Tag: djarot

Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Adahati.com – Prabowo Subianto rencananya akan turun gunung bulan Januari 2017 nanti, atau ikut kampanye akbar demi memenangkan pasangan cagub Anies-Sandiaga.

Menurut hasil beberapa survei belakangan ini posisi Anies-Sandiaga di urutan paling bawah dibanding pasangan cagub lainnya. Hal ini tentu cukup memprihatinkan bagi kubu Anies-Sandiaga yang didukung oleh Partai Gerindra. Anies pun merasa heran atas hasil survei-survei yang menempatkan pososinya pada urutan terbawah tadi. Ia pun sempat memanfaatkan fenomena “Om Telolet Om”.

“Saya lihat survei juga banyak telolet,” ujar Anies sambil tertawa di sini.

Meski Anies tidak menjelaskankan apa maksudnya banyak survei yang “telolet” tadi, tapi diperkirakan ia memelesetkan kata “Telolet” menjadi “Tulalit” yang artinya kurang cerdas, atau berkaitan dengan telmi (telat mikir) dan sejenisnya.

Prabowo sendiri yang selama ini memantau kampanye Anies-Sandiaga mengatakan sebenarnya ia bergejolak hebat ingin segera turun gunung melakukan kampanye akbar untuk memenangkan pasangan cagub yang didukung oleh partainya itu.

Kemudian ia mengatakan, “Walaupun semua orang tahu, mungkin yang lain dananya sangat besar, tapi kita berjuang atas dasar nilai nilai berjuang untuk demokrasi. Jadi bagi saya Anies-Sandi lambang demokrasi, lambang keadilan, kerakyatan, bukan simbol oligarki, bukan simbol politik dinasti atau kekeluargaan.”

Apa maksudnya Prabowo Subianto mengatakan “simbol politik dinasti atau kekeluargaan”? Selama ini masyarakat lebih teringat dengan “Trah Soekarno” jika bicara tentang politik dinasti atau kekeluargaan, tapi baik cagub maupun cawagub di Pilkada DKI 2017 tidak ada yang berasal dari “Trah Soekarno”. Pun belum pernah mendengar ada “Trah Ahok”, “Trah Djarot”, “Trah Anies” atau “Trah Sandiaga”.

Jangan-jangan Prabowo sedang menyindir SBY? Saat ini Agus Yudhoyono ikut dalam pemilihan calon gubernur DKI Jakarta. Namun bisa saja sindiran Prabowo tadi hanya pernyataan politik yang tidak jelas arahnya, atau sekadar meramaikan suasana politik yang ada saat ini sebelum turun gunung bulan Januari 2017 nanti.

Sebaiknya jangan terlalu cepat curiga dengan pernyataan Prabowo tadi, juga jangan terlalu cepat mengatakan: “Saya prihatin”.

Sumber gambar, dan gambar: merdeka.com.


Memangnya Ahok Tahu Maksudnya “Om Telolet Om”?

Memangnya Ahok Tahu Maksudnya “Om Telolet Om”?

Adahati.com – Ahok kena “dikerjain” oleh relawan pendukungnya seusai acara Apel Siaga Ahok-Djarot yang digelar di Balai Kartini, Jakarta Selatan tadi malam. Ahok pun seperti dipaksa untuk memegang kertas bertulisan “Om Telolet Om”.

Memangnya Ahok tahu maksudnya “Om Telolet Om”?

“Tadi iseng aja relawannya minta tolong pegang (kertas Om Telolet Om) ke Pak Ahok. Aku juga enggak yakin sih Pak Ahok mengerti soal Om Telolet Om tuh apa. Kayaknya pasrah-pasrah aja (diminta foto relawan),” kata Amalia Ayuningtyas di sini.

Mengenai “Om Telolet Om” yang menjadi viral di dunia maya hingga beberapa “selebritis kaki lima” (bukan selebritis papan atas) dunia pun ikut terjangkit demam rasanya tak perlu dijelaskan lebih lanjut, atau bisa dilihat di sini penjelasannya.

