirakan saat ini sedang menunggu momentum sehubungan dengan pengumuman secara resmi atau deklarasi Prabowo Subianto sebagai capres pada Pilpres 2019 nanti. Arti kata “momentum” sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online adalah “saat yang tepat”.

PDIP sebelumnya dalam rapat kerja nasional di Denpasar, Bali (23/2/2018) secara resmi mengumumkan Jokowi capres 2019. Manuver politik PDIP ini menuai sentimen politik positif, tapi di sisi lain membuat kompetitor Jokowi di Pilpres 2014 lalu terpuruk.

Sejak semula sudah banyak pengamat politik yang memprediksi akan terulang pertarungan antara Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019, namun hingga saat ini elektabilitas Prabowo masih jauh di bawah Jokowi.

Jauhnya perbedaan elektabilitas antara Jokowi dan Prabowo ini – meski ada sebagian pihak mengatakan wajar saja elektabilitas inkuben lebih unggul, atau Prabowo masih memiliki waktu untuk mengejar ketinggalan elektabilitasnya tadi – menghasilkan sentimen politik negatif terhadap Prabowo Subianto.

Selain itu Prabowo dan Partai Gerindra pun bermasalah berkait dengan Presidential Threshold. Koalisi perlu dibangun, tapi parpol yang bersedia bergabung baru PKS yang terlihat jelas sikap politiknya. PAN kemungkinan besar akan ikut bergabung, sementara PKB dan Partai Demokrat masih mengambang. PKB akan bergabung jika ketua umumnya Muhaimin Iskandar dijadikan cawapres Prabowo, tapi Partai Demokrat arah angin politiknya cenderung mendukung Presiden Jokowi mengingat hubungan antara SBY dan Megawati tidak sekaku dulu atau mulai mencair.

Jika koalisi yang terbentuk nantinya hanya terdiri dari Partai Gerindra, PKS dan PAN saja kecil kemungkinannya pasangan capres yang diusung bisa memenangkan Pilpres 2019. PKB ikut bergabung pun tidak terlalu besar pengaruh politiknya karena suara pemilih dari kalangan NU diperkirakan masih lebih banyak diberikan kepada Jokowi dibanding Prabowo. Hal ini menyebabkan Partai Demokrat memiliki posisi, pengaruh dan peran yang cukup besar atas kuatnya kedudukan politik koalisi ini.

Maka dari itu untuk mengimbangi kekuatan politik koalisi parpol pendukung Jokowi, koalisi ini sebaiknya terdiri dari Partai Gerindra, PKS, PAN, PKB dan Partai Demokrat. Jika PKB dan Partai Demokrat bersikap politik netral koalisinya masih lemah, apalagi jika kedua parpol ini bergabung dengan koalisi parpol pendukung Jokowi.

Saat ini Prabowo dan Partai Gerindra sedang menjalani “penderitaan politik” terkait Pilpres 2019 yang disebabkan antara lain:

  • Rendahnya elektabilitas Prabowo dibanding elektabilitas Presiden Jokowi.
  • Koalisi yang ingin dibangun belum jelas kekuatan politiknya.
  • PDIP yang di luar dugaan melakukan manuver politik dengan mengumumkan Jokowi capres 2019 di bulan Februari lalu atau bukan menjelang batas akhir pendaftaran pasangan capres menghasilkan sentimen politik positif bagi Presiden Jokowi dan PDIP, sementara Prabowo dan Partai Gerindra sebaliknya.

“Penderitaan politik” yang dialami oleh Prabowo dan Partai Gerindra akibat masalah di atas tadi melahirkan lelucon politik “Prabowo Cawapres Jokowi” yang dilontarkan oleh politikus yang berasal dari parpol pendukung Presiden Jokowi.

Lelucon politik ini harus segera dihentikan karena hanya akan menimbulkan dan menambah sentimen politik negatif bagi Prabowo dan Partai Gerindra. Semakin lama dibiarkan semakin terpuruk Prabowo dan Partai Gerindra nanti, sebab kemungkinan besar akan ada politikus lain dari parpol pendukung Presiden Jokowi yang sengaja kembali mengulang dan mengulang lelucon politik ini sambil berlindung di balik kata-kata puitis seperti demi kedamaian, keamanan, persatuan dan kesatuan bangsa, dst.

Lelucon politik “Prabowo Cawapres Jokowi” akan berhenti dengan sendirinya jika Prabowo diumumkan secara resmi atau dideklarasikan sebagai capres 2019. Pertanyaannya, kapan hal ini akan dilakukan? Jika menjelang batas akhir pendaftaran pasangan capres bulan Agustus 2018 nanti, maka “penderitaan politik” Prabowo dan Partai Gerindra pun akan berlangsung selama itu.

Prabowo dan Partai Gerindra diperkirakan sedang menunggu momentum (saat yang tepat) untuk mendeklarasikan Prabowo sebagai capres 2019, dan kemungkinan besar tidak dilakukan menjelang batas akhir pendaftaran pasangan capres.

Dari capres menjadi cawapres bagi lawan politiknya, seindah apapun alasan atau kata-kata puitis yang diutarakan nantinya tetap saja seluruh dunia akan tertawa.

*Sumber gambar: youtube.com.


Ada Hujan Cawapres Hingga Bulan Agustus Nanti

Ada Hujan Cawapres Hingga Bulan Agustus Nanti

Adahati.com – Setelah PDIP secara resmi mengumumkan Jokowi capres 2019 di Denpasar, Bali beberapa hari lalu, turunlah Hujan Cawapres.

Maksudnya Hujan Cawapres di sini adalah berhamburan turun nama-nama tokoh yang diperkirakan layak untuk menjadi pendamping Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Tokoh-tokoh yang sudah termasuk dalam Hujan Cawapres ini antara lain Menko Polhukam Jenderal (purn) Wiranto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Namun yang paling fenomenal dicalonkan sebagai pendamping Jokowi di Pilpres 2019 nanti adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Wacana “Prabowo Cawapres Jokowi” pun menjadi topik pembicaraan yang hangat di kalangan masyarakat. Ada sebagian pihak yang menganggapnya serius, tapi ada juga sebagian pihak yang menilainya sekadar lelucon ala Srimulat.

