Benarkah Prabowo Sedang Berada di Persimpangan Jalan?

Adahati.com – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto terkesan kurang tegas saat menanggapi wacana politik kocak “Prabowo Cawapres Jokowi”.

Wacana politik kocak ala Srimulat atau sindiran politik tadi belakangan ini semakin kencang dihembuskan oleh politikus atau pihak-pihak yang cenderung mendukung Jokowi untuk menjabat presiden periode berikutnya.

Selain terkesan kurang tegas atau menolak wacana dirinya dijadikan cawapres Jokowi, Prabowo pun cenderung melontarkan “kata-kata standar” atau perbaba (pernyataan basa-basi). “Saya katakan, tentunya saya adalah mandataris partai. Jadi ya kita akan mendengarkan suara partai,” ujarnya di sini.

Menurut pengakuannya, ia terlebih dahulu akan meminta masukan dari sahabat dan kerabat sebelum mengambil keputusan untuk maju pada Pilpres 2019, tapi apapun keputusan yang akan diambilnya nanti semata-mata untuk kepentingan rakyat dan negara. “Yang terbaik untuk rakyat itu yang akan kita lakukan,” ujarnya.

Kembali sebuah pernyataan yang cenderung perbaba. Entahlah, ada atau tidak sebagian pihak yang terharu, air matanya jatuh berlinang dan bercucuran setelah mendengar pernyataan Prabowo yang cenderung perbaba tadi.

Berbeda dengan pernyataan Fadli Zon yang secara tegas menolak wacana politik kocak ala Srimulat tadi. Menurut Fadli Zon sudah merupakan harga mati Prabowo jadi capres, bukan cawapres. “Ya (harga mati), jadi calon presiden lah,” katanya.

Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang heran dan bertanya seperti ini:

  • Ada apa dengan Prabowo? Mengapa ia tidak tegas menolak wacana politik kocak ala Srimulat itu?
  • Benarkah Prabowo mulai bimbang dan ragu untuk maju sebagai capres mengingat elektabilitasnya masih jauh di bawah elektabilitas Presiden Jokowi?
  • Selain itu parpol-parpol yang ingin diajak berkoalisi dengan Partai Gerindra dan mengusungnya sebagai capres pun belum jelas sampai saat ini?
  • Jika dipaksakan maju dan menantang Jokowi kemungkinan besar akan kalah? Daripada kalah untuk yang kedua kalinya lebih baik jadi wakil presiden saja yang sudah pasti ada di tangan? Bukankah menjadi wakil presiden pun bisa melakukan hal yang terbaik bagi rakyat, negara, nusa, dan bangsa?

Sejumlah pertanyaan lainnya mungkin masih ada di benak mereka yang heran dengan tanggapan Prabowo yang terkesan kurang tegas, tidak langsung menolak seperti halnya Fadli Zon terkait wacana politik kocak ala Srimulat “Prabowo Cawapres Jokowi”.

Namun di sisi lain, perlu diingat juga bahwa politik tak jauh dari trik atau taktik. Di depan mungkin terlihat lemah, bimbang, dan ragu, atau seperti sedang berada di persimpangan jalan, tapi sebenarnya sedang menyusun kekuatan, strategi dan taktik politik yang diperlukan untuk Pilpres 2019 nanti.

Apakah bulan Maret ini, atau paling lambat pertengahan Mei nanti akan ada pengumuman secara resmi atau deklarasi Prabowo capres 2019?

Category: The Lohmenz InstituteTags: