Tag: ahok

Haji Lulung Mendadak Berubah Jadi Orang Bijak?

Haji Lulung Mendadak Berubah Jadi Orang Bijak?

Adahati.com – Haji Lulung mendadak berubah jadi orang bijak?

Saat Ahok masih menjabat gubernur DKI Jakarta, ia sering berseberangan pendapat atau lawan politik Ahok yang cukup keras pernyataannya.

Di sisi lain ada juga sebagian pihak yang menilai dirinya “numpang ngetop” di balik ketenaran Ahok sehingga publik pun akhirnya mengenal nama Haji Lulung.

Entah mengapa Ahok pun cukup sering meladeni pernyataan-pernyataan Haji Lulung yang menyerangnya, dan hal ini baik secara langsung maupun tidak langsung mempercepat nama Haji Lulung dikenal oleh masyarakat.

Mungkin Ahok memiliki perhitungan politik bahwa Haji Lulung merupakan “sasaran tembak yang empuk” meski pernyataannya cukup keras, atau dengan kata lain mudah diserang balik, dan Ahok lebih sering memetik keuntungan politis dari “perang pernyataan” yang pernah terjadi di antara mereka.

Pernyataan haji Lulung yang cukup keras menyerang Ahok contohnya soal Alexis. “Alexis Itu izinnya apa? Griya sehat. Tapi ada pelacuran diam saja tuh si Ahok,” katanya di sini“Babat semua dong. Berani tidak Ahok? Jangan nanggung-nanggung,” tegas Haji Lulung menambahkan.

Tapi pernyataan Haji Lulung di atas tadi sekitar 20 bulan lalu (Februari 2016). Kini ia terkesan bijak menanggapi adanya keinginan berbagai pihak yang berniat menutup Alexis yang konon di lantai 7 ada praktek prostitusi.

Forum Masyarakat Jakarta Utara (Formaju) dan ormas-ormas lainnya akan melakukan aksi unjuk rasa menuntut penutupan Alexis, tapi menurut Haji Lulung penutupan Alexis perlu dikaji secara mendalam agar tidak salah prosedur.

“Gubernur kalau mau tutup Alexis itu harus pakai prosedur, ada mekanismenya, harus investigasi mendalam dulu, saya pokoknya support janji kampanye Anies-Sandi, ya tapi pakai prosedurnya pemerintah daerah,” katanya di sini.

Bukan hanya itu saja pernyataan Haji Lulung yang terkesan bijak.

“Pemerintah kan punya Polisi, TNI, Satpol PP mereka saja yang beresin.”

Mungkin ada sebagian pihak yang kagum, terharu, dan air matanya jatuh berlinang mendengar pernyataan Haji Lulung yang terkesan bijak tadi. Tapi mungkin juga ada sebagian pihak lainnya yang lebih memilih tertawa ngikik.

Meskipun demikian, sebaiknya jangan terlalu cepat menilai Haji Lulung mendadak berubah jadi orang bijak. Siapa tahu saja dari dulu Haji Lulung memang orang bijak, bahkan sangat bijak hingga ada meme Patung Pancoran sampai turun karena dipanggil oleh Haji Lulung.

Sekali lagi, boleh memilih kagum dan terharu, boleh juga tertawa ngikik.

Sumber gambar youtube.com.

*The Lohmenz Institute.

 


Anies “Kalah Selangkah”, Agus Mainkan Taktik yang Jitu?

Anies “Kalah Selangkah”, Agus Mainkan Taktik yang Jitu?

Adahati.com – Anies Baswedan baru saja dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, tapi sudah menuai kontroversi terkait frasa “pribumi”.

Sebagian pihak menyayangkan ucapan “pribumi” dalam pidatonya tadi, dan menganggapnya jauh panggang dari api dengan pernyataannya yang ingin menyatukan warga Jakarta yang terpecah belah akibat Pilkada DKI 2017.

Memang ada juga nada pembelaan dari sebagian pihak lainnya terkait ucapan “pribumi” dari gubernur baru tadi, antara lain mengatakan pengecam Anies adalah mereka atau pihak-pihak yang sampai saat ini belum bisa klakson.

(Sebenarnya “klakson” atau “move on”? Jangan-jangan remason).

Terlepas klakson, move on, atau remason, hal yang biasa terjadi saling kecam dan bela. Politikus PKS Hidayat Nur Wahid pun tak ketinggalan ikut membela Anies. Menurutnya Ketua Umum PDIP Megawati dan Presiden Jokowi pun pernah mengucapkan kata “pribumi”. Anies pun sempat terkesan ngeles dan mengatakan frasa “pribumi” tadi konteksnya penjajahan Belanda.

Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang teringat dengan pantun jenaka yang pernah populer beberapa tahun silam di mana kalimat pertama dari pantun jenaka tadi menyebutkan “jaka sembung bawa golok”.

Belanda, Megawati, Jokowi, lalu? Jangan-jangan jika blunder lagi akan ada Amerika, Israel, Rusia, Vietnam, Korea Utara, Myanmar, Kamerun, Uganda, Zimbabwe, atau Hasto Kristiyanto, Puan Maharani, Tjahjo Kumolo, dst?

Terlepas sebagian pihak tadi teringat pantun jenaka atau tidak, Anies cenderung sudah melakukan blunder, tapi tidak demikian halnya dengan putra SBY, Agus Yudhoyono yang diasumsikan telah memainkan taktik yang jitu.

Putra SBY yang satu ini diberitakan mengujungi Ahok di rutan Mako Brimob, Depok, hari ini. Tidak ada yang kontroversial atau menghebohkan atas kunjungan Agus Yudhoyono tadi. Pertemuannya dengan Ahok antara lain berisi saling mendoakan, semoga tetap sehat, silaturahmi dan kata-kata biasa lainnya.

Ahok, Agus dan Anies adalah tiga kandidat gubernur pada Pilkada 2017 lalu. Jika Ahok boleh dibilang sudah “tamat” karir politiknya, tapi Agus dan Anies masih memiliki kans untuk tampil dalam gelanggang politik Pemilu 2019.

Diperkirakan mereka itu masih memiliki kans untuk menjadi cawapres (sila baca Cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019).

Biasa saja, tidak ada yang kontroversial atau menghebohkan atas kunjungan Agus Yudhoyono ke rutan Mako Brimob menjenguk Ahok, tapi kalau ditarik ke konteks politik – bukan konteks penjajahan Belanda – apa yang dilakukan oleh putra SBY tadi kemungkinan besar akan menuai simpati.

Apakah artinya Anies sudah “kalah selangkah”? Baru saja dilantik oleh Presiden Jokowi, apalagi nantinya jika benar Anies menghadapi “hari-hari neraka” yang bisa menyebabkan terjadinya blunder-blunder lainnya? Apakah Agus pun kembali memainkan taktik jitu yang bisa mengundang simpati publik?

Jangan-jangan sebentar lagi Anies pun akan berkunjung ke Mako Brimob menjenguk Ahok supaya tidak “kalah selangkah” dengan putra SBY tadi.

Sumber gambar youtube.com.

*The Lohmenz Institute.


Politikus Bukan Pendukung Ahok Ditangkap karena Narkoba

Politikus Bukan Pendukung Ahok Ditangkap karena Narkoba

Adahati.com – Politikus pendukung Anies-Sandiaga di Pilkada DKI 2017 ditangkap oleh pihak kepolisian di sebuah tempat karaoke di Jakarta. Beritanya sedang hangat saat ini, dan politikus tadi termasuk seorang kader Partai Golkar.

Indra J Piliang bersama dua temannya ditangkap karena diduga memakai narkoba. Jika sebelumnya ada politikus yang ditangkap gara-gara kasus korupsi, kali ini seorang politikus yang kebetulan bukan pendukung Ahok ditangkap terkait kasus narkoba.

Indra J Piliang ini sebelumnya pernah mengatakan Ahok gila lewat akun twitternya. Memang Ahok gila. Lu pikir lahan reklamasi yang diberikan ke Podomoro itu bukan lahan negara? Bunyi tweetnya sekitar setahun lalu di sini.

Ditangkapnya politikus Indra J Piliang pendukung Anies-Sandiaga terkait kasus dugaan penyalahgunaan narkoba ini berpotensi lucu, antara lain disebabkan:

Pertama, muncul nada heran, tak percaya dan sejenisnya bahwa politikus Indra J Piliang ditangkap karena kasus narkoba. Sekretaris Dewan Pakar Golkar Firman Soebagyo terkejut karena selama ini tak pernah melihat tanda-tanda rekannya itu menggunakan narkoba.

“Atau mungkin ketika itu Pak Indra mungkin terjebak atau dia baru pertama kali ke situ dan kemudian ada yang sengaja memberikan masukan atau memasukkan barang haram itu, kan bisa jadi. Ini faktor itu kita tunggu dulu,” katanya di sini.

Ia pun mengatakan Indra Piliang sudah jarang aktif di partai. Entahlah kalau beritanya tentang kader yang berprestasi. Mungkin dikatakannya selama ini kadernya memang aktif dan pembinaan kader pun berjalan dengan sukses.

Kedua, sekretaris tim pemenangan Anies-Sandiaga pun kaget, kemudian melontarkan pujian bahwa Indra K Piliang orangnya baik dan cukup cerdas. Pertanyaannya, kalau memang orang baik dan cukup cerdas, mengapa bisa ditangkap karena kasus narkoba?

Ketiga, Fadli Zon pun kaget atas ditangkapnya politikus kader Partai Golkar itu yang juga pernah satu kampus, satu fakultas dan satu angkatan dengannya.

“Yang saya tahu dia adalah orang yang cerdas. Mudah-mudahan ini kekeliruan, kekhilafan, dan kalau benar perlu direhabilitasi,” katanya di sini.

Mengapa tidak dianjurkan cepat dibui saja kalau memang terbukti bersalah? Cukup menarik menunggu pernyataan Fadli Zon nanti jika ada sosok lain, entah itu artis, mahasiswa, pengusaha atau siapa saja yang ditangkap karena terlibat kasus narkoba. Adakah anjuran direhabilitasi seperti terhadap politikus itu.

Keempat, politikus Partai Golkar lainnya, yaitu Bambang Soesatyo (Bamsoet) merasa yakin Indra J Piliang cuma korban salah pergaulan.

Jadi bukan Indra J Piliang yang salah, tapi pergaulan. Nah, jika ada orang yang bernama Pergaulan, malang nian nasib orang itu. Meskipun selama ini tak pernah menggunakan narkoba, tapi tetap saja disalahkan.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji ditangkapnya politikus Indra J Piliang ini, sambil berharap masih ada hal lain yang berpotensi lucu.

sumber foto: youtube.com.


SBY Mengaku Sahabat dan Penjelasan Presiden Jokowi

SBY Mengaku Sahabat dan Penjelasan Presiden Jokowi

Adahati.com – Tulisan sebelumnya di sini menyebutkan mantan presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, yaitu SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi.

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi? Entah berapa banyak cerita yang pernah ditulis tentang seorang sahabat. Entah itu ditulis dalam sebuah cerpen, cerbung, atau novel. Bukan hanya tulisan, juga sudah cukup banyak film-film yang menceritakan betapa penting dan berartinya seorang sahabat itu.

Secara garis besarnya dideskripsikan sahabat adalah orang yang rela menolong kawannya yang sedang mengalami kesusahan atau masalah tanpa mengindahkan dirinya. Tidak sedikit tulisan atau film yang menceritakan tentang pengorbanan seorang sahabat demi menolong kawannya tadi, bahkan hingga rela mengorbankan nyawanya. Semua ini menunjukkan seorang sahabat memiliki arti yang khusus.

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi, kemudian curhat. Saat sidang kasus dugaan penistaan agama kemarin, Ahok dan kuasa hukumnya menanyakan soal percakapan antara Ketua MUI Ma’ruf Amin dan SBY. Hal inilah yang membuat SBY mengambil kesimpulan bahwa dirinya disadap.

“Kalau institusi negara, Polri, BIN, menurut saya, negara bertanggung jawab. Saya berharap berkenan Pak Presiden Jokowi menjelaskan dari mana transkrip penyadapan itu siapa yang bertanggung jawab,” begitu antara lain kata mantan presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat tadi di sini.

Dimulai dengan kata “kalau”, SBY meminta penjelasan kepada sahabatnya, Presiden Jokowi. Meski agak janggal, tapi seorang sahabat seharusnya tidak terlalu memasalahkannya. Tanggapan Presiden Jokowi seperti ini: “Begini loh, saya hanya ingin menyampaikan yang kemarin ya. Itu kan isu pengadilan, dan yang bicara itu kan pengacaranya Pak Ahok dan Pak Ahok. Iya nggak? Iya kan,” katanya di sini.

Presiden Jokowi pun merasa aneh atas permintaan tersebut. Menurutnya, isu transkrip rekaman tersebut tidak ada hubungan dengan dirinya.

“Lah kok ‘barangnya’ dikirim ke saya, ya nggak ada hubungannya.”

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi, sementara jawaban yang diterimanya seperti itu. Jangan-jangan pengakuan SBY tadi hanya pengakuan sepihak saja, dan secara tidak langsung Presiden Jokowi sudah menyatakannya di atas tadi.

Sumber gambar. 


SBY Menuduh dan Mengaku Sahabat Presiden Jokowi

SBY Menuduh dan Mengaku Sahabat Presiden Jokowi

Adahati.com – Sebelum SBY menuduh, sempat terjadi kehebohan setelah sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama yang digelar oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara kemarin (1/1/2017) yang menghadirkan Ketua MUI Ma’ruf Amin. Penasihat hukum Ahok, Humprey Djemaat ada menanyakan kepada Ketua MUI terkait komunikasi teleponnya dengan SBY.

Rupanya hal ini membuat hati SBY gundah-gulana hingga mengadakan jumpa pers. Menurutnya bukan dia yang menelpon Ma’ruf Amin, tapi ada staf atau ajudannya, kemudian baru ada percakapan antara dirinya dan Ma’ruf Amin.

“Ada staf, bukan saya menelepon langsung Pak Maruf Amin. Ada staf yang di sana yang menyambungkan percakapan saya dengan Pak Maruf Amin yang kaitannya seputar pertemuan. Saya katakan suatu saat ingin diskusi. Percakapan itu ada,” tegas mantan presiden SBY di sini.

Lucu? Cukup tersenyum simpul saja. Tapi entahlah, lucu atau tidak terkait SBY yang ingin bertemu dengan Presiden Jokowi, namun sampai saat ini belum bisa terwujud, kemudian SBY mengatakan: “Saya diberitahu oleh orang kalau beliau ingin bertemu dengan saya tapi beliau dilarang oleh dua dan tiga orang di sekeliling beliau.”

SBY menuduh ada dua atau tiga orang yang melarang Presiden Jokowi bertemu dengannya setelah diberitahu oleh orang? Siapa orangnya? Tidak disebutkan, SBY pun mengatakan bahwa dirinya adalah sahabatnya Presiden Jokowi.

“Nah dalam hati saya, hebat juga orang itu bisa melarang presiden kita untuk bertemu dengan sahabatnya yang juga mantan presiden.”

Sudah ada tanggapan balasan dari Presiden Jokowi yang mengakui juga SBY sebagai sahabatnya? Sampai saat ini belum ada, tapi sudah ada tanggapan dari Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang menegaskan sama sekali tidak ada pihak yang melarang pertemuan antara SBY dan Presiden Jokowi.

“Semuanya tamu yang meminta waktu kepada Presiden Jokowi tentunya akan kami sampaikan oleh Setneg atau Seskab kepada Presiden Jokowi karena mekanismenya seperti itu,” kata Pramono Anung di sini.

Tamu? Bukannya sahabat?

Sakitnya hati ini, namun aku rindu
Bencinya hati ini, tapi aku rindu – Diana Nasution.

sumber berita: merdeka.com, sumber foto: youtube.com.


Penyesalan Prabowo yang Bikin Orang Tersenyum Simpul

Penyesalan Prabowo yang Bikin Orang Tersenyum Simpul

Adahati.com – Prabowo Subianto bisa juga menyesal atau ada penyesalan Prabowo di sini. Dia menyesal telah memilih Ahok dan memenangkannya pada Pilkada DKI lalu.

“Kita sudah cari yang paling terbaik, kali ini bener deh. Gue minta maaf deh pernah ngakuin yang dulu itu. Maafin deh yah, jangan liat ke belakang,” begitu penyesalan Prabowo, Ketua Umum Partai Gerindra.

Penyesalan Prabowo ini bikin orang tersenyum simpul saja. Memang penyesalan selalu datang belakangan. Percuma menyesali kejadian yang telah lalu, sebab masa lalu tidak akan kembali lagi, kecuali ditemukan mesin waktu yang bisa membawa manusia ke masa silam.

Selain ada penyesalan Prabowo, ia pun mengomentari kepemimpinan Ahok selama ini. Menurutnya, Indonesia butuh kepemimpinan yang sejuk, tidak tukang marah dan maki-maki orang, apalagi terus menyalahkan anak buah. Sebenarnya beberapa bulan lalu pun sudah ada pihak yang mengatakan seperti itu. Kaset rusak yang diputar ulang? Mengapa masih mengandalkan kaset rusak yang cenderung membosankan dan bikin orang lain ngantuk?

Apakah tidak ada bentuk serangan politik lainnya yang lebih kreatif dan tidak bikin orang ngantuk? Mungkin ada sebagian pihak yang heran dan bertanya seperti itu.

Tapi apakah benar komentar Prabowo tadi hanya bikin ngantuk saja? Mungkin ada sebagian pihak yang tidak merasa ngantuk, dan menilai komentar Prabowo tadi sudah tepat, apalagi diucapkannya saat kampanye demi memenangkan pasangan cagub Anies-Sandiaga yang didukung oleh Partai Gerindra.

Menurut pendapat Tante C, ngantuk atau tidak ngantuknya seseorang mendengar ocehan orang lain bisa banyak faktor penyebabnya. Bisa karena ini, bisa karena itu. Namun, jika Anda ingin menghilangkan ngantuk yang ada sebenarnya tidak sulit dan rumit. Perhatikan saja Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Markikir, mari kita berpikir supaya tidak mengantuk.
  • Apa langkah putih selanjutnya agar putih bisa memenangkan pertandingan ini?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Bd1xKd7!

  • Jika hitam Bd8xBd7, putih Mf4-b8+, mat.
  • Jika hitam Rc8xBd7, hitam tetap kalah.
  • Bingung?
  • Pegangan.

Sumber gambar. 


Megawati Tetap Dukung Ahok Jadi Gubernur DKI Jakarta

Megawati Tetap Dukung Ahok Jadi Gubernur DKI Jakarta

Adahati.com – Megawati, termasuk Prabowo Subianto dan Presiden Jokowi belakangan ini kalah tenar dibanding Rizieq Shihab seperti pernah ditulis sebelumnya di sini

Namun bukan berarti nama Megawati tenggelam. Masih ada beritanya, dan judul beritanya pun cukup keren, yaitu Buku Jadi Tanda ‘Cinta’ Megawati untuk Ahok.

Rizieq Shihab pun sempat mengatakan ‘cinta’. “Besok yang dipanggil Ustaz Bachtiar Nasir dan Haji Munarman. Saya mestinya besok, tapi dimundurin tanggal 1 Februari. Kelihatannya polisi cinta sama kita, pingin kita kumpul terus.”

