Tag: anies-sandiaga

Politikus Bukan Pendukung Ahok Ditangkap karena Narkoba

Politikus Bukan Pendukung Ahok Ditangkap karena Narkoba

Adahati.com – Politikus pendukung Anies-Sandiaga di Pilkada DKI 2017 ditangkap oleh pihak kepolisian di sebuah tempat karaoke di Jakarta. Beritanya sedang hangat saat ini, dan politikus tadi termasuk seorang kader Partai Golkar.

Indra J Piliang bersama dua temannya ditangkap karena diduga memakai narkoba. Jika sebelumnya ada politikus yang ditangkap gara-gara kasus korupsi, kali ini seorang politikus yang kebetulan bukan pendukung Ahok ditangkap terkait kasus narkoba.

Indra J Piliang ini sebelumnya pernah mengatakan Ahok gila lewat akun twitternya. Memang Ahok gila. Lu pikir lahan reklamasi yang diberikan ke Podomoro itu bukan lahan negara? Bunyi tweetnya sekitar setahun lalu di sini.

Ditangkapnya politikus Indra J Piliang pendukung Anies-Sandiaga terkait kasus dugaan penyalahgunaan narkoba ini berpotensi lucu, antara lain disebabkan:

Pertama, muncul nada heran, tak percaya dan sejenisnya bahwa politikus Indra J Piliang ditangkap karena kasus narkoba. Sekretaris Dewan Pakar Golkar Firman Soebagyo terkejut karena selama ini tak pernah melihat tanda-tanda rekannya itu menggunakan narkoba.

“Atau mungkin ketika itu Pak Indra mungkin terjebak atau dia baru pertama kali ke situ dan kemudian ada yang sengaja memberikan masukan atau memasukkan barang haram itu, kan bisa jadi. Ini faktor itu kita tunggu dulu,” katanya di sini.

Ia pun mengatakan Indra Piliang sudah jarang aktif di partai. Entahlah kalau beritanya tentang kader yang berprestasi. Mungkin dikatakannya selama ini kadernya memang aktif dan pembinaan kader pun berjalan dengan sukses.

Kedua, sekretaris tim pemenangan Anies-Sandiaga pun kaget, kemudian melontarkan pujian bahwa Indra K Piliang orangnya baik dan cukup cerdas. Pertanyaannya, kalau memang orang baik dan cukup cerdas, mengapa bisa ditangkap karena kasus narkoba?

Ketiga, Fadli Zon pun kaget atas ditangkapnya politikus kader Partai Golkar itu yang juga pernah satu kampus, satu fakultas dan satu angkatan dengannya.

“Yang saya tahu dia adalah orang yang cerdas. Mudah-mudahan ini kekeliruan, kekhilafan, dan kalau benar perlu direhabilitasi,” katanya di sini.

Mengapa tidak dianjurkan cepat dibui saja kalau memang terbukti bersalah? Cukup menarik menunggu pernyataan Fadli Zon nanti jika ada sosok lain, entah itu artis, mahasiswa, pengusaha atau siapa saja yang ditangkap karena terlibat kasus narkoba. Adakah anjuran direhabilitasi seperti terhadap politikus itu.

Keempat, politikus Partai Golkar lainnya, yaitu Bambang Soesatyo (Bamsoet) merasa yakin Indra J Piliang cuma korban salah pergaulan.

Jadi bukan Indra J Piliang yang salah, tapi pergaulan. Nah, jika ada orang yang bernama Pergaulan, malang nian nasib orang itu. Meskipun selama ini tak pernah menggunakan narkoba, tapi tetap saja disalahkan.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji ditangkapnya politikus Indra J Piliang ini, sambil berharap masih ada hal lain yang berpotensi lucu.

sumber foto: youtube.com.


SBY Sebenarnya Ditolong oleh Antasari Azhar?

SBY Sebenarnya Ditolong oleh Antasari Azhar?

Adahati.com – Mantan Ketua KPK Antasari Azhar “berkicau” yang cenderung menyudutkan SBY, seperti pernah ditulis sebelumnya di sini. Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang merasa prihatin dengan keadaan SBY saat ini.

Terlepas percaya atau tidak, sebenarnya “kicauan” Antasari tadi adalah sebuah pertolongan yang tak terduga, sebab SBY tidak jadi “kehilangan muka” alias malu.