Mereka yang menganggap sekadar lelucon ala Srimulat tadi berangkat dari pernyataan Wakil Ketua DPR RI dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon yang mengatakan “Jangan berpikir Pak Prabowo mau disandingkan dengan Pak Jokowi”.

Tapi masih saja ada politikus yang mengulang lelucon politik ini lewat pernyataannya di media yang mengatakan setuju dengan pasangan Jokowi-Prabowo. Entah apa maksud dan tujuannya, padahal Fadli Zon sudah jelas mengatakan tidak akan terjadi.

Mungkin politikus atau sebagian pihak yang masih mengulang dan mengulang lelucon politik “Prabowo Cawapres Jokowi” ini sengaja melakukan hal itu agar Fadli Zon sewot, kesal, dan uring-uringan. Mudah-mudahan saja mereka tidak dihujani puisi yang tajam dan menyengat, atau jangan sampai terjadi “Hujan Puisi” nantinya.

Entah siapa lagi tokoh lainnya yang akan masuk dalam Hujan Cawapres yang diperkirakan masih berlangsung hingga bulan Agustus 2018 yang merupakan batas akhir pendaftaran pasangan capres dan cawapres untuk Pilpres 2019.

Sebaiknya kita tunggu saja, dan nikmati dulu Hujan Cawapres yang ada saat ini, serta berharap masih banyak lelucon-lelucon politik yang lebih lucu lagi.

Sudah kukatakan tak mungkin akan terjadi
Masih saja ada pihak yang belum mengerti
Bingung, dan tak habis pikir diriku ini
Diulang dan diulang lagi wacana basi 

Membuatku kesal dan darah tinggi saja
Mereka lakukan semua ini secara sengaja
Lelucon politik yang menyebalkan dan tak berarti
Entah mengapa pernyataanku tak dianggap sama sekali

*Sumber gambar: youtube.com.


Prabowo Cawapres Jokowi Meniru Adegan Srimulat?

Prabowo Cawapres Jokowi Meniru Adegan Srimulat?

Adahati.com – Sindiran politik atau wacana Prabowo Cawapres Jokowi masih saja diulang dan diulang oleh sebagian pihak, padahal Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto secara garis besarnya pernah mengatakan bahwa ia akan maju Pilpres 2019 jika rakyat menginginkan dan parpol-parpol mendukungnya. Tentu saja sebagai capres, dan Prabowo belum pernah mengatakan akan maju sebagai cawapres.

Sindiran politik Prabowo Cawapres Jokowi ini pun semakin kencang ditiupkan oleh sebagian pihak tadi setelah PDIP secara resmi mengumumkan Jokowi capres 2019.

Meski Fadli Zon sudah mengatakan “Jangan berpikir Pak Prabowo mau disandingkan dengan Pak Jokowi”, tapi entah mengapa wacana politik kocak ini masih saja dihembuskan, termasuk oleh Ketua DPR RI Bambang Soesatyo.

“Ya, sudah, kalau Pak JK tidak boleh, yang ideal adalah pasangan Jokowi-Prabowo.”

Sebelumnya pun Ketua Umum PPP Romahurmuziy setuju dengan wacana Prabowo Cawapres Jokowi, dan diulangi lagi oleh Sekjen PPP Arsul Sani.

“Setuju (Jokowi-Prabowo). Itu pernah didiskusikan antara Pak Jokowi dengan Ketum PPP Mas Romy (Muhammad Romahurmuziy) ketika bertemu,” katanya di sini.

Ada benarnya juga pendapat yang mengatakan politikus itu lebih lucu dari pelawak.

Teringat Srimulat pada zaman keemasannya dengan figur seperti Tarzan, Timbul, Kadir, Bambang Gantolet, Tessy, dan lainnya yang mengocok perut penonton, meski adegan Srimulat yang mengundang gelak tawa tadi hanya pengulangan saja.

Contoh, Tessy duduk di kursi dan satu kakinya dilipat. Setelah ngobrol sejenak dengan lawan mainnya, tiba-tiba Tessy terperanjat kaget. “Mana kaki saya? Kaki saya mana satu lagi?” sambil celingak-celinguk seperti orang yang sedang kebingungan mencari kakinya yang satu lagi hilang! Penonton pun tertawa terbahak-bahak, padahal adegan itu hanya pengulangan atau sudah pernah dilakoni sebelumnya.

Entah apa maksud dan tujuan dari sebagian pihak yang masih saja mengulang sindiran politik atau wacana Prabowo Cawapres Jokowi, meski Fadli Zon sudah mengatakan “Jangan berpikir Pak Prabowo mau disandingkan dengan Pak Jokowi.”

Jangan-jangan politikus atau sebagian pihak yang masih mengulang sindiran politik Prabowo Cawapres Jokowi ini termasuk penggemar Srimulat juga?

Masih diulang dan diulang karena penonton masih menganggapnya lucu?

Jadi kangen dengan Srimulat.

*Sumber gambar: youtube.com.


Seandainya Ahok Bebas, Ini yang akan Dilakukannya?

Seandainya Ahok Bebas, Ini yang akan Dilakukannya?

Adahati.com – Ahok bebas? Bisa iya, bisa juga tidak.

Nama Ahok kembali menjadi bahan pembicaraan sehubungan dengan pengajuan PK yang merupakan haknya. Meskipun haknya, namun ada saja sebagian pihak yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, padahal zaman dan teknologi sudah sedemikian maju.

Kepentingan itu memang bisa membutakan.

Kepentingan yang mendasari sebagian pihak yang tak senang atas pengajuan PK Ahok tadi antara lain khawatir seandainya Ahok bebas, ia akan ikut Pilpres 2019 sekaligus menjadi pendamping atau cawapres Jokowi.

Khawatirnya seperti itu? Dalam hidup ini tak lepas dari trik atau taktik, apalagi jika sudah menyangkut politik. Bisa saja di depan mengatakan khawatir, tapi sebenarnya justru mengharapkan apa yang dikhawatirkannya tadi menjadi kenyataan.

Seandainya Ahok bebas, kecil kemungkinannya akan maju Pilpres 2019 seperti yang dikhawatirkan oleh sebagian pihak tadi. Ahok, Jokowi dan orang-orang di sekitarnya tidak akan melakukan hal itu karena terlalu beresiko secara hitung-hitungan politiknya, dan kekalahan pada Pilpres 2019 bisa saja terjadi.

