Tag: fadli zon

Ada Hujan Cawapres Hingga Bulan Agustus Nanti

Ada Hujan Cawapres Hingga Bulan Agustus Nanti

Adahati.com – Setelah PDIP secara resmi mengumumkan Jokowi capres 2019 di Denpasar, Bali beberapa hari lalu, turunlah Hujan Cawapres.

Maksudnya Hujan Cawapres di sini adalah berhamburan turun nama-nama tokoh yang diperkirakan layak untuk menjadi pendamping Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Tokoh-tokoh yang sudah termasuk dalam Hujan Cawapres ini antara lain Menko Polhukam Jenderal (purn) Wiranto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Namun yang paling fenomenal dicalonkan sebagai pendamping Jokowi di Pilpres 2019 nanti adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Wacana “Prabowo Cawapres Jokowi” pun menjadi topik pembicaraan yang hangat di kalangan masyarakat. Ada sebagian pihak yang menganggapnya serius, tapi ada juga sebagian pihak yang menilainya sekadar lelucon ala Srimulat.

Mereka yang menganggap sekadar lelucon ala Srimulat tadi berangkat dari pernyataan Wakil Ketua DPR RI dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon yang mengatakan “Jangan berpikir Pak Prabowo mau disandingkan dengan Pak Jokowi”.

Tapi masih saja ada politikus yang mengulang lelucon politik ini lewat pernyataannya di media yang mengatakan setuju dengan pasangan Jokowi-Prabowo. Entah apa maksud dan tujuannya, padahal Fadli Zon sudah jelas mengatakan tidak akan terjadi.

Mungkin politikus atau sebagian pihak yang masih mengulang dan mengulang lelucon politik “Prabowo Cawapres Jokowi” ini sengaja melakukan hal itu agar Fadli Zon sewot, kesal, dan uring-uringan. Mudah-mudahan saja mereka tidak dihujani puisi yang tajam dan menyengat, atau jangan sampai terjadi “Hujan Puisi” nantinya.

Entah siapa lagi tokoh lainnya yang akan masuk dalam Hujan Cawapres yang diperkirakan masih berlangsung hingga bulan Agustus 2018 yang merupakan batas akhir pendaftaran pasangan capres dan cawapres untuk Pilpres 2019.

Sebaiknya kita tunggu saja, dan nikmati dulu Hujan Cawapres yang ada saat ini, serta berharap masih banyak lelucon-lelucon politik yang lebih lucu lagi.

Sudah kukatakan tak mungkin akan terjadi
Masih saja ada pihak yang belum mengerti
Bingung, dan tak habis pikir diriku ini
Diulang dan diulang lagi wacana basi 

Membuatku kesal dan darah tinggi saja
Mereka lakukan semua ini secara sengaja
Lelucon politik yang menyebalkan dan tak berarti
Entah mengapa pernyataanku tak dianggap sama sekali

*Sumber gambar: youtube.com.


Tingkat Kepuasan Kinerja Presiden Jokowi 75,8 Persen!

Tingkat Kepuasan Kinerja Presiden Jokowi 75,8 Persen!

Adahati.com – Tingkat kepuasan kinerja Presiden Jokowi tinggi sekali! Tentu hal ini sesuatu yang menggembirakan bagi rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Sebuah prestasi sudah seharusnya diberikan pujian, acungan jempol atau ucapan selamat sebagai tanda menghargai prestasi tersebut. Bukan main, tingkat kepuasan kinerja Presiden Jokowi sebesar 75,8 persen!

Tingkat kepuasan kinerja Presiden Jokowi yang paling dianggap menonjol adalah soal pembangunan infrastruktur. Terbukti, ada pembangunan selama masa kepemimpinan Presiden Jokowi dengan terciptanya infrastruktur tadi, dan bukan hanya sekadar ada, tapi pembangunan infrastruktur itu pun lebih cepat, atau tidak lelet seperti keong, apalagi dibiarkan terbengkalai begitu saja di tengah jalan.