Sebagian pihak menduga SBY rela “mengorbankan” anaknya, Agus Yudhoyono yang memiliki karir militer yang cemerlang untuk ditarik ke dunia politik. Memang SBY dan kubu Partai Demokrat telah memberikan penjelasan, tapi sebagian pihak tadi cenderung lebih percaya bahwa SBY telah “mengorbankan” anaknya demi mewujudkan sebuah ambisi politiknya.

Diperkirakan SBY memiliki kalkulasi politik sendiri, katakanlah “kalkulasi politik kemenangan”. Jika tidak, masak sih SBY sampai rela “mengorbankan” anaknya?

“Kalkulasi politik kemenangan” tadi, meski sudah menjalankan taktik yang menjanjikan kemenangan, buyar menjelang hari H Pilkada DKI karena ada serangan balik politik yang datang. Beberapa hasil survei seperti Litbang Kompas, SMRC, dan Poltracking pun menunjukkan elektabilitas Agus-Sylvi berada di posisi terbawah.

Tanda-tanda kekalahan itu sudah mulai terlihat, meski tidak terlalu mencolok, tapi datang lagi serangan politik lainnya sehari menjelang hari H Pilkada DKI berupa “kicauan” Antasari Azhar, sehingga kekalahan Agus-Sylvi tidak tipis lagi, tapi cukup telak seperti terlihat dari perhitungan cepat Litbang Kompas di bawah ini.


Sebenarnya ada atau tidak ada “kicauan” Antasari Azhar, “kalkulasi politik kemenangan” SBY sudah meleset, atau Agus-Sylvi memang sudah diperkirakan akan kalah dan tersingkir. Hanya bedanya kekalahannya menjadi telak, dan Anies-Sandiaga yang lebih banyak mendapat “muntahan suara” dibanding pasangan cagub Ahok-Djarot.

Makanya “kicauan” Antasari itu ada sisi baiknya, blessing in disguise, sebuah pertolongan yang membuat SBY tidak jadi “kehilangan muka”, dan dimanfaatkan oleh SBY untuk “berkicau” lewat akun Twitternya.

Kalau tidak ada “kicauan” Antasari, Agus-Sylvi tidak akan kalah, seperti itu kira-kira pesan yang ingin disampaikannya. Padahal, sekali lagi, ada atau tidak ada “kicauan” Antasari, Agus-Sylvi tetap kalah dan tersingkir.

Sumber gambar. 


Agus Yudhoyono Tersingkir dari Pilkada DKI 2017?

Agus Yudhoyono Tersingkir dari Pilkada DKI 2017?

Adahati.com – Agus Yudhoyono tersingkir dari Pilkada DKI 2017, jika mengacu hasil survei yang ada saat ini yang bisa dipercaya, karena surveinya cenderung netral.

Namun sebelum bahas hal ini lebih lanjut, telah terjadi lagi “skak mat” atau perlakuan yang tidak manis terhadap mantan presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, yaitu Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Beberapa hari lalu mantan presiden ini berkicau lewat akun Twitternya terkait sekitar 300 mahasiswa yang menyerbu rumahnya di Mega Kuningan.

Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*.”

Tapi bukan jawaban manis yang diterima. “Sekarang semua jadi bertanya kepada Presiden dan Kapolri, iya kan? Banyak pertanyaan tentang segala soal. Lalu, saya sendiri bertanyanya kepada siapa?” kata Presiden Jokowi di sini.

Sebelumnya SBY menuduh dua atau tiga orang di sekitar Presiden Jokowi yang selama ini menghalangi pertemuan mereka, tapi dari pihak istana mengatakan silakan kirim surat permohonan kalau ingin bertemu layaknya seorang tamu saja.

Jawaban atau tanggapan yang tidak manis kepada SBY tadi diperkirakan merupakan serangan balik politik yang sengaja ditujukan kepadanya karena Ketua Umum Partai Demokrat ini diduga ikut terlibat aksi 4 November 2016.

Serangan balik politik tadi pun ikut memengaruhi posisi politik anaknya. Dengan demikian Agus Yudhoyono tersingkir?

Litbang Kompas pada 28 Januari-4 Februari 2017 melakukan survei di sini. Hasilnya elektabilitas Ahok-Djarot 36,2%, Anies-Sandiaga 28,5% dan Agus-Sylvi 28,2 %. Sebelumnya elektabilitas Agus-Sylvi sebesar 37,1%. Artinya, turun 8,9%.

