Tag: jokowi

Prabowo Bukan Lulusan Harvard, Gosip atau Fakta?

Prabowo Bukan Lulusan Harvard, Gosip atau Fakta?

Adahati.com – Prabowo bukan lulusan Harvard? Sekadar informasi saja, Universitas Harvard (Harvard University) adalah universitas swasta di Cambridge, Massachusetts.

Harvard merupakan perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat, juga salah satu universitas terbaik di dunia yang didirikan pada 8 September 1636.

Awalnya bernama New College, kemudian dinamakan ulang menjadi Harvard College pada 13 Maret 1639 untuk menghormati penyumbang terbesarnya, John Harvard, seorang mantan mahasiswa Universitas Cambridge (Wikipedia).

Dan Prabowo bukan lulusan Harvard.

Frasa “bukan lulusan Harvard” ini berawal dari pernyataan Prabowo sendiri.

Partai Gerindra telah resmi mengusung Mayjen (Purn) Sudrajat sebagai calon gubernur untuk Pilkada Jabar 2018. Keputusan itu disampaikan oleh Prabowo dalam jumpa pers di kediamannya di Bojong Koneng, Bogor, Jawa Barat (9/12/17).

Menurut Prabowo bukan lulusan Harvard, ia telah kenal lama dengan Sudrajat.

“Sepak terjang beliau juga dikenal di TNI sebagai salah satu perwira paling cerdas. Beliau lulusan Harvard. Tak banyak TNI yang lulusan Harvard. Saya juga pingin ke Harvard. Saya pernah ke Harvard tapi hanya jalan-jalan saja dan enggak dapat ijazah,” kata Prabowo di sini.

Fakta, Prabowo bukan lulusan Harvard.

Namun tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang merasa heran dan bertanya, misalnya seperti ini:

Memangnya kenapa kalau lulusan Harvard? Cukup besar kah pengaruhnya untuk urusan politik seperti Pilkada Jabar 2018? Jika memang cukup besar pengaruhnya, bagaimana dengan Pilkada di tempat lain? Butuh lulusan Harvard juga?

Tapi publik tahunya, pemenang Pilkada ditentukan oleh banyaknya suara rakyat yang memilih, terlepas calon gubernurnya lulusan Harvard atau lulusan antah berantah.

Lulusan atau bukan lulusan Harvard bukan persoalan penting sebenarnya. Prabowo bukan lulusan Harvard tidak mengapa, biasa saja. Jokowi pun bukan lulusan Harvard, apalagi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pujaan hati.

Prabowo bukan lulusan Harvard, begitu pun Jokowi, Susi dan banyak pejabat lainnya. Tapi sekali lagi, lulusan atau bukan lulusan Harvard biasa saja.

Yang luar biasa itu kalau ada lulusan neraka.

Kita pun bisa bertanya, bagaimana sebenarnya keadaan di neraka sana.

– The Lohmenz Institute

*Sumber gambar: youtube.com.


Gatot Nurmantyo Sudah Sewajarnya Harus Diganti

Gatot Nurmantyo Sudah Sewajarnya Harus Diganti

Adahati.com – Panglima TNI Gatot Nurmantyo akan pensiun bulan April 2018, dan menurut berita yang sedang hangat saat ini akan diganti oleh Marsekal Hadi Tjahjanto.

Komisi I DPR pun telah meminta Marsekal Hadi Tjahjanto untuk segera menyiapkan diri menghadapi uji kelayakan dan kepatutan calon panglima TNI.

“Pak Hadi sebagai KSAU sudah harus menyiapkan diri untuk ikut uji kelayakan,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin di sini.

Mengapa Gatot Nurmantyo tidak diperpanjang masa pensiunnya? Begitu antara lain tanya sebagian pihak yang menyayangkan atau merasa seharusnya Gatot Nurmantyo tak perlu diganti, setidak-tidaknya hingga Pemilu 2019.

Apakah belakangan ini Gatot Nurmantyo dianggap senang berpolitik praktis? Atau Gatot Nurmantyo bernafsu ingin jadi presiden? Diperkirakan akan menjadi capres pada Pemilu 2019 nanti? Bukankah kalau hal ini menjadi kenyataan dan menang, artinya Gatot Nurmantyo mengulangi prestasi Anies Baswedan?

Anies Baswedan ditendang dari kabinet, dan maju Pilkada DKI 2017, sekarang jadi Gubernur DKI. Gatot Nurmantyo bisa saja mengulangi prestasi Anies tadi, malah bukan hanya menjadi gubernur tapi presiden. Artinya Jokowi dua kali melakukan blunder?

Halah…segala macam ilmu cocoklogi dibawa-bawa.

Gatot Nurmantyo memang sudah sewajarnya harus diganti, atau tidak diperpanjang masa pensiunannya karena begitulah keinginan presiden. Sama halnya mengapa hanya Hadi Tjahjanto yang diajukan sebagai penggantinya atau calon tunggal. Presiden maunya seperti itu, dan tidak melanggar Undang Undang yang ada.

Kalau presiden mau ganti Panglima TNI di tengah jalan pun mau apa? Itu hak prerogratif presiden kok. Akan ada implikasi politik yang cenderung negatif atau merugikan Presiden Jokowi nantinya?

Anggaplah memang benar rugi, tapi hari kan masih panjang, dan masih terbuka kesempatan yang lebar bagi Presiden Jokowi untuk mencari untung.

Hari ini rugi, besok untung, lusa untung banget, sudah biasa.

Jika sejenak menengok ke belakang, seharusnya tidak perlu bingung dan bertanya. Presiden Jokowi cenderung tidak suka dengan “orang yang berisik”. Rizal Ramli dan Sudirman Said contohnya. Tiada maaf bagi “orang yang berisik”.

Mengapa tidakkah kau maafkan
Mengapa kubertanya
Mengapa tiada maaf darimu

*Sumber gambar: youtube.com.


Benarkah Polling Fadli Zon di Twitter Cukup Mengharukan?

Benarkah Polling Fadli Zon di Twitter Cukup Mengharukan?

Adahati.com – Polling Fadli Zon di Twitter soal tingkat kesejahteraan masyarakat menyediakan tiga opsi pendapat, yaitu lebih sulit, lebih mudah dan ‘begitu-begitu saja’. Dari polling Fadli Zon tadi hasilnya sebanyak 66 % menjawab lebih susah, 20 % mengatakan lebih mudah, dan 14 % yang menjawab begitu-begitu saja.

Fadli Zon pun menilai orientasi pembangunan era Jokowi adalah infrastruktur yang mengambil porsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sangat besar tapi justru membuat hidup masyarakat kian sulit saja.

Mengetahui ada polling Fadli Zon dan hasilnya tadi, kemudian pernyataan hidup masyarakat semakin sulit saja saat ini, tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang terharu dan air matanya pun jatuh berlinang.

Semakin deras air mata itu jatuh berlinang apabila politikus Partai Gerindra lainnya pun mengikuti jejak Fadli Zon. Dengan demikian bukan hanya ada polling Fadli Zon saja, tapi cukup banyak polling-polling lainnya di Twitter.

Jika Fahri Hamzah pun mengadakan polling, dan diikuti oleh para politisi PKS kemungkinan besar rasa haru tadi semakin membahana, karena hasil pollingnya diperkirakan tidak jauh berbeda atau mendekati hasil polling Fadli Zon.

Terjadi banjir air mata karena banyak yang terharu dengan kehadiran polling-polling politikus di Twitter? Setelah itu akan ada lagi polling-polling berikutnya di Facebook, Google+, dan media sosial lainnya?

Memang tidak ada larangan bagi Fadli Zon mengadakan polling di Twitter, Facebook, Google+, atau media sosial lainnya. Juga tidak ada larangan bagi siapapun yang ingin terharu dengan adanya polling Fadli Zon tadi.

Namun di sisi lain tidak ada larangan juga bagi mereka yang ingin tertawa ngikik.

Sayangnya pernyataan fadli Zon bahwa hidup masyarakat kian sulit saja dibantah oleh Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira yang menurut pendapatnya ada kemajuan di bidang ekonomi berdasarkan hasil sejumlah lembaga survei dengan metode kuantitatif. “Dari aspek kestabilan (ekonomi) relatif stabil. Mulai nilai kurs, inflasi dan lainnya.” (merdeka.com, 20/10/17)

Mudah-mudahan akibat bantahan dari Andreas Hugo Pareira tadi akan lahir sebuah puisi dari seorang politikus dengan judul yang cukup mengharukan juga.

Misalnya judul puisi tersebut adalah “Hatiku Hancur Berkeping-keping, Malam Bagai Siang, dan Siang Bagai Malam”.

Mengapa ini harus terjadi
Di tengah kebahagiaan
Malam bagai siang
Siang bagai malam

Layu Sebelum Berkembang

*The Lohmenz Institute.


Prabowo Disindir dan JK Belum Memberikan Tanggapannya

Prabowo Disindir dan JK Belum Memberikan Tanggapannya

Adahati.com – Prabowo disindir oleh politikus Partai Golkar, sekaligus Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar Agung Laksono.

Sebelumnya Prabowo tidak menutupi ambisinya ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Hal ini dikatakannya saat berpidato dalam Konferensi Nasional dan Temu Kader Gerindra di SICC, Sentul, Bogor (Rabu, 18/10/17). “Kalau sekarang dibilang Prabowo ambisi jadi Presiden, kenapa tidak,” katanya di sini.

Tak lama kemudian Prabowo disindir oleh Agung Laksono. “Ya seharusnya ada regenerasi. Sudah 10 tahun kan sudah cukup lama,” begitu antara lain katanya.

Prabowo lahir pada 17 Oktober 1951. Jika ia termasuk Capres 2019 maka umurnya 68 tahun. Memang sudah terbilang seorang kakek dengan umur setua itu. Namun Prabowo mengatakan kehidupan dalam suatu negara itu akan dinamis dengan adanya ambisi jika ingin maju, dan terutama ambisi ini perlu dimiliki oleh anak-anak muda (selain orang tua atau kakek-kakek tentunya).

Prabowo disindir dengan frasa “regenerasi”, dan “regenerasi” ini bukan sesuatu yang baru atau sudah sering diucapkan oleh mereka yang dianggap sebagai tokoh nasional, tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya.

Regenerasi itu penting! Beri kesempatan kepada generasi muda untuk mengambil alih dan lebih berperan di segala bidang demi kemajuan bangsa dan negara!

Namun pada kenyataannya tetap saja masih cukup banyak orang yang sudah tua atau kakek-kakek yang enggan beranjak dari kursi kekuasaan. Contohnya Soeharto, dan akhirnya tumbang secara mengenaskan. Mungkin ceritanya bisa lain seandainya terjadi regenerasi pada tahun 1993. Bukan Soeharto lagi yang diangkat oleh MPR untuk menjabat presiden, tapi BJ Habibie.

Prabowo disindir dengan frasa “regenerasi” oleh Agung Laksono, jangan-jangan salah satu bentuk atau cara untuk menghambat Prabowo jadi presiden?

Dua kali Prabowo gagal di pilpres, dan masih ada kemungkinan akan gagal lagi. Selain Jokowi pesaingnya, masih ada nama-nama yang diperkirakan bisa menjadi Capres 2019. Nama Anies Baswedan pun termasuk di dalamnya.

Apakah Mungkin Prabowo Kena “Tikam” Lagi Nantinya?

Panglima TNI Gatot Nurmantyo pun diperkirakan akan masuk dalam bursa Capres 2019. Belum lagi JK (JK Bakal Capres Alternatif Selain Prabowo dan Jokowi?).

JK sampai saat ini belum secara tegas menyatakan tidak akan ikut Pemilu 2019, entah sebagai capres maupun cawapres. Makanya frasa “regenerasi” dari Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar Agung Laksono tadi bisa mengena sosok lainnya.

Entah seperti apa tanggapan JK setelah Prabowo disindir dengan frasa “regenerasi” sampai saat ini belum ada beritanya.

Namun terlepas dari itu semua, Prabowo yang berambisi ingin menjadi presiden bukan hal yang mudah tentunya, karena di sisi lain ada juga pihak-pihak yang berambisi ingin menghambat atau menggagalkan ambisinya tadi.

Sumber gambar youtube.com.

*The Lohmenz Institute.

 


Anies “Kalah Selangkah”, Agus Mainkan Taktik yang Jitu?

Anies “Kalah Selangkah”, Agus Mainkan Taktik yang Jitu?

Adahati.com – Anies Baswedan baru saja dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, tapi sudah menuai kontroversi terkait frasa “pribumi”.

Sebagian pihak menyayangkan ucapan “pribumi” dalam pidatonya tadi, dan menganggapnya jauh panggang dari api dengan pernyataannya yang ingin menyatukan warga Jakarta yang terpecah belah akibat Pilkada DKI 2017.

Memang ada juga nada pembelaan dari sebagian pihak lainnya terkait ucapan “pribumi” dari gubernur baru tadi, antara lain mengatakan pengecam Anies adalah mereka atau pihak-pihak yang sampai saat ini belum bisa klakson.

(Sebenarnya “klakson” atau “move on”? Jangan-jangan remason).

Terlepas klakson, move on, atau remason, hal yang biasa terjadi saling kecam dan bela. Politikus PKS Hidayat Nur Wahid pun tak ketinggalan ikut membela Anies. Menurutnya Ketua Umum PDIP Megawati dan Presiden Jokowi pun pernah mengucapkan kata “pribumi”. Anies pun sempat terkesan ngeles dan mengatakan frasa “pribumi” tadi konteksnya penjajahan Belanda.

Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang teringat dengan pantun jenaka yang pernah populer beberapa tahun silam di mana kalimat pertama dari pantun jenaka tadi menyebutkan “jaka sembung bawa golok”.

Belanda, Megawati, Jokowi, lalu? Jangan-jangan jika blunder lagi akan ada Amerika, Israel, Rusia, Vietnam, Korea Utara, Myanmar, Kamerun, Uganda, Zimbabwe, atau Hasto Kristiyanto, Puan Maharani, Tjahjo Kumolo, dst?

Terlepas sebagian pihak tadi teringat pantun jenaka atau tidak, Anies cenderung sudah melakukan blunder, tapi tidak demikian halnya dengan putra SBY, Agus Yudhoyono yang diasumsikan telah memainkan taktik yang jitu.

Putra SBY yang satu ini diberitakan mengujungi Ahok di rutan Mako Brimob, Depok, hari ini. Tidak ada yang kontroversial atau menghebohkan atas kunjungan Agus Yudhoyono tadi. Pertemuannya dengan Ahok antara lain berisi saling mendoakan, semoga tetap sehat, silaturahmi dan kata-kata biasa lainnya.

Ahok, Agus dan Anies adalah tiga kandidat gubernur pada Pilkada 2017 lalu. Jika Ahok boleh dibilang sudah “tamat” karir politiknya, tapi Agus dan Anies masih memiliki kans untuk tampil dalam gelanggang politik Pemilu 2019.

Diperkirakan mereka itu masih memiliki kans untuk menjadi cawapres (sila baca Cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019).

Biasa saja, tidak ada yang kontroversial atau menghebohkan atas kunjungan Agus Yudhoyono ke rutan Mako Brimob menjenguk Ahok, tapi kalau ditarik ke konteks politik – bukan konteks penjajahan Belanda – apa yang dilakukan oleh putra SBY tadi kemungkinan besar akan menuai simpati.

Apakah artinya Anies sudah “kalah selangkah”? Baru saja dilantik oleh Presiden Jokowi, apalagi nantinya jika benar Anies menghadapi “hari-hari neraka” yang bisa menyebabkan terjadinya blunder-blunder lainnya? Apakah Agus pun kembali memainkan taktik jitu yang bisa mengundang simpati publik?

Jangan-jangan sebentar lagi Anies pun akan berkunjung ke Mako Brimob menjenguk Ahok supaya tidak “kalah selangkah” dengan putra SBY tadi.

Sumber gambar youtube.com.

*The Lohmenz Institute.


Fadli Zon Tulis Puisi (Lagi), Berapa Banyak yang Ngantuk?

Fadli Zon Tulis Puisi (Lagi), Berapa Banyak yang Ngantuk?

Adahati.com – Wakil Ketua DPR RI dan juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon tulis puisi…lagi. Boleh tepuk tangan? Silakan.

Dikatakan lagi karena bukan pertama kali ini Fadli Zon tulis puisi.

Puisi yang ditulis oleh Fadli Zon kali ini pun tidak jelas, atau ditujukan kepada siapa tidak disebut secara jelas, tapi diperkirakan arahnya menuju sosok orang nomor satu di negeri ini, siapa lagi kalau bukan Presiden Jokowi.

Adakah larangan bagi Fadli Zon tulis puisi? Tentu saja tidak ada. Jangankan seorang Wakil Ketua DPR RI atau wakil ketua umum sebuah partai politik, gembel pun boleh menulis puisi. Tapi puisinya bagus atau tidak, itu soal lain.

Perihal sebuah puisi itu bagus atau tidak, ada sebagian pihak yang mengatakan sulit menilainya, karena puisi itu bukan saja curahan pikiran, tapi juga curahan hati, bahkan jiwa. Makanya entah dia seorang gembel, wakil rakyat, menteri, orang kaya, orang miskin, atau siapa saja yang menulis puisi sebaiknya jangan terlalu cepat dinilai puisinya tidak bagus atau jelek (hueeek…).

Fadli Zon tulis puisi lagi, kali ini judulnya ‘Tiga Tahun Kau Bertahta’.

tiga tahun kau bertahta
semakin banyak tanda tanya
mau dibawa kemana Indonesia
hidup rakyat makin susah

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Mudah-mudahan selesai semuanya dibaca, kata demi kata, atau tidak mendadak ngantuk di tengah jalan. Seandainya pun ada yang menguap atau ngantuk boleh saja. Tidak ada yang melarang, seperti halnya siapa saja boleh menulis puisi (tapi sekali lagi puisinya bagus atau tidak, itu soal lain).

Fadli Zon tulis puisi yang cenderung merupakan kritik sosial atau berbau politik? Bukan sesuatu yang aneh dan baru. Sejak dulu pun sudah ada, bahkan sebelum Fadli Zon lahir ke dunia yang fana ini. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh dari luar negeri, Wiji Thukul pun pernah menulis puisi seperti itu.

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Orde Baru yang menjadi sasaran kritiknya, namun sekitar sebulan sebelum Orde Baru tumbang, Thukul lenyap tak berbekas. Sahabat dan kerabatnya tak tahu di mana ia berada sejak Mei 1998. Konon Wiji Thukul dibunuh.

Tahukah Fadli Zon mengapa Wiji Thukul lenyap tak berbekas seperti hilang ditelan bumi? Benarkah ia dibunuh, dan siapa pembunuhnya?

Pertanyaan ini mungkin tidak terlalu penting bagi seorang Fadli Zon. Entah karena ia malas menjawab, tidak tahu jawabannya, atau hal lainnya.

Mungkin saja ada pertanyaan tidak penting lainnya yang dilontarkan oleh sebagian pihak, entah iseng atau sekadar lucu-lucuan.

Misalnya pertanyaannya seperti ini:

Fadli Zon tulis puisi lagi, berapa banyak yang ngantuk?

Jangan-jangan tak seorang pun yang menguap dan tidur begitu saja.

Jika memang benar seperti itu, selamat, anda layak dapat bintang (yeaaah…).

*The Lohmenz Institute.

Sumber gambar youtube.com.


KPK atau Raisa yang Lebih Mendapat Perhatian?

KPK atau Raisa yang Lebih Mendapat Perhatian?

Adahati.com – KPK atau Raisa? Memang dua hal yang berbeda. Yang satu institusi pemberantas penyakit akut korupsi, sedangkan satunya lagi artis atau penyanyi yang menurut sebagian pihak lagu dan suaranya biasa saja.

