Tag: anggota dewan

Pihak Istana pun Melakukan Hal yang Sama?

Pihak Istana pun Melakukan Hal yang Sama?

Adahati.com – Pihak Istana Kepresidenan atau biasa disingkat Pihak Istana merujuk pada kabinet yang ada saat ini. Jika ada pernyataan dari pihak yang menjadi bagian dari kabinet saat ini disebut pernyataan dari Pihak Istana.

Entah sejak kapan berlakunya hal ini, tapi tidak perlu terlalu dipikirkan. Meniru “White House”-nya Amerika?

Wacana pembekuan KPK terlontar dari pernyataan seorang anggota Pansus Angket KPK, yaitu Henry Yosodiningrat seorang politikus PDIP. Seperti biasa, pernyataan yang cukup kontroversial bisa mengundang sebuah polemik.

Mungkin ada sebagian pihak yang heran dan berpikir seperti ini. Apakah Pansus Angket KPK, atau siapa saja yang disebut Anggota Dewan tidak berpikir terlebih dahulu sebelum mengeluarkan sebuah pernyataan? Apakah tidak tahu atau tidak bisa membedakan mana pernyataan yang berpotensi kontroversial atau bukan?

Seharusnya tahu, sebab diasumsikan semua Anggota Dewan itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata, makanya bisa terpilih sebagai Wakil Rakyat.

Tapi sekali lagi pertanyaannya, jika seharusnya tahu, tapi mengapa masih ada pernyataan yang cukup kontroversial yang bisa menimbulkan kegaduhan atau menjadi santapan empuk media massa? Apakah sekadar numpang ngetop?

Atau sebuah trik belaka agar perhatian masyarakat teralihkan dari kasus dugaan korupsi e-KTP? Entahlah, maksudnya entahlah masih ada atau tidak pertanyaan lainnya dari sebagian pihak yang heran tadi.

Seperti biasa juga, jika ada pernyataan yang cukup kontroversial kemudian menjadi polemik akan ada pula bantah membantah, menyanggah, klarifikasi, atau apalah namanya, tapi lebih cenderung terkesan “buang badan” atau seperti itu.

Contoh, perbuatan korupsi, atau masih sebatas diduga korupsi yang dilakukan oleh politikus partai tertentu, cepat sekali ada pernyataan hal itu tanggung jawab individu, bukan kebijakan partai. Kesan “buang badan”-nya pun terlihat.

Makanya ada anekdot, jika kadernya berprestasi diakui memang kadernya, tapi jika terjadi sebaliknya langsung “buang badan”. Salah satu kejadiannya pernah disebut di sini – Jokowi Menegaskan, Fahri Hamzah Ambil Untung?

Setelah adanya penyataan pembekuan KPK yang cukup kontroversial dari anggota Pansus Angket KPK dan politikus PDIP itu, tak lama kemudian ada pernyataan dari petinggi partai, yaitu Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang mengatakan bukan merupakan keputusan partai, atau partainya tidak meminta KPK agar dibekukan.

Kemarin pun Jaksa Agung HM Prasetyo mengeluarkan wacana atau pernyataan agar fungsi penuntutan tindak pidana korupsi dikembalikan ke kejaksaan. Diperkirakan KPK lah yang menjadi “sasaran tembak”-nya. Kembali seperti biasa, jika ada wacana yang cukup kontroversial tak lama kemudian ada bantahan, atau klarifikasi yang lebih cenderung “buang badan” atau seperti itu.

Pihak Istana melalui Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan “Tidak ada keinginan dari presiden untuk mengurangi kewenangan KPK,” katanya di sini.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji gejala “buang badan” yang berpotensi lucu ini sambil menunggu “buang badan” lainnya.

sumber foto: youtube.com.


Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Adahati.com – “Kami dari Fraksi Gerindra dan saya kira nanti akan ada kawan-kawan dari fraksi lain, sedang menginisiasi sebuah pansus angket, ini kita belum bertemu. Tapi dari Gerindra akan mengajukan pansus angket Ahok Gate…,” begitu antara lain kata Wakil Ketua DPR RI dari Partai Gerindra Fadli Zon di sini.

Fraksi Partai Gerindra, PAN, PKS, dan Partai Demokrat setuju diadakan hak angket “Ahok Gate”, tapi Fraksi PDIP dengan tegas menolaknya.  Menurut Arif Wibowo hak angket itu digunakan untuk urusan yang sangat penting dan strategis. Kalau tidak, sama saja menurunkan derajat atau kualitas dari penggunaan hak dewan itu sendiri.

Direktur Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti pun menilai hak angket sering diobral. “Oleh karena itu, jangan mudah mengobral isu angket kalau bukan hal mendasar.” Sementara menurut Prof Hibnu Nugroho di sini, ada multitafsir pada Undang-Undang yang dijadikan alasan untuk memberhentikan sementara Ahok. Selain itu, dakwaan yang dijerat kepada Ahok adalah dakwaan alternatif, bukan dakwaan tunggal.