Mungkin ada sebagian pihak yang tidak setuju hasil survei di atas tadi, atau tidak benar Agus Yudhoyono tersingkir dari Pilkada DKI 2017.

Masih ada keyakinan yang cukup tinggi untuk lolos ke Pilkada DKI putaran kedua mengingat elektabilitasnya hanya beda tipis saja dengan pasangan cagub Anies-Sandiaga. Apapun masih bisa terjadi dan masih ada waktu untuk mengejar ketinggalan elektabilitas Agus Yudhoyono tadi.

Maka dari itu, benar atau tidaknya Agus Yudhoyono tersingkir dari Pilkada DKI 2017 sebaiknya tunggu hingga hari H perhitungan suara selesai nanti.

Sumber gambar. 


Mengapa Elektabilitas Agus Yudhoyono Turun Drastis?

Mengapa Elektabilitas Agus Yudhoyono Turun Drastis?

Adahati.com – Elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis, siapa bilang? Sebelum bahas lebih jauh terkait elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis ini, ada baiknya terlebih dahulu menyimak pernyataan dari Sandiaga Uno, calon wakil gubernur DKI Jakarta.

Menurut Sandiaga Uno, hasil survei LSI yang dikeluarkan baru-baru ini berbeda jauh dari hasil survei internal pihaknya, atau tidak benar hasil survei LSI tadi. Kemudian ia menambahkan, pihaknya tidak menggunakan survei untuk menggiring opini publik.

Survei LSI Denny JA mengatakan elektabilitas Anis-Sandiaga turun dan berada di urutan terbawah serta ada tiga alasannya.

Pertama, karena kunjungan Anies ke markas FPI dan bertemu Rizieq Shihab yang tidak sejalan dengan pemilih Anies-Sandiaga yang moderat. Alasan kedua, tidak ada program unggulan yang dikampanyekan secara masif. Contohnya seperti “rumah apung”? Tidak disebutkan contohnya oleh LSI Denny JA. Alasan ketiga, daya tarik pasangan cagub Anies-Sandiaga kalah dibanding Ahok-Djarot dan Agus-Sylvi.

Tiga alasan elektabilitas Anies-Sandiaga turun menurut LSI Denny JA yang dibantah oleh Sandiaga Uno, karena menurut hasil survei dari pihaknya tidak demikian adanya.

Ada-ada saja. Tante C pun hanya bisa tersenyum simpul menyimak jawaban atau pernyataan kandidat dan pihak yang pro kubu tertentu. Meski disampaikan secara serius, tapi tetap saja kesannya lucu.

Maka dari itu, tak perlu heran jika elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis kata si anu, si polan, atau siapa saja. Alasannya elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis bisa dibuat nanti. Memangnya butuh berapa banyak alasan?

Sandiaga Uno pun mengatakan survei itu “menggiring opini publik”. Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini pun ada kaitannya dengan kata menggiring.

Diambil dari partai babak pertama Tata Steel Chess 2017 untuk kelompok Chalengers antara Markus Ragger dan Jeffery Xiong. Langkah hitam sebelumnya, Ma2-d2.

  • Bc1-f1 …… Bf8-e8
  • Bf1-f3 ……. a5-a4
  • Bf3-g3+ …. Rg8-f8
  • Mf6-g7+ … Rf8-e7
  • f5-f6+ ……. Re7-d8

  • Mg7xf7 …… a4-a3
  • Mf7-a7 …… Md2-c1+
  • Rh1-h2 …… Mc1-f4
  • Ma7-b8+ … Re8-e7
  • Mb8-b5+ … Re7-e8

  • Raja hitam hanya bisa pasrah digiring oleh Menteri putih.
  • Mb5xb4 …… h7-h5
  • Mb4xd6+ … Rd8-c8
  • Md6-c6+ ….. Rc8-d8
  • f6-f7

Gens Una Sumus.

sumber foto: youtube.com dan sumber berita: news.detik.com.


Agus Yudhoyono Sempoyongan di Debat Cagub?

Agus Yudhoyono Sempoyongan di Debat Cagub?

Adahati.com – Benarkah Agus Yudhoyono sempoyongan di debat cagub? Pertanyaan ini mungkin membuat sebagian pihak bingung, terutama pada kata sempoyongan.

