Tag: pilkada dki

Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia ke 8?

Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia ke 8?

Adahati.com – Benarkah Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia  berikutnya? Pertanyaan ini cukup menarik jika mengacu pada pendapat yang mengatakan bahwa Pilkada DKI 2017 adalah “batu loncatan” untuk Pilpres 2019.

Siapa yang memenangkan Pilkada DKI 2017, maka capres yang berasal dari kubu pemenang pengusung cagub akan memengaruhi sekaligus memenangkan Pilpres 2019. Pasangan cagub Anies-Sandiaga diusung oleh Partai Gerindra dengan Ketua Umumnya Prabowo Subianto. Hasil perhitungan cepat seperti sudah diketahui dimenangkan oleh pasangan cagub Anies-Sandiaga.

Kemenangannya pun telak, dan diperkirakan pendukung Ahok-Djarot serta Anies-Sandiaga pun heran atas hasil perhitungan cepat tadi. Ada yang janggal? Ada atau tiada terserah saja, saat ini yang dibahas masih seputar Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia ke 8, benar atau tidak.

Jauh sebelumnya sudah ada wacana Gerindra akan kembali mengusung Prabowo sebagai capres pada Pilpres 2019 nanti. Di sisi lain Jokowi pun akan tampil kembali sebagai capres yang didukung oleh PDIP. Diperkirakan capres dan parpol pendukung yang bertarung di Pilpres 2019 nanti masih seperti Pilpres 2014 lalu.

Jika perkiraan tadi benar, Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia berikutnya? Karena Jokowi, entah siapa pun cawapresnya, kalah telak seperti dialami oleh Ahok-Djarot pada Pilkada DKI 2017? Kecil kemungkinannya ada pasangan capres yang kalah telak pada Pilpres 2019 nanti, kecuali ada capres yang terkena kasus dugaan penistaan agama atau isu-isu politik besar lainnya.

Terlepas menangnya tipis, tapi tetap saja Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia berikutnya? Pada Pilpres 2014 lalu Prabowo pun kalah tipis, dan kekalahan itu menyebabkan Prabowo menyandang status “si kalah”. Namun kemenangan telak Anies-Sandiaga menghapus status “si kalah” tadi.

Tak heran Prabowo terlihat berseri-seri dan gembira menyambut kemenangan telak Anies-Sandiaga di Pilkada DKI 2017.

Sebelumnya ada perkiraan skenario seperti ini.

Pertama, Ahok-Djarot memenangkan Pilkada DKI 2017, kedua Ridwan Kamil yang diusung oleh PDIP memenangkan Pilkada Jabar 2018, dan ketiga Prabowo kembali kalah di Pilpres 2019, tapi perkiraan skenario tadi meleset.

Pasangan cagub yang didukung PDIP bertambah kalahnya setelah Anies-Sandiaga memenangkan Pilkada DKI 2017. Jika benar PDIP mendukung Ridwan Kamil, tapi kembali kalah lagi pada Pilkada Jabar 2018, sudah bisa dipastikan Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia berikutnya? Makanya keramaian politik di Pilkada DKI 2017 akan pindah ke Pilkada Jabar 2018?

Benar atau tidaknya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia ke 8, dan Pilkada Jabar 2018 akan berlangsung seru seperti Pilkada DKI 2017, silakan saja tunggu dengan hati yang berdebar-debar atau sebaliknya.

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini

  • Putih giliran melangkah.
  • Langkah kemenangan putih?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Me5-c7+!

  • Bingung?
  • Bagaimana jika hitam Ke6xMc7?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.

Sumber gambar.


SBY Sebenarnya Ditolong oleh Antasari Azhar?

SBY Sebenarnya Ditolong oleh Antasari Azhar?

Adahati.com – Mantan Ketua KPK Antasari Azhar “berkicau” yang cenderung menyudutkan SBY, seperti pernah ditulis sebelumnya di sini. Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang merasa prihatin dengan keadaan SBY saat ini.

Terlepas percaya atau tidak, sebenarnya “kicauan” Antasari tadi adalah sebuah pertolongan yang tak terduga, sebab SBY tidak jadi “kehilangan muka” alias malu.

Sebagian pihak menduga SBY rela “mengorbankan” anaknya, Agus Yudhoyono yang memiliki karir militer yang cemerlang untuk ditarik ke dunia politik. Memang SBY dan kubu Partai Demokrat telah memberikan penjelasan, tapi sebagian pihak tadi cenderung lebih percaya bahwa SBY telah “mengorbankan” anaknya demi mewujudkan sebuah ambisi politiknya.

Diperkirakan SBY memiliki kalkulasi politik sendiri, katakanlah “kalkulasi politik kemenangan”. Jika tidak, masak sih SBY sampai rela “mengorbankan” anaknya?

“Kalkulasi politik kemenangan” tadi, meski sudah menjalankan taktik yang menjanjikan kemenangan, buyar menjelang hari H Pilkada DKI karena ada serangan balik politik yang datang. Beberapa hasil survei seperti Litbang Kompas, SMRC, dan Poltracking pun menunjukkan elektabilitas Agus-Sylvi berada di posisi terbawah.

Tanda-tanda kekalahan itu sudah mulai terlihat, meski tidak terlalu mencolok, tapi datang lagi serangan politik lainnya sehari menjelang hari H Pilkada DKI berupa “kicauan” Antasari Azhar, sehingga kekalahan Agus-Sylvi tidak tipis lagi, tapi cukup telak seperti terlihat dari perhitungan cepat Litbang Kompas di bawah ini.


Sebenarnya ada atau tidak ada “kicauan” Antasari Azhar, “kalkulasi politik kemenangan” SBY sudah meleset, atau Agus-Sylvi memang sudah diperkirakan akan kalah dan tersingkir. Hanya bedanya kekalahannya menjadi telak, dan Anies-Sandiaga yang lebih banyak mendapat “muntahan suara” dibanding pasangan cagub Ahok-Djarot.

Makanya “kicauan” Antasari itu ada sisi baiknya, blessing in disguise, sebuah pertolongan yang membuat SBY tidak jadi “kehilangan muka”, dan dimanfaatkan oleh SBY untuk “berkicau” lewat akun Twitternya.