Ada tiga kemungkinan seandainya Ahok bebas, dan maju Pilpres 2019 atau menjadi cawapres Jokowi tidak termasuk salah satu dari tiga kemungkinan tadi.

Adapun tiga kemungkin tersebut adalah:

Pertama, seandainya Ahok bebas, maka Ahok sementara akan menjauh dari dunia politik. Urus bisnis saja yang akan menjadi pilihan utama Ahok nantinya.

Kedua, jika Ahok bebas dan masih tetap berkecimpung di dunia politik, maka ia akan menjadi salah satu jurkam atau Tim Sukses Jokowi pada Pilpres 2019.

Ketiga, Ahok akan giat belajar catur agar pengetahuannya terkait trik atau taktik bisa digunakannya untuk kepentingan bisnis atau politik. Ahok pun akhirnya menyadari bahwa kesalahan sekecil apapun akan dihukum, dan hukumannya bisa pahit sekali.

Sebagai catatan terakhir, tolong abaikan kemungkinan yang ketiga. Sebab, segiat apapun Ahok belajar catur, dikhawatirkan ia tidak akan mengalami kemajuan yang berarti, dan akibatnya masih mudah terpancing atau termakan trik yang dimainkan oleh orang lain yang memiliki kepentingan atas dirinya.

Misal, di depan bilang khawatir, tapi sebenarnya ingin apa yang dikhawatirkannya tadi menjadi kenyataan, dan dari situ memetik keuntungan sesuai yang direncanakan.

*Sumber gambar: youtube.com.


Cawapres Jokowi Bukan Prabowo Subianto, Ini Alasannya

Cawapres Jokowi Bukan Prabowo Subianto, Ini Alasannya

Adahati.com – Siapa cawapres Jokowi saat ini sedang menjadi pembicaraan yang cukup hangat di kalangan masyarakat sejak PDIP secara resmi menyatakan dukungan politiknya sekaligus mengusung Jokowi sebagai capres pada Pilpres 2019 nanti.

Sila baca artikel sebelumnya yang terkait dengan “Cawapres Jokowi”.

1. Wiranto Jadi Cawapres, Siapa yang Gelisah?

2. Blunder, PDIP Umumkan Dukung Jokowi Capres 2019

3. Pertemuan Jokowi dan Megawati Ternyata Blunder

4. JK Sedang Diledek atau Disindir oleh Puan Maharani?

Siapa pendamping Jokowi yang layak, pas, cocok, sekaligus mudah memenangkan Pilpres 2019 karena memiliki kriteria yang bagus?

Sejumlah nama pun bermunculan dan dianggap memenuhi kriteria tadi, termasuk nama Prabowo Subianto. Meski sudah berulang kali dijelaskan bahwa nama Prabowo dimasukkan sebagai cawapres Jokowi lebih cenderung sebuah ledekan atau sindiran politik yang cukup lucu, tapi masih saja ada sebagian pihak yang yakin dan percaya wacana Prabowo menjadi cawapres Jokowi sesuatu yang serius dan layak untuk dipertimbangkan.

Seperti biasa alasan mereka yang berjiwa “Teletubbies Romantis Melankolis” yang bisa mengundang air mata jatuh berlinang dan bercucuran dijadikan acuan, antara lain jika Prabowo menjadi cawapres Jokowi, maka negeri ini akan damai, aman dan tenteram sekaligus menyatukan pendukung kedua belah pihak yang selama ini terpecah belah.

Namun JK memiliki kriteria sendiri untuk pendamping Jokowi, dan kriteria yang disebut JK ini semakin menegaskan Prabowo bukan cawapres Jokowi.

Menurut JK ada dua kriteria yang harus dipenuhi oleh cawapres Jokowi, yaitu:

1. Calon orang nomor dua tersebut bisa meningkatkan elektabilitas.

2. Tokoh yang berpengalaman di pemerintahan.

“Kalau tidak punya pengalaman di pemerintahan, juga nanti sulit mengatur di dalam pemerintah (itu sendiri),” kata JK di sini.

Nama Prabowo Subianto diyakini oleh banyak pihak dapat meningkatkan elektabilitas Jokowi, tapi hanya satu kriteria ini saja yang memenuhi, sedangkan kriteria lainnya tidak, atau dengan kata lain hanya 50% saja memenuhi kriteria yang disebut oleh JK.

Apakah dua kriteria yang harus dipenuhi oleh cawapres Jokowi versi JK tadi mengarah pada satu nama, yaitu Jenderal (purn) Wiranto?

*Sumber gambar: youtube.com


JK Sedang Diledek atau Disindir oleh Puan Maharani?

JK Sedang Diledek atau Disindir oleh Puan Maharani?

Adahati.com – JK sedang diledek atau disindir oleh Puan Maharani? Tapi sebenarnya hal yang biasa saja jika terjadi ledek meledek atau sindir menyindir dalam dunia politik. Belakangan ini pun sudah terjadi hal seperti itu.

Contohnya ledekan atau sindiran yang ditujukan kepada Prabowo Subianto. Selain disindir sebaiknya menjadi cawapres Jokowi, Prabowo pun diledek oleh sebagian pihak tidak akan maju Pilpres 2019, tapi sekadar menjadi king maker saja.

Sindiran pertama kepada Prabowo tadi pun dibumbui kata-kata nan syahdu yang bisa membuat air mata jatuh berlinang, yaitu jika Prabowo menjadi cawapres Jokowi, maka Indonesia pun akan kembali aman dan damai serta menyatukan pendukung kedua belah pihak yang selama ini terpecah belah. Sedangkan sindiran kedua memiliki alasan yang manis sekaligus romantis, yakni Prabowo menjadi king maker bagi Anies Baswedan dengan harapan bisa mengulangi kemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI 2017 lalu.

Lucunya, ledekan atau sindiran politik kepada Prabowo tadi masih ada sebagian pihak yang menganggapnya serius, atau bukan sebuah sindiran.

Kini giliran JK sedang diledek atau disindir oleh Puan Maharani?

Menurut berita di sini, PDIP sedang mengkaji kemungkinan JK menjadi cawapres Jokowi. Bukannya Puan tidak tahu Pasal 7 UUD 1945, tapi ia beralasan, “Ini kan menjadi satu kajian karena kalau UU Pemilu yang juga menjadi pembahasan KPU walau sudah ada hitam di atas putih, implementasinya berubah-ubah.”