Lembaga Survei PolMark Indonesia merilis hasil tingkat kepuasan kinerja Presiden Jokowi pada tahun 2017, dan berikut ini hasil survei dari lembaga tersebut:

1. Pembangunan infrastruktur lebih cepat 51,8 persen

2. Warga lebih sejahtera 7,1 persen

3. Layanan kesehatan lebih baik dan terjangkau 6,3 persen

4. Korupsi berkurang 6,2 persen

5. Layanan pendidikan leboih baik dan terjangkau 4,2 persen

6. Kebutuhan pokok tersedia dan harga terjangkau 2,7 persen

7. Hukum lebih ditegakkan 2,7 persen

8. Kehidupan Warga lebih rukun dan harmonis 2,5 persen

9. Warga lebih mudah mendapatkan pekerjaan 1,1 persen

10. Lainnya 1,0 persen

11. Tidak tahu/tidak jawab 14 persen

*Sumber Berita

Selamat kepada Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan para menteri yang ada di dalam kabinet sekarang ini atas prestasi yang sudah diraih dengan angka yang cukup fantastis, yaitu tingkat kepuasan kinerja sebesar 75,8 persen!

Ssssst…tolong jangan keras-keras menyebut tingkat kepuasan kinerja Presiden Jokowi sebesar 75,8 persen tadi. Khawatir nanti ada yang kebakaran jenggot.

Bagaimana tanggapan, komentar, atau pernyataan dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, dan juga Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon?

Sampai saat ini belum ada beritanya, tapi diperkirakan hanya masalah waktu saja. Cepat atau lambat akan ada komentar Fadli Zon terkait hasil survei tadi yang mengatakan tingkat kepuasan kinerja Presiden Jokowi sebesar 75,8%!

Sambil menunggu komentar Fadli Zon – jika memang ada nantinya -, mari kita simak sejenak lagu lama yang pernah dilantunkan oleh Yuni Shara.

Judulnya “Desember Kelabu“.

Sinar cinta seterang rembulan
Kini pudar sudah
Desember kelabu selalu menghantui
Setiap mimpiku

*Sumber gambar: youtube.com.


Prabowo Subianto Masih Dibutuhkan Hingga Saat Ini?

Prabowo Subianto Masih Dibutuhkan Hingga Saat Ini?

Adahati.com – Benarkah Prabowo Subianto masih dibutuhkan? Pertanyaan ini cukup menarik, dan tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang bingung dan berkernyit dahinya. Siapa yang membutuhkan? Dibutuhkan oleh siapa?

Gara-gara hasil sebuah survei, timbul frasa “Prabowo Subianto masih dibutuhkan” tadi. Seperti biasa sebuah hasil survei yang berkait dengan politik dapat menyenangkan sebagian pihak atau membuat sebagian pihak lainnya uring-uringan.

Hasil surveinya sudah tepat, kata sebagian pihak yang merasa senang. Oh tidak, itu survei abal-abal, dan ada 100 alasan yang bisa membuktikan hasil survei itu salah, kata sebagian pihak yang uring-uringan seperti cacing kepanasan tadi.

Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) tentang elektabilitas Capres jelang Pemilu 2019 antara lain menyebutkan elektabilitas Presiden Jokowi sebesar 38,9%, sementara Prabowo Subianto hanya 12% saja.

Survei tadi digelar pada 3-10 September 2017 dengan jumlah sampel 1.220 dan dipilih secara acak (multistage random sampling). Margin of error – nya sebesar +/- 3,1% pada tingkat kepercayaan 95%, serta quality control dipilih secara acak sebesar 20% dari total sampel, sedangkan populasi survei adalah WNI yang sudah memiliki hak pilih.

Kecil sekali elektabilitas Prabowo? Apakah Prabowo Subianto masih dibutuhkan oleh masyarakat? Fadli Zon pun menanggapi hasil survei tadi mulai dari Rusia hingga ke Filipina. Menurutnya elektabilitas Presiden Jokowi sebesar 38,9% tadi masih rendah.

“Kalau pribadi saya itu rendah, menurut saya Putin saja bisa 70 persen elektabilitasnya 60-70 persen. Presiden Filipina Rodrigo Duterte 80 persen. 38,9 Persen itu kecil. Biasanya 50 persen elektabilitas. Artinya itu rendah dan masyarakat menginginkan pemimpin baru,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon di sini.

Ia pun yakin Prabowo yang elektabilitasnya hanya 12% bisa mengungguli Presiden Jokowi, karena Prabowo Subianto masih dibutuhkan oleh masyarakat.

“Yakin, harapan masyarakat masih tinggi,” kata Fadli Zon.

Dengan demikian pertanyaan di atas tadi, benarkah Prabowo Subianto masih dibutuhkan – dalam hal ini dibutuhkan oleh masyarakat untuk menjadi Presiden Republik Indonesia – terjawab sudah.

Prabowo Subianto masih dibutuhkan oleh masyarakat versi Fadli Zon.

*Sumber berita: merdeka.com, sumber gambar: youtube.com.


Politikus Bukan Pendukung Ahok Ditangkap karena Narkoba

Politikus Bukan Pendukung Ahok Ditangkap karena Narkoba

Adahati.com – Politikus pendukung Anies-Sandiaga di Pilkada DKI 2017 ditangkap oleh pihak kepolisian di sebuah tempat karaoke di Jakarta. Beritanya sedang hangat saat ini, dan politikus tadi termasuk seorang kader Partai Golkar.

Indra J Piliang bersama dua temannya ditangkap karena diduga memakai narkoba. Jika sebelumnya ada politikus yang ditangkap gara-gara kasus korupsi, kali ini seorang politikus yang kebetulan bukan pendukung Ahok ditangkap terkait kasus narkoba.

Indra J Piliang ini sebelumnya pernah mengatakan Ahok gila lewat akun twitternya. Memang Ahok gila. Lu pikir lahan reklamasi yang diberikan ke Podomoro itu bukan lahan negara? Bunyi tweetnya sekitar setahun lalu di sini.

Ditangkapnya politikus Indra J Piliang pendukung Anies-Sandiaga terkait kasus dugaan penyalahgunaan narkoba ini berpotensi lucu, antara lain disebabkan:

Pertama, muncul nada heran, tak percaya dan sejenisnya bahwa politikus Indra J Piliang ditangkap karena kasus narkoba. Sekretaris Dewan Pakar Golkar Firman Soebagyo terkejut karena selama ini tak pernah melihat tanda-tanda rekannya itu menggunakan narkoba.

“Atau mungkin ketika itu Pak Indra mungkin terjebak atau dia baru pertama kali ke situ dan kemudian ada yang sengaja memberikan masukan atau memasukkan barang haram itu, kan bisa jadi. Ini faktor itu kita tunggu dulu,” katanya di sini.

Ia pun mengatakan Indra Piliang sudah jarang aktif di partai. Entahlah kalau beritanya tentang kader yang berprestasi. Mungkin dikatakannya selama ini kadernya memang aktif dan pembinaan kader pun berjalan dengan sukses.

Kedua, sekretaris tim pemenangan Anies-Sandiaga pun kaget, kemudian melontarkan pujian bahwa Indra K Piliang orangnya baik dan cukup cerdas. Pertanyaannya, kalau memang orang baik dan cukup cerdas, mengapa bisa ditangkap karena kasus narkoba?

Ketiga, Fadli Zon pun kaget atas ditangkapnya politikus kader Partai Golkar itu yang juga pernah satu kampus, satu fakultas dan satu angkatan dengannya.

“Yang saya tahu dia adalah orang yang cerdas. Mudah-mudahan ini kekeliruan, kekhilafan, dan kalau benar perlu direhabilitasi,” katanya di sini.

Mengapa tidak dianjurkan cepat dibui saja kalau memang terbukti bersalah? Cukup menarik menunggu pernyataan Fadli Zon nanti jika ada sosok lain, entah itu artis, mahasiswa, pengusaha atau siapa saja yang ditangkap karena terlibat kasus narkoba. Adakah anjuran direhabilitasi seperti terhadap politikus itu.

Keempat, politikus Partai Golkar lainnya, yaitu Bambang Soesatyo (Bamsoet) merasa yakin Indra J Piliang cuma korban salah pergaulan.

Jadi bukan Indra J Piliang yang salah, tapi pergaulan. Nah, jika ada orang yang bernama Pergaulan, malang nian nasib orang itu. Meskipun selama ini tak pernah menggunakan narkoba, tapi tetap saja disalahkan.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji ditangkapnya politikus Indra J Piliang ini, sambil berharap masih ada hal lain yang berpotensi lucu.

sumber foto: youtube.com.