Mengapa jadi rajin bicara cinta? Apakah karena cinta bisa membuat dunia ini ceria, dan jauh dari ujaran kebencian? Tapi jangan sekali-kali mengatakan “cinta atau kasih sayang tak mengenal jenis kelamin”. Mungkin bisa mengamuk boss FPI tadi.

Nama Megawati kali ini masuk berita terkait ulang tahunnya yang ke 70. Di sinilah Ketua Umum PDIP itu mengatakan alasannya untuk tetap mendukung Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sambil memberikan buku yang berjudul “Megawati dalam catatan wartawan bukan media darling biasa” kepada Ahok, ia mengatakan:

“Itu adalah nurani saya, lho kalau cari pemimpin ya beneran saja dan saya lihat beliau bisa memimpin dan saya tetap memilih dia dan tetap mendukung dia.”

Masih ada parpol yang mencari pemimpin tidak benar atau asal cari pemimpin? Mungkin ada sebagian pihak yang heran, kemudian timbul pertanyaan seperti ini. Adakah pemimpin yang tidak benar, tapi masih berusaha keras untuk menjadi pemimpin seperti Gubernur DKI Jakarta? Megawati tidak menjelaskan maksud ucapannya “kalau cari pemimpin ya beneran saja”, juga tidak menjelaskan seperti apa kriteria pemimpin yang benar tadi.

Jangan-jangan maksudnya putri Bung Karno dan Ketua Umum PDIP tadi seperti ini. Kalau cari pemimpin jangan asal pilih, tapi pilihlah orang yang pernah memimpin dan terbukti serta teruji kemampuannya menjadi seorang pemimpin, misalnya pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta. Sudah jelas ada hasil karyanya, dapat dirasakan oleh masyarakat, bukan seperti kandidat gubernur lain yang sampai saat masih belum jelas dan teruji kemampuannya.

Sumber gambar.


Rizieq Shihab akan Dijemput Paksa

Rizieq Shihab akan Dijemput Paksa

Adahati.com – Rizieq Shihab boss FPI diadukan oleh Soekmawati Soekarnoputri atas tuduhan melecehkan Pancasila. Ia pun dituduh telah menghina kehormatan dan martabat sang proklamator, Bung Karno.

Tidak sedikit pihak yang mengira masalahnya sudah dilupakan, karena beritanya nyaris tak terdengar lagi. Menurut Kapolri, Rizieq Shihab telah dipanggil pada 5 Januari 2017 lalu, tapi tidak datang dengan alasan sakit. Rencananya pemanggilan kedua akan dilakukan 12 Januari 2017 nanti.

Bagaimana kalau Rizieq Shihab masih mangkir? Kapolri menegaskan pihaknya akan melakukan upaya paksa. “Kita lihat, datang atau tidak. Jika datang diperiksa. Jika tidak, sesuai hukum, KUHAP tentu kita lakukan surat perintah membawa,” tegasnya di sini.

Rizieq Shihab termasuk salah satu pihak yang menuntut keras supaya Ahok diproses secara hukum saat merebaknya kasus dugaan penistaan agama. Ahok pun tidak beralasan sakit, dan atas kemauannya sendiri datang ke kantor polisi

Penggemar catur yang baik hati, tidak sakit-sakitan, sehat selalu, juga gemar menabung dan tidak sombong, Tante C cukup tertarik dengan kata “paksa” terkait berita tentang Rizieq Shihab yang dituduh telah menghina Pancasila, juga kehormatan dan martabat proklamator Bung Karno di atas tadi.

Kata “paksa” ini cenderung berkonotasi negatif, tapi tidak selamanya seperti itu. Kapolri Tito Karnavian pun ada mengatakan “sesuai hukum” atau KUHAP yang menjadi dasar menerapkan kata “paksa” tadi.

Bagaimana kalau kata “paksa” ini diterapkan di catur?

Tidak masalah, bahkan bisa meraih kemenangan seperti ditunjukkan pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Hitam sudah kalah satu perwira Gajah, tapi ia memiliki keunggulan posisi.
  • Gajah hitam di petak c6 mengancam Benteng putih di petak f3.
  • Diagonal c6-f3-h1 dan e2-f1-h3 terlihat pada bentuk bangunan caturnya.

 

  • Langkah hitam selanjutnya? Mudah saja, tidak sulit dan rumit, karena hitam sampai saat ini masih sehat atau tidak sakit-sakitan atau pura-pura sakit.
  • Bg8-g4!

 

  • Langkah hitam tadi pun memaksa putih bertekuk lutut atau menyerah kalah.
  • Karena Menteri putih terhalang pandangannya ke petak f3.
  • Masih bingung juga?
  • Pegangan.

Gens Una Sumus.

sumber gambar: youtube.com.


Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Adahati.com – Hari H Pilkada DKI 2017 tinggal sekitar sebulan lagi. Bagi kubu masing-masing pasangan cagub waktu yang tersisa mesti dimanfaatkan sebaik mungkin demi menuai perolehan suara yang memuaskan, juga menghasilkan kemenangan.

Awalnya Ahok dijadikan “musuh bersama”, tapi hasilnya kurang memuaskan. Serangan-serangan politik yang dibangun sedemikian rupa selama ini tidak memberikan pengaruh negatif yang cukup signifikan terhadap Ahok.

Konsep “rumah apung” ditanggapi sinis oleh Ahok. Menurutnya “rumah apung” bisa diwujudkan, tapi mungkin 100 tahun lagi. Ahok pun pernah melihat “rumah apung” di film-film Hollywood, tapi gantung di langit (detik.com).

Nada sinis pun dilontarkan oleh kubu Anies-Sandiaga. Lewat pernyataan M Taufik dikatakan Agus Yudhoyono terbebani statusnya sebagai anak SBY. Mana ada di dunia ini “kota apung”? Tapi yang lebih nyelekit lagi pernyataannya tentang sedotan air. “Masa sedotan. Emangnya air lemon pakai sedotan,” kata M Taufik di sini.

Benarkah taktik menjadikan Agus Yudhoyono sebagai “musuh bersama” sudah mulai dimainkan? Tidak terlalu mengherankan, jika Agus Yudhoyono sudah mulai dijadikan “musuh bersama” mengingat beberapa pertimbangan di bawah ini:

Pertama, awalnya Ahok yang dijadikan “musuh bersama”, tapi hasilnya cenderung mengecewakan, karena Ahok masih tetap tangguh hingga saat ini.

Kedua, beberapa pengamat politik mengatakan Pilkada DKI 2017 akan berjalan dua putaran. Salah satu alasannya Ahok masih terjerat kasus dugaan penistaan agama. Makdarit, satu dari tiga pasangan cagub harus tersingkir atau disingkirkan.

Ketiga, hasil beberapa survei lalu menunjukkan elektabilitas Agus di posisi teratas. Wajar saja dijadikan sasaran tembak, apalagi ada dugaan “survei pesanan”. Istilahnya “senjata makan tuan” dengan menjadikan Agus Yudhoyono sebagai “musuh bersama”.

Keempat, kubu Ahok-Djarot pun cenderung memilih Anies-Sandiaga sebagai lawannya di putaran kedua nanti, mengingat ada kecurigaan terjeratnya Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama adalah permainan “politik busuk” yang dilakukan oleh kubu Agus Yudhoyono. Meski sudah beberapa kali dibantah, tapi kubu Ahok-Djarot sepertinya belum hilang kecurigaannya tadi.

Kelima, memainkan taktik Agus Yudhoyono dijadikan “musuh bersama” cenderung menguntungkan kubu Ahok-Djarot maupun Anies-Sandiaga. Kalkulasi politiknya kubu Ahok-Djarot lebih ringan menghadapi Anies-Sandiaga di putaran berikutnya, sedangkan kubu Anies-Sandiaga bersyukur bisa lolos ke putaran kedua.

Apakah memainkan taktik “musuh bersama” ini bisa berbalik menguntungkan kubu Agus Yudhoyono, misalnya dibalas dengan memainkan taktik “playing the victim”?

Mengingat sisa waktu Pilkada 2017 boleh dibilang sudah mepet, sepertinya tidak efektif lagi memainkan taktik “playing the victim”. Apalagi jika kubu Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga melakukan serangan politiknya tidak secara bersamaan, melainkan bergantian atau mengatur sebaik mungkin serangan politiknya.

Jika hal itu berhasil, dan Pilkada DKI 2017 berjalan dua putaran, sudah bisa ditebak siapa dua pasangan cagub yang akan tampil nantinya.

sumber gambar: youtube.com.


Benarkah Ahok Dihadang oleh Seorang Ibu yang Menangis?

Benarkah Ahok Dihadang oleh Seorang Ibu yang Menangis?

Adahati.com – Ahok dihadang oleh beberapa orang saat blusukan di suatu tempat cukup sering beritanya menghiasi media massa. Namun meski dihadang, ia tetap blusukan. Ibarat peribahasa “anjing menggonggong, kafilah berlalu”.

Peribahasa tadi artinya biarkan saja orang lain bicara, mencemooh, atau mempergunjingkan, tapi tak perlu dihiraukan. Bisa juga artinya seperti ini, meskipun ada halangan atau rintangan, rencana tetap jalan terus.

Terkait Ahok dihadang oleh beberapa orang tadi diduga ada rekayasa atau skenario dari pihak-pihak tertentu yang cenderung berjiwa pengecut atau tidak sportif, karena ada kekhawatiran Ahok akan memenangkan Pilkada DKI 2017.

Namun terlepas dari itu semua, selain peribahasa “anjing menggonggong, kafilah berlalu”, ada peribahasa lainnya, yaitu “yang busuk itu lama-lama berbau juga”.

Tapi benarkah Ahok dihadang oleh seorang ibu yang menangis sambil menggendong cucunya saat Ahok blusukan di Cilincing, Jakarta Utara (2/1/2017)?