Politikus senior PDIP Tjahyo Kumulo pun pernah melontarkan wacana JK Ketua Tim Sukses Jokowi pada Pilpres 2019 yang dianggap sebagai sebuah sindiran agar JK tidak mencalonkan diri sebagai capres maupun menjadi king maker bagi pihak lain.

JK pun menolak wacana tadi. Ia pun membenarkan Pasal 7 UUD 1945 menghalanginya untuk tampil atau maju lagi sebagai cawapres. Selain itu, JK pun mempertimbangkan faktor umur untuk tidak mencalonkan diri lagi. “Saya sudah katakan, saya ini mempertimbangkan juga segi umur, biarkan yang lebih muda,” kata JK di sini.

Apakah Puan Maharani jarang baca berita? Tak tahu JK pernah mengatakan hal seperti itu? Atau sudah pernah baca, tapi masih kurang yakin JK tidak akan mencalonkan diri sebagai capres atau menjadi king maker bagi pihak lain?

Benarkah JK sedang diledek atau disindir oleh Puan Maharani yang mengatakan partainya sedang mengkaji kemungkinan JK menjadi cawapres Jokowi?

Sejak PDIP resmi mendukung Jokowi sebagai capres 2019 makin banyak saja lelucon yang berhamburan dari para politikus, entah berupa ledekan atau sindiran, bahkan di saat serius pun masih bisa mengundang gelak tawa. Tak salah jika ada sebagian pihak yang mengatakan politikus itu sebenarnya lebih lucu dari pelawak.

*Sumber gambar: youtube.com.


Pertemuan Jokowi dan Megawati Ternyata Blunder?

Pertemuan Jokowi dan Megawati Ternyata Blunder?

Adahati.com – Pertemuan Jokowi dan Megawati cukup sering terjadi, dan hal ini bukan sesuatu yang aneh mengingat keduanya berasal dari partai politik yang sama.

Publik pun masih ingat, Jokowi bisa menjadi presiden karena Megawati yang memiliki hak prerogratif menentukan capres PDIP akhirnya memilih Jokowi, meski sempat ragu atau belum yakin dengan kapasitas dan sosok seorang Jokowi pada waktu itu.

Tak kenal maka tak sayang, dan rasa sayang bisa timbul karena sering bertemu.

Pertemuan Jokowi dan Megawati selanjutnya kembali terjadi di Istana Batu Tulis, Bogor pada Selasa (20/2/2018) malam yang merupakan awal dari blunder PDIP.

Menurut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto pada pertemuan Jokowi dan Megawati di atas tadi ada dibicarakan soal Pilpres 2019, meski tidak secara khusus dibahas.

“Tidak secara khusus tapi saya sendiri ya tidak tahu ketika pertemuan di Batu Tulis apakah hal itu dibahas atau tidak karena saat itu saya mendampingi makan malam. Setelah itu ibu Mega dan bapak Jokowi bertemu secara khusus hampir dua jam.”

Khusus atau tidak khusus, pertemuan Jokowi dan Megawati di Istana Batu Tulis, Bogor tadi menghasilkan sebuah blunder di Bali tiga hari kemudian.

 – Blunder, PDIP Umumkan Dukung Jokowi Capres 2019 

Blunder PDIP tadi menyebabkan Pilpres 2019 tidak seru, tegang, dan mencekam lagi seperti halnya Pilpres 2014, tapi sayangnya tidak dimanfaatkan oleh Partai Gerindra yang justru melakukan blunder lainnya.

Partai Gerindra terkesan panik setelah PDIP secara resmi mengumumkan Jokowi adalah capres 2019. Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, “Setelah ini, semua pengurus turun ke bawah rebut kemenangan. Minta Prabowo untuk teguh jadi presiden dimulai dari permintaan Provinsi Banten.”

Memaksakan Prabowo menjadi capres sementara elektabilitasnya diperkirakan tidak akan mampu menyaingi elektabilitas Jokowi hingga hari H Pilpres 2019 ibarat menabur garam ke laut. Rebut kemenangan? Kecil peluangnya berhasil, apalagi jika Partai Demokrat secara resmi menyatakan dukungan politiknya kepada Presiden Jokowi, dan bukan hal yang kebetulan jika saat ini sedang dilakukan negosiasi politik antara PDIP dan Partai Demokrat lewat perantara putra Megawati dan putra SBY.

Gerindra blunder memaksakan Prabowo bertarung dengan Jokowi di Pilpres 2019, kecuali ada kejadian politik luar biasa yang dapat memutarbalikkan keadaan dan menguntungkan posisi Prabowo, sedangkan Jokowi sebaliknya.

Keberuntungan memang bisa datang kapan saja, tapi mengharapkan keberuntungan tadi hadir sekaligus mewujudkan impian yang ada ibarat orang linglung yang mengira bumi berguncang, padahal langkahnya saja yang sempoyongan.

Diperkirakan Anies Baswedan pun sudah tahu dan menyadari sia-sia saja Prabowo merebut kemenangan atau mengalahkan Jokowi, makanya saat ditanya perihal peluangnya mendampingi Prabowo di Pilpres 2019, jawaban Anies pun singkat saja.

“Enggaklah, enggak,” kata Anies di sini.

Jika Anies mengatakan, “Iyalah, iya”, berarti ada blunder lainnya setelah blunder PDIP dan blunder Partai Gerindra tadi.

*Sumber gambar: youtube.com.


Blunder, PDIP Umumkan Dukung Jokowi Capres 2019

Blunder, PDIP Umumkan Dukung Jokowi Capres 2019

Adahati.com – PDIP telah melakukan sebuah langkah blunder? Pada pembukaan Rakernas III PDIP di Denpasar, Bali (23/2/18), Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengumumkan Jokowi sebagai capres 2019. “Dengan ini saya nyatakan calon presiden dari PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo, Metal! Metal! Pasti menang total.”

Dukungan politik PDIP kepada Jokowi untuk maju kembali pada Pilpres 2019 memang hanya tinggal soal waktu saja, tapi seharusnya tidak sekarang ini, melainkan menjelang penutupan pendaftaran capres agar suasana politik tetap ramai dan menggairahkan.