Haji Lulung Belum Memikirkan Langkah Selanjutnya

Haji Lulung Belum Memikirkan Langkah Selanjutnya

Adahati.com – Haji Lulung belakangan ini namanya cukup sering menghiasi media massa, tapi sayangnya bukan karena prestasinya, tapi cenderung berkonotasi negatif.

Kemarin, Ketua Umum PPP Muktamar Jakarta, Djan Faridz mengumumkan pemecatannya karena tidak sejalan dengan kebijakan partai, yaitu mendukung pasangan cagub Ahok-Djarot. Bagaimana reaksi Haji Lulung setelah dipecat dari PPP?

Seperti biasa, jika ada politikus yang dipecat oleh partainya akan melakukan pembelaan diri, klarifikasi, atau bantahan, tapi semua itu cenderung tidak terlalu menarik untuk dibahas lebih lanjut. Justru pertanyaan ke mana perginya Haji Lulung setelah dipecat oleh Djan Faridz cukup mengundang penasaran.

Kubu PPP pimpinan Romahurmuziy membuka pintu untuknya, begitu juga Partai Gerindra. “Ya kalau Gerindra itu semua yang mau bergabung berjuang bersama kita tampung. Kita kan wadah perjuangan,” kata Fadli Zon.

Entah wadah perjuangan seperti apa yang dimaksud oleh Fadli Zon tadi. Pun entah apa untungnya Partai Gerindra menampung mantan politikus PPP ini, tapi kata “perjuangan” yang diucapkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra tadi mengingatkan pada parpol pimpinan Megawati Soekarnoputri.

Apakah ada juga tawaran dari PDIP? Kemungkinan besar hingga ayam berkokok di pagi hari selama bertahun-tahun pun tidak akan ada tawaran seperti itu.

Lalu, ke mana perginya Haji Lulung? Pindah ke parpol apa? “Belum terpikir, soal pindah partai, ini kan kejadiannya kan baru kemarin, yang dipecat bukan saya saja, semua anggota dewan (DPRD DKI dari PPP),” begitu antara lain kata Haji Lulung.

Tante C hanya bisa menghimbau, semoga Haji Lulung tidak terlalu lama belum berpikir, dan langkah selanjutnya bukan langkah blunder, tapi langkah yang baik dan jitu, seperti terlihat pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini.

  • Hitam giliran melangkah.
  • Belum terpikir langkah hitam selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Gc8-g4!

  • Masih belum terpikir langkah hitam selanjutnya, jika putih Md1xGg4 atau h3xGg4?
  • Jika memang demikian, berarti sama dengan Haji Lulung yang belum terpikir juga.

Sumber gambar, sumber berita” merdeka.com.


Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Adahati.com – “Kami dari Fraksi Gerindra dan saya kira nanti akan ada kawan-kawan dari fraksi lain, sedang menginisiasi sebuah pansus angket, ini kita belum bertemu. Tapi dari Gerindra akan mengajukan pansus angket Ahok Gate…,” begitu antara lain kata Wakil Ketua DPR RI dari Partai Gerindra Fadli Zon di sini.

Fraksi Partai Gerindra, PAN, PKS, dan Partai Demokrat setuju diadakan hak angket “Ahok Gate”, tapi Fraksi PDIP dengan tegas menolaknya.  Menurut Arif Wibowo hak angket itu digunakan untuk urusan yang sangat penting dan strategis. Kalau tidak, sama saja menurunkan derajat atau kualitas dari penggunaan hak dewan itu sendiri.

Direktur Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti pun menilai hak angket sering diobral. “Oleh karena itu, jangan mudah mengobral isu angket kalau bukan hal mendasar.” Sementara menurut Prof Hibnu Nugroho di sini, ada multitafsir pada Undang-Undang yang dijadikan alasan untuk memberhentikan sementara Ahok. Selain itu, dakwaan yang dijerat kepada Ahok adalah dakwaan alternatif, bukan dakwaan tunggal.

Mengapa bisa multitafsir? Memangnya siapa yang membuat Undang-Undang itu? Apakah saat membuat Undang Undang tadi tidak dipikirkan secara matang?