Kalau tidak ada “kicauan” Antasari, Agus-Sylvi tidak akan kalah, seperti itu kira-kira pesan yang ingin disampaikannya. Padahal, sekali lagi, ada atau tidak ada “kicauan” Antasari, Agus-Sylvi tetap kalah dan tersingkir.

Sumber gambar. 


Ahok-Djarot 64%, Anies-Sandiaga 20%, Agus-Sylvi 16%?

Ahok-Djarot 64%, Anies-Sandiaga 20%, Agus-Sylvi 16%?

Adahati.com – Ahok-Djarot mendapat 64%, sedangkan pasangan cagub lainnya, yaitu Anies-Sandiaga dan Agus-Sylvi masing-masing mendapat 20% dan 16% saja. Panik?

Kepanikan bisa terjadi, ketika harapan dan keyakinan yang tadinya sudah membumbung tinggi ke langit, namun tiba-tiba sebentar lagi akan jatuh terhempas ke bumi. Kecewa, kemudian menangis guling-guling di ubin. Begitulah orang yang mudah panik, padahal masalah yang membuatnya panik tadi belum tentu jelas.

Begini penjelasannya. Ahok-Djarot mendapat 64%, Anies-Sandiaga 20% dan Agus Sylvi hanya 16% saja, bukan perkiraan hasil perolehan suara di Pilkada DKI 2017, tapi share of media yang didapat oleh ketiga pasangan cagub tadi.

Menurut pantauan aplikasi rakyat memilih (rame.id) pada 23 September 2016-13 Januari 2017 terhadap 28 situs online, dari total 31.370 pemberitaan yang ada, pasangan Ahok-Djarot mendapat 64%, dan sisanya dibagi dua untuk pasangan cagub lainnya.

Pengamat politik Gun Gun Heryanto menanggapi, bahwa debat publik antar cagub memberikan dampak terhadap preferensi pemilih. contohnya, karakteristik ketiga pasangan cagub yang mengalami naik turun.

“Ada korelasi debat pada opini warga,” jelasnya di sini.

Menyedihkan, terutama untuk Agus-Sylvi? Dalam hal share of media pun kalah dan berada di urutan terbawah. Sebelumnya hasil survei dari Litbang Kompas, SMRC, dan Poltracking menjelang Pilkada DKI 2017 pun menunjukkan elektabilitas Ahok-Djarot teratas, Anies-Sandiaga di tengah, dan Agus-Sylvi di urutan terbawah.

Panik? Butuh bantuan hasil survei LSI? Diperkirakan Pilkada DKI 2017 akan berlangsung dua putaran, dan pasangan cagub Ahok-Djarot sudah bisa dipastikan melaju ke sana. Tapi, dari tiga hasil survei di atas tadi yang lebih layak dipercaya adalah elektabilitas Anies-Sandiaga dan Agus-Sylvi hanya beda tipis saja.

Artinya salah satu dari kedua pasangan cagub tadi ada yang tersingkir. Panik? Karena hanya tersisa satu tiket yang mesti diperebutkan? Entah siapa yang tersingkir, bagi pasangan cagub yang tersingkir, ya sudah…Adios Amigo.

adios amigo, adios my friend
the road we have traveled has come to an end

adios compadre, let us shed no tears
may all your mananas bring joy through the years –
Jim Reeves.

Ilustrasi: tempo.co.


“Bapak Prabowo presidenku!”, Siapa Bilang?

“Bapak Prabowo presidenku!”, Siapa Bilang?

Adahati.com – Pilpres 2019 diperkirakan masih sekitar 2,5 tahun lagi dihitung dari sekarang, tapi sudah ada orang yang berteriak seperti ini: “Bapak Prabowo presidenku!”.

Sekadar informasi terkait Pilpres 2019, Mahkamah Konstitusi menyatakan diadakannya Pemilu dua kali (Pilpres dan Pileg) bertentangan dengan UUD 1945, sehingga tidak bisa lagi dijadikan dasar penyelenggaraan Pemilu (23/1/14).

“Mengabulkan permohonan pemohon: Pasal 3 ayat 5, pasal 12 ayat 1 dan 2, pasal 14 ayat 2, dan pasal 112 UU No 42 Tahun 2008 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva.

Keputusan Mahkamah Konstitusi ini menyebabkan Pilpres dan Pileg akan dilakukan serentak, bukan terpisah lagi. Menurut Aliansi Masyarakat Sipil, Pemilu yang berlangsung dua kali telah menyalahi konstitusi dan memboroskan uang rakyat hingga Rp 120 triliun.

Kembali bahas frasa “Bapak Prabowo presidenku!”. Siapa yang bilang seperti itu?

Prabowo menghadiri kampanye akbar pasangan cagub Anies-Sandiaga yang diselenggarakan di Lapangan Banteng (5/2/2017). Sejumlah orang yang mengibarkan bendera Partai Gerindra menyerukan “Bapak Prabowo presidenku!”.

Ketua Umum Partai Gerindra ini pun ada mengatakan seperti ini: “Kalau kalian ingin saya jadi presiden 2019, Anies-Sandi Gubernur DKI, betul?.” Tapi sebelumnya berita ini menulis, “Prabowo pun menanggapinya dengan candaan”.

Sebenarnya bercanda atau serius? Sebagian pihak mengatakan “politik itu tidak jelas”. Meskipun demikian, adalah hak Prabowo untuk maju pada Pilpres 2019 nanti.

Jika benar Prabowo Subianto adalah salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti dipastikan ia akan memenangkan Pilpres 2019, tapi dengan catatan hajatan atau pesta demokrasi tadi diselenggarakan di kantor-kantor Partai Gerindra. Pemilih yang boleh mencoblos pun hanya pendukung Partai Gerindra serta simpatisannya saja.

Kali ini benar-benar bercanda, bukan serius.

Tapi entah serius atau bercanda, tidak sedikit pihak yang mengatakan Pilpres 2019 nanti merupakan pengulangan dari Pilpres 2014, artinya akan terjadi lagi pertarungan antara Jokowi dan Prabowo. Tingkat berisik politiknya pun diperkirakan tak jauh berbeda, bahkan bisa lebih berisik dibanding sebelumnya.

Siapa pemenang Pilpres 2019 nanti? Masih ada waktu sekitar 2,5 tahun lagi, dan belum tentu juga kandidatnya hanya mereka berdua saja.

Sumber gambar. 


Sahabat Jokowi Senang Memainkan “Trik Politik Basi”?