Meski dua hal yang berbeda, tapi belakangan ini baik KPK maupun Raisa cukup hangat dibicarakan. KPK saat ini diduga sedang diusahakan oleh DPR lewat Pansus Angket agar wewenangnya dikebiri, bahkan dibekukan institusinya seperti usulan anggota Pansus Angket KPK, Henry Yosodiningrat di sini.

Sejak awal pembentukan Pansus Angket KPK pun sudah mengundang senyum sebagian pihak. Meski DPR memiliki alasan sendiri mengapa perlu dibentuk Pansus Angket KPK tadi, tapi sebagian pihak tadi masih tetap senyum-senyum saja mengingat Ketua DPR RI, Setya Novanto diduga terlibat kasus korupsi e-KTP.

Menurut dugaan sebagian pihak yang tersenyum tadi, uang korupsi yang jumlahnya triliunan rupiah mengalir ke semua parpol, bukan hanya satu dua parpol saja. Makin tersenyum, saat melihat sejumlah parpol walk out bak “pahlawan kesiangan” tak setuju atas pembentukan Pansus Angket KPK.

Masih menurut sebagian pihak tadi, politik memang penuh dengan trik, tapi tergantung kualitas politikusnya juga. Kalau kualitas politikusnya rendah, trik yang dimainkannya pun ikut rendah. Hanya bisa menipu anak kecil saja.

Tidak harus percaya dengan dugaan atau pendapat sebagian pihak tadi, tapi layak percaya bahwa ada sejumlah parpol yang politikusnya duduk di kabinet saat ini.

KPK sudah menjadi musuh bersama, kata Peneliti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Miko Ginting di sini, menanggapi pernyataan Jaksa Agung agar fungsi penuntutan tindak pidana korupsi (tipikor) dikembalikan ke kejaksaan.

Bagaimana dengan Raisa? Menurut sebagian pihak lagu dan suaranya biasa saja, kalau tidak ingin disebut menye-menye, tapi kok bisa terkenal? Ya, Raisa pun sedang hangat dibicarakan seperti halnya KPK dari sudut yang berbeda.

Presiden Jokowi pun sempat memberi perhatian atas fenomena Raisa (hueeek…) ini. “Satu-dua hari yang lalu, saya dikomplain mengenai Raisa,” katanya di sini

Kemudian Jokowi menceritakan alasannya. Namun apapun alasannya itu, Raisa mendapat perhatian. KPK pun mendapat perhatian dari Presiden Jokowi setelah ada wacana pembekuan KPK yang dilontarkan anggota Pansus Angket KPK.

“Perlu saya tegaskan bahwa saya tidak akan membiarkan KPK diperlemah. Oleh sebab itu kita harus sama-sama menjaga KPK,” ujarnya.

KPK atau Raisa yang lebih mendapat perhatian?

Jika ada yang bertanya seperti itu, The Lohmenz Institute memperkirakan ada sesuatu yang berpotensi lucu di sini.

Sumber gambar.


Rumah Sahabat Presiden Jokowi Diserbu 300 Mahasiswa

Rumah Sahabat Presiden Jokowi Diserbu 300 Mahasiswa

Adahati.com – Rumah sahabat Presiden Jokowi yang terletak di Mega Kuningan, Jakarta Selatan diserbu oleh sekitar 300 mahasiswa setelah usai mengikuti kegiatan Jambore di Cibubur, Jakarta Timur. Pada saat rumah sahabat Presiden Jokowi diserbu tadi, kebetulan sahabat Presiden Jokowi, yaitu SBY sedang berada di sana.

SBY pun curhat lewat akun Twitternya.

“Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*.”

Jelas ditulisnya kata “bertanya”, tapi apakah Presiden Jokowi akan menjawab pertanyaan sahabatnya yang satu ini? Atau belum ada waktu untuk menjawab pertanyaan itu karena kesibukannya sebagai seorang presiden?

Tapi memang tidak ada keharusan seorang presiden RI untuk menjawab setiap pertanyaan yang ada, apalagi hanya sebuah pertanyaan yang dilontarkan lewat akun media sosial seperti Twitter.

Sekitar 300 mahasiswa yang menyerbu rumah sahabat Presiden Jokowi tadi boleh dibilang mahasiswa yang tidak jelas, karena berita yang ada tidak menyebut dari mana asal perguruan tingginya, tapi mereka menyerbu rumah sahabat Presiden Jokowi setelah usai mengikuti acara Jambore Mahasiswa Indonesia di Cibubur yang juga dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

Partai Demokrat pun meminta polisi untuk mengusut “aktor politik” di balik demo yang berlangsung tidak lama, hanya berorasi saja, tapi pihak Kepala Staf Kepresidenan mengatakan kehadiran Teten atas undangan Panitia Jambore, dan ia pun sekadar menyampaikan materi mengenai bagaimana menjaga NKRI. Secara langsung atau tidak langsung ingin mengatakan bukan Teten “aktor politik”nya.

Rumah sahabat Presiden Jokowi diserbu, dan SBY pun beberapa kali berkicau lewat akun Twitternya. “Saudara-saudaraku yg mencintai hukum & keadilan, saat ini rumah saya di Kuningan “digrudug” ratusan orang. Mereka berteriak-teriak. *SBY*.

Ada lagi kicauan SBY lainnya. “Saya hanya meminta keadilan. Soal keselamatan jiwa saya, sepenuhnya saya serahkan kpd Allah Swt. *SBY*,”

Sahabat Presiden Jokowi yang satu ini dalam kicauannya tadi ada menyebut kata “hukum”, “keadilan”, keselamatan jiwa” hingga “Allah” yang mengesankan atau seolah-olah dirinya terancam bahaya yang luar biasa sekali.

Timbul pertanyaan. Memangnya tidak ada Paspampres yang menjaga keselamatan mantan seorang presiden? Menko Polhukam santai saja menjelaskannya kepada pers di sini. “Kan grupnya (Grup D Paspampres) ada. Grupnya ada, orangnya ada. Kadang hal-hal yang situasional diatasi. Begitu saja, kan,” kata Wiranto.

Tersenyum, mengingat lebay bisa menjadi bagian dari taktik “playing the victim”. Kejadian yang sebenarnya biasa saja, tapi dikesankan luar biasa sekali.

sumber foto: youtube.com.


“Bapak Prabowo presidenku!”, Siapa Bilang?

“Bapak Prabowo presidenku!”, Siapa Bilang?

Adahati.com – Pilpres 2019 diperkirakan masih sekitar 2,5 tahun lagi dihitung dari sekarang, tapi sudah ada orang yang berteriak seperti ini: “Bapak Prabowo presidenku!”.

Sekadar informasi terkait Pilpres 2019, Mahkamah Konstitusi menyatakan diadakannya Pemilu dua kali (Pilpres dan Pileg) bertentangan dengan UUD 1945, sehingga tidak bisa lagi dijadikan dasar penyelenggaraan Pemilu (23/1/14).

“Mengabulkan permohonan pemohon: Pasal 3 ayat 5, pasal 12 ayat 1 dan 2, pasal 14 ayat 2, dan pasal 112 UU No 42 Tahun 2008 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva.

Keputusan Mahkamah Konstitusi ini menyebabkan Pilpres dan Pileg akan dilakukan serentak, bukan terpisah lagi. Menurut Aliansi Masyarakat Sipil, Pemilu yang berlangsung dua kali telah menyalahi konstitusi dan memboroskan uang rakyat hingga Rp 120 triliun.

Kembali bahas frasa “Bapak Prabowo presidenku!”. Siapa yang bilang seperti itu?

Prabowo menghadiri kampanye akbar pasangan cagub Anies-Sandiaga yang diselenggarakan di Lapangan Banteng (5/2/2017). Sejumlah orang yang mengibarkan bendera Partai Gerindra menyerukan “Bapak Prabowo presidenku!”.

Ketua Umum Partai Gerindra ini pun ada mengatakan seperti ini: “Kalau kalian ingin saya jadi presiden 2019, Anies-Sandi Gubernur DKI, betul?.” Tapi sebelumnya berita ini menulis, “Prabowo pun menanggapinya dengan candaan”.

Sebenarnya bercanda atau serius? Sebagian pihak mengatakan “politik itu tidak jelas”. Meskipun demikian, adalah hak Prabowo untuk maju pada Pilpres 2019 nanti.

Jika benar Prabowo Subianto adalah salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti dipastikan ia akan memenangkan Pilpres 2019, tapi dengan catatan hajatan atau pesta demokrasi tadi diselenggarakan di kantor-kantor Partai Gerindra. Pemilih yang boleh mencoblos pun hanya pendukung Partai Gerindra serta simpatisannya saja.

Kali ini benar-benar bercanda, bukan serius.

Tapi entah serius atau bercanda, tidak sedikit pihak yang mengatakan Pilpres 2019 nanti merupakan pengulangan dari Pilpres 2014, artinya akan terjadi lagi pertarungan antara Jokowi dan Prabowo. Tingkat berisik politiknya pun diperkirakan tak jauh berbeda, bahkan bisa lebih berisik dibanding sebelumnya.

Siapa pemenang Pilpres 2019 nanti? Masih ada waktu sekitar 2,5 tahun lagi, dan belum tentu juga kandidatnya hanya mereka berdua saja.

Sumber gambar. 


Sahabat Jokowi Senang Memainkan “Trik Politik Basi”?

Sahabat Jokowi Senang Memainkan “Trik Politik Basi”?

Adahati.com – Sahabat Jokowi yang satu ini, yaitu SBY menurut sebagian pihak posisinya saat ini sudah lemah sejak melakukan blunder atau termakan asumsinya sendiri bahwa ada penyadapan percakapan antara dirinya dan Ketua MUI, Ma’ruf Amin.