Prabowo Subianto diyakini akan kembali menantang Jokowi pada Pilpres 2019, tapi sampai saat ini elektabilitasnya masih rendah atau jauh di bawah Presiden Jokowi. Maka dari itu timbul ledekan atau sindiran politik yang mengatakan Prabowo lebih pantas jadi cawapres Jokowi, dan Prabowo tidak akan mencalonkan diri, tapi hanya sebagai king maker saja.

Entah ledekan atau sindiran politik apa lagi yang akan diterima oleh Prabowo nantinya, sementara jumlah parpol yang mendukung Jokowi diperkirakan akan terus bertambah, dan hanya menyisakan Partai Gerindra serta PKS saja yang mendukung Prabowo. PAN mungkin masih bisa diharapkan, tapi Partai Demokrat tetap akan memainkan politik dua kaki sambil melihat ke mana arah angin berhembus, atau masih ada kemungkinan yang cukup besar dukungan politik SBY/Partai Demokrat akan diberikan kepada Presiden Jokowi nantinya.

Meski sejumlah pengamat politik atau lembaga survei sudah berusaha merekayasa dan meyakinkan diri bahwa elektabilitas Prabowo akan meningkat menjelang Pilpres 2019 sekaligus bisa mendekati elektabilitas Jokowi, apalagi jika dipasangkan dengan Anies Baswedan, tapi diperkirakan Jokowi dan pasangannya (Wiranto?) sulit untuk dikalahkan, terlepas Prabowo mencalonkan diri lagi maupun sekadar menjadi king maker tidak memengaruhi keunggulan posisi Jokowi untuk menjabat Presiden RI periode berikutnya.

Sebagian pihak pun meyakini Pilpres 2019 tidak akan seramai dan seriuh Pilpres 2014. Jomplang, keunggulan perolehan suara Jokowi terlalu jauh dibanding Prabowo atau anti klimaks Pilpres 2019 nanti.

Seharusnya PDIP mengumumkan dukungan politiknya kepada Prabowo Subianto sebagai capres pada pembukaan Rakernas III PDIP tadi. Konstelasi politik pun berubah, dan menarik serta Pilpres 2019 pun menjadi seru dan menegangkan seperti Pilpres 2014 dengan selisih perolehan suara yang tipis siapapun pemenangnya.

*Sumber gambar: youtube.com.


Wiranto Jadi Cawapres Jokowi, Siapa yang Gelisah?

Wiranto Jadi Cawapres Jokowi, Siapa yang Gelisah?

Adahati.com – Siapa cawapres Jokowi pada Pilpres 2019 nanti?

Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Jenderal (purn) Wiranto diusulkan menjadi cawapres pada Pilpres 2019. “Berdiri saudara-saudara, nyatakan Pak Wiranto sebagai calon Wapres dari Partai Hanura,” kata Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang di sini.

Meski tidak dijelaskan siapa capresnya, publik bisa menebak dengan mudah. Perkiraan yang paling mendekati kebenaran adalah Wiranto akan diusulkan untuk menjadi cawapres Jokowi.

Presiden Jokowi sudah bisa dipastikan akan maju pada Pilpres 2019, dan tidak sedikit pihak yang menjagokannya akan kembali menjabat Presiden Republik Indonesia. Maka dari itu, frasa “Jokowi Dua Periode” pun nyaring terdengar dan menghiasi media.

Meski Jokowi dijagokan akan kembali menjabat presiden, sampai saat ini publik masih bertanya-tanya siapa wakil presiden yang pas dan cocok untuk mendampinginya.

Sejumlah nama pun bermunculan dan diwacanakan, bahkan nama Prabowo pun disebut, entah serius atau sekadar meledek (ngeyek). Tapi sekali lagi siapa cawapres Jokowi pada Pilpres 2019 nanti masih menjadi pembicaraan yang menarik perhatian masyarakat.

Munculnya nama Wiranto menjadi cawapres, dan seandainya benar menjadi cawapres Jokowi memiliki keuntungan strategi dan taktik antara lain terkait hal ini:

  • Usia Wiranto yang lebih tua dan berpengalaman di bidang pemerintahan diyakini pas dan cocok untuk mendampingi Jokowi seperti halnya JK yang lebih tua dan berpengalaman mendampingi Jokowi pada periode 2014-2019.
  • Sosok Jenderal (purn) Wiranto pun diyakini bisa memberikan ketenangan dan stabilitas keamanan yang lebih baik lagi pada periode 2019-2024.
  • Penampilan Wiranto yang tenang menghadapi persoalan bangsa selama ini, ditambah sudah berpengalaman di bidang pemerintahan tadi dianggap mendukung penampilan Jokowi yang tenang, sederhana, dan juga tidak grasa-grusu.
  • Wiranto jadi cawapres Jokowi bisa mengakomodir pendapat pihak-pihak yang menginginkan pemimpin yang berasal dari kalangan militer atau mantan pejabat tinggi militer, apalagi senioritas Wiranto cukup menjanjikan untuk mendulang suara pada Pilpres 2019 nanti.

Meski Wiranto yang dianggap publik dekat dengan Presiden Jokowi ini berasal dari partai kecil atau bukan partai besar, tapi yang dibutuhkan adalah figur atau sosok yang pas dan cocok untuk menjadi pendamping Jokowi pada periode berikutnya.

Kritikan dan kecaman terhadap Wiranto sebagai cawapres Jokowi pada Pilpres 2019, dan diungkap kelemahan-kelemahannya nanti bukan hal yang terlalu mengkhawatirkan, sebab siapapun cawapres Jokowi akan mengalami hal yang sama.

Usulan Wiranto menjadi cawapres, dan jika nantinya terbukti menjadi cawapres Jokowi, pasangan Jokowi-Wiranto ini merupakan strategi dan taktik yang jitu untuk memenangkan Pilpres 2019, juga menggelisahkan atau tidak membuat nyaman sebagian pihak.

Siapa yang gelisah atau tidak nyaman tadi jika Wiranto jadi cawapres Jokowi?

*Sumber gambar: youtube.com.


Presiden Jokowi Tak Tertandingi, Dua Periode Sudah Pasti?

Presiden Jokowi Tak Tertandingi, Dua Periode Sudah Pasti?

