Tag: korupsi

Artis Ini Hanya Meniru Kelakuan Elit Parpol?

Artis Ini Hanya Meniru Kelakuan Elit Parpol?

Adahati.com – Artis ini beberapa hari lalu sempat menjadi berita hangat karena bertepatan dengan hari kasih sayang atau Valentine Day ditangkap oleh pihak kepolisian di rumahnya karena diduga menggunakan barang haram narkoba.

Siapa artis ini? Dia adalah Roro Fitria seorang disk jockey (DJ), dan juga model seksi. Entah siapa lagi artis atau seleb yang akan ditangkap oleh pihak kepolisian atau Badan Narkotika Nasional (BNN).

Ditangkapnya seorang artis atau seleb pun bukan peristiwa baru, tapi sudah sering terjadi. Artis ini artis itu, seleb ini seleb itu, terus berulang-ulang. Maka dari itu, tinggal tunggu waktu saja atau masih ada kemungkinan besar di kemudian hari ada artis atau seleb lain yang ditangkap karena kasus narkoba. Hal ini bisa disimak dari pernyataan Roro Fitria di sini. Menurut pengakuannya, ia sering menggunakan narkoba bareng kawan-kawannya sesama artis.

Siapa saja artis ini? “Maaf kalau itu saya tidak bisa jawab,” katanya.

Timbul pertanyaan. Adakah kemungkinan yang cukup meyakinkan bahwa pihak kepolisian dan BNN bisa memiliki daftar artis-artis yang selama ini masih menggunakan narkoba, meski Roro Fitria tadi mengatakan tidak bisa jawab, tidak tahu, atau tidak mengenalnya?

Roro Fitria pun menangis, ketika disinggung soal dirinya yang sering memberikan penyuluhan terkait pencegahan narkoba, tapi ia sendiri melanggarnya. “Saya sangat menyesal. Sekarang punya beban berat, kenapa saya yang biasanya gerakkan (anti narkoba) sekarang malah pakai. Tanggungjawab itu tidak bisa saya emban dengan baik.”

Munafik, atau semacam itu bukan sesuatu yang baru dan mengejutkan. Tapi siapa yang menularkan kemunafikan ini hingga sampai ke artis, seleb dan figur lainnya? Apakah mereka tertular “virus munafik” yang disebar oleh elit parpol?

Beberapa tahun silam ada parpol dengan jargon “Katakan Tidak Pada Korupsi”. Poster besar di jalan-jalan pun dipajang, dan juga menampilkan sosok elit kadernya, tapi ternyata elit kadernya itu korupsi. Ada lagi parpol yang koar-koar partai agama, tapi justru kelakuan orang nomor satunya, presiden, atau ketua umum parpol tersebut tidak mencerminkan sebagai seorang yang agamis, korupsi dan munafik juga.

Masih banyak contoh “virus munafik” lainnya.

Apakah artis ini artis itu, seleb ini seleb itu, dan figur lainnya yang munafik, mereka hanya meniru kelakuan elit parpol?

*sumber gambar: youtube.com.


Kaesang, Putra Bungsu Presiden Jokowi Jualan Pisang

Kaesang, Putra Bungsu Presiden Jokowi Jualan Pisang

Adahati.com – Kaesang, putra bungsu Presiden Jokowi mulai merambah bisnis kuliner dan menjual pisang nugget di food court ITC Cempaka Mas lantai 5 yang merupakan gerai pertamanya.

Sekadar informasi saja, Presiden Jokowi dan istrinya Iriana memiliki tiga anak, yaitu Gibran Rangkabuming Raka, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep.

Menandai peresmian gerai pertamanya tadi, putra bungsu Presiden Jokowi ini pun tak canggung menggoreng pisang nugget jualannya itu.

Jika ada yang bertanya apakah selain pisang nugget, Kaesang pun jualan duren nugget? Tidak. Mungkin Kaesang jualan gohok, jamblang atau buni nugget? Tidak juga.

Tapi ada yang cukup menarik dari jawaban putra bungsu Presiden Jokowi ini saat ditanya mengapa gerai perdananya di ITC Cempaka Mas, bukan di tempat lain? Bukankah masih ada bahkan cukup banyak tempat yang lebih bonafid?

“Penginnya di daerah Kelapa Gading Boulevard tapi di sana mahal. Nggak punya duit. Jadi ya mulai di food court ITC aja,” kata Kaesang di sini.

Gak punya duit? Anak presiden gak punya duit? Jangan-jangan hanya pencitraan. Masak sih anak presiden gak punya duit untuk sewa tempat yang lebih bonafid?