Posisi sahabat Jokowi yang sudah lemah ini berimbas atau memengaruhi juga posisi politik anaknya, Agus Yudhoyono yang sedang berusaha untuk merebut kursi DKI satu. Tentu saja keadaan ini cukup memprihatinkan, apalagi hari H Pilkada DKI 2017, mengutip lagu Krisdayanti, tinggal menghitung hari saja.

Menghitung hari, detik demi detik
Masa kunanti apa kan ada
Jalan cerita, kisah yang panjang, menghitung hari…

Meski posisinya sudah lemah dan terpojok, sahabat Jokowi masih berusaha melakukan perlawanan untuk mengembalikan posisinya atau tidak semakin terpuruk saja. Beberapa waktu lalu ia sempat berkicau di sini.

“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang? *SBY*.”

Kemarin, sahabat Jokowi kembali berkicau lewat akun Twitternya di sini. “Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bangsa ini rukun dan bersatu -Susilo Bambang Yudhoyono-“. Ada yang terharu atau terenyuh?

Sebelumnya pun sahabat Jokowi sudah berkicau seperti ini: “Bpk Ma’ruf Amin, senior saya, mohon sabar & tegar. Jika kita dimata-matai, sasarannya bukan Bpk. Kita percaya Allah Maha Adil *SBY*.”

Kali ini diperkirakan ada sebagian pihak yang tersenyum, mengingat kicauannya itu mengesankan bukan dirinya yang patut dikasihani meski posisinya sudah lemah dan terpojok, melainkan Ketua MUI, Ma’ruf Amin.

Sebagai seorang sahabat, SBY pun sempat menuduh ada dua atau tiga orang di sekitar Presiden Jokowi yang menghalang-halangi pertemuan mereka selama ini.

Frasa “orang di sekitar Presiden Jokowi” ini mengesankan ada “pengkhianat” yang memberikan informasi kepada SBY. Seolah-olah ada perpecahan di tubuh pemerintahan Presiden Jokowi, namun trik ini boleh dibilang “trik politik basi”.

Memang sahabat Jokowi yang satu ini diasumsikan senang memainkan “trik politik basi” yang sudah ketinggalan zaman. Posisinya pun tetap lemah dan terpojok, juga memengaruhi posisi anaknya, Agus Yudhoyono untuk merebut kursi DKI satu, padahal hari H Pilkada DKI 2017 tinggal menghitung hari saja.

Maka dari itu, kursi DKI satu pun sudah dianggap hilang, atau pergi entah ke mana.

Pergi saja…cintamu pergi
Bilang sajaaaa… pada semua
Biar semua tahu adanya
Diriku kini sendiri

Sumber gambar


Sahabat Presiden Jokowi Sudah Terpojok?

Sahabat Presiden Jokowi Sudah Terpojok?

Adahati.com – Memangnya siapa yang dimaksud sahabat Presiden Jokowi sudah terpojok? Tak perlu dijelaskan lagi, karena pernah ditulis di sinidi sini, dan di sini.

SBY mengaku sahabat Presiden Jokowi. Terlepas sekadar perbaba (pernyataan basa-basi) atau bukan, sahabat Presiden Jokowi sudah terpojok sekarang ini.

SBY diduga “menabur angin” sebelum terjadi aksi 4 November 2016, karena ada ucapannya yang dianggap memanasi situasi dan kondisi saat itu. Sahabat Presiden Jokowi ini telah melakukan serangan politik, maka cepat atau lambat akan ada serangan balik politik yang setara atau lebih.

SBY memang membantah dirinya telah “menabur angin” atau terlibat aksi 4 November, tapi tidak ada keharusan untuk percaya bantahannya itu. Mereka yang tidak percaya segera menyusun strategi dan taktik untuk menyerang balik. Meski “segera”, bukan berarti serangan balik itu dilakukan segera juga.

Kapan? Menjelang hari H Pilkada DKI 2017 karena ada anggapan SBY telah “menabur angin” demi terpilihnya cagub Agus Yudhoyono.

Serangan balik politik akan tetap dilakukan, dan SBY pun terkena trik maut serta masuk perangkap politik tingkat tinggi. Berawal dari Ahok dan tim kuasa hukumnya yang mencecar Ketua MUI tentang adanya percakapan antara dirinya dan SBY. Dibantah, tapi SBY justru mengakui memang benar ada percakapan itu.

Kemudian SBY pun berusaha memainkan taktik “playing the victim” dengan berasumsi ada penyadapan. Meskipun demikian, tetap saja SBY terkena trik maut dan masuk perangkap politik tingkat tinggi. Sahabat Presiden Jokowi sudah terpojok, makanya  SBY akan “diskakmatkan” sebentar lagi?

Kemungkinan besar tidak, karena masih kental aroma “Politik Teletubbies”, yaitu apapun masalahnya akan berakhir dengan berpelukan dan cipika-cipiki.

Tapi apakah benar sahabat Presiden Jokowi sudah terpojok? Apakah benar SBY terkena pepatah “siapa yang menabur angin akan menuai badai”? Apakah benar ada serangan balik politik yang mematikan menjelang hari H Pilkada DKI 2017?

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini

  • Putih giliran melangkah.
  • Jika putih Mf3xBa3, pion hitam dua langkah kemudian promosi.
  • Jika Raja putih mendekati Menteri, tetap saja pion hitam tak terkejar lagi.
  • Apa yang harus dilakukan oleh putih?
  • Bukan mendekat, tapi Raja putih menjauh saja dari Menteri putih…Rh3-h4!

  • Remis.
  • Bingung?
  • Pegangan.

sumber foto: youtube.com.


SBY Mengaku Sahabat dan Penjelasan Presiden Jokowi

SBY Mengaku Sahabat dan Penjelasan Presiden Jokowi

Adahati.com – Tulisan sebelumnya di sini menyebutkan mantan presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, yaitu SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi.

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi? Entah berapa banyak cerita yang pernah ditulis tentang seorang sahabat. Entah itu ditulis dalam sebuah cerpen, cerbung, atau novel. Bukan hanya tulisan, juga sudah cukup banyak film-film yang menceritakan betapa penting dan berartinya seorang sahabat itu.

Secara garis besarnya dideskripsikan sahabat adalah orang yang rela menolong kawannya yang sedang mengalami kesusahan atau masalah tanpa mengindahkan dirinya. Tidak sedikit tulisan atau film yang menceritakan tentang pengorbanan seorang sahabat demi menolong kawannya tadi, bahkan hingga rela mengorbankan nyawanya. Semua ini menunjukkan seorang sahabat memiliki arti yang khusus.

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi, kemudian curhat. Saat sidang kasus dugaan penistaan agama kemarin, Ahok dan kuasa hukumnya menanyakan soal percakapan antara Ketua MUI Ma’ruf Amin dan SBY. Hal inilah yang membuat SBY mengambil kesimpulan bahwa dirinya disadap.

“Kalau institusi negara, Polri, BIN, menurut saya, negara bertanggung jawab. Saya berharap berkenan Pak Presiden Jokowi menjelaskan dari mana transkrip penyadapan itu siapa yang bertanggung jawab,” begitu antara lain kata mantan presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat tadi di sini.

Dimulai dengan kata “kalau”, SBY meminta penjelasan kepada sahabatnya, Presiden Jokowi. Meski agak janggal, tapi seorang sahabat seharusnya tidak terlalu memasalahkannya. Tanggapan Presiden Jokowi seperti ini: “Begini loh, saya hanya ingin menyampaikan yang kemarin ya. Itu kan isu pengadilan, dan yang bicara itu kan pengacaranya Pak Ahok dan Pak Ahok. Iya nggak? Iya kan,” katanya di sini.

Presiden Jokowi pun merasa aneh atas permintaan tersebut. Menurutnya, isu transkrip rekaman tersebut tidak ada hubungan dengan dirinya.

“Lah kok ‘barangnya’ dikirim ke saya, ya nggak ada hubungannya.”

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi, sementara jawaban yang diterimanya seperti itu. Jangan-jangan pengakuan SBY tadi hanya pengakuan sepihak saja, dan secara tidak langsung Presiden Jokowi sudah menyatakannya di atas tadi.

Sumber gambar. 


Reshuffle Kabinet Jilid Empat Masih Sebatas Isu, tapi Lucu

Reshuffle Kabinet Jilid Empat Masih Sebatas Isu, tapi Lucu

Adahati.com – Reshuffle kabinet jilid empat berhembus belakangan ini menjelang tahun 2016 berakhir. Mungkin ada sebagian pihak yang merasa heran. Telah tiga kali reshuffle kabinet dan sekarang mau yang keempat? Memangnya sudah berjalan berapa tahun pemerintahan Presiden Jokowi? Mengapa ganti menteri mulu?

Di masa lalu lawan-lawan politik Jokowi memang pernah menjulukinya “presiden boneka”, sebuah sindiran bahwa Jokowi di bawah kontrol Megawati Soekarnoputri (PDIP) khususnya, dan partai-partai politik pendukungnya secara keseluruhan.

Entah siapa yang pertama kali meniupkan isu reshuffle kabinet jilid empat ini, tapi reaksi dari parpol-parpol pendukung Jokowi bisa disimak di bawah ini.

Partai Nasdem lewat pernyataan politikusnya, Jhonny G Plate, reaksinya cenderung perbaba (pernyataan basa-basi). Nasdem mendukung rencana reshuffle kabinet asal tujuannya memperkuat kinerja dan konsolidasi parpol-parpol pendukung pemerintah, restruktur dan reposisi kekuatan koalisi adalah hal yang wajar, stabilitas politik memang diperlukan.

Sedangkan reaksi PPP lewat pernyataan politikusnya Arsul Sani, Hanura (Dadang Rusdiana), dan PKB (Daniel Johan) pun cenderung basi. Reshuffle kabinet adalah hak prerogatif presiden. Berharap kursi kabinetnya tidak diutak-atik?