Sahabat Jokowi Senang Memainkan “Trik Politik Basi”?

Adahati.com – Sahabat Jokowi yang satu ini, yaitu SBY menurut sebagian pihak posisinya saat ini sudah lemah sejak melakukan blunder atau termakan asumsinya sendiri bahwa ada penyadapan percakapan antara dirinya dan Ketua MUI, Ma’ruf Amin.

Posisi sahabat Jokowi yang sudah lemah ini berimbas atau memengaruhi juga posisi politik anaknya, Agus Yudhoyono yang sedang berusaha untuk merebut kursi DKI satu. Tentu saja keadaan ini cukup memprihatinkan, apalagi hari H Pilkada DKI 2017, mengutip lagu Krisdayanti, tinggal menghitung hari saja.

Menghitung hari, detik demi detik
Masa kunanti apa kan ada
Jalan cerita, kisah yang panjang, menghitung hari…

Meski posisinya sudah lemah dan terpojok, sahabat Jokowi masih berusaha melakukan perlawanan untuk mengembalikan posisinya atau tidak semakin terpuruk saja. Beberapa waktu lalu ia sempat berkicau di sini.

“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang? *SBY*.”

Kemarin, sahabat Jokowi kembali berkicau lewat akun Twitternya di sini. “Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bangsa ini rukun dan bersatu -Susilo Bambang Yudhoyono-“. Ada yang terharu atau terenyuh?

Sebelumnya pun sahabat Jokowi sudah berkicau seperti ini: “Bpk Ma’ruf Amin, senior saya, mohon sabar & tegar. Jika kita dimata-matai, sasarannya bukan Bpk. Kita percaya Allah Maha Adil *SBY*.”

Kali ini diperkirakan ada sebagian pihak yang tersenyum, mengingat kicauannya itu mengesankan bukan dirinya yang patut dikasihani meski posisinya sudah lemah dan terpojok, melainkan Ketua MUI, Ma’ruf Amin.

Sebagai seorang sahabat, SBY pun sempat menuduh ada dua atau tiga orang di sekitar Presiden Jokowi yang menghalang-halangi pertemuan mereka selama ini.

Frasa “orang di sekitar Presiden Jokowi” ini mengesankan ada “pengkhianat” yang memberikan informasi kepada SBY. Seolah-olah ada perpecahan di tubuh pemerintahan Presiden Jokowi, namun trik ini boleh dibilang “trik politik basi”.

Memang sahabat Jokowi yang satu ini diasumsikan senang memainkan “trik politik basi” yang sudah ketinggalan zaman. Posisinya pun tetap lemah dan terpojok, juga memengaruhi posisi anaknya, Agus Yudhoyono untuk merebut kursi DKI satu, padahal hari H Pilkada DKI 2017 tinggal menghitung hari saja.

Maka dari itu, kursi DKI satu pun sudah dianggap hilang, atau pergi entah ke mana.

Pergi saja…cintamu pergi
Bilang sajaaaa… pada semua
Biar semua tahu adanya
Diriku kini sendiri

Sumber gambar


Penyesalan Prabowo yang Bikin Orang Tersenyum Simpul

Penyesalan Prabowo yang Bikin Orang Tersenyum Simpul

Adahati.com – Prabowo Subianto bisa juga menyesal atau ada penyesalan Prabowo di sini. Dia menyesal telah memilih Ahok dan memenangkannya pada Pilkada DKI lalu.

“Kita sudah cari yang paling terbaik, kali ini bener deh. Gue minta maaf deh pernah ngakuin yang dulu itu. Maafin deh yah, jangan liat ke belakang,” begitu penyesalan Prabowo, Ketua Umum Partai Gerindra.

Penyesalan Prabowo ini bikin orang tersenyum simpul saja. Memang penyesalan selalu datang belakangan. Percuma menyesali kejadian yang telah lalu, sebab masa lalu tidak akan kembali lagi, kecuali ditemukan mesin waktu yang bisa membawa manusia ke masa silam.

Selain ada penyesalan Prabowo, ia pun mengomentari kepemimpinan Ahok selama ini. Menurutnya, Indonesia butuh kepemimpinan yang sejuk, tidak tukang marah dan maki-maki orang, apalagi terus menyalahkan anak buah. Sebenarnya beberapa bulan lalu pun sudah ada pihak yang mengatakan seperti itu. Kaset rusak yang diputar ulang? Mengapa masih mengandalkan kaset rusak yang cenderung membosankan dan bikin orang lain ngantuk?

Apakah tidak ada bentuk serangan politik lainnya yang lebih kreatif dan tidak bikin orang ngantuk? Mungkin ada sebagian pihak yang heran dan bertanya seperti itu.

Tapi apakah benar komentar Prabowo tadi hanya bikin ngantuk saja? Mungkin ada sebagian pihak yang tidak merasa ngantuk, dan menilai komentar Prabowo tadi sudah tepat, apalagi diucapkannya saat kampanye demi memenangkan pasangan cagub Anies-Sandiaga yang didukung oleh Partai Gerindra.

Menurut pendapat Tante C, ngantuk atau tidak ngantuknya seseorang mendengar ocehan orang lain bisa banyak faktor penyebabnya. Bisa karena ini, bisa karena itu. Namun, jika Anda ingin menghilangkan ngantuk yang ada sebenarnya tidak sulit dan rumit. Perhatikan saja Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Markikir, mari kita berpikir supaya tidak mengantuk.
  • Apa langkah putih selanjutnya agar putih bisa memenangkan pertandingan ini?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Bd1xKd7!

  • Jika hitam Bd8xBd7, putih Mf4-b8+, mat.
  • Jika hitam Rc8xBd7, hitam tetap kalah.
  • Bingung?
  • Pegangan.

Sumber gambar. 


Ucapan Prabowo Subianto Ini Membingungkan?

Ucapan Prabowo Subianto Ini Membingungkan?

Adahati.com – Ucapan Prabowo Subianto bahwa Pilkada DKI 2017 memiliki arti yang khusus dan lebih, cukup membingungkan. Apa maksud maksud ucapan Prabowo Subianto tadi bahwa “Pilkada DKI memiliki arti yang khusus dan lebih”?

Beberapa waktu lalu Megawati sempat mengatakan keheranannya terkait banyaknya energi yang terkuras di Pilkada DKI 2017, padahal sebentar lagi akan berlangsung juga pilkada-pilkada lain yang tak kalah pentingnya.