Menurut KBBI online, arti kata sempoyongan adalah “terhuyung-huyung hendak jatuh”. Tentu kata “sempoyongan” ini jangan diartikan secara harfiah. Agus Yudhoyono sempoyongan yang dimaksud tadi adalah putra SBY tersebut gelagapan, atau gugup pada debat cagub pertama yang akan diadakan tanggal 13 Januari 2017 nanti (debat cagub kedua dan ketiga diadakan tanggal 27 Januari dan 10 Februari 2017).

Apa alasannya Agus Yudhoyono sempoyongan? Karena ia baru terjun di dunia politik dan minim pengalaman, begitu juga Sylvi. Ahok-Jarot dan Anies-Sandiaga akan melancarkan serangan-serangan politik yang bisa membuat Agus Yudhoyono sempoyongan karena grogi atau gugup tadi.

Agus pun sepertinya sudah pasrah, jika menyimak dari pernyataannya di sini. “Debat bukanlah segalanya. Segalanya bagi saya adalah bertemu dengan rakyat.”

Menurut pengakuan putra SBY ini, ia telah telah mempersiapkan diri, juga telah belajar dari sejumlah mentor yang memiliki kompetensi di bidang politik dan tata negara. “Tentu saya banyak belajar dari siapapun termasuk dari mentor-mentor yang saya anggap sudah memiliki pengalaman luar biasa,” katanya.

Tapi sekali lagi, pengalaman politik Agus masih minim atau nol, dan pengalaman tidak bisa dibeli. Diperkirakan Agus Yudhoyono sempoyongan di debat cagub nanti.

Tentu saja semua ini hanya perkiraan saja. Siapa tahu Agus lihai dalam berdebat nanti, meski pengalaman politiknya minim. Keberuntungan pun bisa datang tanpa diduga.

Benar atau tidaknya Agus Yudhoyono sempoyangan di debat cagub nanti, markisak (mari kita saksikan) saja apa yang terjadi sesungguhnya pada 13 Januari 2017 nanti.

Bukan hanya di politik, pengalaman pun diperlukan dalam permainan catur supaya tidak dihajar dari kiri dan kanan seperti buah catur hitam yang sempoyongan pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Diambil dari partai antara juara dunia Alexander Alekhine (putih) dan A. Cruz (hitam) pada tahun 1941. Setelah langkah 14, diagram caturnya seperti di atas.
  • g2-g4 … Kb8-d7
  • h4-h5 … Kd7-f6

 

  • Menteri putih diancam oleh Kuda hitam, tapi putih santai saja.
  • Langkah putih selanjutnya?
  • Kg5xf7!

 

  • Hitam langsung sempoyongan. Jika hitam Kf6xMe4, putih Kf7xMd8+, dst.
  • Langkah hitam selanjutnya, Be7xKf7 yang dibalas oleh putih dengan h5xg6.
  • Kf6xMe4?

 

  • Hitam minim pengalaman, dua langkah kemudian Raja hitam pun sempoyongan, dan akhirnya jatuh tersungkur di petak pojok sana.
  • Masih bingung juga?
  • Pegangan lagi.

sumber foto: youtube.com.


Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Adahati.com – Hari H Pilkada DKI 2017 tinggal sekitar sebulan lagi. Bagi kubu masing-masing pasangan cagub waktu yang tersisa mesti dimanfaatkan sebaik mungkin demi menuai perolehan suara yang memuaskan, juga menghasilkan kemenangan.

Awalnya Ahok dijadikan “musuh bersama”, tapi hasilnya kurang memuaskan. Serangan-serangan politik yang dibangun sedemikian rupa selama ini tidak memberikan pengaruh negatif yang cukup signifikan terhadap Ahok.

Konsep “rumah apung” ditanggapi sinis oleh Ahok. Menurutnya “rumah apung” bisa diwujudkan, tapi mungkin 100 tahun lagi. Ahok pun pernah melihat “rumah apung” di film-film Hollywood, tapi gantung di langit (detik.com).

Nada sinis pun dilontarkan oleh kubu Anies-Sandiaga. Lewat pernyataan M Taufik dikatakan Agus Yudhoyono terbebani statusnya sebagai anak SBY. Mana ada di dunia ini “kota apung”? Tapi yang lebih nyelekit lagi pernyataannya tentang sedotan air. “Masa sedotan. Emangnya air lemon pakai sedotan,” kata M Taufik di sini.