Ibu itu memang menangis di hadapan Ahok, tapi bukan berniat menghadang, justru ia menangis saat Ahok datang menghampirinya.

Ia pun curhat kepada Ahok, bahwa suaminya sudah bekerja selama 25 tahun, tapi diberhentikan dari PHL Sudin Kebersihan Jakarta Utara sejak 1 Januari 2016 karena usianya sudah memasuki 55 tahun. Padahal selama ini, meski hanya tukang sapu jalanan, suaminya mendapat gaji bulanan sesuai UMR sebesar Rp 2,7 juta, juga fasilitas BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Tapi semua itu hilang sejak suaminya tidak bekerja lagi, dan ibu itu pun menangis mengingat beban hidupnya semakin berat saja. Ia pun memohon agar cagub nomor urut dua ini mempekerjakan kembali suaminya sebagai tukang sapu jalanan.

Ahok pun langsung meminta dua ajudannya supaya mencatat nomor kontak ibu yang menangis tadi agar permohonannya bisa diurus dan diselesaikan oleh stafnya, bahkan ibu itupun mendapat nomor kontak staf Ahok tersebut.

Memang Ahok berhenti, tapi bukan karena dihadang, justru ibu itu yang menangis dan curhat saat Ahok datang menghampirinya.

Tidak selamanya “kafilah berlalu”, tapi perlu juga “kafilah berhenti” untuk mendengar suara rakyat kecil yang membutuhkan pertolongan.

sumber berita: kompas.com, sumber gambar: youtube.com.


Ahok Janji Tidak akan Gusur dan Agus Yudhoyono Sewot?

Ahok Janji Tidak akan Gusur dan Agus Yudhoyono Sewot?

Adahati.com – Agus Yudhoyono sewot? Agus adalah salah satu cagub pada Pilkada DKI 2017 dan cawagubnya adalah Silvy yang suaminya Gde Sardjana telah diperiksa oleh pihak kepolisian terkait pendanaan kasus dugaan makar. Ada keterangan dari pihak kepolisian seperti ini: “Pengakuan Pak Gde, dia transfer buat dana kampanye, kan timsesnya nomor urut satu,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya di sini.

Keterangan pihak kepolisian tadi yang membuat Agus Yudhoyono sewot?

Sebenarnya Agus Yudhoyono sewot terkait pernyataan tim sukses Anies-Sandiaga yang merasa pola kampanyenya ditiru. Buktinya lokasi kampanye mereka juga dikunjungi calon lain. Anies pun ketika ditanya bagaimana menangani masalah banjir mengatakan: “Saya cenderung enggak cerita, ini bahan buat debat, ada yang suka imitasi soalnya.” Tanggapan Agus Yudhoyono?

“Ha..ha..ha… yang niru siapa ya? Makanya pada beli kaca yang gede.”

Menurut pendapat atau anggapan Agus Yudhoyono lucu. “Ha..ha..ha…. Lucu juga pertanyaannya, ha..ha…. Ya mudah mudahan ini lah, ha..ha, speechles saya dibilang meniru karena yang meniru siapa, kita cari saja.”

Setidak-tidaknya ada dua kelucuan menyangkut berita di atas tadi.

Pertama, jika menyimak tanggapan Agus tadi tidak terkesan ia sewot, tapi mengapa judul beritanya terkesan Agus Yudhoyono sewot? Ada “tanda seru” di judul berita detik.com ini yang mengesankan Agus Yudhoyono sewot.

Kelucuan kedua, timses Anies-Sandiaga tidak menyebut siapa yang nyontek, tapi mengapa ada komentar Agus seperti ini, “speechles saya dibilang meniru.”

Entah siapa sebenarnya yang lucu, tapi berita terkait Ahok ini tidak terkesan sewot atau lucu saat ia berdialog dengan warga di Jati Padang.

Ahok mengatakan dulu ada 2.000 titik banjir di Jakarta, tapi sekarang sudah berkurang hingga 400. Ia pun menampik bila dirinya akan menggusur daerah tersebut. Justru daerah tersebut akan ditata agar tidak banjir. Prinsipnya tidak ada penggusuran, kecuali terpaksa atau tidak ditemukan solusi yang lebih baik.

“Prinsipnya, kita nggak gusur kecuali terpaksa. Kita lihat dulu bantaran sungainya. Kalau mereka warga asli, dapat tinggal rusun. Lebih sehat, naik bus gratis,” kata Ahok di sini.

Tidak ada kesan sewot saat Ahok mengatakan hal itu.

sumber berita: detik.com, sumber gambar: youtube.com.


Mengapa Ahok Tetap Blusukan Meski Dihadang?

Mengapa Ahok Tetap Blusukan Meski Dihadang?

Adahati.com – Ahok tetap blusukan dan “jualan obat” di masa kampanye Pilkada DKI 2017. Bukan hanya Ahok, cagub lainnya pun “jualan obat” atau mempromosikan diri.

Cara mempromosikan diri atau “jualan obat” lainnya lewat sebuah perdebatan di acara televisi swasta, tapi beberapa waktu lalu ada pasangan cagub yang tidak mengikutinya, entah karena takut atau ada alasan lainnya. Tentu saja blunder, jika mengakui takut. Maka dari itu, perlu alasan untuk menangkis tuduhan takut tadi dengan mengatakan lebih baik blusukan daripada berdebat di acara televisi swasta.

Hal yang biasa berdalih, memberikan alasan atau memainkan taktik seperti itu. Justru mengherankan apabila bersedia “menari di atas gendang yang ditabuh oleh orang lain”.

Ahok tetap blusukan hari ini (30/12/2016), meski dihadang oleh seorang warga di Jati Padang, Jakarta Selatan seperti diberitakan detik.com di sini.

“Pak Ahok, mana izinnya, kenapa tiba-tiba ke sini tanpa izin RT/RW?” katanya.

Menurut Suparno (40) warga lainnya mengatakan bahwa pria yang cenderung lebay (berlebihan) tadi adalah seorang kader dari partai pendukung cagub lain.

“Biasa Mas, itu pendukung cagub lain. Memang warga asli, tapi yang nolak dia aja.”

Menurut pendapat Tante C sebaiknya jadi orang jangan terlalu lebay atau berlebihan. Biasa saja menanggapi sesuatu meski kurang berkenan di hati. Santai saja.

Ahok tetap blusukan, meski dihadang. Begitupun dengan Tante C, tetap akan memberikan Trik dan Problem Catur yang Sederhana, meski ada sebagian pihak yang merasa tertipu, atau dibohongi pakai Ahok. Santai saja, tak perlu berlebihan dan mengatakan diri ini sudah dibohongi pakai judul tulisan yang cenderung bombastis.

  • Putih giliran melangkah, dan kemenangan putih tak bisa dihadang lagi.
  • Bukankah bentuk bangunan caturnya masih sulit dan rumit?
  • Ingat, jangan lebay atau berlebihan.
  • Ba7-a8!

  • Benteng putih blusukan dari petak a7 ke petak a8.
  • Kemenangan putih tak bisa dihadang, meski langkah hitam berikutnya Be8xBa8, h7-h6, Mg6-f7 atau langkah hitam lainnya.
  • Masih bingung juga?
  • Pegangan lagi.

Gens Una Sumus.

sumber berita: detik.com, sumber gambar: youtube.com.


Mempermalukan Siapa yang Dimaksud Ahok?

Mempermalukan Siapa yang Dimaksud Ahok?

Adahati.com – Siapa yang dimaksud Ahok? Mengapa ia mengeluarkan kata “mempermalukan”? Sebelumnya Ahok menjalani sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama dan eksepsi pembelaannya ditolak oleh majelis hakim.

Mengingat jalannya sidang nanti cukup lama, sedang cuti Ahok akan berakhir tanggal 11 Februari 2017, maka ia akan dinonaktifkan.”12 Februari, Saya nggak mungkin kembali bertugas jadi gubernur, pasti akan di non aktifkan,” kata Ahok di sini.

Ia pun meminta para pendukungnya agar tidak meragukan Djarot, karena wakilnya itu memiliki kemampuan dan pengalaman sebagai Bupati, selain dirinya pun masih bisa tetap berkoordinasi dengan Djarot nantinya.

Ahok juga berharap keadilan tetap ditegakkan. Siapa pun yang diduga melakukan penistaan agama harus diproses. “Kita harap keadilan tetap ditegakkan. Yang melakukan penistaan agama, siapa pun harus diproses,” kata Ahok di sini.

Apakah Ahok sedang menyindir kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Rizieq Shihab? Berita tersebut tidak menjelaskannya lebih lanjut.

Kembali ke pertanyaan semula. Mempermalukan siapa yang dimaksud Ahok?

“Saya harap tetap berjuang untuk menang satu putaran. Kalau kita menang satu putaran, akan mempermalukan orang-orang yang selama ini menyudutkan saya,”

Penggemar catur yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, menurut pendapat Tante C, sulit bagi pasangan cagub Ahok-Djarot untuk memenangkan Pilkada DKI satu putaran saja mengingat ada kasus dugaan penistaan agama.

Bukannya tak mungkin Ahok-Djarot menang satu putaran, dan mempermalukan orang-orang yang menyudutkannya selama ini. Hari H Pilkada DKI 2017 masih sekitar satu setengah bulan lagi. Mungkin saja ada cagub lain yang melakukan blunder juga.

Sebuah blunder bisa membuat orang menyesal karena blunder itu menyakitkan, seperti blunder pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Putih masih sulit menembus pertahanan hitam, tapi memang dasarnya hitam mreki (pelit), langkah hitam selanjutnya seperti ini:
  • b7-b5?

  • Hitam terlalu pelit, takut pionnya dimakan, dan akhirnya blunder.
  • Langkah putih selanjutnya?
  • Kd6-f5!