Setelah membaca tentang ketentuan hak angket, ternyata perjalanannya masih panjang sekali. Usulan menjadi hak angket jika mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari 1/2 jumlah anggota DPR. Jika hal itu dipenuhi dan lebih dari 1/2 dari jumlah Anggota Dewan yang hadir setuju, dibentuk Panitia Angket.

Kemudian Panitia Angket akan meminta keterangan dari pemerintah, saksi, pakar, organisasi profesi, dan/atau pihak terkait lainnya. Setelah itu, Pasal 181, (1): Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna DPR paling lama 60 (enam puluh) hari sejak dibentuknya panitia angket. (2) Rapat paripurna DPR mengambil keputusan terhadap laporan panitia angket.

Hak angket bisa lanjut atau gugur, dan Pasal 182 (3): Keputusan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah anggota DPR dan putusan diambil dengan persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah anggota DPR yang hadir.

Memangnya seperti apa komposisi 560 Anggota DPR saat ini?

Dari 10 Fraksi yang ada, PDIP 109 orang, Golkar 91 orang, Gerindra 73 orang, Demokrat 61 orang, PAN 49 orang, PKB 47 orang, PKS 40 orang, PPP 39 orang, Hanura 16 orang dan Nasdem 35 orang. Total jumlah Anggota Dewan dari Fraksi Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS adalah 223 orang, tidak sampai 1/2 jumlah Anggota Dewan.

Fraksi Partai Nasdem pun menilai pembentukan pansus hak angket terkait dengan pemberhentian sementara Ahok dari jabatannya hanya buang-buang waktu saja.

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini:

  • Hitam giliran melangkah.
  • Bisakah hitam mengalahkan putih tanpa buang-buang waktu?
  • Bisa saja, apa yang tidak bisa?
  • Bg8-g2!

  • Bingung?
  • Pegangan.

Sumber gambar. 


SBY Mendesah, Wiranto Kasih ‘Skak Mat’ yang Tak Terduga

SBY Mendesah, Wiranto Kasih ‘Skak Mat’ yang Tak Terduga

Adahati.com – Cuitan SBY lewat akun Twitternya beberapa hari lalu mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai pihak. Ada yang mengatakan SBY kembali curhat, mengeluh, tapi bisa juga dikatakan pada saat itu sebenarnya SBY mendesah.

Mendesah atau berdesah artinya menarik napas kuat-kuat untuk menghilangkan kesal hati dan sebagainya. Hanya SBY mendesah lewat akun Twitternya.

Entah SBY mendesah, curhat, mengeluh atau apapun itu, mendapat tanggapan dari pemerintah maupun pihak oposisi. Mengagumkan sekali? Ah tidak juga, biasa saja.

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menanggapinya, tapi lebih cenderung sebuah pernyataan standar, atau kurang menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Tanggapan dari pihak oposisi terkait SBY mendesah tadi antara lain datang dari Fadli Zon. Menurut pendapatnya banyak berita hoax, tapi tidak diiringi dengan penindakan hukum yang cepat dan tegas dari aparat kepolisian. “Saya juga sudah berapa bulan lalu melaporkan ke Bareskrim sampai hari ini enggak ada follow up. Saya mau tanya tuh, ada 2-3 laporan di Bareskrim tentang berita-berita yang memfitnah saya enggak ada tuh respons sampai hari ini. Ya bagaimana rakyat ya.”

SBY curhat, ditanggapi dengan curhat juga oleh Fadli Zon.

Tanggapan yang cukup menarik justru datang dari Menko Polhukam Wiranto. Cuitan SBY lewat akun Twitternya begini. “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang? *SBY*”.

Tanggapan Wiranto? “Itu kan cuitan beliau kepada Tuhan. Ya kepada Tuhan mengeluhnya.” Santai dan kocak, orang lain pun tersenyum.

Teringat pendapat sebagian pihak yang mengatakan media sosial seperti Facebook dan Twitter seharusnya bukan tempat untuk curhat atau mengeluh kepada Tuhan. Memangnya Tuhan punya akun Facebook dan Twitter?

Tanggapan santai Wiranto tadi ibarat skak mat yang tak terduga.

Penggemar catur yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, Tante C juga kesal melihat pecatur yang mudah mendesah, mengeluh atau curhat.