Benarkah taktik menjadikan Agus Yudhoyono sebagai “musuh bersama” sudah mulai dimainkan? Tidak terlalu mengherankan, jika Agus Yudhoyono sudah mulai dijadikan “musuh bersama” mengingat beberapa pertimbangan di bawah ini:

Pertama, awalnya Ahok yang dijadikan “musuh bersama”, tapi hasilnya cenderung mengecewakan, karena Ahok masih tetap tangguh hingga saat ini.

Kedua, beberapa pengamat politik mengatakan Pilkada DKI 2017 akan berjalan dua putaran. Salah satu alasannya Ahok masih terjerat kasus dugaan penistaan agama. Makdarit, satu dari tiga pasangan cagub harus tersingkir atau disingkirkan.

Ketiga, hasil beberapa survei lalu menunjukkan elektabilitas Agus di posisi teratas. Wajar saja dijadikan sasaran tembak, apalagi ada dugaan “survei pesanan”. Istilahnya “senjata makan tuan” dengan menjadikan Agus Yudhoyono sebagai “musuh bersama”.

Keempat, kubu Ahok-Djarot pun cenderung memilih Anies-Sandiaga sebagai lawannya di putaran kedua nanti, mengingat ada kecurigaan terjeratnya Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama adalah permainan “politik busuk” yang dilakukan oleh kubu Agus Yudhoyono. Meski sudah beberapa kali dibantah, tapi kubu Ahok-Djarot sepertinya belum hilang kecurigaannya tadi.

Kelima, memainkan taktik Agus Yudhoyono dijadikan “musuh bersama” cenderung menguntungkan kubu Ahok-Djarot maupun Anies-Sandiaga. Kalkulasi politiknya kubu Ahok-Djarot lebih ringan menghadapi Anies-Sandiaga di putaran berikutnya, sedangkan kubu Anies-Sandiaga bersyukur bisa lolos ke putaran kedua.

Apakah memainkan taktik “musuh bersama” ini bisa berbalik menguntungkan kubu Agus Yudhoyono, misalnya dibalas dengan memainkan taktik “playing the victim”?

Mengingat sisa waktu Pilkada 2017 boleh dibilang sudah mepet, sepertinya tidak efektif lagi memainkan taktik “playing the victim”. Apalagi jika kubu Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga melakukan serangan politiknya tidak secara bersamaan, melainkan bergantian atau mengatur sebaik mungkin serangan politiknya.

Jika hal itu berhasil, dan Pilkada DKI 2017 berjalan dua putaran, sudah bisa ditebak siapa dua pasangan cagub yang akan tampil nantinya.

sumber gambar: youtube.com.


Ahok Janji Tidak akan Gusur dan Agus Yudhoyono Sewot?

Ahok Janji Tidak akan Gusur dan Agus Yudhoyono Sewot?

Adahati.com – Agus Yudhoyono sewot? Agus adalah salah satu cagub pada Pilkada DKI 2017 dan cawagubnya adalah Silvy yang suaminya Gde Sardjana telah diperiksa oleh pihak kepolisian terkait pendanaan kasus dugaan makar. Ada keterangan dari pihak kepolisian seperti ini: “Pengakuan Pak Gde, dia transfer buat dana kampanye, kan timsesnya nomor urut satu,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya di sini.

Keterangan pihak kepolisian tadi yang membuat Agus Yudhoyono sewot?

Sebenarnya Agus Yudhoyono sewot terkait pernyataan tim sukses Anies-Sandiaga yang merasa pola kampanyenya ditiru. Buktinya lokasi kampanye mereka juga dikunjungi calon lain. Anies pun ketika ditanya bagaimana menangani masalah banjir mengatakan: “Saya cenderung enggak cerita, ini bahan buat debat, ada yang suka imitasi soalnya.” Tanggapan Agus Yudhoyono?

“Ha..ha..ha… yang niru siapa ya? Makanya pada beli kaca yang gede.”

Menurut pendapat atau anggapan Agus Yudhoyono lucu. “Ha..ha..ha…. Lucu juga pertanyaannya, ha..ha…. Ya mudah mudahan ini lah, ha..ha, speechles saya dibilang meniru karena yang meniru siapa, kita cari saja.”