Fenomena “Om Telolet Om” pun ditanggapi oleh Agus Yudhoyono. Ternyata sebelumnya pun Agus tidak tahu apa maksudnya “Om Telolet Om” ini.

“Saya baru dibisikin, belum lihat langsung,” katanya.

Bagaimana dengan cagub lainnya, Anies Baswedan? Apakah ia pun terjangkit demam atau ikut menanggapinya? “Iya, survei juga ada yang telolet, memang telolet. Ada banyak jenis telolet. Saya lihat survei juga banyak telolet,” ujar Anies sambil tertawa.

Belakangan ini survei-survei yang ada menempatkan elektabilitas Anies-Sandiaga Uno pada posisi paling bawah. Meski Anies tidak menjelaskan maksudnya, tapi bisa ditebak atau diperkirakan ia memelesetkan “Tolalet” menjadi “Tulalit” yang artinya kurang cerdas, atau berkaitan dengan telmi (telat mikir) dan sejenisnya.

Ada-ada saja, tapi bisa juga dilihat dari sudut lain bahwa ketiga cagub tadi sedang memainkan sebuah taktik “numpang tenar” agar popularitasnya meningkat.

Bosan atau jenuh dengan trik kuno seperti itu?

Mudah-mudahan Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini tidak membosankan dan bisa meningkatkan kecerdasan agar tidak tolalet (tulalit).

  • Putih giliran melangkah.
  • Apa langkah putih selanjutnya agar putih bisa memenangkan pertandingan ini?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Md1-e1+!

  • Bagaimana kalau langkah hitam selanjutnya, Be2xMe1?
  • Tinggal dorpi (dorong pion).
  • g2-g3+, mat.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar, dan sumber berita: detik.com.


Timnas Indonesia Terkapar di Thailand, Pecat Alfred Riedl?

Timnas Indonesia Terkapar di Thailand, Pecat Alfred Riedl?

adahati.com – Timnas Indonesia terkapar di leg kedua babak final Piala AFF 2016 setelah dikalahkan Thailand 0-2 kemarin (17/12/2016). Sebelumnya sempat ada harapan yang tinggi setelah Timnas sukses menjungkalkan Thailand 2-1 di leg pertama.

Sila baca ulasannya di sini – Babak Final Piala AFF: Pelatih Thailand Gugup -.

Kemenangan 2-1 di leg pertama menjadi sia-sia setelah Timnas kalah 0-2 di leg kedua, dan kegagalan meraih gelar juara ini sudah lima kali. Prihatin? Sebelum prihatin, elus dada atau menangis guling-guling di ubin, ada baiknya mendengar komentar beberapa politikus terkait kekalahan Timnas di leg kedua ini.

Anies Baswedan menyempatkan diri pergi ke Thailand untuk menyaksikan pertandingan secara langsung. Djarot dan Agus pun memberikan komentarnya terkait kegagalan Timnas Indonesia meraih gelar juara. Apakah perlu ditulis komentar mereka di sini? Tidak perlu. Tanpa membaca media pun sudah bisa ditebak atau diperkirakan komentarnya cenderung perbaba!

Perbaba (pernyataan basa-basi) dianggap sudah menjadi kebiasaan para politikus, pejabat dan tokoh-tokoh lainnya. Belum ada komentar Ahok, juga Sandiaga Uno dan Sylvi. Namun seandainya pun nanti ada bisa diperkirakan cenderung perbaba!

Contoh perbaba, Timnas sudah berjuang mati-matian, hargailah perjuangannya, masih ada hari esok yang gilang gemilang, jangan putus asa, berbenah diri lebih baik lagi, kita akan adakan evaluasi, sayang ya Timnas kalah, dan seterusnya.