  • Hitam pun menyerah kalah.
  • Masih bingung, kenapa putih yang menang?
  • Pegangan.

Sumber gambar. 


Ahok Mendoakan dan Minta Didoakan, Ada yang Salah?

Ahok Mendoakan dan Minta Didoakan, Ada yang Salah?

Adahati.com – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendoakan Julia Perez (Jupe) yang saat ini sedang terbaring di RS Cipto Mangunkusomo karena terkena penyakit kanker serviks stadium empat. Setelah Ahok mendoakan Jupe, ia pun berkata seperti ini: “Dan jangan lupa doain saya juga ya,” kata Ahok sambil tersenyum ramah ke Jupe yang mengamini (detik.com).

Meski berita tersebut tidak menyebut seperti apa bentuk doa Ahok kepada Jupe, tapi bisa diperkirakan Ahok mendoakan Jupe agar cepat sembuh. Mengenai Ahok minta didoakan, apakah ia minta didoakan agar terlepas dari kasus dugaan penistaan agama yang dialaminya? Berita tersebut pun tidak menjelaskannya secara rinci.

Tapi bicara tentang kasus dugaan penistaan agama, terbetik sebuah berita bahwa pentolan FPI, yaitu Rizieq Shihab dilaporkan oleh Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) ke Polda Metro Jaya karena ceramahnya di Pondok Kelapa pada 25 Desember 2016.

Berita selengkapnya bisa dilihat di sini.

Ada yang menarik dari permintaan para pelapor tadi, yaitu mereka meminta agar penanganan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Rizieq Shihab diproses secara cepat. Kata “cepat” ini pun pernah dilontarkan oleh sebagian pihak di awal merebaknya kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok hingga keluar pernyataan “Lebaran Kuda”. Apakah pernyataan “Lebaran Kuda” itu gaungnya pun akan kembali menggema, atau ada istilah lainnya?

Balik lagi bahas Ahok dan Jupe yang terkena kanker dan berbaring di RS Cipto Mangunkusumo. Hal yang biasa kata “cepat” terucap saat mendoakan orang yang sedang sakit, misalnya “semoga cepat sembuh”. Terasa janggal jika mengatakan “semoga penyakitnya cepat diproses oleh pihak kepolisian”.

Penyakit adalah urusan dokter, bukan polisi kecuali “penyakit sosial” seperti senang miras, berjudi, penyalahgunaan narkoba, dan seterusnya.

Ahok mendoakan Jupe, kemudian minta didoakan, ada yang salah? Tentu saja tidak, karena doa mengandung nilai yang positif. Umumnya orang yang masih waras atau normal cenderung senang didoakan, terlepas siapa yang mendoakan.

Sumber gambar, dan berita detik.com.


Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Adahati.com – Prabowo Subianto rencananya akan turun gunung bulan Januari 2017 nanti, atau ikut kampanye akbar demi memenangkan pasangan cagub Anies-Sandiaga.

Menurut hasil beberapa survei belakangan ini posisi Anies-Sandiaga di urutan paling bawah dibanding pasangan cagub lainnya. Hal ini tentu cukup memprihatinkan bagi kubu Anies-Sandiaga yang didukung oleh Partai Gerindra. Anies pun merasa heran atas hasil survei-survei yang menempatkan pososinya pada urutan terbawah tadi. Ia pun sempat memanfaatkan fenomena “Om Telolet Om”.

“Saya lihat survei juga banyak telolet,” ujar Anies sambil tertawa di sini.

Meski Anies tidak menjelaskankan apa maksudnya banyak survei yang “telolet” tadi, tapi diperkirakan ia memelesetkan kata “Telolet” menjadi “Tulalit” yang artinya kurang cerdas, atau berkaitan dengan telmi (telat mikir) dan sejenisnya.

Prabowo sendiri yang selama ini memantau kampanye Anies-Sandiaga mengatakan sebenarnya ia bergejolak hebat ingin segera turun gunung melakukan kampanye akbar untuk memenangkan pasangan cagub yang didukung oleh partainya itu.

Kemudian ia mengatakan, “Walaupun semua orang tahu, mungkin yang lain dananya sangat besar, tapi kita berjuang atas dasar nilai nilai berjuang untuk demokrasi. Jadi bagi saya Anies-Sandi lambang demokrasi, lambang keadilan, kerakyatan, bukan simbol oligarki, bukan simbol politik dinasti atau kekeluargaan.”

Apa maksudnya Prabowo Subianto mengatakan “simbol politik dinasti atau kekeluargaan”? Selama ini masyarakat lebih teringat dengan “Trah Soekarno” jika bicara tentang politik dinasti atau kekeluargaan, tapi baik cagub maupun cawagub di Pilkada DKI 2017 tidak ada yang berasal dari “Trah Soekarno”. Pun belum pernah mendengar ada “Trah Ahok”, “Trah Djarot”, “Trah Anies” atau “Trah Sandiaga”.

Jangan-jangan Prabowo sedang menyindir SBY? Saat ini Agus Yudhoyono ikut dalam pemilihan calon gubernur DKI Jakarta. Namun bisa saja sindiran Prabowo tadi hanya pernyataan politik yang tidak jelas arahnya, atau sekadar meramaikan suasana politik yang ada saat ini sebelum turun gunung bulan Januari 2017 nanti.

Sebaiknya jangan terlalu cepat curiga dengan pernyataan Prabowo tadi, juga jangan terlalu cepat mengatakan: “Saya prihatin”.

Sumber gambar, dan gambar: merdeka.com.


Tante C Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Tante C Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Adahati.com – Siapa Tante C? Sebelum dijelaskan lebih lanjut terlebih dahulu Tante C mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh pembaca yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong di manapun Anda berada saat ini.

Tante C adalah tokoh imajinasi yang akan mengajak para pembaca menikmati Trik dan Problem Catur yang Sederhana. Sebelumnya Tante C pernah hadir di sini, dan masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan eksistensi Tante C dengan trik-trik caturnya yang sederhana, mudah saja, tidak sulit dan rumit.

Mengapa tokoh imajinasinya Tante C, bukan Om C? Setidak-tidaknya ada 3 (tiga) alasannya. Pertama, tante biasanya menarik perhatian kaum lelaki, baik tua maupun muda. Begitu melihat judul tulisannya ada kata “Tante” langsung klik saja, eh ternyata isinya catur. Tertipu? Merasa dibohongi? Mudah-mudahan jangan.

Alasan kedua, saat ini olahraga catur kurang diminati oleh kaum hawa. Diharapkan kehadiran Tante C bisa menarik perhatian kaum hawa dan berminat menggeluti olahraga otak ini. Sedangkan alasan ketiga, suka-suka penulisnya. Kebetulan tokoh imajinasinya seorang perempuan dengan sebutan Tante C (Tante Catur).

Selain itu kehadiran Tante C pun akan membahas sedikit berita-berita yang sedang hangat saat ini. Misalnya tentang Ahok, Jokowi, Prabowo Subianto, Fadli Zon, Ruhut Sitompul dan lainnya, tapi masih tetap dalam koridor suasana santai.

Makdarit (maka dari itu), jangan heran apabila judul tulisannya seperti ini, misalnya:

  • Tante C: Ahok Marah, Kuda Ditendang dan Dibanting.
  • Tante C: Jokowi Tersenyum Melihat Pion yang Kecil dan Imut.
  • Tante C: Prabowo Subianto Pelihara Gajah di Hambalang.

Dan seterusnya, kemudian diakhiri dengan Trik dan Problem Catur yang Sederhana.

Demikianlah penjelasan singkat tentang “Tante C”, dan sekarang markiper (mari kita perhatikan) Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Hitam giliran melangkah, dan menolak pertandingan ini berakhir remis.
  • Setelah berpikir sejenak, hitam melihat titik kelemahan putih yang terdapat pada garis diagonal d3-b1 dan d3-f1.

  • Langkah hitam selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Gb7-a6!

Sampai juga lagi di lain waktu. Sekali lagi Tante C mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh penggemar catur di manapun Anda berada saat ini.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar.


Tambah Satu Lagi Artis yang Dukung Ahok

Tambah Satu Lagi Artis yang Dukung Ahok

Adahati.com – Tambah satu lagi artis yang dukung Ahok pada Pilkada DKI 2017. Siapa dia? Dia adalah penyanyi yang pertama kali populer atau mengangkat namanya di blantika musik pop Indonesia lewat sebuah lagu yang liriknya antara lain seperti ini:

Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
Mudah putus asa dan kehilangan arah

Dia adalah Ruth Sahanaya dengan lagu “Astaga” ciptaan James F Sundah itu. Menurut Ruth Sahanaya yang mendatangi Rumah Lembang, ia mendukung Ahok karena kagum atas kinerjanya, terutama kebersihan kota Jakarta yang ada saat ini.

“Mendukung Ahok sebagai rasa kagum saya terhadap Pak Ahok. Saya datang ke sini tidak dipaksa, tidak dibayar,” kata Ruth Sahanaya di sini.

Tambah satu lagi artis yang dukung Ahok dan sepeserpun tidak dibayar atas dukungan yang diberikannya, meski ia seorang artis dan termasuk salah satu dari tiga diva Indonesia selain Krisdayanti dan Titi DJ.

Biasa saja, jika ada artis yang mendukung salah satu kandidat, baik di Pilkada maupun Pilpres. Tak perlu kaget sambil mengucap astaga. Dari dulu pun sudah ada, bahkan Anggota Dewan yang berlatar belakang artis pun saat ini jumlahnya sudah cukup banyak, meski ada beberapa di antaranya oleh sebagian pihak dianggap kurang paham atau tidak memiliki kapasitas yang memadai sebagai wakil rakyat.

Tapi mungkin saja sebagian pihak yang berpendapat seperti itu tadi hanya orang sirik yang tak mampu menjadi artis, sekaligus Anggota Dewan.