Bagaimana reaksi PDIP terkait isu reshuffle kabinet jilid empat ini? PDIP lewat pernyataan Darmadi Durianto, bahkan sudah memperkirakan pos-pos menteri yang akan terkena reshufle kabinet, yaitu Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan alasan yang dikemukakannya cenderung basi juga, misalnya reshuffle kabinet diperlukan merujuk pada program nawacita yang menjadi perhatian khusus Presiden Jokowi.

Lalu, bagaimana reaksi atau tanggapan Presiden Jokowi sendiri? “Nggak ada,” katanya di sini. Tak lama kemudian ia mengulangi kalimat “Nggak ada” tadi.

Presiden mengatakan tidak ada reshuffle kabinet. Mengapa parpol-parpol pendukungnya berisik mengatakan ada? Dagelan atau lucu-lucuan menyambut Tahun Baru 2017? Biasanya kalau ada berisik politik yang tidak jelas sekadar pengalihan isu saja, tapi pengalihan isu dari apa? Situasi dan kondisi politik saat ini cenderung baik-baik saja atau tidak ada kejadian yang cukup menghebohkan.

Di sisi lain, kalau diperhatikan lebih lanjut, para politikus yang berkoar tadi masih “politikus kelas teri”. Bisa saja parpol-parpol pendukung Presiden Jokowi tadi buang badan, jika keadaannya tidak menguntungkan dengan mengatakan bukan sikap resmi partai kami menginginkan adanya reshuffle kabinet jilid empat.

Sumber gambar dan sumber berita: merdeka.com.


Tante C Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Tante C Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Adahati.com – Siapa Tante C? Sebelum dijelaskan lebih lanjut terlebih dahulu Tante C mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh pembaca yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong di manapun Anda berada saat ini.

Tante C adalah tokoh imajinasi yang akan mengajak para pembaca menikmati Trik dan Problem Catur yang Sederhana. Sebelumnya Tante C pernah hadir di sini, dan masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan eksistensi Tante C dengan trik-trik caturnya yang sederhana, mudah saja, tidak sulit dan rumit.

Mengapa tokoh imajinasinya Tante C, bukan Om C? Setidak-tidaknya ada 3 (tiga) alasannya. Pertama, tante biasanya menarik perhatian kaum lelaki, baik tua maupun muda. Begitu melihat judul tulisannya ada kata “Tante” langsung klik saja, eh ternyata isinya catur. Tertipu? Merasa dibohongi? Mudah-mudahan jangan.

Alasan kedua, saat ini olahraga catur kurang diminati oleh kaum hawa. Diharapkan kehadiran Tante C bisa menarik perhatian kaum hawa dan berminat menggeluti olahraga otak ini. Sedangkan alasan ketiga, suka-suka penulisnya. Kebetulan tokoh imajinasinya seorang perempuan dengan sebutan Tante C (Tante Catur).

Selain itu kehadiran Tante C pun akan membahas sedikit berita-berita yang sedang hangat saat ini. Misalnya tentang Ahok, Jokowi, Prabowo Subianto, Fadli Zon, Ruhut Sitompul dan lainnya, tapi masih tetap dalam koridor suasana santai.

Makdarit (maka dari itu), jangan heran apabila judul tulisannya seperti ini, misalnya:

  • Tante C: Ahok Marah, Kuda Ditendang dan Dibanting.
  • Tante C: Jokowi Tersenyum Melihat Pion yang Kecil dan Imut.
  • Tante C: Prabowo Subianto Pelihara Gajah di Hambalang.

Dan seterusnya, kemudian diakhiri dengan Trik dan Problem Catur yang Sederhana.

Demikianlah penjelasan singkat tentang “Tante C”, dan sekarang markiper (mari kita perhatikan) Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Hitam giliran melangkah, dan menolak pertandingan ini berakhir remis.
  • Setelah berpikir sejenak, hitam melihat titik kelemahan putih yang terdapat pada garis diagonal d3-b1 dan d3-f1.

  • Langkah hitam selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Gb7-a6!

Sampai juga lagi di lain waktu. Sekali lagi Tante C mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh penggemar catur di manapun Anda berada saat ini.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar.


Perusuh Saat Natal dan Tahun Baru Bakal Didor?

Perusuh Saat Natal dan Tahun Baru Bakal Didor?

Adahati.com – Perusuh saat Natal dan Tahun Baru bakal didor. “(Perintah tembak) Kalau mengganggu, anarkis, ya kita lakukan itu,” kata Kapolda Metro Jaya.

Apakah langsung didor tanpa peringatan? Tentu saja tembak di tempat tadi harus melalui sebuah proses terlebih dahulu.

“Ya kalau mengganggu keamanan ibu kota kita dibekali senjata untuk itu, tapi ada pentahapannya,” kata Kapolda Metro Irjen Pol M Iriawan di sini.

Singkatnya perintah Kapolda Metro menembak perusuh saat Natal dan Tahun Baru tadi tetap mengacu atau sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur).

Pernyataan Kapolda Metro tadi cenderung sebuah “pernyataan yang standar”? Jangankan saat Natal dan Tahun Baru, hari biasa pun memang sudah seharusnya mengacu atau sesuai dengan SOP.  Sebelumnya pun di sini ada juga sebuah peringatan. “Aparat hukum jangan ragu menindak tegas ormas yg melawan hukum dan meresahkan masyarakat –Jkw,” tulis Presiden Jokowi lewat akun Twitternya (19/12/16).

Tidak heran, siapapun yang melawan hukum memang harus ditindak tegas.

Bagi mereka yang menanyakan tentang “pernyataan yang standar” Kapolda Metro dan Presiden Jokowi di atas tadi mungkin lupa bahwa kapasitas otak manusia itu terbatas. Perlu terus diingatkan dan diberi peringatan, bahkan didor kalau masih saja bebal.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, arti kata “bebal” adalah sukar mengerti; tidak cepat menanggapi sesuatu (tidak tajam pikiran), bodoh.

Bagaimana supaya terhindar dari “tidak tajam pikiran”? Salah satu cara yang mudah dan murah meriah adalah rajin mengikuti Trik dan Problem Catur yang Sederhana.

  • Putih giliran melangkah.
  • Benteng putih sudah berada di baris 7, dan sesuai dengan salah satu prinsip dasar bermain catur yang baik dan benar.
  • Meskipun demikian, tidak ada salahnya Benteng putih itu ditinggal saja.
  • Md2-h6!

  • Putih mengancam mat di petak f8.
  • Hitam pun menyatakan dirinya menyerah kalah.
  • Bagaimana jika langkah hitam selanjutnya, Ke8-f6?

  • Hitam kalah satu perwira Benteng.
  • Selanjutnya putih mudah saja, tidak sulit dan rumit mengalahkan buah catur hitam.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar. 


Timnas Indonesia Gagal, tapi Masih Dapat Bonus?

Timnas Indonesia Gagal, tapi Masih Dapat Bonus?

Adahati.com – Timnas Indonesia gagal meraih gelar juara Piala AFF 2016. Menang 2-1 di leg pertama melawan Thailand, tapi kekalahan 0-2 di leg kedua memupuskan asa yang sempat membumbung tinggi. Timnas Indonesia pun pulang dengan tangan hampa.

Namun kurang tepat sebenarnya apabila dikatakan pulang dengan tangan hampa. Hal ini mengacu pada pernyataan Menpora Imam Nahrawi.

Sebelum berlaga pada leg kedua, Presiden Jokowi mengatakan akan memberikan bonus sebesar Rp 12 miliar dengan harapan Timnas meraih gelar juara, tapi pada kenyataannya Timnas gagal mewujudkannya.

Apakah bonus tadi hilang dengan sendirinya atau Timnas pulang dengan tangan hampa? Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi masih tetap ada bonus, meski belum jelas berapa jumlah atau besar bonusnya.

“Tetap ada apresiasi dari pemerintah, tetapi jumlahnya akan dibicarakan lebih lanjut dengan Kementerian Keuangan. Kami sudah melengkapi semua persyaratan administrasi,” kata Menpora Imam Nahrawi di sini.

Dari pernyataan Presiden Jokowi dan Menpora Imam Nahrawi di atas tadi, setidak-tidaknya ada 3 (tiga) hal yang cukup menarik, yaitu:

Pertama, pemerintah tidak memperkirakan kemungkinan Timnas Indonesia gagal. Makanya Presiden Jokowi hanya menyebut bonus Rp 12 miliar dengan harapan Timnas Indonesia sukses menjuarai Piala AFF 2016.

Kedua, tidak dimasukkannya kemungkinan Timnas Indonesia gagal bisa dilihat dari besaran bonus yang masih akan dibicarakan lebih lanjut dengan Kementerian Keuangan seperti dikatakan oleh Menpora tadi

Ketiga, pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan bonus, sekalipun Timnas Indonesia gagal, tapi sengaja tidak disebut oleh Presiden Jokowi guna memicu semangat Timnas meraih gelar juara. Tidak tertutup kemungkinan pernyataan Menpora tadi sekadar basa-basi saja. Sebenarnya sudah ada jumlah atau besar bonusnya, tapi baru akan diungkap oleh Menpora beberapa hari kemudian.

Entah mana yang benar, tapi bonus untuk Timnas Indonesia sudah sewajarnya diberikan, terlepas Timnas berhasil atau gagal meraih gelar juara Piala AFF 2016.

Menpora memang belum mengatakannya, tapi diperkirakan jumlah atau besarnya bonus bagi Timnas Indonesia sekitar 25-50% dari Rp 12 miliar.

Hanya perkiraan saja. Kemungkinan salahnya masih tetap ada.

Berapa sebenarnya jumlah bonus bagi Timnas Indonesia?

Sumber gambar. 


Babak Final Piala AFF 2016: Pelatih Thailand Gugup

Babak Final Piala AFF 2016: Pelatih Thailand Gugup

Adahati.com – Babak final Piala AFF 2016 leg pertama akan berlangsung di Stadion Pakansari. Hal ini jelas sebuah keuntungan bagi Timnas Indonesia untuk meraih kemenangan, dan modal yang berarti untuk meraih gelar juara setelah empat kali gagal di babak final.