Basi memang, dan kebasa-basian itu pun sudah menjalar hingga ke komentator televisi. Entah berapa kali para komentator mengucapkan kata dukungan dari seluruh penonton, semoga begini, semoga begitu, tapi akhirnya Timnas kalah lagi, kalah lagi. Capek? Sebenarnya ada kata yang sederhana untuk mengomentari kekalahan dan kegagalan Timnas Indonesia, yaitu kalah ya kalah! Gagal ya gagal!

Gak usah banyak cincong atau perbaba yang menyebalkan…itu!

Pecat Alfred Riedl karena Timnas gagal juara? Perlu ‘kambing hitam’ untuk menutupi kegagalan. Sebelum pecat Alfred Riedl sebaiknya simak berita ini. Beberapa saat menjelang leg kedua berakhir, Abduh Lestaluhu diusir dari lapangan karena menendang bola ke arah pemain Thailand yang berkumpul di bangku cadangan.

“Apa yang saya lihat bahwa dia membuat kesalahan. Ada pemain (Thailand) yang tidak memberikan bola padanya. Pemain itu di dekatnya, jadi dia sedikit marah dan melakukan reaksi yang salah hingga berbuah kartu merah,” ucap Riedl.

Jelas ada pembelaan atau ia tidak ingin menyalahkan sepenuhnya atas reaksi dari pemain Timnas tadi. Sebuah sikap seorang pelatih yang baik sudah ditunjukkannya. Pembelaan terhadap anak asuhnya pun tidak membabibuta. Tapi secara langsung atau tidak langsung Riedl ingin mengatakan jangan salahkan pemain!

Jangan salahkan pemain atas kegagalan meraih gelar juara Piala AFF 2016. Jangan salahkan dan pecat Alfred Riedl, apalagi menyalahkan pendukung Timnas Indonesia.

Siapa yang mesti disalahkan? Cari sendiri sana. Atau salahkan kualitas pemain Timnas Thailand yang setengah tingkat di atas pemain Timnas Indonesia?

Sumber gambar,dan sumber berita: detik.com.


Tante Angie Maklum Mengapa Elektabilitas Ahok Teratas

Tante Angie Maklum Mengapa Elektabilitas Ahok Teratas

Adahati.com – Tante Angie maklum, dan memahami mengapa elektabilitas Ahok teratas bulan Desember ini. Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI), Ahok adalah sosok yang muncul sebagai ‘top of mind’ dibanding cagub lainnya.

Sedangkan alasan LSI yang menyebabkan elektabilitas Ahok teratas, tante Angie maklum tapi tidak terlalu tertarik. Terserah apa alasannya, tapi tidak terlalu penting semua itu. Mengenai tanggapan calon wakil gubernur DKI Jakarta Djarot Saifulah terkait hasil survei LSI pun tante Angie maklum. “Saya enggak ngurusin tukang survei, banyak tukang survei, ” kata Djarot seperti tertulis dalam berita yang dirilis oleh detik.com ini.

Ada-ada saja pernyataan Djarot ini.

Cukup geli membaca pernyataan atau tanggapan Djarot yang mengatakan ‘tukang survei’ tadi. Pun ada ucapan Djarot selanjutnya seperti ini: “Masih terlalu dinilah, tukang survei itu kan banyak naik turun. Sudah enggak gubrislah”. Kesannya seperti orang yang tidak peduli sama sekali dengan hasil survei LSI tadi.

Tante Angie pun tersenyum, dan ia pun membayangkan tidak mudah untuk mengadakan sebuah survei, karena dibutuhkan tenaga, pikiran dan dana, tapi kata Djarot “enggak gubrislah”.

Mungkin Djarot sudah bosan dengan hasil-hasil survei terkait Pilkada DKI 2017. Sebentar elektabilitas Ahok turun, sebentar naik.

Ini elektabilitas atau harga saham sih?