Artis yang mendukung Ahok sebelum Ruth Sahanaya pun jumlahnya tidak sedikit, namun hal yang sama terjadi pada Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan. Sedangkan siapa saja artis yang mendukung ketiga cagub tadi, tak perlulah disebutkan satu persatu di sini. Bisa panjang lebar tulisan ini, dan isinya hanya nama-nama artis.

Tanpa panjang lebar, bagi mereka yang belum tahu, atau sudah lupa lagu “Astaga” yang pernah dipopulerkan, dan mengangkat nama Ruth Sahanaya di blantika musik pop Indonesia bisa disimak di bawah ini.

Sumber gambar. 


Memangnya Ahok Tahu Maksudnya “Om Telolet Om”?

Memangnya Ahok Tahu Maksudnya “Om Telolet Om”?

Adahati.com – Ahok kena “dikerjain” oleh relawan pendukungnya seusai acara Apel Siaga Ahok-Djarot yang digelar di Balai Kartini, Jakarta Selatan tadi malam. Ahok pun seperti dipaksa untuk memegang kertas bertulisan “Om Telolet Om”.

Memangnya Ahok tahu maksudnya “Om Telolet Om”?

“Tadi iseng aja relawannya minta tolong pegang (kertas Om Telolet Om) ke Pak Ahok. Aku juga enggak yakin sih Pak Ahok mengerti soal Om Telolet Om tuh apa. Kayaknya pasrah-pasrah aja (diminta foto relawan),” kata Amalia Ayuningtyas di sini.

Mengenai “Om Telolet Om” yang menjadi viral di dunia maya hingga beberapa “selebritis kaki lima” (bukan selebritis papan atas) dunia pun ikut terjangkit demam rasanya tak perlu dijelaskan lebih lanjut, atau bisa dilihat di sini penjelasannya.

Fenomena “Om Telolet Om” pun ditanggapi oleh Agus Yudhoyono. Ternyata sebelumnya pun Agus tidak tahu apa maksudnya “Om Telolet Om” ini.

“Saya baru dibisikin, belum lihat langsung,” katanya.

Bagaimana dengan cagub lainnya, Anies Baswedan? Apakah ia pun terjangkit demam atau ikut menanggapinya? “Iya, survei juga ada yang telolet, memang telolet. Ada banyak jenis telolet. Saya lihat survei juga banyak telolet,” ujar Anies sambil tertawa.

Belakangan ini survei-survei yang ada menempatkan elektabilitas Anies-Sandiaga Uno pada posisi paling bawah. Meski Anies tidak menjelaskan maksudnya, tapi bisa ditebak atau diperkirakan ia memelesetkan “Tolalet” menjadi “Tulalit” yang artinya kurang cerdas, atau berkaitan dengan telmi (telat mikir) dan sejenisnya.

Ada-ada saja, tapi bisa juga dilihat dari sudut lain bahwa ketiga cagub tadi sedang memainkan sebuah taktik “numpang tenar” agar popularitasnya meningkat.

Bosan atau jenuh dengan trik kuno seperti itu?

Mudah-mudahan Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini tidak membosankan dan bisa meningkatkan kecerdasan agar tidak tolalet (tulalit).

  • Putih giliran melangkah.
  • Apa langkah putih selanjutnya agar putih bisa memenangkan pertandingan ini?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Md1-e1+!

  • Bagaimana kalau langkah hitam selanjutnya, Be2xMe1?
  • Tinggal dorpi (dorong pion).
  • g2-g3+, mat.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar, dan sumber berita: detik.com.


Ada Masalah Adik Dukung Ahok, Kakak Pilih yang Lain?

Ada Masalah Adik Dukung Ahok, Kakak Pilih yang Lain?

Adahati.com – Apakah ada masalah, jika Pilkada DKI 2017 yang semakin mendekati hari H ini, ketiga pasangan cagub sibuk kampanye atau ‘jualan obat’?

Promosi diri sesuai strategi dan taktik masing-masing. Apakah masih ada masalah, jika semua pasangan cagub ‘jualan obat’ tadi?

Jika ada sebagian pihak yang mengatakan strategi dan taktik ‘jualan obat’ yang digunakan oleh ketiga pasangan cagub tadi sebenarnya cenderung sama, atau tidak ada strategi dan taktik yang baru, ada benarnya juga.

Pilkada DKI 2017 pun bisa dijadikan ‘kambing hitam’.

Misal, gara-gara Pilkada DKI 2017 rusak hubungan keluarga dan pertemanan. Perbedaan pilihan atau dukungan menyebabkan kakak dan adik bertengkar, sesama teman jadi ribut, dengan tetangga pun bertengkar dan seterusnya. Tapi tidak tertutup kemungkinan memang sudah rusak hubungan keluarga atau pertemanannya tadi. Hanya selama ini cenderung ditutupi-tutupi atau tidak ingin diketahui orang lain.

Tidak ada masalah jika di antara anggota keluarga atau teman ada perbedaan pilihan. Demokrasi membolehkan perbedaan tadi. Jika ada sebagian pihak yang menilainya sebagai masalah, patut dicurigai, jangan-jangan dirinya yang bermasalah.

Soraya Haque mendatangi Rumah Lembang dan menyatakan dukungannya kepada pasangan cagub Ahok-Djarot nomor urut dua, padahal kakaknya, Marissa Haque adalah salah satu juru bicara pasangan cagub Agus-Sylvi. Ada masalah?

“Setiap individu akan berkembang sesuai dengan pendidikan yang ia miliki. (Pilihan) pasti akan berbeda, tidak akan sama satu, tidak apa-apa,” kata Soraya Haque di sini. Ia pun mengatakan tidak ada masalah, meski berbeda pilihan dengan sang kakak, dan keluarganya pun tetap kompak.

“Setiap orang bebas melakukan apapun sesuai dengan hak politiknya.”

Maka dari itu, jika ada yang mengatakan hubungan keluarga dan pertemanannya jadi rusak gara-gara Pilkada DKI 2017, jangan-jangan sebelumnya hubungan itu memang sudah rusak. Hanya selama ini cenderung ditutup-tutupi, sok manis, juga sok imut.

Meski hubungan keluarga atau hubungan pertemanan itu sebenarnya sudah rusak, tapi tetap saja cipika-cipiki atau terlihat mesra di depan umum.

Kemudian ngerumpi, dan Pilkada DKI 2017 pun dijadikan ‘kambing hitam’.

Sumber gambar. 


Timnas Indonesia Terkapar di Thailand, Pecat Alfred Riedl?

Timnas Indonesia Terkapar di Thailand, Pecat Alfred Riedl?

adahati.com – Timnas Indonesia terkapar di leg kedua babak final Piala AFF 2016 setelah dikalahkan Thailand 0-2 kemarin (17/12/2016). Sebelumnya sempat ada harapan yang tinggi setelah Timnas sukses menjungkalkan Thailand 2-1 di leg pertama.

Sila baca ulasannya di sini – Babak Final Piala AFF: Pelatih Thailand Gugup -.

Kemenangan 2-1 di leg pertama menjadi sia-sia setelah Timnas kalah 0-2 di leg kedua, dan kegagalan meraih gelar juara ini sudah lima kali. Prihatin? Sebelum prihatin, elus dada atau menangis guling-guling di ubin, ada baiknya mendengar komentar beberapa politikus terkait kekalahan Timnas di leg kedua ini.

Anies Baswedan menyempatkan diri pergi ke Thailand untuk menyaksikan pertandingan secara langsung. Djarot dan Agus pun memberikan komentarnya terkait kegagalan Timnas Indonesia meraih gelar juara. Apakah perlu ditulis komentar mereka di sini? Tidak perlu. Tanpa membaca media pun sudah bisa ditebak atau diperkirakan komentarnya cenderung perbaba!

Perbaba (pernyataan basa-basi) dianggap sudah menjadi kebiasaan para politikus, pejabat dan tokoh-tokoh lainnya. Belum ada komentar Ahok, juga Sandiaga Uno dan Sylvi. Namun seandainya pun nanti ada bisa diperkirakan cenderung perbaba!

Contoh perbaba, Timnas sudah berjuang mati-matian, hargailah perjuangannya, masih ada hari esok yang gilang gemilang, jangan putus asa, berbenah diri lebih baik lagi, kita akan adakan evaluasi, sayang ya Timnas kalah, dan seterusnya.

Basi memang, dan kebasa-basian itu pun sudah menjalar hingga ke komentator televisi. Entah berapa kali para komentator mengucapkan kata dukungan dari seluruh penonton, semoga begini, semoga begitu, tapi akhirnya Timnas kalah lagi, kalah lagi. Capek? Sebenarnya ada kata yang sederhana untuk mengomentari kekalahan dan kegagalan Timnas Indonesia, yaitu kalah ya kalah! Gagal ya gagal!

Gak usah banyak cincong atau perbaba yang menyebalkan…itu!

Pecat Alfred Riedl karena Timnas gagal juara? Perlu ‘kambing hitam’ untuk menutupi kegagalan. Sebelum pecat Alfred Riedl sebaiknya simak berita ini. Beberapa saat menjelang leg kedua berakhir, Abduh Lestaluhu diusir dari lapangan karena menendang bola ke arah pemain Thailand yang berkumpul di bangku cadangan.

“Apa yang saya lihat bahwa dia membuat kesalahan. Ada pemain (Thailand) yang tidak memberikan bola padanya. Pemain itu di dekatnya, jadi dia sedikit marah dan melakukan reaksi yang salah hingga berbuah kartu merah,” ucap Riedl.

Jelas ada pembelaan atau ia tidak ingin menyalahkan sepenuhnya atas reaksi dari pemain Timnas tadi. Sebuah sikap seorang pelatih yang baik sudah ditunjukkannya. Pembelaan terhadap anak asuhnya pun tidak membabibuta. Tapi secara langsung atau tidak langsung Riedl ingin mengatakan jangan salahkan pemain!