Jika di masa lalu ada anak presiden gak punya duit, boleh dibilang suatu hil yang mustahal. Jangankan anak presiden, anak menteri aja bisa kaya atau banyak duit. Jangankan anak menteri, jabatan bapaknya di bawah menteri pun bisa punya duit lewat bisnis kong kalingkong, bahkan modal dengkul pula.

Asyik asyik aja dah…

Namanya juga Bento…asyik! Sekali lagi…asyik! Namaku Bento, rumah real estate, mobilku banyak, mobil parkiran…asyik!

Tapi Kaesang anak presiden malah gak punya duit dan jualan pisang.

Memang susah jadi orang jujur di negeri ini. Jujur pun ada saja yang bilang pencitraan. Hidup sederhana pun masih dibilang pencitraan. Pikiran buruk lebih menguasai dan dominan sehingga tak percaya kalau anak presiden gak punya duit.

Mungkin Kaesang yang usianya masih muda itu tahu, bahwa duit, uang, atau harta seberapa banyak pun tidak akan dibawa mati.

Makanya Kaesang asyik asyik aja jualan pisang.

Yang penting hepi dan bukan uang haram hasil korupsi.

*Sumber gambar: youtube.com.


Benarkah PKS adalah Parpol yang Cenderung Munafik?

Benarkah PKS adalah Parpol yang Cenderung Munafik?

Adahati.com – PKS, Partai Gerindra, Partai Demokrat dan PAN melalui fraksinya yang ada di DPR melakukan walk out sebagai bentuk pernyataan sikapnya menolak usulan perpanjangan masa kerja dan laporan kinerja serta rekomendasi yang bakal dibuat Pansus Hak Angket KPK.

Selain walk out, PKS melalui Wakil Sekretaris Jendral PKS Mardani Ali Sera melontarkan serangan politiknya kepada Presiden Jokowi yang menurut pendapatnya tidak mengambil tindakan terkait adanya upaya pelemahan KPK.

“Kecewa dengan sikap Presiden, karena atas nama tidak intervensi, membiarkan energi bangsa habis, kita tidak bisa membiarkan. Saya ingin menggunakan bahasanya pembodohan akan publik melihat drama yang tidak berkualitas ini terus terjadi,” katanya di sini.

Boleh tepuk tangan? Boleh, perihal Presiden Jokowi sebelumnya di sini – Jokowi Menegaskan, Fahri Hamzah Ambil Untung?– sudah pernah mengatakan dengan tegas tidak akan membiarkan KPK dilemahkan atau dibekukan, tepuk tangan bahkan air mata yang jatuh berlinang saking terharunya tetap boleh dilakukan.

PKS terkesan membela KPK, tapi di sisi lain ada pernyataan kadernya, yaitu Nasir Djamil yang menilai kinerja KPK selama ini menunjukkan kesan mereka membenci koruptor bukan tindak pidana korupsi dengan maraknya Operasi Tangkap Tangan. “Ada kesan KPK benci koruptor bukan sama korupsi, beda. Jadi kalau benci sama korupsi berusaha sekuat tenaga supaya negara ini selamat dari korupsi. Benci dengan koruptor OTT, OTT, OTT terus,” katanya.

Pernyataan politikus PKS Nasir Djamil lainnya bisa dilihat di sini.

Kader PKS ini tidak menyebut secara konkret bentuk pencegahan atau negara ini bisa selamat dari korupsi. Apakah bentuknya seperti ini? Setelah KPK menerima laporan ada indikasi korupsi, maka KPK mendatangi calon koruptor dan mengatakan seperti ini, misalnya: “Kami sudah menerima laporan, sebaiknya Anda jangan korupsi ya…”

Apakah artinya PKS adalah parpol yang cenderung munafik? Karena ada pernyataan kader yang satu terkesan membela KPK, dan ada pernyataan kader PKS lain sebaliknya? Terlalu gegabah jika cepat mengambil kesimpulan seperti itu, sebab PKS bisa saja mengatakan “bukan kebijakan partai” bila ada pernyataan kadernya yang menimbulkan sentimen negatif.

Hal inipun pernah dilakukan oleh PDIP, yaitu ketika Henry Yosodiningrat melontarkan wacana pembekuan KPK. Begitu sentimen negatif muncul, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dengan cepat menanggapinya bukan merupakan keputusan partai.

Kesan “buang badan” inipun dilakukan oleh pemerintah. Jaksa Agung HM Prasetyo pernah mengeluarkan pernyataan agar fungsi penuntutan tindak pidana korupsi dikembalikan ke kejaksaan yang terkean “sasaran tembak”-nya adalah KPK. Sekretaris Kabinet Pramono Anung pun dengan cepat mengatakan “Tidak ada keinginan dari presiden untuk mengurangi kewenangan KPK.”