Seharusnya dalam situasi dan kondisi apapun tetap optimis dan mampu menemukan langkah-langkah yang canggih, bila perlu sebuah langkah skak mat yang tak terduga seperti terlihat pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Kuda putih terancam, dan hitam pun mengajak tukar Menteri.
  • Putih yang giliran melangkah pun curhat, mendesah, atau mengeluh mengingat posisi buah caturnya yang kurang menguntungkan?
  • Tentu saja tidak…Bd1-d8+!

  • Jika hitam Bb8xBd8, Menteri hitam melayang.
  • Jika hitam Gb6xBd8, skak mat selangkah kemudian.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar, dan sumber berita: merdeka.com.


Prabowo Diusung Jadi Capres 2019, Ada yang Keliru?

Prabowo Diusung Jadi Capres 2019, Ada yang Keliru?

Adahati.com – Prabowo diusung jadi capres 2019 masih sebatas rencana Partai Gerindra, tapi seandainya pun nanti rencana tersebut akhirnya menjadi kenyataan, biasa saja. Cukup banyak pihak yang sudah memperkirakan seperti halnya Jokowi akan kembali tampil sebagai salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti.

Tidak ada yang salah atau keliru dengan rencana Prabowo diusung jadi capres pada Pilpres 2019. Ada yang keliru, jika rencana tersebut akhirnya menjadi kenyataan, tapi Prabowo kembali gagal atau kalah lagi. Entah di mana, tapi pastinya ada yang keliru.

Ada yang cukup menarik dari pernyataan Fadli Zon terkait rencana Prabowo diusung jadi capres 2019 ini. Menurutnya, hal yang biasa jika Prabowo tampil lagi sebagai capres, meski sebelumnya pernah gagal atau kalah. Kemudian ia mengambil contoh Abraham Lincoln. “Presiden Abraham Lincoln saja berkali-kali, biasa itu. Kalau enggak salah belasan kali angkanya. Itu biasa di dalam politik. Hidup saja kita sering gagal, lulus, gagal lulus, biasa saja,” kata Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di sini.

Ada kata “sering gagal” diucapkannya, tapi mengapa dianggap hal yang biasa? Bukankah “sering gagal” itu sebuah aib atau hal yang memalukan? Jangan-jangan Fadli Zon sudah memperkirakan bahwa Prabowo akan gagal lagi.

Mengapa kesannya jadi pesimis?

Menurut pendapat Tante C, keliru mereka yang belum apa-apa, tapi sudah pesimis tadi. Meski dalam keadaan terjepit, tapi sebaiknya tetap yakin dan optimis seperti buah catur hitam pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Menteri hitam terancam, selain posisi hitam saat ini sepertinya sudah tidak ada harapan lagi memenangkan pertandingan ini.
  • Namun, karena hitam tidak senang sering gagal, dan tetap optimis, maka ia melihat ada garis horizontal h2-f2 dan d7-b7, serta garis vertikal d7-d1.

  • Makdarit (maka dari itu), langkah hitam selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Bd5-c5!

  • Hitam tidak keliru, jika ia tidak senang sering gagal, dan tetap optimis.
  • Makanya putih pun menyerah kalah setelah langkah hitam Bd5-c5 tadi.

sumber gambar: youtube.com.


Tante C Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Tante C Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Adahati.com – Siapa Tante C? Sebelum dijelaskan lebih lanjut terlebih dahulu Tante C mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh pembaca yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong di manapun Anda berada saat ini.

Tante C adalah tokoh imajinasi yang akan mengajak para pembaca menikmati Trik dan Problem Catur yang Sederhana. Sebelumnya Tante C pernah hadir di sini, dan masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan eksistensi Tante C dengan trik-trik caturnya yang sederhana, mudah saja, tidak sulit dan rumit.

Mengapa tokoh imajinasinya Tante C, bukan Om C? Setidak-tidaknya ada 3 (tiga) alasannya. Pertama, tante biasanya menarik perhatian kaum lelaki, baik tua maupun muda. Begitu melihat judul tulisannya ada kata “Tante” langsung klik saja, eh ternyata isinya catur. Tertipu? Merasa dibohongi? Mudah-mudahan jangan.