Adahati.com – Presiden Jokowi tak tertandingi lagi, dan sudah bisa dipastikan akan menjabat sebagai presiden Republik Indonesia untuk kedua kalinya mengingat lawan-lawan politiknya sampai saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda yang meyakinkan mampu mengalahkannya pada Pilpres 2019 nanti.

Elektabilitas Presiden Jokowi pun masih tetap teratas dan unggul jauh dibanding bakal kandidat presiden lain yang dianggap oleh sebagian pengamat politik dapat mengganggu mulusnya langkah Jokowi untuk menduduki kursi nomor satu.

Pun Jokowi tak tertandingi terkait elektabilitasnya. Media dituding sebagai biang kerok atas tingginya elektabilitas Presiden Jokowi karena sering memberitakannya, termasuk hal yang remeh temeh, padahal sudah biasa atau bukan yang sesuatu yang aneh dan baru. Negara lain pun medianya melakukan hal yang sama. Justru yang patut dipertanyakan adalah mengapa lawan-lawan politik Jokowi tidak mampu melakukannya? Bikin kek sesuatu yang remeh temeh, kemudian media meliputnya. Tapi ada kemungkinan sudah dilakukan, namun media malas memberitakannya, atau dianggap bukan sesuatu yang menarik untuk dijadikan berita.

Prabowo Subianto yang merupakan lawan beratnya pada Pilpres 2014 lalu pun elektabilitasnya masih rendah, bahkan ada yang menganggapnya tidak layak untuk ikut Pilpres 2019, tapi hanya sebagai king maker saja.

Tapi siapa yang mesti dielus-elus jika Prabowo jadi king maker? Apakah elusannya cukup mantap untuk mengalahkan Jokowi? Bagaimana kalau elusannya kurang mantap, dan bakal kandidat presiden yang dielus justru tertidur?

Ada pula lembaga survey yang mengatakan Anies Baswedan bisa dielus seandainya Prabowo jadi king maker. Entah apa dasarnya nama Anies Baswedan dimasukkan sebagai bakal kandidat presiden, padahal banyak pihak yang mengatakan ia hanya “menang kebetulan” saja pada Pilkada DKI 2017 lalu. Elektabilitasnya pun masih rendah. Ada yang mengatakan kalau dielus-elus nanti bisa meningkat, tapi bagaimana kalau elektabilitasnya justru makin tidur atau malah turun setelah dielus?

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo pun ada yang menjagokannya sebagai bakal kandidat presiden, tapi pendapat tadi dianggap terlalu berlebihan, karena Gatot Nurmantyo diasumsikan sudah “masuk kotak”, bahkan untuk cawapresnya pun tidak ada kandidat presiden yang akan meliriknya.

Maka dari itu, Pilpres 2019 nanti tidak lagi seseru Pilpres 2014, atau dianggap anti klimaks.

*Sumber gambar: youtube.com.


JK Ketua Timses Jokowi di Pilpres 2019?

JK Ketua Timses Jokowi di Pilpres 2019?

Adahati.com – JK ketua timses Jokowi di Pilpres 2019 masih sebuah usulan atau wacana yang datang dari seorang menteri kabinet, dan juga salah satu politikus senior PDIP, yaitu Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Alasan atau pertimbangannya jika JK tidak lagi mencalonkan diri. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pun mengatakan tahun 2018 adalah tahun politik karena ada sejumlah agenda politik pada tahun itu, termasuk pendaftaran capres dan cawapres untuk Pilpres 2019. Maka dari itu, Tjahjo Kumolo pun mengharapkan seluruh menteri kompak mendukung Jokowi. Bukan hanya seluruh menteri, tapi Wapres JK juga.

“Mungkin Pak JK tidak maju lagi, mungkin beliau akan siap menjadi ketua timsesnya misalnya begitu. Kalau saya pribadi kalau bisa Pak JK ketua timses nya. saya pribadi loh ya,” kata Tjahjo Kumolo di sini.

Usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi tadi ditanggapi oleh Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Firman Soebagyo. Menurutnya sah saja usulan atau wacana itu, tapi tergantung yang bersangkutan mau menerima atau tidak, karena hal itu merupakan hak politik JK. “Tapi kalau Pak JK enggak berkenan kan itu hak pribadi perorang,” tegasnya.

Mungkin saja nantinya usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi ini akan terus berkembang, tapi bisa juga sebaliknya, atau layu sebelum berkembang.

Entah mana yang benar, tapi wacana JK ketua timses Jokowi di Pilpres 2019 ini berpotensi lucu atau bisa berkembang menjadi lucu dengan pertimbangan sbb:

Pertama, usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi seakan menegaskan Jokowi sudah dipastikan akan mencalonkan diri lagi, padahal Jokowi sendiri belum memastikan atau mengatakannya secara langsung mengenai hal ini. Mungkin saja Jokowi tidak mencalonkan diri lagi, misalnya dengan alasan capek berurusan dengan politik di negeri ini yang secara keseluruhan cenderung tidak jelas arahnya.

Kedua, usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi bisa juga diartikan Tjahjo Kumolo sedang menyindir secara halus agar JK tidak mencalonkan diri lagi. Meski tidak disebut karena faktor usia, tapi JK memang sudah tua, dan tentunya bertambah tua pada tahun 2019 nanti. Mungkin saja JK tidak mencalonkan diri sebagai cawapres, tapi bisa saja sebagai capres karena masih penasaran dan ingin menjadi presiden, atau belum puas hanya sebatas wakil presiden dua periode dengan presiden yang berbeda pula.

Ketiga, usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi dikatakan tergantung JK mau menerima atau tidak, karena hal itu merupakan hak politik JK, padahal Jokowi pun memiliki hak untuk mengatakan tidak, seandainya pun JK menerima usulan itu.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi dengan harapan dapat menemukan hal lain yang berpotensi lucu.

Sumber berita.


Mengapa Megawati Diam Pasca Kekalahan Ahok-Djarot?

Mengapa Megawati Diam Pasca Kekalahan Ahok-Djarot?

Mengapa Megawati Diam Pasca Kekalahan Ahok-Djarot?

Adahati.com – Megawati diam atau tidak memberikan komentarnya pasca kekalahan telak Ahok-Djarot di Pilkada DKI 2017. Apakah Ketua Umum PDIP Megawati diam karena ia sedang bingung mengingat calon gubernur (cagub) yang diusung oleh partainya semakin banyak saja yang kalah atau satu persatu tumbang?