Bukan hanya PKS dan PDIP, parpol lain pun melakukan trik murahan tadi. Jika ada pernyataan kadernya yang menimbulkan sentimen positif, diam. Namun jika sebaliknya, bantahan “bukan kebijakan partai” pun segera dilontarkan.

Trik murahan “buang badan” lainnya, jika ada kader yang berprestasi diakui kadernya, tapi kalau ada yang ditangkap KPK karena diduga korupsi, cepat sekali mengatakan “bukan kebijakan partai”, tapi tanggungjawab pribadi.

Maka dari itu, terlalu gegabah jika cepat mengambil kesimpulan PKS adalah parpol yang cenderung munafik, bila ada pernyataan politikusnya yang terkesan membela KPK, dan ada pernyataan kader lain yang cenderung sebaliknya.

Sudah biasa, parpol lain pun melakukan hal yang sama.

Bagaimana kalau pertanyaannya diubah, misalnya seperti ini:

Benarkah semua parpol yang ada cenderung munafik?

Jika ada yang bertanya seperti itu, tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak lainnya yang tersenyum simpul sambil melontarkan pertanyaan balik.

Misalnya, ke mana aja selama ini?

*The Lohmenz Institute.

Sumber gambar: youtube.com.


KPK Bingung Setelah Menangkap Wali Kota Batu?

KPK Bingung Setelah Menangkap Wali Kota Batu?

Adahati.com – KPK bingung setelah menangkap Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, tapi tak lama kemudian pejabat itu mengatakan tidak menerima suap?

“Saya enggak tahu duitnya dari mana saya enggak tahu,” katanya di sini.

Perihal seseorang yang ditangkap oleh KPK terkait kasus dugaan korupsi, entah jabatannya wali kota, gubernur, menteri atau jabatan lainnya mengatakan “tidak tahu”, “tidak melakukan” atau “lupa” bukan sesuatu yang mengejutkan. Jika kasusnya nanti sampai di pengadilan, kemudian terdakwa memakai kerudung atau baju koko selama persidangan pun bukan sesuatu yang mengagumkan.

Maka kecil kemungkinannya KPK bingung kalau ada pihak yang terlibat kasus dugaan korupsi mengatakan “tidak tahu”, “tidak melakukan”, atau “lupa”.

Lalu apa yang menyebabkan KPK bingung atau terkesan seperti itu?

Pertama, dalam waktu sepekan KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan di tiga tempat berbeda, yaitu di Batubara (13/9/17), Banjarmasin (14/9/17), dan di Batu (16/9/17). Menurut Wakil Ketua KPK , Laode M Syarif di sini, ada kesamaan dari serentetan OTT beberapa bulan terakhir, yaitu permintaan fee dalam sejumlah kasus pemotongan anggaran proyek pemerintah rata-rata sebesar 10 persen.

“Sepuluh persen ini menjadi ‘norma’ umum dari setiap anggaran pemerintah,” kata Wakil Ketua KPK , Laode M Syarif

Bagi pihak yang sering berkecimpung di proyek pemerintah, fee 10 persen bukanlah sesuatu yang aneh dan mengejutkan. Sejak era Orde Baru pun sudah ada istilah “jatah preman” sebesar 10 persen. Kok KPK baru tahu? Itupun setelah OTT di berbagai tempat. KPK bingung?

Kedua, Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko disebut meminta jatah Rp 500 juta yang merupakan nilai 10 persen dari total anggaran proyek sebesar Rp 5,26 miliar.

“Bisa kita bayangkan bagaimana kualitas bangunan atau pengadaan barang dan jasa yang dipakai,” ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif tadi menambahkan.

Pernyataannya bisa salah terkait kualitas bangunan akan menjadi rendah atau seperti itu. Sebab, “jatah preman” 10 persen tadi bisa saja merupakan “titipan” dengan menaikkan harga satuan. Istilahnya, “kuantiti tidak bisa dibohongi, tapi harga satuan masih bisa dimainkan”.

Contoh, kuantiti sebuah kubus beton dimensi 1 m x 2 m x 3 m adalah 6 m3. Kebutuhan semen, pasir dan split bisa dihitung, tapi harga satuan materialnya bisa dimainkan, entah dinaikkan 10 persen atau lebih. Nilai proyek dengan kualitas yang baik sebenarnya hanya sekitar Rp 4,78 miliar, tapi karena ada “jatah preman” 10 persen tadi jadinya Rp 5,26 miliar. Kualitas bangunan tidak terganggu, sebab harga satuan material yang dimainkan.