Jangan salahkan pemain atas kegagalan meraih gelar juara Piala AFF 2016. Jangan salahkan dan pecat Alfred Riedl, apalagi menyalahkan pendukung Timnas Indonesia.

Siapa yang mesti disalahkan? Cari sendiri sana. Atau salahkan kualitas pemain Timnas Thailand yang setengah tingkat di atas pemain Timnas Indonesia?

Sumber gambar,dan sumber berita: detik.com.


Tante Angie Maklum Mengapa Elektabilitas Ahok Teratas

Tante Angie Maklum Mengapa Elektabilitas Ahok Teratas

Adahati.com – Tante Angie maklum, dan memahami mengapa elektabilitas Ahok teratas bulan Desember ini. Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI), Ahok adalah sosok yang muncul sebagai ‘top of mind’ dibanding cagub lainnya.

Sedangkan alasan LSI yang menyebabkan elektabilitas Ahok teratas, tante Angie maklum tapi tidak terlalu tertarik. Terserah apa alasannya, tapi tidak terlalu penting semua itu. Mengenai tanggapan calon wakil gubernur DKI Jakarta Djarot Saifulah terkait hasil survei LSI pun tante Angie maklum. “Saya enggak ngurusin tukang survei, banyak tukang survei, ” kata Djarot seperti tertulis dalam berita yang dirilis oleh detik.com ini.

Ada-ada saja pernyataan Djarot ini.

Cukup geli membaca pernyataan atau tanggapan Djarot yang mengatakan ‘tukang survei’ tadi. Pun ada ucapan Djarot selanjutnya seperti ini: “Masih terlalu dinilah, tukang survei itu kan banyak naik turun. Sudah enggak gubrislah”. Kesannya seperti orang yang tidak peduli sama sekali dengan hasil survei LSI tadi.

Tante Angie pun tersenyum, dan ia pun membayangkan tidak mudah untuk mengadakan sebuah survei, karena dibutuhkan tenaga, pikiran dan dana, tapi kata Djarot “enggak gubrislah”.

Mungkin Djarot sudah bosan dengan hasil-hasil survei terkait Pilkada DKI 2017. Sebentar elektabilitas Ahok turun, sebentar naik.

Ini elektabilitas atau harga saham sih?

Namun di sisi lain entah serius atau bercanda, pasangan Ahok di Pilkada DKI 2017 ini pun tak lupa mengucapkan terima kasih terkait hasil survei LSI tadi. “Tapi terima kasih. Ada pengetahuan baru. Enggak apa-apa lumayan gratis”.

Mendadak Tante Angie teringat sebuah Trik dan Problem Catur yang Sederhana terkait kata ‘gratis’ yang diucapkan oleh calon wakil gubernur Djarot tadi.

  • Hitam giliran melangkah. Meski hanya sekilas, tanpa melakukan survei pun bisa dilihat bahwa posisi buah catur putih riskan terkena serangan balik mengingat ‘garis persimpangan’ yang ada (warna kuning) dan petak lari Raja putih (lingkaran kuning).

  • Ada buah catur hitam yang diberikan secara gratis seperti kata Djarot tadi. Tapi buah catur hitam yang mana yang diberikan gratis?
  • Kd5-e3!

Gens Una Sumus.

Ilustrasi: liputan6.com


Tante Angie Gelisah dan Mendesah di Tengah Malam

Tante Angie Gelisah dan Mendesah di Tengah Malam

Adahati.com – Tante Angie gelisah dan mendesah di tengah malam. Suhu di ruang apartemennya terasa dingin, entah lantaran AC atau angin yang masuk lewat jendela. Namun kegelisahannya bukan karena suhu di ruang apartemen, melainkan berita-berita terkait politik yang sedang menjadi perbincangan masyarakat saat ini. Tante Angie pun prihatin dengan situasi dan kondisi yang kurang kondusif terkait Pilkada DKI 2017.

Kasus dugaan penistaan agama yang ditudingkan oleh sekelompok orang kepada Ahok memanaskan suasana dengan segala pro dan kontra. Banyak argumentasi yang saling bersilang dan berusaha meyakinkan publik bahwa opininya yang paling benar dan terkesan memaksakan kehendak saja.

Meski Ahok sudah dijadikan tersangka bukan berarti suhu politik menurun. Persoalan tempat sidang yang akan menggelar kasus dugaan penistaan agama pun menjadi polemik mengingat faktor keamanan yang ada. Seolah-olah situasi dan kondisi saat ini dibuat agar ribut terus, jauh dari kesan aman dan tenteram.

Belum usai Tante Angie gelisah dan mendesah, datang lagi berita tentang tertangkapnya ‘pengantin’ yang berniat meledakkan bom di depan Istana Merdeka. Entah sampai kapan masyarakat disuguhi berita pahit ini.

Tante Angie pun masih ingat Bom Bali yang menewaskan ratusan orang akibat ulah para teroris yang tidak bertanggungjawab.

Pusing kepala memikirkannya, tak heran Tante Angie gelisah dan resah di tengah malam. Ia pun ingin sejenak mengalihkan pikiran. Maka dari itu, tante Angie pun membuka situs-situs yang menyajikan trik dan problem catur yang sederhana.

Berikut ini salah satu contoh trik dan problem catur yang didapat tante Angie dari situs-situs yang menyajikan permainan catur yang dilihatnya tadi.

Hitam baru saja melakukan langkah Ba8-a1. Kini putih memikirkan langkah selanjutnya yang bisa menyelesaikan pertandingan ini secepatnya.

  • c2-c3 ……….. Bc8xBc4
  • Ke3xBc4 Ke6-c5?

Hitam telah melakukan sebuah kesalahan fatal atau blunder. Putih pun langsung menghukumnya lewat langkah yang sederhana seperti ini:

  • Kc4xe5!

Tujuannya Md1-d8+, jika hitam d6xKe5. Namun Kuda putih pun sedang mengancam Menteri hitam, dan tidak ada lagi ruang nafas bagi Menteri hitam.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar.


Sumbangan Kampanye Ahok-Djarot Mencapai Rp 27 Miliar?

Sumbangan Kampanye Ahok-Djarot Mencapai Rp 27 Miliar?

Adahati.com – Sumbangan kampanye dari masyarakat untuk pasangan gubernur Ahok-Djarot seperti diberitakan oleh liputan.com di sini telah mencapai Rp 27 miliar. Menurut pengakuan Ahok, ada temannya yang merasa heran. Untuk apa ia capek mengumpulkan uang sumbangan kampanye, karena temannya itu bersedia menyumbang Rp 30 miliar.

Namun Ahok menolak. Alasannya ia tidak ingin dimiliki oleh sekelompok atau orang tertentu saja. Ia pun ingin sumbangan kampanye dilakukan secara non tunai dan terbuka. Akar masalah negara ini adalah korupsi. Transparansi akan mengikis penyakit akut korupsi tadi.

Memang terdengar indah kata-kata yang diucapkan oleh para kandidat pada musim kampanye. Bukan hanya Ahok, begitu juga cagub lainnya, Agus dan Anies. Dari dulu pun sudah seperti itu. Mana ada tukang loak yang menjelek-jelekan barang dagangannya sendiri.

Pernyataan Ahok pernah menolak sumbangan Rp 30 miliar dari temannya tadi, siapa yang tahu? Itu kan hanya klaim sepihak. Mungkin saja tidak pernah ada kejadian seperti itu. Namun, rekam jejak (track record) seseorang bisa dijadikan acuan untuk menilai pernyataannya tadi.

Sebagai contoh, lahan parkir DKI merupakan ‘lahan basah’ atau gudang duit bagi para ‘mafia parkir’ selama bertahun-tahun. Ratusan miliar bahkan triliunan rupiah yang diraih oleh para ‘mafia parkir’ tadi selama periode jabatan seorang gubernur.

Seandainya Ahok bersedia ‘main mata’, uang Rp 30 miliar mudah masuk ke kantong pribadinya, namun Ahok justru menyatakan perang terhadap ‘mafia parkir’ tadi. Makanya seorang politikus yang selama ini menguasai lahan parkir DKI pun uring-uringan dan menyerang Ahok. Tadinya lahan parkir adalah ‘lahan basah’, tapi kini kering kerontang seperti tanah di musim kemarau panjang.

Baru dari satu lahan saja, tidak sedikit uang yang bisa dikantongi Ahok, seandainya ia bersedia ‘main mata’ dengan bandit atau para mafia tadi. Belum lagi dari lahan-lahan lainnya. Apalah artinya uang Rp 30 miliar itu?

Sumbangan kampanye Rp 27 miliar tidak seberapa untuk membiayai kampanye sebuah Pilkada. Masih sedikit jumlah uang Rp 27 miliar tadi, sedangkan Agus yang pensiunan Mayor saja, menurut KPU DKI jumlah hartanya lebih dari Rp 21 miliar.

Sumber gambar. 


Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Adahati.com – Ahok dinasihati oleh Jokowi, tapi bukan baru-baru ini kejadiannya, melainkan saat Ahok masih mendampingi Jokowi sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Menurut Ahok, Jokowi menasihatinya untuk lebih tenang dan tak perlu meledak-ledak, meski tahu ada yang keliru dalam sistem pemerintahan. “Selow, pelan-pelan,” ujar Ahok menirukan perkataan Jokowi.

Tidak dijelaskannya lebih lanjut, apakah selow atau pelan-pelannya seperti keong atau bukan.  Gubernur DKI Jakarta yang sedang cuti terkait Pilkada DKI 2017 ini terkesan kurang garang penampilannya sejak kasus dugaan penistaan agama merebak ke permukaan. Ahok mengakui, semua ini atas saran, nasihat, atau masukan dari berbagai pihak yang perhatian dan dekat dengannya. Di sisi lain Ahok pun mengakui bahwa karakternya memang keras, sering kesal melihat hal-hal yang tidak benar. Emosinya cepat meletup dan melabraknya.

