Ada Apa dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo?

 Politik
Panglima TNI Gatot Nurmantyo
Panglima TNI Gatot Nurmantyo

Adahati.com – Panglima TNI Gatot Nurmantyo dituding oleh beberapa pihak sedang melakukan manuver politik terkait pernyataannya belakangan ini.

Tudingan dari beberapa pihak tadi antara lain mengarah atau dikaitkan dengan:

Pertama, Panglima TNI Gatot Nurmantyo akan pensiun bulan Maret 2018, makanya ia melakukan manuver politik agar Presiden Jokowi memperpanjang masa jabatannya.

Kedua, Panglima TNI Gatot Nurmantyo ingin maju sebagai salah satu capres/cawapres pada Pilpres 2019 nanti – sila simak di sini: Cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019

Sebagian pihak ada yang mengatakan lucu manuver politik Panglima TNI Gatot Nurmantyo tadi, tapi ada juga yang mengatakan telah melewati batas.

“Kita semua perlu lebih tenang dan menjaga jarak dari manuver-manuver politik yang sudah menabrak batas kepatutan maupun Undang-undang. Contohnya, manuver politik Panglima TNI Gatot Nurmantyo,” kata Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik di sini.

Pengamat Pertahanan Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie mengatakan, “Dalam harapan saya, stop lah Panglima TNI itu menggunakan baju seragam Panglima TNI membuat chaos semacam ini. Dia senang sekali menggunakan drama politik.”

Atas tudingan tadi, Panglima TNI Gatot Nurmantyo sudah membantahnya. Hal yang biasa, jangankan Panglima TNI, siapapun kalau dituding yang berkonotasi negatif kemungkinan besar akan mengeluarkan bantahan.

Apanya yang lucu? Tidak ada yang lucu di sini, atau sudah biasa hal seperti itu.

Terkait isu ada institusi nonmiliter membeli 5000 pucuk senjata yang menjadi polemik belakangan ini, Panglima TNI Gatot Nurmantyo antara lain mengatakan bahwa informasi tersebut bukan didapatnya dari intelejen. “Pernyataan saya pas acara purnawirawan itu bukan informasi intelijen,” katanya di sini.

Lalu, dari siapa informasinya? Panglima TNI Gatot Nurmantyo tidak menyebutnya. Ketika dipanggil Presiden Jokowi untuk diminta klarifikasi atas pernyataannya terkait adanya institusi nonmiliter yang membeli 5000 pucuk senjata, ia mengatakan, “Yang saya sampaikan adalah informasi intelijen. Maka hanya Presiden yang boleh tahu.”

Mungkin ada sebagian pihak yang merasa bingung.

Pertama, Panglima TNI Gatot Nurmantyo bisa salah juga, makanya ia meralat pernyataannya, bahwa informasi yang didapatnya bukan dari intelejen terkait adanya institusi nonmiliter yang membeli 5000 pucuk senjata.

Kedua, informasi intelejen hanya presiden yang boleh tahu, mengapa tidak dikatakannya sebelum diminta klarifikasi oleh atasannya, yaitu Presiden Jokowi?

Jika menengok ke belakang, sempat diberitakan kabinet Jokowi kurang terkoordinasi dengan baik karena pembantu-pembantunya sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan sendiri dan akhirnya menjadi polemik. Namun, jika hal ini kembali terulang, bukan berarti lucu.

Begitu pun adanya pernyataan-pernyataan Panglima TNI Gatot Nurmantyo belakangan ini yang dituding oleh sebagian pihak sedang melakukan manuver politik, bukan berarti lucu, atau ada yang lucu.

Jika masa pensiun Panglima TNI Gatot Nurmantyo tidak diperpanjang oleh Presiden Jokowi pun bukan sesuatu yang lucu. Nama Gatot Nurmantyo tidak termasuk salah satu capres/cawapres di Pilpres 2019 nanti pun bukan sesuatu yang lucu. Biasa saja, tidak ada yang lucu atau semakin lucu di sini.

Sumber gambar.