Tapi benarkah KPK bingung dan tidak tahu mengenai hal ini?

Terlepas KPK bingung atau tidak, The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji masalah yang berkait dengan korupsi yang berpotensi lucu sejak dulu.

Korupsi sulit diberantas, katanya, tapi di sisi lain KPK yang tugasnya khusus memberantas korupsi justru ingin dikerdilkan lewat berbagai cara.

Maka dari itu, semua jadi bingung.

sumber foto: youtube.com.


KPK atau Raisa yang Lebih Mendapat Perhatian?

KPK atau Raisa yang Lebih Mendapat Perhatian?

Adahati.com – KPK atau Raisa? Memang dua hal yang berbeda. Yang satu institusi pemberantas penyakit akut korupsi, sedangkan satunya lagi artis atau penyanyi yang menurut sebagian pihak lagu dan suaranya biasa saja.

Meski dua hal yang berbeda, tapi belakangan ini baik KPK maupun Raisa cukup hangat dibicarakan. KPK saat ini diduga sedang diusahakan oleh DPR lewat Pansus Angket agar wewenangnya dikebiri, bahkan dibekukan institusinya seperti usulan anggota Pansus Angket KPK, Henry Yosodiningrat di sini.

Sejak awal pembentukan Pansus Angket KPK pun sudah mengundang senyum sebagian pihak. Meski DPR memiliki alasan sendiri mengapa perlu dibentuk Pansus Angket KPK tadi, tapi sebagian pihak tadi masih tetap senyum-senyum saja mengingat Ketua DPR RI, Setya Novanto diduga terlibat kasus korupsi e-KTP.

Menurut dugaan sebagian pihak yang tersenyum tadi, uang korupsi yang jumlahnya triliunan rupiah mengalir ke semua parpol, bukan hanya satu dua parpol saja. Makin tersenyum, saat melihat sejumlah parpol walk out bak “pahlawan kesiangan” tak setuju atas pembentukan Pansus Angket KPK.

Masih menurut sebagian pihak tadi, politik memang penuh dengan trik, tapi tergantung kualitas politikusnya juga. Kalau kualitas politikusnya rendah, trik yang dimainkannya pun ikut rendah. Hanya bisa menipu anak kecil saja.

Tidak harus percaya dengan dugaan atau pendapat sebagian pihak tadi, tapi layak percaya bahwa ada sejumlah parpol yang politikusnya duduk di kabinet saat ini.

KPK sudah menjadi musuh bersama, kata Peneliti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Miko Ginting di sini, menanggapi pernyataan Jaksa Agung agar fungsi penuntutan tindak pidana korupsi (tipikor) dikembalikan ke kejaksaan.

Bagaimana dengan Raisa? Menurut sebagian pihak lagu dan suaranya biasa saja, kalau tidak ingin disebut menye-menye, tapi kok bisa terkenal? Ya, Raisa pun sedang hangat dibicarakan seperti halnya KPK dari sudut yang berbeda.

Presiden Jokowi pun sempat memberi perhatian atas fenomena Raisa (hueeek…) ini. “Satu-dua hari yang lalu, saya dikomplain mengenai Raisa,” katanya di sini

Kemudian Jokowi menceritakan alasannya. Namun apapun alasannya itu, Raisa mendapat perhatian. KPK pun mendapat perhatian dari Presiden Jokowi setelah ada wacana pembekuan KPK yang dilontarkan anggota Pansus Angket KPK.

“Perlu saya tegaskan bahwa saya tidak akan membiarkan KPK diperlemah. Oleh sebab itu kita harus sama-sama menjaga KPK,” ujarnya.

KPK atau Raisa yang lebih mendapat perhatian?

Jika ada yang bertanya seperti itu, The Lohmenz Institute memperkirakan ada sesuatu yang berpotensi lucu di sini.

Sumber gambar.


Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Adahati.com – Ahok dinasihati oleh Jokowi, tapi bukan baru-baru ini kejadiannya, melainkan saat Ahok masih mendampingi Jokowi sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Menurut Ahok, Jokowi menasihatinya untuk lebih tenang dan tak perlu meledak-ledak, meski tahu ada yang keliru dalam sistem pemerintahan. “Selow, pelan-pelan,” ujar Ahok menirukan perkataan Jokowi.