Setidak-tidaknya ada dua kelucuan menyangkut berita di atas tadi.

Pertama, jika menyimak tanggapan Agus tadi tidak terkesan ia sewot, tapi mengapa judul beritanya terkesan Agus Yudhoyono sewot? Ada “tanda seru” di judul berita detik.com ini yang mengesankan Agus Yudhoyono sewot.

Kelucuan kedua, timses Anies-Sandiaga tidak menyebut siapa yang nyontek, tapi mengapa ada komentar Agus seperti ini, “speechles saya dibilang meniru.”

Entah siapa sebenarnya yang lucu, tapi berita terkait Ahok ini tidak terkesan sewot atau lucu saat ia berdialog dengan warga di Jati Padang.

Ahok mengatakan dulu ada 2.000 titik banjir di Jakarta, tapi sekarang sudah berkurang hingga 400. Ia pun menampik bila dirinya akan menggusur daerah tersebut. Justru daerah tersebut akan ditata agar tidak banjir. Prinsipnya tidak ada penggusuran, kecuali terpaksa atau tidak ditemukan solusi yang lebih baik.

“Prinsipnya, kita nggak gusur kecuali terpaksa. Kita lihat dulu bantaran sungainya. Kalau mereka warga asli, dapat tinggal rusun. Lebih sehat, naik bus gratis,” kata Ahok di sini.

Tidak ada kesan sewot saat Ahok mengatakan hal itu.

sumber berita: detik.com, sumber gambar: youtube.com.


Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Adahati.com – Prabowo Subianto rencananya akan turun gunung bulan Januari 2017 nanti, atau ikut kampanye akbar demi memenangkan pasangan cagub Anies-Sandiaga.

Menurut hasil beberapa survei belakangan ini posisi Anies-Sandiaga di urutan paling bawah dibanding pasangan cagub lainnya. Hal ini tentu cukup memprihatinkan bagi kubu Anies-Sandiaga yang didukung oleh Partai Gerindra. Anies pun merasa heran atas hasil survei-survei yang menempatkan pososinya pada urutan terbawah tadi. Ia pun sempat memanfaatkan fenomena “Om Telolet Om”.

“Saya lihat survei juga banyak telolet,” ujar Anies sambil tertawa di sini.

Meski Anies tidak menjelaskankan apa maksudnya banyak survei yang “telolet” tadi, tapi diperkirakan ia memelesetkan kata “Telolet” menjadi “Tulalit” yang artinya kurang cerdas, atau berkaitan dengan telmi (telat mikir) dan sejenisnya.

Prabowo sendiri yang selama ini memantau kampanye Anies-Sandiaga mengatakan sebenarnya ia bergejolak hebat ingin segera turun gunung melakukan kampanye akbar untuk memenangkan pasangan cagub yang didukung oleh partainya itu.

Kemudian ia mengatakan, “Walaupun semua orang tahu, mungkin yang lain dananya sangat besar, tapi kita berjuang atas dasar nilai nilai berjuang untuk demokrasi. Jadi bagi saya Anies-Sandi lambang demokrasi, lambang keadilan, kerakyatan, bukan simbol oligarki, bukan simbol politik dinasti atau kekeluargaan.”

Apa maksudnya Prabowo Subianto mengatakan “simbol politik dinasti atau kekeluargaan”? Selama ini masyarakat lebih teringat dengan “Trah Soekarno” jika bicara tentang politik dinasti atau kekeluargaan, tapi baik cagub maupun cawagub di Pilkada DKI 2017 tidak ada yang berasal dari “Trah Soekarno”. Pun belum pernah mendengar ada “Trah Ahok”, “Trah Djarot”, “Trah Anies” atau “Trah Sandiaga”.

Jangan-jangan Prabowo sedang menyindir SBY? Saat ini Agus Yudhoyono ikut dalam pemilihan calon gubernur DKI Jakarta. Namun bisa saja sindiran Prabowo tadi hanya pernyataan politik yang tidak jelas arahnya, atau sekadar meramaikan suasana politik yang ada saat ini sebelum turun gunung bulan Januari 2017 nanti.

Sebaiknya jangan terlalu cepat curiga dengan pernyataan Prabowo tadi, juga jangan terlalu cepat mengatakan: “Saya prihatin”.

Sumber gambar, dan gambar: merdeka.com.