Memang Thailand akan menjadi tuan rumah pada leg kedua nanti, tapi setidak-tidaknya secara psikologis akan terganggu jika Timnas mampu meraih kemenangan di leg pertama yang akan digelar hari Rabu, 14 Desember 2016.

Timnas Indonesia maju ke babak final Piala AFF 2016 setelah di babak semifinal mengalahkan Vietnam 2-1 di leg pertama dan bermain imbang 2-2 saat bertandang ke kandang Vietnam. Sementara Thailand sukses menjungkalkan Myanmar dengan agregat 6 gol (2-0 dan 4-0). Apapun hasil pertandingan di babak sebelumnya, termasuk kekalahan Timnas 2-4 atas Thailand, bukan menjadi tolak ukur yang meyakinkan mengingat nuansa babak final yang berbeda.

Thailand memang tim yang paling produktif mencetak gol selama turnamen Piala AFF 2016, dan Timnas Indonesia harus mewaspadai hal ini. Namun bukan berarti Timnas bermain bertahan atau pasrah diserang terus seperti halnya leg kedua babak semifinal saat menghadapi Vietnam. Jika Thailand mendominasi pertandingan di babak final Piala AFF 2016 leg pertama nanti, dan Timnas Indonesia cenderung bermain bertahan, jangan harap gelar juara bisa diraih.

Selaku tuan rumah yang didukung puluhan ribu penonton yang diperkirakan akan terus meneror pemain Thailand sepanjang pertandingan bisa menimbulkan kegugupan bagi tim tamu nantinya. Bukan pemain Thailand saja yang gugup, pelatih Thailand Kiatisuk Senamuang pun sudah mengakui dirinya gugup terkait dukungan fanatik penonton di Stadion Pakansari, Cibinong.

“Pertandingan ini tentu akan sulit karena Indonesia akan kuat di kandang, tak berbeda dengan Vietnam atau Myanmar. Alasannya karena fans ada di belakang para pemain,” kata pelatih Thailand Kiatisuk Senamuang.

Mungkin saja pernyataan kegugupan pelatih Thailand tadi sekadar basa-basi, atau sebuah taktik supaya Timnas Indonesia terlena, tapi rasanya kegugupan Kiatisuk Senamuang ada benarnya, karena Timnas Indonesia memiliki potensi besar meraih kemenangan, mengingat:

Pertama, faktor rumah. Pemain Timnas yang didukung puluhan ribu penonton fanatiknya tentu tidak akan menyiakan kesempatan yang berharga ini, juga terpicu untuk mengeluarkan segenap kemampuannya, apalagi kemungkinan besar Presiden Jokowi akan menyaksikan secara langsung pertandingan tersebut.

Kedua, pemain Timnas Indonesia memiliki kemampuan mencetak gol lewat bola-bola atas dan perlu dilakukan sesering mungkin umpan-umpan silang maut di depan mulut gawang Thailand. Tidak tertutup kemungkinan gol Timnas Indonesia berasal dari sebuah sundulan kepala yang mengoyak gawang Thailand.

Ketiga, sebenarnya ada beberapa pemain Timnas yang memiliki kemampuan menembak bola dari luar kotak pinalti, atau tembakan jarak jauh, tapi sayangnya pemain Timnas masih kurang tenang mengendalikan diri, termasuk masih bermasalah penyelesaian akhirnya. Boaz Salossa memiliki skill individu yang tinggi, dan diharapkan nantinya mampu mengganggu lini pertahanan Thailand serta tembakan jarak jauh dari pemain Timnas lainnya bisa menghasilkan sebuah gol.

Dua gol yang dicetak pemain Timnas Indonesia di babak final Piala AFF 2016 leg pertama diperkirakan akan terjadi lewat sundulan kepala dan tendangan jarak jauh, namun bukan berarti kemenangan akan mudah diraih mengingat Thailand selama turnamen ini berlangsung adalah tim yang paling produktif mencetak gol.

Mungkin saja gol balasan atau gol cepat Thailand akan tercipta nantinya. Maka dari itu, lini pertahanan Timnas Indonesia mesti mewaspadainya. Lengah sedikit saja bisa mendatangkan mimpi buruk, dan kekalahan di leg pertama akan memupuskan harapan Timnas Indonesia untuk meraih gelar juara.

Memang cukup sulit bagi Timnas Indonesia memenangkan pertandingan dengan selisih dua gol atas Thailand, tapi kemenangan 1-0 atau 2-1 di babak final Piala AFF 2016 leg pertama nanti sudah merupakan hasil yang bagus dan modal yang berarti, dan Timnas Indonesia berpotensi besar untuk mewujudkan kemenangan itu.

Sumber gambar, dan sumber berita: liputan6.com.


Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Adahati.com – Ahok dinasihati oleh Jokowi, tapi bukan baru-baru ini kejadiannya, melainkan saat Ahok masih mendampingi Jokowi sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Menurut Ahok, Jokowi menasihatinya untuk lebih tenang dan tak perlu meledak-ledak, meski tahu ada yang keliru dalam sistem pemerintahan. “Selow, pelan-pelan,” ujar Ahok menirukan perkataan Jokowi.

Tidak dijelaskannya lebih lanjut, apakah selow atau pelan-pelannya seperti keong atau bukan.  Gubernur DKI Jakarta yang sedang cuti terkait Pilkada DKI 2017 ini terkesan kurang garang penampilannya sejak kasus dugaan penistaan agama merebak ke permukaan. Ahok mengakui, semua ini atas saran, nasihat, atau masukan dari berbagai pihak yang perhatian dan dekat dengannya. Di sisi lain Ahok pun mengakui bahwa karakternya memang keras, sering kesal melihat hal-hal yang tidak benar. Emosinya cepat meletup dan melabraknya.

“Ya karena karakter, kadang-kadang aku kesal juga sama orang-orang lihat situasinya (yang enggak benar) kesal aja. Dari pada kesal-kesal nahan-nahan jantungan, mendingan keluar. Tapi aku cepat lupa kok,” ujarnya sambil tersenyum simpul.

Perihal perubahan dirinya yang garang, kemudian cenderung menjadi lebih pendiam dan tenang ternyata sempat membuat istrinya, Veronica Tan tak mengenalinya lagi. Begitulah, Ahok yang tadinya garang bak seekor harimau, setelah menerima saran, nasihat atau masukan dari berbagai pihak menjadi cenderung  selow, pelan-pelan, pendiam dan tenang. Perubahan dirinya ini mungkin saja akan mengundang simpati dari sebagian pihak. Jempol, bagus, cakep dan sederet pujian lainnya.

Namun bisa juga sebagian pihak lainnya sebal karena kehilangan Ahok yang lugas dan bicara apa adanya. Apalagi kesannya seperti keong yang selow atau jalan pelan-pelan, sementara Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya sudah lama mengidap penyakit korupsi stadium tingkat tinggi perlu perubahan yang drastis dan cepat menuju ke arah yang lebih baik. Kapan selesainya kalau perubahannya berjalan seperti keong?

Nasihat sederhana lainnya yang mungkin lebih baik, bagus dan tepat untuk Ahok adalah nasihat lama seperti ini,  ‘be your self’, atau jadilah dirimu sendiri.

sumber berita: merdeka.com.


JK Tersinggung atas Saran Mantan Presiden BJ Habibie?

JK Tersinggung atas Saran Mantan Presiden BJ Habibie?

JK Tersinggung atas Saran Mantan Presiden BJ Habibie?

Adahati.com – Gonjang-ganjing konflik internal Partai Golkar masih terus berlangsung sampai saat ini. Kemarin ada pernyataan yang sama, yaitu baik Ical maupun Agung Laksono tidak akan mencalonkan diri lagi jika Munaslub Partai Golkar akhirnya jadi digelar. Pun diharapkan ketua umum yang baru nanti dapat memersatukan kembali kader-kader partai yang selama ini terpecah belah.

BJ Habibie sebagai salah satu tokoh senior menyarankan agar calon ketua umum Partai Golkar nanti berasal dari generasi muda dengan rentang umur 40-60 tahun.

Sementara JK tokoh senior Partai Golkar lainnya tidak setuju dengan saran BJ Habibie tadi. “Bukan soal umur, soal kemampuan, dan bisa diterima,” katanya di sini.

Penolakan JK atas dikotomi umur ini, apakah secara langsung atau tidak langsung bentuk ketersinggungannya atau JK tersinggung atas saran BJ Habibie tadi?

Saran dan harapan BJ Habibie terkait dengan regenerasi di tubuh Partai Golkar tadi sebenarnya bukan hal yang baru. Saat Pilpres 2014 yang lalu ia pun pernah mengatakan hal yang sama, yaitu calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia sebaiknya dari generasi muda dan berumur antara 40-60 tahun.

“Sukarno itu 44 tahun. Presiden kedua Soeharto itu 45 tahun. Setelah itu, ketiga saya sudah lewat masa muda. Sebagai orangtua saya menyesal kalau tidak memberikan toleransi kepada yang muda untuk berkembang,” kata BJ Habibie di sini.

Saran dan harapan BJ Habibie tadi hanya terpenuhi setengahnya saja. Jokowi memenuhi kriteria umur 40-60 tahun, tapi JK sudah berusia 72 tahun masih menjabat wakil presiden, dan salah satu alasan tim sukses waktu itu adalah JK bisa mendulang suara yang cukup banyak dari Indonesia bagian timur.

Tapi benarkah JK tersinggung karena Habibie kembali mengulangi saran dan harapannya terkait dengan regenerasi tadi?

Entahlah, mungkin JK tersinggung atau sebaliknya. Mungkin juga JK memiliki pertimbangan lain. Misalnya belum ada kader muda yang bisa memersatukan Partai Golkar yang saat ini sedang terpecah belah karena konflik internal yang masih berlarut-larut hingga saat ini.

*Sumber gambar: youtube.com.


Reshuffle Jilid Dua akan Ada Dua Menteri Diganti?

