Presiden Jokowi Lebih Baik dari Mantan Presiden SBY

 The Lohmenz Institute
Presiden Jokowi Lebih Baik
Presiden Jokowi dan SBY

Adahati.com – Presiden Jokowi lebih baik dari mantan presiden SBY. Pernyataan ini bisa saja membuat sebagian pihak merasa tidak senang, sebagian pihak lainnya dengan antusias mengamini pernyataan tersebut, dan sebagian pihak lagi bingung!

Mereka yang tidak senang mungkin pengagum SBY yang terkenal dengan kata “prihatin” itu, atau sebagian pihak yang selama ini memang anti Jokowi, sedangkan yang mengamini pernyataan Presiden Jokowi lebih baik dari SBY diperkirakan mereka yang menilai SBY tidak melakukan apa-apa selama 10 tahun, dan SBY hanya pintar memainkan politik “playing the victim” sehingga wajar saja Jokowi lebih baik.

Sementara sebagian pihak lainnya yang bingung bertanya. Bagaimana ceritanya Presiden Jokowi lebih baik dari SBY? Bukankah SBY pernah menjabat presiden selama dua periode, sedangkan Presiden Jokowi baru sekitar 3 tahun? Apa alasannya?

Di bawah ini ada sebuah kesimpulan atau pernyataan dari seorang politikus Partai Hanura serta memberikan alasannya mengapa Presiden Jokowi lebih baik dari SBY.

Wakil Sekjen Hanura Tri Dianto bersyukur dana partai politik (parpol) dinaikkan oleh pemerintahan Presiden Jokowi hingga 10 kali lipat. Parpol yang sebelumnya hanya menerima Rp 108 per suara sah kini menjadi Rp 1.000 per suara sah.

Sebenarnya dana yang Rp 1.000 per suara sah tadi belum cukup untuk menunjang kebutuhan dan operasional parpol. “Tapi tetap Alhamdulillah, karena lebih baik daripada zaman Presiden SBY,” kata politikus Hanura tadi di sini.

Sekadar keterangan tambahan, keputusan kenaikan dari Rp 108 menjadi Rp 1000 per suara sah tadi tertuang dalam Surat Menteri Keuangan Nomor 277/MK.02/2017 tanggal 29 Maret 2017.  Alokasi dananya diambil dari APBN dan telah melalui kajian, sedangkan hasil kajian dari KPK menyebut dana partai idealnya Rp1.071 per suara sah.

Demikianlah dasar atau alasan politikus Partai Hanura tadi mengatakan pemerintahan Presiden Jokowi lebih baik dari SBY, namun di sisi lain ada dua potensi lucu di sini.

Pertama, jika kenaikan dana parpol tadi tidak diimbangi dengan kualitas otak para kader-kader parpol yang duduk di DPR, ya percuma saja. Contoh, ada Anggota Dewan yang mengatakan ekonomi sedang sulit saat ini, tapi Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR tetap optimis anggaran dewan untuk RAPBN 2018 yang tadinya disepakati sebesar Rp 5,7 triliun dapat disesuaikan kembali menjadi Rp 7,2 triliun.

Katanya ekonomi sedang sulit, tapi kesannya enteng saja minta naik anggaran sebesar Rp 1,5 triliun dari kesepakatan yang ada sebelumnya.

Potensi lucu yang kedua adalah politikus Partai Hanura yang mengatakan pemerintahan Presiden Jokowi lebih baik dari SBY tadi ternyata dulunya kader Partai Demokrat.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji isu-isu lucu serta berpotensi lucu lainnya terkait pernyataan para politikus untuk kembali dibahas nantinya.

Sumber gambar.