Ternyata begini maksud ucapan Prabowo Subianto tadi. “Pemilihan gubernur di DKI kali ini punya arti yang khusus, arti yang lebih dari pada pemilihan-pemilihan gubernur yang lain. Pemilihan tahun ini telah menjadi pertarungan, pertarungan antara nilai yang baik melawan nilai yang tidak baik,” katanya di sini.

Apa maksud ucapan Prabowo Subianto tentang “nilai yang baik” dan “nilai yang tidak baik”? Selanjutnya ia pun mengatakan, “Nilai yang benar melawan nilai yang tidak benar. Nilai yang jujur melawan nilai yang tidak jujur. Nilai yang lurus melawan nilai yang akal-akalan dan licik-licikan.” Nilai yang benar itu sama atau tidak dengan nilai yang baik? Apa bedanya antara nilai yang tidak benar dan nilai yang tidak baik?

Ia pun merasa negara Indonesia sedang sakit, karena orang yang memiliki uang banyak dihormati, sementara yang akhlaknya baik kurang dihormati.

Ada yang merasa ngantuk? Karena ucapan Prabowo Subianto tadi bukan sesuatu yang baru? Sudah lama ada yang mengatakan “negara Indonesia sedang sakit”, pun tidak sedikit pihak yang mengatakan orang kaya dihormati dan bisa “membeli hukum”.

Apakah benar ucapan Prabowo Subianto tadi membingungkan dan bikin ngantuk saja? Mungkin ada yang tidak bingung terkait antara “nilai baik dan nilai benar” atau “nilai tidak baik dan nilai tidak benar”. Begitu juga ada yang tidak mengantuk terkait ucapan Prabowo Subianto tentang “negara Indonesia sedang sakit”, dan orang kaya atau banyak uang dihormati. Biasa ucapan seperti itu dilontarkan saat kampanye.

Terlepas ada yang bingung dan ngantuk atau sebaliknya, saran Tante C lupakan saja. Ingat kata Megawati, jangan menguras energi dan perhatian untuk masalah yang tidak terlalu penting. Masih ada yang jauh lebih penting untuk dibahas dan diperhatikan.

Misalnya Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Putih giliran melangkah dan menang.
  • Bingung, belum tahu langkah menangnya putih?
  • Perhatikan saja garis diagonal b2-g7 dan garis vertikal g5-g8.

 

  • Makdarit, langkah menang putih?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Bd1xd7!

 

  • Masih bingung juga?
  • Pegangan.

sumber berita: detik.comsumber foto: youtube.com.

 


Mengapa Elektabilitas Agus Yudhoyono Turun Drastis?

Mengapa Elektabilitas Agus Yudhoyono Turun Drastis?

Adahati.com – Elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis, siapa bilang? Sebelum bahas lebih jauh terkait elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis ini, ada baiknya terlebih dahulu menyimak pernyataan dari Sandiaga Uno, calon wakil gubernur DKI Jakarta.

Menurut Sandiaga Uno, hasil survei LSI yang dikeluarkan baru-baru ini berbeda jauh dari hasil survei internal pihaknya, atau tidak benar hasil survei LSI tadi. Kemudian ia menambahkan, pihaknya tidak menggunakan survei untuk menggiring opini publik.

Survei LSI Denny JA mengatakan elektabilitas Anis-Sandiaga turun dan berada di urutan terbawah serta ada tiga alasannya.

Pertama, karena kunjungan Anies ke markas FPI dan bertemu Rizieq Shihab yang tidak sejalan dengan pemilih Anies-Sandiaga yang moderat. Alasan kedua, tidak ada program unggulan yang dikampanyekan secara masif. Contohnya seperti “rumah apung”? Tidak disebutkan contohnya oleh LSI Denny JA. Alasan ketiga, daya tarik pasangan cagub Anies-Sandiaga kalah dibanding Ahok-Djarot dan Agus-Sylvi.

Tiga alasan elektabilitas Anies-Sandiaga turun menurut LSI Denny JA yang dibantah oleh Sandiaga Uno, karena menurut hasil survei dari pihaknya tidak demikian adanya.

Ada-ada saja. Tante C pun hanya bisa tersenyum simpul menyimak jawaban atau pernyataan kandidat dan pihak yang pro kubu tertentu. Meski disampaikan secara serius, tapi tetap saja kesannya lucu.

Maka dari itu, tak perlu heran jika elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis kata si anu, si polan, atau siapa saja. Alasannya elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis bisa dibuat nanti. Memangnya butuh berapa banyak alasan?

Sandiaga Uno pun mengatakan survei itu “menggiring opini publik”. Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini pun ada kaitannya dengan kata menggiring.

Diambil dari partai babak pertama Tata Steel Chess 2017 untuk kelompok Chalengers antara Markus Ragger dan Jeffery Xiong. Langkah hitam sebelumnya, Ma2-d2.

  • Bc1-f1 …… Bf8-e8
  • Bf1-f3 ……. a5-a4
  • Bf3-g3+ …. Rg8-f8
  • Mf6-g7+ … Rf8-e7
  • f5-f6+ ……. Re7-d8

  • Mg7xf7 …… a4-a3
  • Mf7-a7 …… Md2-c1+
  • Rh1-h2 …… Mc1-f4
  • Ma7-b8+ … Re8-e7
  • Mb8-b5+ … Re7-e8

  • Raja hitam hanya bisa pasrah digiring oleh Menteri putih.
  • Mb5xb4 …… h7-h5
  • Mb4xd6+ … Rd8-c8
  • Md6-c6+ ….. Rc8-d8
  • f6-f7

Gens Una Sumus.

sumber foto: youtube.com dan sumber berita: news.detik.com.


Agus Yudhoyono Kena Sentil oleh Ahok

Agus Yudhoyono Kena Sentil oleh Ahok

Adahati.com – Agus Yudhoyono kena sentil oleh Ahok? Biasanya kalau ada kata “sentil” akan dikuti oleh kata “kuping”. Misalnya, kuping anak kecil itu disentil oleh abangnya. Mengapa disentil? Bisa jadi abangnya sedang kesal, atau sekadar iseng kurang kerjaan.