Reshuffle Jilid Dua akan Ada Dua Menteri Diganti?

Adahati.com – Ada sebuah saran terkait desakan terus menerus dari politisi PDIP agar Presiden Jokowi melakukan reshuffle jilid dua dan mengganti Menteri BUMN Rini Soemarno, atau merotasi posisinya dari Menteri BUMN menjadi Menteri Perdagangan.

Megawati Soekarnoputri sendiri secara terang-terangan di Rakernas PDIP kemarin di depan para pejabat tinggi dan politisi dari berbagai partai politik mengkritik peran BUMN yang dinilainya tidak sesuai dengan fungsi utama karena perusahaan pelat merah saat ini sudah tak mampu lagi menjadi sokoguru perekonomian nasional.

“Sekarang diperlakukan seperti korporasi swasta. Mengedepankan bisnis semata sebagai pendekatan business to business,” katanya.

Jauh hari sebelumnya sebuah informasi mengatakan ia pernah mengirim surat kepada Presiden Jokowi yang isinya ingin jabatan menteri BUMN diganti. Presiden Jokowi pun membalas surat tersebut dan setuju, namun dengan catatan, Rini Soemarno tetap berada di kabinet, hanya posisinya digeser dari Kementerian BUMN.

Masih adakah pimpinan kementerian lain yang diperkirakan kemungkinan besar akan ada pergantian pada reshuffle jilid dua nanti?

Pada masa Pilpres 2014 yang lalu media “Obor Rakyat” sempat menyerang dan memfitnah Jokowi. Namun salah satu mantan redaktur majalah tersebut – Darmawan Sepriyossa –  malah diundang sebagai pembicara dalam acara pelatihan menulis di Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Sebelumnya kebijakan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi yang menilai dan membuka rapor kementerian/lembaga kepada publik mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Meski Presiden Jokowi sudah mengatakan “Saya sampaikan, yang menilai kinerja menteri adalah presiden. Itu prinsip. Saya ulang, saya ingin sekarang ini menteri terus bekerja,”, tapi tak lama kemudian Yuddy Chrisnandi memberikan pernyataan (bawa-bawa nama konstitusi pula) seperti ini:

“Berdasarkan peraturan perundang-undangan, pelaksanaan evaluasi akuntabilitas kinerja instansi pemerintah adalah tugas konstitusional Kementerian PAN-RB.”

Diperkirakan pada reshuffle jilid dua nanti sedikitnya ada dua menteri yang akan dicopot dari jabatannya, yaitu Menteri BUMN dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Namun perkiraan ini masih bisa salah.

*Sumber berita merdeka.com, sumber gambar: youtube.com. 


Menteri BUMN Rini Soemarno akan Diganti?

Menteri BUMN Rini Soemarno akan Diganti?

Adahati.com – PDIP kembali ingin membentuk opini masyarakat lewat pernyataannya bahwa Menteri BUMN Rini Soemarno akan terkena reshuffle atau dicopot dari jabatannya dengan alasan sesuai rekomendasi Panitia Khusus PT Pelindo II.

Menurut hasil temuan Pansus, Menteri BUMN Rini Soemarno telah melakukan pelanggaran terhadap undang-undang.

PDIP pun sudah menyiapkan nama yang akan direkomendasikan kepada Presiden Jokowi. “Kalau preferensinya PDI-P sudah ada di sakunya Ibu Ketua Umum (Megawati Soekarnoputri). Jangan disebutkan sekarang, nanti orangnya bisa GR (gede rasa),” kata Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno.

Mengapa selama ini kesannya PDIP ngotot agar Menteri BUMN Rini Soemarno diganti? Jawaban mudahnya seperti dugaan sebagian pihak selama ini adalah BUMN merupakan ladang basah yang bisa menjadi lumbung uang bagi partai politik yang menempatkan kader-kadernya di sana sebagai Menteri dan staf-staf di bawahnya.

Namun jawaban mudah seperti ini cenderung basi, dan kurang setimpal dengan kengototan PDIP selama ini. Adakah kemungkinan jawaban mudah lainnya?

Ada, sebenarnya PDIP hanya ingin menyingkirkan Menteri BUMN Rini Soemarno dari kabinet, bukan ingin mengangkangi BUMN. Perseteruan antara Megawati dan Rini adalah pemicunya, apalagi Megawati diduga orang yang tidak mudah melupakan sakit hatinya, bercermin pada perseteruan antara dirinya dan SBY.

Benarkah? Untuk menguji kebenarannya Presiden Jokowi bisa melakukan trik seperti ini (tentu saja jika Presiden Jokowi bersedia melakukannya).

Saat melakukan reshuffle Presiden Jokowi merotasi Menteri BUMN Rini Soemarno menjadi Menteri Perdagangan (kapabilitas Rini diasumsikan masih mumpuni di pos ini), dan memberikan pos Kementerian BUMN kepada kader PDIP.

Masih ngototkah PDIP? Jika tidak, berarti benar, PDIP hanya mengincar jabatan Menteri BUMN, tapi jika masih mencari-cari kesalahan Menteri BUMN Rini Soemarno, maka dugaan di atas tadi yang benar (Megawati sakit hati terhadap Rini).

Tapi sekali lagi Presiden Jokowi yang memiliki hak prerogatif untuk mengganti atau merotasi menteri, termasuk melakukan semacam trik atau uji coba seperti usulan tadi terkait kengototan PDIP yang terus menerus menyerang Menteri BUMN Rini Soemarno.

*Sumber berita, sumber gambar: youtube.com.


Benarkah Ahmad Dhani Masih Kuat?

Benarkah Ahmad Dhani Masih Kuat?

Adahati.com – Siapa yang tak kenal Ahmad Dhani? Grup band Dewa 19 bisa kuat bertahan lama (1996-2008) karena tidak sedikit lagu-lagu ciptaannya yang menarik.


Iwan Fals Termasuk Musikus Penggemar Permainan Catur

Iwan Fals Termasuk Musikus Penggemar Permainan Catur

Adahati.com – Sebuah lagu Iwan Fals yang cukup terkenal.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal

Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi

Lagu yang berjudul “Sore Tugu Pancoran” ini liriknya sederhana, tapi mengena di hati. Sebuah kritik sosial yang berkait dengan bidang pendidikan.

Bukti bahwa Iwan Fals sejak dulu pun peduli dengan pendidikan di negeri ini. Budi yang berjualan koran di Tugu Pancoran, juga harus sekolah dan menyelesaikan tugasnya hanya satu contoh dari sekian banyak anak-anak Indonesia yang masa kecilnya sudah dipaksa untuk memecahkan karang.

Sampai saat ini pun Iwan Fals masih tetap konsisten dan berpendapat pendidikan itu sangat penting. Pendidikan yang benar dapat membuat masyarakatnya pun benar dalam berpikir dan bertindak. Hal ini ditekankannya pula kepada anak-anaknya.

“Kamu tuh jadi orang harus kuatkan fisik kamu, kuatkan hati, dengan agama dan kesenian, fisik dengan olah raga, otakmu dengan sekolah”.

Selain mengatakan percuma jadi profesor tapi maling, Iwan Fals pun menyarankan agar dana pendidikan yang ada sekarang ini dinaikkan hingga 50%. Perlu komitmen bersama agar hal ini bisa terwujud. Keputusan politik memang diperlukan agar dana pendidikan bisa ditingkatkan hingga 50%, 100% atau lebih.

Berkait dengan politik, apa tanggapannya tentang Jokowi dan Prabowo saat Pilpres 2014 lalu?. Keduanya tidak masuk kriterianya, dan Iwan Fals pun mengatakan, ” Saya tidak ngefans. Tetapi sekarang presidennya Jokowi ya sudah sportif dong. Saya sih netral.”

Pendidikan itu sangat penting, kata Iwan Fals, dan masih banyak orang lain sebelum dan sesudahnya setuju dengan pernyataannya itu. Makdarit, Presiden Jokowi dan Menteri yang berkait dengan hal ini lebih memperhatikannya lagi – salah satunya dengan meningkatkan anggaran pendidikan – dengan harapan bangsa ini tidak terus menerus dibodohi oleh bangsa asing, terutama dibodohi oleh bangsa sendiri.

Iwan Fals pun bersosialisasi dengan warga di sekitar tempat tinggalnya. Contoh, saat perayaan Agustusan tidak lupa bermain catur.

“Dulu masih banyak waktu masih sempat bermain catur atau saya ada kelas karate di sini belajar bareng-bareng.”

Terbukti, Iwan Fals pun seorang penggemar catur.

Sumber gambar.


Kasus Papa Minta Saham dan Langkah Setya Novanto

Kasus Papa Minta Saham dan Langkah Setya Novanto

Kasus Papa Minta Saham dan Langkah Setya Novanto

Adahati.com – Kasus Papa Minta Saham cenderung akan diselesaikan secara politik, bukan hukum. Meski nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla diduga telah dicatut oleh Setya Novanto berkait perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia, tapi sampai saat ini pihak kepolisian tidak menerima laporan pengaduan dari Presiden Jokowi maupun Wapres Jusuf Kalla karena merasa dirugikan namanya telah dicatut.

Kecenderungan kasus Papa Minta Saham diselesaikan secara politik, bukan hukum ini pun pernah dikatakan oleh Luhut Binsar Panjaitan.

“Kita tidak ada waktu untuk ambil langkah hukum,” katanya di sini.  

Nah, pihak istana tidak akan mengambil langkah hukum, dan yang mengatakan adalah Menko Polhukam (Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan).

Setya Novanto pun pernah mengatakan tidak akan melaporkan Sudirman Said ke polisi. “Tidak, saya tidak akan melaporkan. Semua, saya tentu memaafkan yang sudah-sudah,”.

Tapi hari Rabu (9/12/2015) kemarin melalui pengacaranya Setya Novanto melaporkan Sudirman Said ke Badan Reserse Kriminal Polri atas tuduhan dugaan tindak pidana fitnah, pencemaran nama baik, penghinaan, dan pelanggaran UU ITE.

