Partai Politik SBY Tidak Digandeng oleh PDIP

 Politik
Partai politik SBY
SBY

Adahati.com – Pilkada DKI 2017 putaran pertama sudah berakhir, dan menurut perhitungan sementara KPU DKI perolehan suara pasangan cagub Agus-Sylvi yang diusung oleh partai politik SBY paling sedikit dibanding lainnya, namun di sisi lain tersingkirnya Agus-Sylvi tadi menimbulkan hal yang cukup menarik.

Partai Demokrat adalah pendukung utama Agus-Sylvi. Sekitar 17% hasil perolehan suaranya pada putaran pertama Pilkada DKI 2017 ibarat “anggur manis” yang diperebutkan oleh Ahok-Djarot dan Anies Baswedan. Manuver politik pun dimulai. Timbul suara yang mengklaim bahwa SBY dan Agus Yudhoyono telah memberikan restu untuk mendukung pasangan cagub Anies-Sandiaga, tapi dibantah oleh Agus Yudhoyono.

Tapi mengapa partai politik Megawati, yaitu PDIP tidak tertarik dengan “anggur manis”tadi? Apa alasannya tidak ingin menggandeng partai politik SBY? Menurut Wasekjen PDIP Ahmad Basarah, sikap politik Demokrat secara nasional selama ini adalah partai penyeimbang sehingga tidak akan mendukung pasangan cagub Ahok-Djarot. “Sebagai partai penyeimbang tentu logika politik tentu terkait putaran kedua ini Demokrat akan mengambil posisi sebagai penyeimbang,” katanya.

Secara tidak langsung ia ingin mengatakan hal yang sama berlaku juga untuk Anies-Sandiaga, atau partai politik SBY tidak akan mendukung kedua pasangan cagub tadi. Frasa “partai penyeimbang” ini menjadi semacam brand partai politik SBY, dan sebagian pihak mengatakan  “politik bermuka dua” atau “politik dua kaki”.

Tapi walau mengklaim sebagai “partai penyeimbang” diduga kuat partai politik SBY ini lebih condong mendukung Anies-Sandiaga, seperti Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 lalu. Makanya tidak terlalu mengherankan jika PDIP tidak ingin menggandeng partai politik SBY. Sikap Megawati pun selama ini sudah jelas tersirat seperti itu.

Pertimbangan lainnya, meski partai politik SBY dan Agus Yudhoyono menghimbau para pemilihnya untuk mengalihkan suaranya kepada salah satu pasangan cagub belum tentu signifikan hasilnya mengingat perilaku politik masyarakat Jakarta yang pragmatis , atau tergantung situasi dan kondisi politik yang ada.

Di sisi lain “tidak ada makan siang gratis”. Apa yang diberikan pasangan cagub yang ingin mendapat “anggur manis” tadi? Terlalu berharap pun, apalagi sampai memelas seperti pengemis hanya akan menaikkan posisi partai politik SBY saja.

Sumber gambar, sumber berita: merdeka.com.