Tapi yang dimaksud Agus Yudhoyono kena sentil oleh Ahok di sini masih berkait dengan “perang pernyataan”. Berawal dari kubu Agus Yudhoyono yang mengklaim bahwa kantong-kantong suara di Jakarta sudah dikuasai, lalu ditanggapi oleh Ahok seperti ini: “Enggak apa-apa. AHY kan artinya juga Ahok Hakul Yakin.”

Tak lama kemudian ada pernyataan Agus yang menyentil balik. Ia mengatakan jangan memilih pemimpin yang tukang gusur, katanya dalam sebuah kampanye di Kelurahan Bungur, Jakarta Barat. Ahok pun diam saja, tidak balas menyentil?

Salah satu penyebab banjir di Jakarta terjadinya penyempitan sungai dan tali air. Tidak terlalu sulit mengatasinya, yaitu dengan menormalkan kembali bentuknya.

“Orang bilang gusur, sekarang gua tanya, normalisasi sungai tanpa menghilangkan rumah-rumah yang menduduki trase sungai itu caranya gimana? Diapungin rumahnya,” kata Ahok di sini.

Konsep “rumah apung” sempat viral di medsos beberapa waktu lalu, dan menjadi bahan tertawaan sebagian pihak. Agus Yudhoyono kena sentil lagi oleh Ahok.

Sampai saat ini belum ada sentilan balasan dari Agus Yudhoyono. Mudah-mudahan masih ada sentilan balasan lainnya yang lebih keras.

Menurut pendapat Tante C, hal yang biasa dalam politik saling sentil.

Sentil menyentil pun biasa terjadi di dunia catur. Sentilannya bisa lunak, bisa juga keras seperti terlihat pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Putih giliran melangkah.
  • Siapa yang akan kena sentil?
  • Ada terlihat garis diagonal e3-a7 yang berkaitan dengan garis horizontal a7-d7.
  • Selain itu ada pula garis vertikal c5-c8 dan garis horizontal c8-g8.

 

  • Makdarit (maka dari itu), siapa yang sebentar lagi kena sentil?
  • Sakitkah sentilan putih ini?
  • Ba2-a7!

  • Kalau langkah hitam begini, yang kena sentil itu.
  • Kalau langkah hitam begitu, yang kena sentil ini.

Gens Una Sumus.

sumber foto: youtube.com.


Agus Yudhoyono Sempoyongan di Debat Cagub?

Agus Yudhoyono Sempoyongan di Debat Cagub?

Adahati.com – Benarkah Agus Yudhoyono sempoyongan di debat cagub? Pertanyaan ini mungkin membuat sebagian pihak bingung, terutama pada kata sempoyongan.

Menurut KBBI online, arti kata sempoyongan adalah “terhuyung-huyung hendak jatuh”. Tentu kata “sempoyongan” ini jangan diartikan secara harfiah. Agus Yudhoyono sempoyongan yang dimaksud tadi adalah putra SBY tersebut gelagapan, atau gugup pada debat cagub pertama yang akan diadakan tanggal 13 Januari 2017 nanti (debat cagub kedua dan ketiga diadakan tanggal 27 Januari dan 10 Februari 2017).

Apa alasannya Agus Yudhoyono sempoyongan? Karena ia baru terjun di dunia politik dan minim pengalaman, begitu juga Sylvi. Ahok-Jarot dan Anies-Sandiaga akan melancarkan serangan-serangan politik yang bisa membuat Agus Yudhoyono sempoyongan karena grogi atau gugup tadi.

Agus pun sepertinya sudah pasrah, jika menyimak dari pernyataannya di sini. “Debat bukanlah segalanya. Segalanya bagi saya adalah bertemu dengan rakyat.”

Menurut pengakuan putra SBY ini, ia telah telah mempersiapkan diri, juga telah belajar dari sejumlah mentor yang memiliki kompetensi di bidang politik dan tata negara. “Tentu saya banyak belajar dari siapapun termasuk dari mentor-mentor yang saya anggap sudah memiliki pengalaman luar biasa,” katanya.

Tapi sekali lagi, pengalaman politik Agus masih minim atau nol, dan pengalaman tidak bisa dibeli. Diperkirakan Agus Yudhoyono sempoyongan di debat cagub nanti.

Tentu saja semua ini hanya perkiraan saja. Siapa tahu Agus lihai dalam berdebat nanti, meski pengalaman politiknya minim. Keberuntungan pun bisa datang tanpa diduga.

Benar atau tidaknya Agus Yudhoyono sempoyangan di debat cagub nanti, markisak (mari kita saksikan) saja apa yang terjadi sesungguhnya pada 13 Januari 2017 nanti.

Bukan hanya di politik, pengalaman pun diperlukan dalam permainan catur supaya tidak dihajar dari kiri dan kanan seperti buah catur hitam yang sempoyongan pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Diambil dari partai antara juara dunia Alexander Alekhine (putih) dan A. Cruz (hitam) pada tahun 1941. Setelah langkah 14, diagram caturnya seperti di atas.
  • g2-g4 … Kb8-d7
  • h4-h5 … Kd7-f6

 

  • Menteri putih diancam oleh Kuda hitam, tapi putih santai saja.
  • Langkah putih selanjutnya?
  • Kg5xf7!

 

  • Hitam langsung sempoyongan. Jika hitam Kf6xMe4, putih Kf7xMd8+, dst.
  • Langkah hitam selanjutnya, Be7xKf7 yang dibalas oleh putih dengan h5xg6.
  • Kf6xMe4?

 

  • Hitam minim pengalaman, dua langkah kemudian Raja hitam pun sempoyongan, dan akhirnya jatuh tersungkur di petak pojok sana.
  • Masih bingung juga?
  • Pegangan lagi.

sumber foto: youtube.com.


Mengapa Ahok Tetap Blusukan Meski Dihadang?

Mengapa Ahok Tetap Blusukan Meski Dihadang?

Adahati.com – Ahok tetap blusukan dan “jualan obat” di masa kampanye Pilkada DKI 2017. Bukan hanya Ahok, cagub lainnya pun “jualan obat” atau mempromosikan diri.

Cara mempromosikan diri atau “jualan obat” lainnya lewat sebuah perdebatan di acara televisi swasta, tapi beberapa waktu lalu ada pasangan cagub yang tidak mengikutinya, entah karena takut atau ada alasan lainnya. Tentu saja blunder, jika mengakui takut. Maka dari itu, perlu alasan untuk menangkis tuduhan takut tadi dengan mengatakan lebih baik blusukan daripada berdebat di acara televisi swasta.