Namun di sisi lain entah serius atau bercanda, pasangan Ahok di Pilkada DKI 2017 ini pun tak lupa mengucapkan terima kasih terkait hasil survei LSI tadi. “Tapi terima kasih. Ada pengetahuan baru. Enggak apa-apa lumayan gratis”.

Mendadak Tante Angie teringat sebuah Trik dan Problem Catur yang Sederhana terkait kata ‘gratis’ yang diucapkan oleh calon wakil gubernur Djarot tadi.

  • Hitam giliran melangkah. Meski hanya sekilas, tanpa melakukan survei pun bisa dilihat bahwa posisi buah catur putih riskan terkena serangan balik mengingat ‘garis persimpangan’ yang ada (warna kuning) dan petak lari Raja putih (lingkaran kuning).

  • Ada buah catur hitam yang diberikan secara gratis seperti kata Djarot tadi. Tapi buah catur hitam yang mana yang diberikan gratis?
  • Kd5-e3!

Gens Una Sumus.

Ilustrasi: liputan6.com


Sumbangan Kampanye Ahok-Djarot Mencapai Rp 27 Miliar?

Sumbangan Kampanye Ahok-Djarot Mencapai Rp 27 Miliar?

Adahati.com – Sumbangan kampanye dari masyarakat untuk pasangan gubernur Ahok-Djarot seperti diberitakan oleh liputan.com di sini telah mencapai Rp 27 miliar. Menurut pengakuan Ahok, ada temannya yang merasa heran. Untuk apa ia capek mengumpulkan uang sumbangan kampanye, karena temannya itu bersedia menyumbang Rp 30 miliar.

Namun Ahok menolak. Alasannya ia tidak ingin dimiliki oleh sekelompok atau orang tertentu saja. Ia pun ingin sumbangan kampanye dilakukan secara non tunai dan terbuka. Akar masalah negara ini adalah korupsi. Transparansi akan mengikis penyakit akut korupsi tadi.

Memang terdengar indah kata-kata yang diucapkan oleh para kandidat pada musim kampanye. Bukan hanya Ahok, begitu juga cagub lainnya, Agus dan Anies. Dari dulu pun sudah seperti itu. Mana ada tukang loak yang menjelek-jelekan barang dagangannya sendiri.

Pernyataan Ahok pernah menolak sumbangan Rp 30 miliar dari temannya tadi, siapa yang tahu? Itu kan hanya klaim sepihak. Mungkin saja tidak pernah ada kejadian seperti itu. Namun, rekam jejak (track record) seseorang bisa dijadikan acuan untuk menilai pernyataannya tadi.

Sebagai contoh, lahan parkir DKI merupakan ‘lahan basah’ atau gudang duit bagi para ‘mafia parkir’ selama bertahun-tahun. Ratusan miliar bahkan triliunan rupiah yang diraih oleh para ‘mafia parkir’ tadi selama periode jabatan seorang gubernur.

Seandainya Ahok bersedia ‘main mata’, uang Rp 30 miliar mudah masuk ke kantong pribadinya, namun Ahok justru menyatakan perang terhadap ‘mafia parkir’ tadi. Makanya seorang politikus yang selama ini menguasai lahan parkir DKI pun uring-uringan dan menyerang Ahok. Tadinya lahan parkir adalah ‘lahan basah’, tapi kini kering kerontang seperti tanah di musim kemarau panjang.

Baru dari satu lahan saja, tidak sedikit uang yang bisa dikantongi Ahok, seandainya ia bersedia ‘main mata’ dengan bandit atau para mafia tadi. Belum lagi dari lahan-lahan lainnya. Apalah artinya uang Rp 30 miliar itu?

Sumbangan kampanye Rp 27 miliar tidak seberapa untuk membiayai kampanye sebuah Pilkada. Masih sedikit jumlah uang Rp 27 miliar tadi, sedangkan Agus yang pensiunan Mayor saja, menurut KPU DKI jumlah hartanya lebih dari Rp 21 miliar.

Sumber gambar.