Tidak dijelaskannya lebih lanjut, apakah selow atau pelan-pelannya seperti keong atau bukan.  Gubernur DKI Jakarta yang sedang cuti terkait Pilkada DKI 2017 ini terkesan kurang garang penampilannya sejak kasus dugaan penistaan agama merebak ke permukaan. Ahok mengakui, semua ini atas saran, nasihat, atau masukan dari berbagai pihak yang perhatian dan dekat dengannya. Di sisi lain Ahok pun mengakui bahwa karakternya memang keras, sering kesal melihat hal-hal yang tidak benar. Emosinya cepat meletup dan melabraknya.

“Ya karena karakter, kadang-kadang aku kesal juga sama orang-orang lihat situasinya (yang enggak benar) kesal aja. Dari pada kesal-kesal nahan-nahan jantungan, mendingan keluar. Tapi aku cepat lupa kok,” ujarnya sambil tersenyum simpul.

Perihal perubahan dirinya yang garang, kemudian cenderung menjadi lebih pendiam dan tenang ternyata sempat membuat istrinya, Veronica Tan tak mengenalinya lagi. Begitulah, Ahok yang tadinya garang bak seekor harimau, setelah menerima saran, nasihat atau masukan dari berbagai pihak menjadi cenderung  selow, pelan-pelan, pendiam dan tenang. Perubahan dirinya ini mungkin saja akan mengundang simpati dari sebagian pihak. Jempol, bagus, cakep dan sederet pujian lainnya.

Namun bisa juga sebagian pihak lainnya sebal karena kehilangan Ahok yang lugas dan bicara apa adanya. Apalagi kesannya seperti keong yang selow atau jalan pelan-pelan, sementara Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya sudah lama mengidap penyakit korupsi stadium tingkat tinggi perlu perubahan yang drastis dan cepat menuju ke arah yang lebih baik. Kapan selesainya kalau perubahannya berjalan seperti keong?

Nasihat sederhana lainnya yang mungkin lebih baik, bagus dan tepat untuk Ahok adalah nasihat lama seperti ini,  ‘be your self’, atau jadilah dirimu sendiri.

sumber berita: merdeka.com.


Haji Lulung Tuding Ahok Seperti Presiden Jokowi?

Haji Lulung Tuding Ahok Seperti Presiden Jokowi?

Adahati.com – Haji Lulung sudah cukup lama tak terdengar khabar beritanya. Terakhir kali sepak terjang atau berita yang berkait dengan dirinya sekitar sebulan lalu yang berkait seputar masalah dugaan kasus korupsi pengadaan printer dan scanner di sejumlah sekolah di Jakarta Barat, dan ia sempat diperiksa oleh Bareskrim sebagai saksi.

Masih berkait dengan korupsi, tapi kali ini Haji Lulung yang melakukan serangan politiknya ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Serangan politik atau tudingan Haji Lulung kepada Ahok seperti ini: “Apa yang dilakukan Ahok bukan semata-mata tulus untuk membongkar kasus korupsi. Pak Ahok terlihat jelas dalam persoalan memberantas korupsi ini mencari pencitraan.”

Singkatnya Haji Lulung menuding Ahok hanya melakukan pencitraan dan membantah anggapan bahwa Ahok berhasil memberantas korupsi di lingkungan birokrasi DKI Jakarta.

Haji Lulung tidak mengatakan secara langsung pencitraan Ahok ini seperti Jokowi. Tudingan pencitraan pernah dilakukan oleh lawan politik yang tidak senang dengan sepak terjang Jokowi saat menjabat Gubernur DKI Jakarta maupun Pilpres 2014 lalu.

Blusukan sudah menjadi semacam ikonnya Jokowi, dan tudingan pencitraan pun dialamatkan kepadanya berkait hal ini, namun serangan politik pencitraan tersebut justru semakin meningkatkan popularitas seorang Jokowi.

Apakah Haji Lulung sudah lupa atau tak ingat lagi mengenai hal ini? Serangan politik atau tudingan “pencitraan” yang ditujukan kepada Jokowi beberapa waktu lalu tidak berbuah hasil yang manis, atau cenderung gagal mencapai tujuannya.

Hal ini mungkin saja terulang lagi, dan Haji Lulung yang akan mengalami kepahitan itu berkait tudingan pencitraannya kepada Ahok, atau dengan kata lain nantinya akan semakin banyak saja masyarakat DKI Jakarta yang percaya bahwa Ahok bukan sedang melakukan pencitraan, tapi serius memberantas penyakit korupsi di lingkungan birokrasi DKI Jakarta.

Mengapa Haji Lulung tidak melakukan serangan politik atau tudingan lain, bukan tudingan pencitraan? Entahlah, mungkin saat ini Haji Lulung belum menemukan titik kelemahan Ahok.

Mungkin esok atau lusa nanti, atau entah kapan.

Sumber berita kompas.com, sumber gambar youtube.com.