Hal yang biasa berdalih, memberikan alasan atau memainkan taktik seperti itu. Justru mengherankan apabila bersedia “menari di atas gendang yang ditabuh oleh orang lain”.

Ahok tetap blusukan hari ini (30/12/2016), meski dihadang oleh seorang warga di Jati Padang, Jakarta Selatan seperti diberitakan detik.com di sini.

“Pak Ahok, mana izinnya, kenapa tiba-tiba ke sini tanpa izin RT/RW?” katanya.

Menurut Suparno (40) warga lainnya mengatakan bahwa pria yang cenderung lebay (berlebihan) tadi adalah seorang kader dari partai pendukung cagub lain.

“Biasa Mas, itu pendukung cagub lain. Memang warga asli, tapi yang nolak dia aja.”

Menurut pendapat Tante C sebaiknya jadi orang jangan terlalu lebay atau berlebihan. Biasa saja menanggapi sesuatu meski kurang berkenan di hati. Santai saja.

Ahok tetap blusukan, meski dihadang. Begitupun dengan Tante C, tetap akan memberikan Trik dan Problem Catur yang Sederhana, meski ada sebagian pihak yang merasa tertipu, atau dibohongi pakai Ahok. Santai saja, tak perlu berlebihan dan mengatakan diri ini sudah dibohongi pakai judul tulisan yang cenderung bombastis.

  • Putih giliran melangkah, dan kemenangan putih tak bisa dihadang lagi.
  • Bukankah bentuk bangunan caturnya masih sulit dan rumit?
  • Ingat, jangan lebay atau berlebihan.
  • Ba7-a8!

  • Benteng putih blusukan dari petak a7 ke petak a8.
  • Kemenangan putih tak bisa dihadang, meski langkah hitam berikutnya Be8xBa8, h7-h6, Mg6-f7 atau langkah hitam lainnya.
  • Masih bingung juga?
  • Pegangan lagi.

Gens Una Sumus.

sumber berita: detik.com, sumber gambar: youtube.com.


Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Adahati.com – Prabowo Subianto rencananya akan turun gunung bulan Januari 2017 nanti, atau ikut kampanye akbar demi memenangkan pasangan cagub Anies-Sandiaga.

Menurut hasil beberapa survei belakangan ini posisi Anies-Sandiaga di urutan paling bawah dibanding pasangan cagub lainnya. Hal ini tentu cukup memprihatinkan bagi kubu Anies-Sandiaga yang didukung oleh Partai Gerindra. Anies pun merasa heran atas hasil survei-survei yang menempatkan pososinya pada urutan terbawah tadi. Ia pun sempat memanfaatkan fenomena “Om Telolet Om”.

“Saya lihat survei juga banyak telolet,” ujar Anies sambil tertawa di sini.

Meski Anies tidak menjelaskankan apa maksudnya banyak survei yang “telolet” tadi, tapi diperkirakan ia memelesetkan kata “Telolet” menjadi “Tulalit” yang artinya kurang cerdas, atau berkaitan dengan telmi (telat mikir) dan sejenisnya.

Prabowo sendiri yang selama ini memantau kampanye Anies-Sandiaga mengatakan sebenarnya ia bergejolak hebat ingin segera turun gunung melakukan kampanye akbar untuk memenangkan pasangan cagub yang didukung oleh partainya itu.

Kemudian ia mengatakan, “Walaupun semua orang tahu, mungkin yang lain dananya sangat besar, tapi kita berjuang atas dasar nilai nilai berjuang untuk demokrasi. Jadi bagi saya Anies-Sandi lambang demokrasi, lambang keadilan, kerakyatan, bukan simbol oligarki, bukan simbol politik dinasti atau kekeluargaan.”

Apa maksudnya Prabowo Subianto mengatakan “simbol politik dinasti atau kekeluargaan”? Selama ini masyarakat lebih teringat dengan “Trah Soekarno” jika bicara tentang politik dinasti atau kekeluargaan, tapi baik cagub maupun cawagub di Pilkada DKI 2017 tidak ada yang berasal dari “Trah Soekarno”. Pun belum pernah mendengar ada “Trah Ahok”, “Trah Djarot”, “Trah Anies” atau “Trah Sandiaga”.

Jangan-jangan Prabowo sedang menyindir SBY? Saat ini Agus Yudhoyono ikut dalam pemilihan calon gubernur DKI Jakarta. Namun bisa saja sindiran Prabowo tadi hanya pernyataan politik yang tidak jelas arahnya, atau sekadar meramaikan suasana politik yang ada saat ini sebelum turun gunung bulan Januari 2017 nanti.

Sebaiknya jangan terlalu cepat curiga dengan pernyataan Prabowo tadi, juga jangan terlalu cepat mengatakan: “Saya prihatin”.

Sumber gambar, dan gambar: merdeka.com.


Tante Angie Maklum Mengapa Elektabilitas Ahok Teratas

Tante Angie Maklum Mengapa Elektabilitas Ahok Teratas

Adahati.com – Tante Angie maklum, dan memahami mengapa elektabilitas Ahok teratas bulan Desember ini. Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI), Ahok adalah sosok yang muncul sebagai ‘top of mind’ dibanding cagub lainnya.

Sedangkan alasan LSI yang menyebabkan elektabilitas Ahok teratas, tante Angie maklum tapi tidak terlalu tertarik. Terserah apa alasannya, tapi tidak terlalu penting semua itu. Mengenai tanggapan calon wakil gubernur DKI Jakarta Djarot Saifulah terkait hasil survei LSI pun tante Angie maklum. “Saya enggak ngurusin tukang survei, banyak tukang survei, ” kata Djarot seperti tertulis dalam berita yang dirilis oleh detik.com ini.

Ada-ada saja pernyataan Djarot ini.

Cukup geli membaca pernyataan atau tanggapan Djarot yang mengatakan ‘tukang survei’ tadi. Pun ada ucapan Djarot selanjutnya seperti ini: “Masih terlalu dinilah, tukang survei itu kan banyak naik turun. Sudah enggak gubrislah”. Kesannya seperti orang yang tidak peduli sama sekali dengan hasil survei LSI tadi.

Tante Angie pun tersenyum, dan ia pun membayangkan tidak mudah untuk mengadakan sebuah survei, karena dibutuhkan tenaga, pikiran dan dana, tapi kata Djarot “enggak gubrislah”.