Mengapa bisa multitafsir? Memangnya siapa yang membuat Undang-Undang itu? Apakah saat membuat Undang Undang tadi tidak dipikirkan secara matang?

Setelah membaca tentang ketentuan hak angket, ternyata perjalanannya masih panjang sekali. Usulan menjadi hak angket jika mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari 1/2 jumlah anggota DPR. Jika hal itu dipenuhi dan lebih dari 1/2 dari jumlah Anggota Dewan yang hadir setuju, dibentuk Panitia Angket.

Kemudian Panitia Angket akan meminta keterangan dari pemerintah, saksi, pakar, organisasi profesi, dan/atau pihak terkait lainnya. Setelah itu, Pasal 181, (1): Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna DPR paling lama 60 (enam puluh) hari sejak dibentuknya panitia angket. (2) Rapat paripurna DPR mengambil keputusan terhadap laporan panitia angket.

Hak angket bisa lanjut atau gugur, dan Pasal 182 (3): Keputusan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah anggota DPR dan putusan diambil dengan persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah anggota DPR yang hadir.

Memangnya seperti apa komposisi 560 Anggota DPR saat ini?

Dari 10 Fraksi yang ada, PDIP 109 orang, Golkar 91 orang, Gerindra 73 orang, Demokrat 61 orang, PAN 49 orang, PKB 47 orang, PKS 40 orang, PPP 39 orang, Hanura 16 orang dan Nasdem 35 orang. Total jumlah Anggota Dewan dari Fraksi Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS adalah 223 orang, tidak sampai 1/2 jumlah Anggota Dewan.

Fraksi Partai Nasdem pun menilai pembentukan pansus hak angket terkait dengan pemberhentian sementara Ahok dari jabatannya hanya buang-buang waktu saja.

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini:

  • Hitam giliran melangkah.
  • Bisakah hitam mengalahkan putih tanpa buang-buang waktu?
  • Bisa saja, apa yang tidak bisa?
  • Bg8-g2!

  • Bingung?
  • Pegangan.

Sumber gambar. 


Tambah Satu Lagi Artis yang Dukung Ahok

Tambah Satu Lagi Artis yang Dukung Ahok

Adahati.com – Tambah satu lagi artis yang dukung Ahok pada Pilkada DKI 2017. Siapa dia? Dia adalah penyanyi yang pertama kali populer atau mengangkat namanya di blantika musik pop Indonesia lewat sebuah lagu yang liriknya antara lain seperti ini:

Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
Mudah putus asa dan kehilangan arah

Dia adalah Ruth Sahanaya dengan lagu “Astaga” ciptaan James F Sundah itu. Menurut Ruth Sahanaya yang mendatangi Rumah Lembang, ia mendukung Ahok karena kagum atas kinerjanya, terutama kebersihan kota Jakarta yang ada saat ini.

“Mendukung Ahok sebagai rasa kagum saya terhadap Pak Ahok. Saya datang ke sini tidak dipaksa, tidak dibayar,” kata Ruth Sahanaya di sini.

Tambah satu lagi artis yang dukung Ahok dan sepeserpun tidak dibayar atas dukungan yang diberikannya, meski ia seorang artis dan termasuk salah satu dari tiga diva Indonesia selain Krisdayanti dan Titi DJ.

Biasa saja, jika ada artis yang mendukung salah satu kandidat, baik di Pilkada maupun Pilpres. Tak perlu kaget sambil mengucap astaga. Dari dulu pun sudah ada, bahkan Anggota Dewan yang berlatar belakang artis pun saat ini jumlahnya sudah cukup banyak, meski ada beberapa di antaranya oleh sebagian pihak dianggap kurang paham atau tidak memiliki kapasitas yang memadai sebagai wakil rakyat.

Tapi mungkin saja sebagian pihak yang berpendapat seperti itu tadi hanya orang sirik yang tak mampu menjadi artis, sekaligus Anggota Dewan.

Artis yang mendukung Ahok sebelum Ruth Sahanaya pun jumlahnya tidak sedikit, namun hal yang sama terjadi pada Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan. Sedangkan siapa saja artis yang mendukung ketiga cagub tadi, tak perlulah disebutkan satu persatu di sini. Bisa panjang lebar tulisan ini, dan isinya hanya nama-nama artis.

Tanpa panjang lebar, bagi mereka yang belum tahu, atau sudah lupa lagu “Astaga” yang pernah dipopulerkan, dan mengangkat nama Ruth Sahanaya di blantika musik pop Indonesia bisa disimak di bawah ini.

Sumber gambar.