Alasan kedua, saat ini olahraga catur kurang diminati oleh kaum hawa. Diharapkan kehadiran Tante C bisa menarik perhatian kaum hawa dan berminat menggeluti olahraga otak ini. Sedangkan alasan ketiga, suka-suka penulisnya. Kebetulan tokoh imajinasinya seorang perempuan dengan sebutan Tante C (Tante Catur).

Selain itu kehadiran Tante C pun akan membahas sedikit berita-berita yang sedang hangat saat ini. Misalnya tentang Ahok, Jokowi, Prabowo Subianto, Fadli Zon, Ruhut Sitompul dan lainnya, tapi masih tetap dalam koridor suasana santai.

Makdarit (maka dari itu), jangan heran apabila judul tulisannya seperti ini, misalnya:

  • Tante C: Ahok Marah, Kuda Ditendang dan Dibanting.
  • Tante C: Jokowi Tersenyum Melihat Pion yang Kecil dan Imut.
  • Tante C: Prabowo Subianto Pelihara Gajah di Hambalang.

Dan seterusnya, kemudian diakhiri dengan Trik dan Problem Catur yang Sederhana.

Demikianlah penjelasan singkat tentang “Tante C”, dan sekarang markiper (mari kita perhatikan) Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Hitam giliran melangkah, dan menolak pertandingan ini berakhir remis.
  • Setelah berpikir sejenak, hitam melihat titik kelemahan putih yang terdapat pada garis diagonal d3-b1 dan d3-f1.

  • Langkah hitam selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Gb7-a6!

Sampai juga lagi di lain waktu. Sekali lagi Tante C mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh penggemar catur di manapun Anda berada saat ini.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar.


Kata Siapa Presiden Jokowi Tidak Membantah?

Kata Siapa Presiden Jokowi Tidak Membantah?

Kata Siapa Presiden Jokowi Tidak Membantah?

Adahati.com – Pada masa pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), nilai tukar dollar AS terhadap rupiah masih di sekitar angka Rp 9000,-, sedangkan saat ini nilai tukar rupiah sudah anjlok atau semakin lemah saja, yaitu sekitar Rp 13.500.

Maka dari itu, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon pun khawatir dan menyampaikannya kepada Presiden Jokowi saat pertemuan di Istana Bogor, Rabu (5/8/2015). “Saya sampaikan ke Presiden, ‘Pak Presiden, kita ini sudah masuk tahap awal kritis.”

Masih menurut penuturan Fadli Zon, Presiden Jokowi tidak membantah saat ia menyampaikan kekhawatirannya terkait anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar tadi, tapi di sisi lain Fadli Zon tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kemungkinan mengapa Presiden Jokowi tidak membantah.

Berikut ini kemungkinan atau perkiraan mengapa Presiden Jokowi tidak membantah kekhawatiran Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dari Partai Gerindra ini, yaitu:

Pertama, secara tidak langsung Presiden Jokowi setuju dengan pendapat Fadli Zon, atau dengan kata lain tidak ada yang bisa dibantah, karena pada kenyataan memang saat ini nilai tukar rupiah anjlok atau lemah terhadap dollar AS.

Kedua, Presiden Jokowi tidak membantah karena malas mendengar omongan Fadli Zon, atau ada kemungkinan Presiden Jokowi menganggap omongan atau kekhawatiran Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon terkesan berlebihan atau lebay.

Ketiga, lebih baik Presiden Jokowi tidak membantah, sebab kalau hal itu dilakukannya maka mungkin saja Fadli Zon pun akan menepis bantahan Presiden Jokowi tadi, kemudian Presiden Jokowi balas menepis bantahan Fadli Zon, akhirnya yang ada hanya saling membantah. Tidak tertutup kemungkinan Fadli Zon pun emosi yang bisa menyebabkan Wakil Ketua DPR RI ini akhirnya mengidap penyakit darah tinggi.

Tentu saja Presiden Jokowi tidak menginginkan hal itu terjadi, makanya lebih baik Presiden Jokowi tidak membantah omongan Fadli Zon terkait kekhawatirannya atas nilai tukar rupiah yang semakin anjlok atau lemah terhadap dollar Amerika.

Demikianlah kemungkinan atau perkiraan mengapa Presiden Jokowi tidak membantah. Jika ada kemungkinan atau perkiraan lainnya sila tambahkan sendiri.

Sumber berita kompas.com, sumber gambar youtube.com.