Pertemuan SBY dan Prabowo Hanya Lelucon Politik?

 Politik
SBY dan Prabowo
SBY dan Prabowo

Adahati.com – SBY dan Prabowo diberitakan mengadakan pertemuan di Puri Cikeas, Bogor (27/7/2017). Menurut pengakuan SBY pertemuannya dengan Prabowo terkait Undang Undang Pemilu yang telah disahkan oleh DPR beberapa hari sebelumnya.

Entah apa menariknya pertemuan antara SBY dan Prabowo ini, namun tidak sedikit media massa yang meliputnya. Di sisi lain tak bisa juga disalahkan jika ada sebagian pihak lainnya justru terlihat antusias, kemudian memberikan analisis politiknya terkait pertemuan antara dua ketua umum partai politik ini.

Ada anekdot yang mengatakan bahwa politisi itu seperti pelawak saja, bahkan lawakannya lebih lucu. Jika seorang pelawak yang baik harus berpikir keras untuk mencari bahan lawakan dan melontarkan lawakannya, seorang politisi tak perlu harus seperti itu. Hanya melontarkan sebuah kata, misalnya “prihatin” atau “bocor” saja sudah lucu.

Bagi mereka yang sejak awal tidak tertarik dengan pertemuan antara SBY dan Prabowo cenderung mengatakan bahwa kedua ketua umum parpol ini sedang melakukan lelucon politik tingkat rendah. Menurut KBBI online, arti kata “lelucon” adalah hasil melucu, tindak (perkataan) yang lucu, penggeli hati, percakapan yang jenaka.

Seusai melakukan “percakapan yang jenaka”, di depan konferensi pers SBY menyatakan Partai Demokrat dan Partai Gerindra sepakat untuk mengawal pemerintahan sekarang tanpa harus berkoalisi, juga pengawalan pada gerakan moral yakni mengawal kebijakan penyelenggara negara. Jika kepentingan rakyat diciderai, kedua partai sepakat untuk mengingatkan serta mengoreksi pemerintah.

Terharu? Karena ada disebut “gerakan moral” dan “kepentingan rakyat”?

Prabowo pun tak kalah jenakanya terkait presidential threshold bahwa partai atau gabungan partai baru bisa mengajukan calon presiden-calon wakil presiden jika memperoleh 20 persen kursi parlemen atau 25 persen suara nasional. “Presidential threshold 20 persen, menurut kami, adalah lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia,” ujar Prabowo.

Air mata pun jatuh berlinang karena disebutnya “rakyat Indonesia”?

Jika menyimak pernyataan-pernyataan politisi sebelumnya memang sering digunakan kata “rakyat” ini. Demi kepentingan rakyat, atas nama rakyat, rakyat adalah segala-galanya, tanpa rakyat kami bukan siapa-siapa, apalah artinya kami ini tanpa dukungan rakyat, dan seterusnya. Boleh dibilang semua pernyataan tadi hanya lelucon politik tingkat rendah.

Namun pendapat sebagian pihak yang mengatakan pertemuan antara SBY dan Prabowo tadi hanya lelucon politik tingkat rendah tidak serta merta harus setuju.

Menganggapnya sebagai sebuah pertemuan yang penting juga boleh. Atau hanya sebuah pertemuan biasa seperti kata SBY pun boleh.

Boleh-boleh saja.

Sumber berita: kompas.com