Tidak sedikit pihak yang mengecam langkah yang diambil oleh Setya Novanto ini, padahal langkah politikus Partai Golkar ini ada sisi baiknya. Publik diingatkan kembali bahwa masih ada Undang-undang atau pasal yang berkesan karet, abal-abal, dan sejenisnya.

Pasal pencemaran nama baik dan UU ITE termasuk “pasal karet”, dan digunakan oleh Setya Novanto untuk melaporkan Sudirman Said. Maka dari itu, seharusnya publik berterimakasih kepada Setya Novanto, dan pihak yang tidak setuju dengan “pasal karet” ini bisa mendesak pemerintah dan DPR agar ditinjau ulang, diperbaiki atau dihilangkan saja.

Demikianlah sisi baik dari langkah Setya Novanto tadi, tapi menurut Ruhut Sitompul sia-sia saja, sebab Sudirman Said memiliki bukti saat melaporkannya ke Mahkamah Kehormatan Dewan berkait kasus Papa Minta Saham, bahkan Ruhut mengatakan, “Itu namanya telmi, telat mikir. Kenapa baru sekarang melaporkan? Mestinya dari awal dong.”

Pasal pencemaran nama baik merupakan delik aduan. Jika, kalau, seandainya Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla suatu hari nanti akhirnya melaporkan Setya Novanto dengan tuduhan itu, publik pun akan teringat kata “telmi” yang diucapkan oleh Ruhut tadi.

Sumber gambar: youtube.com.


Antara Megawati Soekarnoputri, Jokowi, Puan dan PDIP

Antara Megawati Soekarnoputri, Jokowi, Puan dan PDIP

Adahati.com – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri masih menjadi perbincangan yang cukup hangat di kalangan pemerhati dan peminat masalah politik berkait frasa “keluar” yang diucapkannya beberapa waktu lalu.

“Sebagai kepanjangan tangan partai, kalian adalah petugas partai. Kalau enggak mau disebut petugas partai, keluar!” kata Megawati di sini.

Makna kalimat “Petugas Partai” pun sontak kembali muncul ke permukaan, dan sebagian pihak menilai pidato politik Megawati Soekarnoputri itu cenderung telah melecehkan Presiden Jokowi yang merupakan kader PDIP juga.

Diasumsikan arah ucapan “keluar” Megawati Soekarnoputri tadi ditujukan kepada Jokowi, meski Megawati Soekarnoputri sama sekali tidak menyebut satu nama pun dalam pidato politiknya tadi.

Hal lain yang dinilai cukup kontroversial adalah keputusan Megawati yang memasukkan nama Puan ke dalam kepengurusan PDIP yang baru.

Kesannya terlalu dipaksakan dan diperkirakan sedang mempersiapkan trah Soekarno sebagai pucuk pimpinan PDIP berikutnya.

Meski Puan langsung dinonaktifkan dari jabatan partai, tetap saja dianggap trik ecek-ecek atau sekadar memenuhi pernyataan presiden Jokowi yang tidak menginginkan menteri-menteri kabinet masih aktif di partai politiknya.

Benarkah ini semacam trik ecek-ecek? Apa hubungannya dengan frasa “keluar” yang diucapkan oleh Megawati Soekarnoputri tadi?

Berikut ini perkiraannya, yaitu antara lain:

  • Megawati Soekarnoputri dan PDIP mengingatkan Jokowi bahwa dirinya bisa “keluar” dari istana jika tidak ada dukungan politik dari PDIP yang merupakan partai politik pendukung pemerintah yang terbesar.
  • Seandainya Presiden Jokowi masih bisa bertahan tanpa dukungan politik PDIP, kemudian Puan dikeluarkannya dari kabinet yang ada sekarang ini, Puan akan kembali menjadi pengurus partai.
  • Presiden Jokowi, Megawati Soekarnoputri dan PDIP masih atau tetap mesra ke depannya nanti? Puan keluar dari partai atau tidak, tetap akan menjabat menteri selama 5 tahun masa pemerintahan Jokowi. Makanya Puan tetap masuk dalam kepengurusan partai yang baru dan langsung dinonaktifkan untuk diaktifkan kembali nantinya.
  • Sengaja diangkat ke permukaan kontroversi frasa “Petugas Partai” dan “keluar” tadi dengan tujuan agar terkesan Presiden Jokowi sudah dilecehkan yang akan menarik simpati publik dan menaikkan kembali citra Jokowi yang ditengarai saat ini sudah mulai menurun.

Sumber gambar youtube.com.


Bandit Ingin Dilibas oleh Ahok, tapi Siapa Bekingnya?

Bandit Ingin Dilibas oleh Ahok, tapi Siapa Bekingnya?

Adahati.com – Para bandit akan dilibas oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, termasuk segala bentuk permainan uang atau bandit anggaran yang melibatkan oknum anggota DPRD dan Pemprov DKI Jakarta, dan hal ini pernah dikatakannya kepada Jokowi.

“Jakarta ini gendengnya luar biasa, sampai bikin Pak Jokowi marah. Ya tetapi marahnya juga masih marah halus. Pas kami dulu ngomongberdua, saya bilang ‘langsung sikat, Pak’, Pak Jokowi bilang ‘jangan dulu, tunggu saya jadi presiden dulu’,” kata Ahok di sini.

Mencermati kalimat “Jakarta ini gendengnya luar biasa” yang diucapkan oleh Ahok di atas tadi, tentu maksudnya bukan kota Jakarta yang gendeng, melainkan kelakuan bandit-bandit anggaran yang sudah keterlaluan itu.

Jika bandit anggaran luar biasa gendengnya, dapat diambil kesimpulan Ahok lebih luar biasa lagi gendengnya, karena ia berani melawan dan ingin melibasnya.

Tapi jika menyimak penuturan Ahok di atas tadi bahwa Jokowi bilang “tunggu saya jadi presiden dulu”, apakah Ahok gendengnya masih luar biasa?. Keberanian Ahok selama ini ternyata karena dibeking oleh presiden. Pantas saja berani, kata mereka yang sinis terhadap Ahok.

Hal yang biasa sebenarnya main beking-bekingan itu. Misal, si polan berani karena dibeking oleh jenderal si anu. Si polin bertingkah karena di belakangnya ada jenderal si ono, padahal cuma jenderal bintang satu atau dua, apalagi jika bekingnya seorang presiden, panglima tertinggi?.

Terlepas benar atau tidaknya keberanian Ahok karena memiliki beking atau orang yang akan melindunginya nanti, tapi yang namanya bandit anggaran, dan lainnya memang harus dilibas, bukannya malah dipelihara.

Sedikit kurang ajar terhadap mereka seharusnya tidak mengapa. Toh selama ini mereka sudah terlalu kurang ajar dan menyusahkan orang banyak saja kelakuannya.

Kurang ajar itu kadang perlu, jika bisa membuat situasi dan kondisi yang lebih baik, apalagi kurangajarnya ditujukan kepada mereka para bandit anggaran, mafia parkir dan lainnya, belum lagi manusia yang yang terlihat sopan dan santun, tapi sebenarnya lebih bandit lagi.


Memahami Pidato Politik Megawati Tidak Sulit dan Rumit

Memahami Pidato Politik Megawati Tidak Sulit dan Rumit

Adahati.com – Pidato politik Megawati antara lain mengatakan: “Sebagai kepanjangan tangan partai, kalian adalah petugas partai. Kalau enggak mau disebut petugas partai, keluar!” kata Megawati dalam pidato penutupan Kongres IV PDI-P, di Sanur, Bali, Sabtu (11/4/2015).

Gara-gara pidato politik Megawati ini sebagian pihak dan pengamat politik pun mengecamnya. Diasumsikan pidato Megawati tadi ditujukan kepada Presiden Jokowi yang merupakan kader PDIP.

Beberapa dugaan atau perkiraan berkait dengan pidato politik Megawati ini antara lain sebagai berikut:

  • Megawati tidak tahu bahwa seorang kader partai jika sudah menjabat sebagai presiden berarti sudah menjadi milik rakyat, bukan milik partai lagi.
  • Megawati kesal karena Jokowi tidak melantik Budiman Gunawan (BG) sebagai kapolri padahal diduga kuat Megawati sangat menginginkan hal itu.
  • Megawati sakit hati karena sudah mendukung, memenangkan, dan menjadikan Jokowi sebagai presiden, tapi PDIP kurang mendapat imbalan yang layak. Hal ini bisa dilihat dari jumlah dan posisi menteri kabinet yang berasal dari kader PDIP.
  • Komunikasi politik antara presiden dan PDIP pun tidak berjalan dengan baik karena jarang dilakukan.

Berikut ini semacam bantahan terhadap dugaan atau analisis di atas tadi.

  • PDIP adalah partai politik dengan jargon “partai wong cilik”. Nyaris tak mungkin Megawati yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia politik, tapi tidak tahu presiden adalah milik rakyat atau wong cilik.
  • Kecil kemungkinannya Megawati kesal karena Jokowi tidak melantik BG yang sudah lulus uji kelayakan DPR, karena BG itu bukan wong cilik.
  • Megawati sakit hati karena kader PDIP jumlahnya sedikit dan tidak menempati posisi menteri yang strategis? Pada saat pembentukan kabinet presiden Jokowi telah berbicara, berdiskusi dengan petinggi partai politik pendukungnya. Artinya dari awal pun Megawati sudah tahu, dan jika ingin meributkan masalah ini dilakukannya sejak awal, bukan baru sekarang ini.
  • Komunikasi politik antara presiden dan PDIP berjalan kurang baik karena jarang dilakukan? Tidak perlu terus menerus berkomunikasi politik jika kebijakan presiden masih sesuai dengan garis perjuangan partai, bukan?

Memahami pidato politik Megawati sebenarnya tidak sulit dan rumit. Menjadi sulit dan rumit karena belum apa-apa sudah menganggapnya seperti itu.

Sumber Berita , sumber gambar youtube.com.