Alasan Megawati diam bukan karena bingung atau belum bisa dipastikan sebabnya. Hal ini mengacu pada pernyataan Wakil Sekretraris Jendral PDIP, yaitu Achmad Basarah yang meenurut keterangannya saat ini Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sedang berada di luar kota, dan sampai saat ini belum bertemu, juga belum ada jadwal pembahasan atau evaluasi terkait kekalahan Ahok-Djarot tadi.

Selain nantinya akan dibahas terkait kekalahan Ahok-Djarot, dibahas juga masalah persiapan menghadapi Pilkada 2018. Ada 5 calon gubernur yang diusung sendiri oleh PDIP, juga Pilpres 2019 dimasukkan ke dalam agenda rapat untuk menyusun road map sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah politik atau strategi dan taktik politik PDIP untuk ke depannya nanti.

“Dalam waktu dekat kami akan menyusun road map untuk Pilkada serentak 2018. Mungkin minggu depan sudah dimulai pembahasan Pilkada 2018,” kata Wakil Sekjen PDIP Achmad Basarah (kompas.com, 26/4/2017).

Jika sebagian besar dari 5 calon gubernur yang diusung sendiri oleh PDIP di Pilkada 2018 tadi kalah lagi, apakah kembali Megawati diam? Pamor PDIP pun otomatis merosot drastis? Juga ikut berdampak buruk pada Pilpres 2019 sehingga hal ini akan memperkecil peluang Jokowi untuk menjabat Presiden Republik Indonesia selama dua periode? Saat ini kebingungan sedang melanda parpol pendukung pemerintah?

Megawati diam seharusnya bukan hal yang aneh, karena selama ini Ketua Umum PDIP itu memang dikenal tidak terlalu banyak bicara meski ketua umum parpol besar. Yang mengherankan justru jika ada pentolan ormas atau ketua umum parpol gurem tapi berisiknya lebih nyaring dari penjual obat pinggir jalan.

Terlepas Megawati diam karena bingung atau sebaliknya, tapi kekalahan Ahok-Djarot, dan calon gubernur yang didukung oleh PDIP sebelumnya memang perlu dievaluasi, kemudian mengambil strategi dan taktik yang jitu untuk ke depannya nanti.

Sumber gambar.

 

 


Cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019

Cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019

Adahati.com – Cawapres (calon wakil presiden) di Pilpres 2019 nanti cukup menentukan posisinya. Masih sekitar 2 tahun lagi. Kemungkinan pertarungan capres (calon presiden) antara Jokowi dan Prabowo Subianto pun masih bisa terjadi seperti Pilpres 2014.

Tulisan sebelumnya di sini – Prabowo Sedang di Atas Angin, Prabowo Presiden Indonesia Berikutnya? – membahas peluang Prabowo Subianto cukup besar untuk menjabat Presiden Republik Indonesia setelah kemenangan telak pasangan cagub Anies-Sandiaga. Hal ini mengacu pada pendapat sebagian pihak yang mengatakan Pilkada DKI 2017 adalah “batu loncatan” untuk Pilpres 2019.

Jika perkiraan di atas tadi benar, wajar kubu Jokowi merasa ketar-ketir, kemudian berusaha mencari strategi dan taktik yang jitu. Dua tahun bukan waktu yang lama, dan siapa yang menempati posisi cawapres cukup menentukan, baik untuk Jokowi maupun Prabowo Subianto. Tapi sekali lagi, siapa cawapres yang menjanjikan dan layak mendampingi mereka jika ingin memenangkan Pilpres 2019 nanti?

Berikut ini perkiraan cawapres yang akan mendampingi Jokowi:

Puan Maharani, ia adalah putri Megawati Ketua Umum PDIP, juga parpol ini pendukung utama, maka wajar saja nama Puan masuk dalam bursa cawapres.

Gatot Nurmantyo, Panglima TNI saat ini, bagian dari kabinet Jokowi, plus peran militer masih memengaruhi kondisi politik Indonesia, bisa jadi pendamping Jokowi nantinya.

Sri Mulyani Indrawati, pilihan alternatif cawapres Jokowi. Mungkin rakyat sudah bosan dan jenuh melihat kandidat yang berasal dari parpol dan militer, atau lebih suka calonnya berasal dari kalangan intelektual.

Sedangkan perkiraan cawapres Prabowo Subianto di Pilpres 2019?

Anies Baswedan, meski ada sebagian pihak mengatakan ia hanya “menang kebetulan” saja karena Ahok tertimpa kasus dugaan penistaan agama, tapi popularitasnya cukup menjanjikan untuk menjadi pendamping Prabowo, apalagi saat menjabat Gubernur DKI Jakarta nanti ternyata sukses menjalankan program rumah DP nol persen atau DP nol rupiah yang masih diragukan oleh sebagian kalangan masyarakat.

Sohibul Iman, Presiden PKS, namanya bisa masuk dalam bursa pendamping Prabowo mengingat hubungan antara Partai Gerindra dan PKS sedang mesra saat ini, serta diperkirakan masih tetap mesra hingga Pilpres 2019 nanti.

Sandiaga Uno dan Hari Tanoe dimasukkan sebagai calon pendamping Prabowo Subianto salah satu alasannya memiliki finansial yang kuat, dan Pilpres butuh dana yang besar atau tidak sedikit dana kampanye yang akan dikeluarkan nantinya.

Demikianlah perkiraan cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto, tapi masih ada kemungkinan kandidat lainnya, yaitu putra sulung SBY, Agus Yudhoyono.

Meski terbilang masih bau kencur di dunia politik, tapi magnetnya cukup kuat menarik dukungan masyarakat. Jika tidak ada serangan politik Antasari Azhar menjelang hari H Pilkada DKI 2017 diperkirakan Agus Yudhoyono yang lolos ke putaran kedua, bukan Anies. Mengingat kasus dugaan penistaan agama yang menimpa Ahok ternyata besar pengaruhnya, seharusnya Agus Yudhoyono Gubernur DKI Jakarta.

Tapi memang menjadikan Agus Yudhoyono sebagai cawapres memiliki kendala mengingat hubungan SBY dan Megawati kurang mesra, begitu pun dengan Prabowo, tapi tidak ada kawan dan lawan yang abadi masih memungkinkan Agus Yudhoyono yang bisa menarik dukungan dari kalangan muda, dan juga sudah bosan melihat politikus tua seperti JK masuk ke dalam bursa cawapres Jokowi dan Prabowo.