Mungkin Djarot sudah bosan dengan hasil-hasil survei terkait Pilkada DKI 2017. Sebentar elektabilitas Ahok turun, sebentar naik.

Ini elektabilitas atau harga saham sih?

Namun di sisi lain entah serius atau bercanda, pasangan Ahok di Pilkada DKI 2017 ini pun tak lupa mengucapkan terima kasih terkait hasil survei LSI tadi. “Tapi terima kasih. Ada pengetahuan baru. Enggak apa-apa lumayan gratis”.

Mendadak Tante Angie teringat sebuah Trik dan Problem Catur yang Sederhana terkait kata ‘gratis’ yang diucapkan oleh calon wakil gubernur Djarot tadi.

  • Hitam giliran melangkah. Meski hanya sekilas, tanpa melakukan survei pun bisa dilihat bahwa posisi buah catur putih riskan terkena serangan balik mengingat ‘garis persimpangan’ yang ada (warna kuning) dan petak lari Raja putih (lingkaran kuning).

  • Ada buah catur hitam yang diberikan secara gratis seperti kata Djarot tadi. Tapi buah catur hitam yang mana yang diberikan gratis?
  • Kd5-e3!

Gens Una Sumus.

Ilustrasi: liputan6.com


Sumbangan Kampanye Ahok-Djarot Mencapai Rp 27 Miliar?

Sumbangan Kampanye Ahok-Djarot Mencapai Rp 27 Miliar?

Adahati.com – Sumbangan kampanye dari masyarakat untuk pasangan gubernur Ahok-Djarot seperti diberitakan oleh liputan.com di sini telah mencapai Rp 27 miliar. Menurut pengakuan Ahok, ada temannya yang merasa heran. Untuk apa ia capek mengumpulkan uang sumbangan kampanye, karena temannya itu bersedia menyumbang Rp 30 miliar.

Namun Ahok menolak. Alasannya ia tidak ingin dimiliki oleh sekelompok atau orang tertentu saja. Ia pun ingin sumbangan kampanye dilakukan secara non tunai dan terbuka. Akar masalah negara ini adalah korupsi. Transparansi akan mengikis penyakit akut korupsi tadi.

Memang terdengar indah kata-kata yang diucapkan oleh para kandidat pada musim kampanye. Bukan hanya Ahok, begitu juga cagub lainnya, Agus dan Anies. Dari dulu pun sudah seperti itu. Mana ada tukang loak yang menjelek-jelekan barang dagangannya sendiri.

Pernyataan Ahok pernah menolak sumbangan Rp 30 miliar dari temannya tadi, siapa yang tahu? Itu kan hanya klaim sepihak. Mungkin saja tidak pernah ada kejadian seperti itu. Namun, rekam jejak (track record) seseorang bisa dijadikan acuan untuk menilai pernyataannya tadi.

Sebagai contoh, lahan parkir DKI merupakan ‘lahan basah’ atau gudang duit bagi para ‘mafia parkir’ selama bertahun-tahun. Ratusan miliar bahkan triliunan rupiah yang diraih oleh para ‘mafia parkir’ tadi selama periode jabatan seorang gubernur.

Seandainya Ahok bersedia ‘main mata’, uang Rp 30 miliar mudah masuk ke kantong pribadinya, namun Ahok justru menyatakan perang terhadap ‘mafia parkir’ tadi. Makanya seorang politikus yang selama ini menguasai lahan parkir DKI pun uring-uringan dan menyerang Ahok. Tadinya lahan parkir adalah ‘lahan basah’, tapi kini kering kerontang seperti tanah di musim kemarau panjang.

Baru dari satu lahan saja, tidak sedikit uang yang bisa dikantongi Ahok, seandainya ia bersedia ‘main mata’ dengan bandit atau para mafia tadi. Belum lagi dari lahan-lahan lainnya. Apalah artinya uang Rp 30 miliar itu?

Sumbangan kampanye Rp 27 miliar tidak seberapa untuk membiayai kampanye sebuah Pilkada. Masih sedikit jumlah uang Rp 27 miliar tadi, sedangkan Agus yang pensiunan Mayor saja, menurut KPU DKI jumlah hartanya lebih dari Rp 21 miliar.

Sumber gambar. 


Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Adahati.com – Yusril Ihza Mahendra adalah Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) sebuah ‘partai gurem’ yang tidak satu pun kader PBB yang menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta. Saat ini Yusril Ihza Mahendra sedang rajin bersafari politik demi memuluskan niatnya yang ingin menjadi calon gubernur (cagub) pada Pilkada DKI 2017 nanti.

Ia pun rajin mengambil formulir pendaftaran cagub dari parpol-parpol, termasuk rajin mengisi dan mengembalikan formulir tersebut.

Berkaitan dengan hal ini ada sejumlah pihak yang menyindirnya, dan Yusril Ihza Mahendra menanggapi sindiran tadi seperti ini:

“Ketika saya jadi ketua partai, saya kan pertama kali mencalonkan SBY-JK. Jadi, bukan sesuatu yang aneh. Pak SBY dan JK juga datang ke saya saat itu. Hal seperti itu normal saja. Entah kenapa sekarang dianggap aneh.” (Kompas.com, 8/4/16).

Yusril pun mengatakan “Pak SBY dan JK juga datang ke saya saat itu”, tapi tidak disebutkannya apakah SBY dan JK pun mengambil formulir PBB, mengisi dan mengembalikannya. Juga mengingat SBY dan JK tidak pernah menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta, apakah contoh yang diberikan oleh Yusril tadi masih relevan?.

Sebelumnya Ahok mengatakan, “Ini pertama dalam sejarah ada ketua umum partai yang enggak dapat suara melamar ke partai lain. Seru juga!” katanya.

Yusril Ihza Mahendra mengatakan ‘aneh’, sementara Ahok bilang ‘seru’. Dua hal yang berbeda maknanya. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Biasa saja, atau normal jika ada orang yang merasa lucu, kemudian tertawa, apalagi sampai saat ini secara keseluruhan belum ada larangan untuk tertawa di muka umum.

Safari politik yang dilakukan Yusril Ihza Mahendra – termasuk rajin mengambil, mengisi dan mengembalikan formulir pendaftaran parpol-parpol tadi demi menjadi cagub pada Pilkada DKI 2017 – adalah sebuah perjuangan demi mencapai cita-cita yang cukup mulia, yaitu menuju kursi DKI satu.