“Ya karena karakter, kadang-kadang aku kesal juga sama orang-orang lihat situasinya (yang enggak benar) kesal aja. Dari pada kesal-kesal nahan-nahan jantungan, mendingan keluar. Tapi aku cepat lupa kok,” ujarnya sambil tersenyum simpul.

Perihal perubahan dirinya yang garang, kemudian cenderung menjadi lebih pendiam dan tenang ternyata sempat membuat istrinya, Veronica Tan tak mengenalinya lagi. Begitulah, Ahok yang tadinya garang bak seekor harimau, setelah menerima saran, nasihat atau masukan dari berbagai pihak menjadi cenderung  selow, pelan-pelan, pendiam dan tenang. Perubahan dirinya ini mungkin saja akan mengundang simpati dari sebagian pihak. Jempol, bagus, cakep dan sederet pujian lainnya.

Namun bisa juga sebagian pihak lainnya sebal karena kehilangan Ahok yang lugas dan bicara apa adanya. Apalagi kesannya seperti keong yang selow atau jalan pelan-pelan, sementara Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya sudah lama mengidap penyakit korupsi stadium tingkat tinggi perlu perubahan yang drastis dan cepat menuju ke arah yang lebih baik. Kapan selesainya kalau perubahannya berjalan seperti keong?

Nasihat sederhana lainnya yang mungkin lebih baik, bagus dan tepat untuk Ahok adalah nasihat lama seperti ini,  ‘be your self’, atau jadilah dirimu sendiri.

sumber berita: merdeka.com.


Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Adahati.com – Yusril Ihza Mahendra adalah Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) sebuah ‘partai gurem’ yang tidak satu pun kader PBB yang menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta. Saat ini Yusril Ihza Mahendra sedang rajin bersafari politik demi memuluskan niatnya yang ingin menjadi calon gubernur (cagub) pada Pilkada DKI 2017 nanti.

Ia pun rajin mengambil formulir pendaftaran cagub dari parpol-parpol, termasuk rajin mengisi dan mengembalikan formulir tersebut.

Berkaitan dengan hal ini ada sejumlah pihak yang menyindirnya, dan Yusril Ihza Mahendra menanggapi sindiran tadi seperti ini:

“Ketika saya jadi ketua partai, saya kan pertama kali mencalonkan SBY-JK. Jadi, bukan sesuatu yang aneh. Pak SBY dan JK juga datang ke saya saat itu. Hal seperti itu normal saja. Entah kenapa sekarang dianggap aneh.” (Kompas.com, 8/4/16).

Yusril pun mengatakan “Pak SBY dan JK juga datang ke saya saat itu”, tapi tidak disebutkannya apakah SBY dan JK pun mengambil formulir PBB, mengisi dan mengembalikannya. Juga mengingat SBY dan JK tidak pernah menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta, apakah contoh yang diberikan oleh Yusril tadi masih relevan?.

Sebelumnya Ahok mengatakan, “Ini pertama dalam sejarah ada ketua umum partai yang enggak dapat suara melamar ke partai lain. Seru juga!” katanya.

Yusril Ihza Mahendra mengatakan ‘aneh’, sementara Ahok bilang ‘seru’. Dua hal yang berbeda maknanya. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Biasa saja, atau normal jika ada orang yang merasa lucu, kemudian tertawa, apalagi sampai saat ini secara keseluruhan belum ada larangan untuk tertawa di muka umum.

Safari politik yang dilakukan Yusril Ihza Mahendra – termasuk rajin mengambil, mengisi dan mengembalikan formulir pendaftaran parpol-parpol tadi demi menjadi cagub pada Pilkada DKI 2017 – adalah sebuah perjuangan demi mencapai cita-cita yang cukup mulia, yaitu menuju kursi DKI satu.

Mungkin saja nanti ada yang mengusulkan supaya SBY membuat lagu yang berjudul ‘Perjuangan Yusril’, namun berhasil tidaknya perjuangan Yusril nanti, itu soal lain.

Sumber gambar. 


Presiden Jokowi Membebek, Benar atau Ngawur?

Presiden Jokowi Membebek, Benar atau Ngawur?

Presiden Jokowi Membebek, Benar atau Ngawur?

Adahati.com – Sebelumnya Fahri Hamzah melontarkan kritik kerasnya kepada Presiden Jokowi terkait kereta cepat Jakarta Bandung. Alon-alon asal kelakon, salah alamat, bukan kereta cepat, tapi kereta lambat adalah rangkuman dari kritik keras Fahri tadi di sini – Mainan Baru Presiden Jokowi Menurut Fahri Hamzah.

Ada lagi sebuah organisasi yang menamakan dirinya GPN (Gerakan Pemuda Nasantara) yang bersuara keras terkait kereta cepat Jakarta-Bandung itu. Kalau nama Fahri Hamzah cukup sering terdengar. Media massa pun tak sedikit yang mengutip pernyataan, komentar atau kritik pedasnya kepada pemerintah. Tapi kalau GPN tadi siapa? Sejak kapan terbentuk organisasinya?

Menurut pernyataan dari Sekjen DPP GPN tadi, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung antara lain seperti ini:

  • Penggunaan dana BUMN pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung itu akan sia-sia, selain kerugian yang akan timbul nantinya di kemudian hari.
  • Proyek tersebut dinilainya sebagai kebijakan yang diskriminatif, karena di luar Jawa, khususnya Indonesia bagian timur pembangunannya masih jauh tertinggal.
  • Curiga proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menjadi pengumpulan “pundi-pundi” persiapan agenda politik 2019.

Namun pernyataannya yang membuat tercenung adalah, “Siapa sebenarnya Rini Soemarno sampai Jokowi bertekuk lutut dan membebek tanpa reservasi?” (*).

Membebek? Presiden Jokowi membebek? Kasarkah kata “membebek” yang diucapkan oleh Sekjen DPP GPN tadi? Bisa kasar, bisa juga tidak atau biasa saja.

Ahok ngomong “bajingan” pun tidak semua pihak menganggapnya kasar. Justru tidak sedikit pihak yang mendukungnya. Memang pantas kalau koruptor atau orang-orang yang brengsek itu disebut bajingan. Malah ada sebagian pihak yang merasa kecewa karena Ahok sudah tidak pernah lagi atau sudah cukup lama tidak menyebut kata “bakingan” yang aduhai tadi karena ada alasannya.

Kalau alasan Sekjen DPP GPN melontarkan kata “Presiden Jokowi membebek” tadi? Rupanya ia heran, karena menurutnya Presiden Jokowi mengikuti saja setiap kemauan Menteri BUMN Rini Soemarno. Tapi benarkah Presiden Jokowi membebek?

Kalau tidak benar, berarti tuduhannya tidak beralasan, asbun (asal bunyi) atau ngawur.

*Sumber gambar: youtube.com.


Penjelasan Haji Lulung Mudah Dipahami atau Sebaliknya?

Penjelasan Haji Lulung Mudah Dipahami atau Sebaliknya?

Penjelasan Haji Lulung Mudah Dipahami atau Sebaliknya?

Adahati.com – Setelah mediasi antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan anggota DPRD yang diprakarsai oleh Kementerian Dalam Negeri yang berakhir ricuh itu, pagar “SaveHajiLulung” pun mendunia.

Bukan empati, melainkan cenderung mengolok-olok Haji Lulung. Berkait hal ini Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Haji Lulung (Abraham Lunggana) memberikan penjelasan atau keterangan di sini yang secara garis besarnya sebagai berikut:

  • Haji Lulung tidak memiliki akun Twitter (termasuk Whatsapp).
  • Dibilang staffnya jangan jadul, Haji Lulung tidak peduli, cuek saja.
  • Karena tidak memiliki akun Twitter, Haji Lulung pun berandai-andai.
  • Kalau pagar itu redaksionalnya memuji, terima kasih. Pun kalau pagar itu redaksionalnya membully atau mengolok-olok, terima kasih.

Jika semua keterangan atau penjelasan Haji Lulung di atas tadi memang benar adanya, cukup mengesankan juga. Ditengarai banyak pihak yang berasumsi pagar “SaveHajiLulung” telah mempermalukan Wakil Ketua DPRD Jakarta ini, tapi ternyata asumsi itu salah, keliru atau tidak benar sama sekali.

Bagaimana bisa mempermalukan seseorang yang dirinya merasa tidak tahu? Bukan penjelasan Haji Lulung di atas tadi menyebutkan dirinya tidak tahu karena ia tidak memiliki akun Twitter dan Whatsapp? Memang bisa saja ada orang atau pihak lain yang memiliki akun Twitter dan Whatsapp memberitahukan Haji Lulung, tapi pengetahuan yang didapatnya bukan secara langsung.

Selain itu segala informasi yang datang dari orang atau pihak lain perlu disaring terlebih dahulu, apakah informasinya benar atau menyesatkan, dan hal ini butuh waktu. Saat ini menurut penjelasan Haji Lulung dia tidak tahu.

Pada situasi dan kondisi tertentu, “Saya Tidak Tahu” ini cukup menggembirakan. Biar saja orang lain mau bilang apa, entah berkontasi positif maupun negatif tidak memiliki pengaruh selama orang tersebut tidak tahu.

Ada kemungkinan penjelasan Haji Lulung bahwa ia tidak tahu pagar “#SaveHajiLulung” yang cenderung mengolok-olok dirinya itu karena tidak memiliki akun Twitter dan Whatsapp adalah bohong atau tidak benar seperti itu?

Kemungkinan itu ada, tapi siapa yang bisa membuktikannya?

Sumber gambar youtube.com.