Cukup menarik memperkirakan siapa cawapres Jokowi dan Prabowo nantinya dengan asumsi capres yang bertarung di Pilpres 2019 masih merupakan perseteruan antara mereka berdua, tapi mungkin saja konstelasi politik sekitar dua tahun ke depan berubah atau ada cawapres lainnya, juga capres ketiga yang berasal dari perkiraan cawapres di atas tadi, atau mungkin juga di luar perkiraan siapapun.

Sumber gambar.


“Bapak Prabowo presidenku!”, Siapa Bilang?

“Bapak Prabowo presidenku!”, Siapa Bilang?

Adahati.com – Pilpres 2019 diperkirakan masih sekitar 2,5 tahun lagi dihitung dari sekarang, tapi sudah ada orang yang berteriak seperti ini: “Bapak Prabowo presidenku!”.

Sekadar informasi terkait Pilpres 2019, Mahkamah Konstitusi menyatakan diadakannya Pemilu dua kali (Pilpres dan Pileg) bertentangan dengan UUD 1945, sehingga tidak bisa lagi dijadikan dasar penyelenggaraan Pemilu (23/1/14).

“Mengabulkan permohonan pemohon: Pasal 3 ayat 5, pasal 12 ayat 1 dan 2, pasal 14 ayat 2, dan pasal 112 UU No 42 Tahun 2008 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva.

Keputusan Mahkamah Konstitusi ini menyebabkan Pilpres dan Pileg akan dilakukan serentak, bukan terpisah lagi. Menurut Aliansi Masyarakat Sipil, Pemilu yang berlangsung dua kali telah menyalahi konstitusi dan memboroskan uang rakyat hingga Rp 120 triliun.

Kembali bahas frasa “Bapak Prabowo presidenku!”. Siapa yang bilang seperti itu?

Prabowo menghadiri kampanye akbar pasangan cagub Anies-Sandiaga yang diselenggarakan di Lapangan Banteng (5/2/2017). Sejumlah orang yang mengibarkan bendera Partai Gerindra menyerukan “Bapak Prabowo presidenku!”.

Ketua Umum Partai Gerindra ini pun ada mengatakan seperti ini: “Kalau kalian ingin saya jadi presiden 2019, Anies-Sandi Gubernur DKI, betul?.” Tapi sebelumnya berita ini menulis, “Prabowo pun menanggapinya dengan candaan”.

Sebenarnya bercanda atau serius? Sebagian pihak mengatakan “politik itu tidak jelas”. Meskipun demikian, adalah hak Prabowo untuk maju pada Pilpres 2019 nanti.

Jika benar Prabowo Subianto adalah salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti dipastikan ia akan memenangkan Pilpres 2019, tapi dengan catatan hajatan atau pesta demokrasi tadi diselenggarakan di kantor-kantor Partai Gerindra. Pemilih yang boleh mencoblos pun hanya pendukung Partai Gerindra serta simpatisannya saja.

Kali ini benar-benar bercanda, bukan serius.

Tapi entah serius atau bercanda, tidak sedikit pihak yang mengatakan Pilpres 2019 nanti merupakan pengulangan dari Pilpres 2014, artinya akan terjadi lagi pertarungan antara Jokowi dan Prabowo. Tingkat berisik politiknya pun diperkirakan tak jauh berbeda, bahkan bisa lebih berisik dibanding sebelumnya.

Siapa pemenang Pilpres 2019 nanti? Masih ada waktu sekitar 2,5 tahun lagi, dan belum tentu juga kandidatnya hanya mereka berdua saja.

Sumber gambar. 


Prabowo Diusung Jadi Capres 2019, Ada yang Keliru?

Prabowo Diusung Jadi Capres 2019, Ada yang Keliru?

Adahati.com – Prabowo diusung jadi capres 2019 masih sebatas rencana Partai Gerindra, tapi seandainya pun nanti rencana tersebut akhirnya menjadi kenyataan, biasa saja. Cukup banyak pihak yang sudah memperkirakan seperti halnya Jokowi akan kembali tampil sebagai salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti.

Tidak ada yang salah atau keliru dengan rencana Prabowo diusung jadi capres pada Pilpres 2019. Ada yang keliru, jika rencana tersebut akhirnya menjadi kenyataan, tapi Prabowo kembali gagal atau kalah lagi. Entah di mana, tapi pastinya ada yang keliru.

Ada yang cukup menarik dari pernyataan Fadli Zon terkait rencana Prabowo diusung jadi capres 2019 ini. Menurutnya, hal yang biasa jika Prabowo tampil lagi sebagai capres, meski sebelumnya pernah gagal atau kalah. Kemudian ia mengambil contoh Abraham Lincoln. “Presiden Abraham Lincoln saja berkali-kali, biasa itu. Kalau enggak salah belasan kali angkanya. Itu biasa di dalam politik. Hidup saja kita sering gagal, lulus, gagal lulus, biasa saja,” kata Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di sini.

Ada kata “sering gagal” diucapkannya, tapi mengapa dianggap hal yang biasa? Bukankah “sering gagal” itu sebuah aib atau hal yang memalukan? Jangan-jangan Fadli Zon sudah memperkirakan bahwa Prabowo akan gagal lagi.

Mengapa kesannya jadi pesimis?

Menurut pendapat Tante C, keliru mereka yang belum apa-apa, tapi sudah pesimis tadi. Meski dalam keadaan terjepit, tapi sebaiknya tetap yakin dan optimis seperti buah catur hitam pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Menteri hitam terancam, selain posisi hitam saat ini sepertinya sudah tidak ada harapan lagi memenangkan pertandingan ini.
  • Namun, karena hitam tidak senang sering gagal, dan tetap optimis, maka ia melihat ada garis horizontal h2-f2 dan d7-b7, serta garis vertikal d7-d1.

  • Makdarit (maka dari itu), langkah hitam selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Bd5-c5!

  • Hitam tidak keliru, jika ia tidak senang sering gagal, dan tetap optimis.
  • Makanya putih pun menyerah kalah setelah langkah hitam Bd5-c5 tadi.

sumber gambar: youtube.com.