Mungkin saja nanti ada yang mengusulkan supaya SBY membuat lagu yang berjudul ‘Perjuangan Yusril’, namun berhasil tidaknya perjuangan Yusril nanti, itu soal lain.

Sumber gambar. 


Yusril Ihza Mahendra Masih Sibuk dan Kalah Lawan Ahok

Yusril Ihza Mahendra Masih Sibuk dan Kalah Lawan Ahok

Adahati.com – Pada 6 Februari 2016 Yusril Ihza Mahendra menyatakan kesiapannya menjadi cagub jika “head to head” dengan Ahok seperti Jokowi dan Prabowo.

Pada 22 Februari 2016 Yusril Ihza Mahendra optimis bisa mengumpulkan 1 juta KTP dukungan dalam waktu 4 bulan yang dimulai dari tanggal 1 Maret 2016 demi jalur independen yang akan ditempuhnya pada Pilkada DKI 2017, dan seminggu kemudian (29/2/2016), ia pun sempat bertemu dengan SBY, tapi tidak ada dukungan politik yang diucapkan langsung oleh SBY saat itu.

Harapan Yusril Ihza Mahendra tadi – “head to head” dengan Ahok – saat ini boleh dibilang kecil kemungkinannya akan terealisasi, sementara jumlah KTP dukungan yang diperolehnya setelah hampir 3 minggu berjalan masih belum jelas.

Rupanya ia masih sibuk mencari dukungan politik dari parpol dan masyarakat. Menurutnya peluang menang lebih besar jika ia diusung oleh parpol. Makanya ia masih terus melakukan negosiasi dengan parpol parpol yang ada.

Sudah adakah ketua umum/parpol yang memberikan dukungan politiknya kepada Yusril Ihza Mahendra? “Saya belum bisa menyebutkan dan mohon maaf yang bisa menyatakan itu kewenangan partai itu sendiri. Saya yakin tiba saatnya partai tersebut yang mengumumkan”, begitu antara lain pernyataannya (merdeka.com, 17/3/16).

Tersirat belum ada ketua umum/parpol yang memberikan dukungan politik, sementara Ahok sudah mendapat dukungan politik dari Partai Nasdem yang diucapkan langsung oleh Surya Paloh. Skor sementara 1-0 antara Ahok dan Yusril Ihza Mahendra.

Partai Hanura pun sudah menyatakan dukungan politiknya kepada Ahok. Wiranto tak segan mengancam kader Hanura yang membangkang. “Siapa yang tak loyal keputusan partai, silahkan minggir. Karena keputusan ini dilakukan semata-mata guna kemajuan DKI yang akan dinikmati rakyat (liputan6.com).

Yusril Ihza Mahendra masih sibuk, skor berubah lagi menjadi 2-0, tapi keunggulan Ahok ini masih sementara. Masa pendaftaran cagub untuk Pilkada DKI 2017 masih cukup lama. Ibarat pertandingan sepakbola baru sekitar 10-15 menit waktu yang bergulir, dan Yusril Ihza Mahendra masih bisa mengejar ketinggalannya tadi.

Di sisi lain tidak tertutup kemungkinan Ahok akan mendapat dukungan politik dari parpol lainnya. Skor sementara bisa berubah lagi menjadi 3-0, 4-0, 5-0, dan seterusnya yang membuat Yusril Ihza Mahendra pun semakin terpuruk saja.

*Sumber gambar: youtube.com.


Lawan Terberat Ahok Sebenarnya Mudah Diperkirakan

Lawan Terberat Ahok Sebenarnya Mudah Diperkirakan

Lawan Terberat Ahok Sebenarnya Mudah Diperkirakan

Adahati.com – Nama Deasy Ratnasari dan Eko Patrio pun masuk dalam bursa calon pasangan Pilgub DKI 2017? Mau melawak atau bagaimana?

Entah apa maksud dan tujuan Partai Amanat Nasional memasukkan nama mereka. Sekadar iseng, cari sensasi, ikut meramaikan pemberitaan di media, atau apa?

Gak masuk dalam hitungan banyak orang, atau dengan kata lain pasangan ini nyaris mustahil terdaftar namanya dalam Pilkada DKI 2017 nanti.

Bagaimana dengan kader-kader dari Partai Gerindra yang ada saat ini? Sama juga atau belum level lawan Ahok. Kader partai lain, misalnya Tantowi Yahya dari Golkar? Tidak jauh berbeda. Bagaimana dengan Adhyaksa Dault? Sudahlah.

Bukannya tak respek terhadap mereka yang namanya disebut di atas tadi, tapi menurut perhitungan atau logika yang sehat, mereka bukan lawan terberat Ahok.

Apakah Ridwan Kamil yang bisa menjadi saingan terberat Ahok seperti kata sebagian pengamat politik? Atau Risma ya Wali Kota Surabaya itu? Masih tidak termasuk lawan terberat Ahok di Pilkada DKI 2017 nanti.

Bukan Deasy Ratnasari, Eko Patrio, Tantowi Yahya, Adhyaksa Dault, Ridwal Kamil, Risma atau lainnya yang menjadi lawan terberat Ahok, tapi dirinya sendiri.

Dari dulu pun sudah ada cukup banyak pihak yang mengatakan lawan terbesar atau lawan terberat dalam hidup ini adalah dirimu sendiri. Hal ini berlaku di mana saja, bukan hanya terkait dengan Pilkada DKI 2017, tapi dalam segala hal. Sepertinya tak perlu dijelaskan panjang dan lebar tentang hal ini. Justru lebih menarik untuk melihat ke depannya nanti, apakah ahok mampu mengalahkan dirinya sendiri.

Atau ia lupa diri sehingga tak sadar dikalahkan dirinya sendiri yang merupakan lawan terberat Ahok. Mungkin juga kesialan yang datang tanpa diduga bisa mengalahkan Ahok di Pilkada DKI 2017 nanti, dan sial bisa menimpa siapa saja.

Lawan terberat Ahok bisa juga datang dari orang-orang yang ada di sekitarnya yang selama ini terlihat sebagai teman yang bisa dan layak dipercaya, tapi pengkhianatan bukan cerita baru di dunia politik.

*Sumber gambar: youtube.com.