Jasa Jokowi dan Ahok Memangnya Seperti Apa?

 Politik
Jasa Jokowi dan Ahok
Jasa Jokowi dan Ahok, Memangnya Seperti Apa Jasanya?

Adahati.com – Memangnya apa jasa Jokowi dan Ahok? Menurut Djarot, di bawah kepemimpinan Jokowi, Ahok dan dirinya telah menghasilkan tidak hanya bangunan fisik, tapi juga sistem nilai, dan ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) sebagai wadah bagi warga untuk membangun toleransi.

Dari pernyataan Djarot di atas tadi jelas menunjukkan keterkaitan nama Jokowi dan Ahok saat mereka masih menjabat gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Sebelum Jokowi menjabat presiden RI, ia adalah gubernur DKI jakarta. Namun ada juga sebagian pihak yang menilai Jokowi hokinya besar bisa menjadi presiden.

Hoki atau keberuntungan itu merujuk pada sosok Jokowi yang sebelumnya bukan siapa-siapa, yaitu berawal dari Wali Kota Solo yang tidak atau belum dikenal oleh sebagian besar rakyat Indonesia, namun berkat “promosi” yang bagus dan tepat, dari seorang Wali Kota sebuah kota kecil bisa menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan tak lama kemudian menjabat Presiden RI.

Jika Jokowi hokinya gede, sementara Ahok apes banget!

Diperkirakan bersama Djarot mudah memenangkan Pilkada DKI 2017, tapi gara-gara keseleo lidah di Kepulauan Seribu, bukannya jadi gubernur lagi malah dibui.

Terlepas Jokowi hokinya gede dan Ahok nasibnya apes banget menurut sebagian pihak tadi, tapi jasa Jokowi dan Ahok yang pernah menjadi orang penting di Jakarta ini, apakah benar seperti penuturan Djarot di atas tadi?

Tidak hanya menghasilkan bangunan fisik, tapi juga sistem nilai? Maksudnya “sistem nilai” seperti apa? Tidak ada penjelasan lebih lanjut dari Djarot maupun media massa yang mengutip pernyataannya itu. Jika ada asumsi yang mengatakan sudah banyak pihak yang tahu arti dan maksud “sistem nilai” yang dikatakan Djarot tadi, asumsi itu bisa saja salah atau keliru.

Mengenai RPTRA sebagai wadah bagi warga untuk membangun toleransi, hal ini masih bisa diperdebatkan atau butuh waktu pengujian lebih lama. Tidak cukup hanya beberapa tahun saja setelah RPTRA itu selesai dibangun.

Djarot pun mengatakan agar masyarakat tidak terus berpolemik terkait kasus penistaan agama yang dialami oleh Ahok yang kini ditahan di Mako Brimob.

“Keadilan datang belakangan, termasuk juga kebenaran datang belakangan. Termasuk juga penyesalan datang belakangan. Mari kita tunggu apakah penyesalan atau keadilan yang datang pada warga,” kata Djarot di sini.

Bisa saja pernyataan Djarot tadi dianggap lucu oleh sebagian pihak.

Alasannya antara lain, kalau memang ada ketidakadilan, mengapa tidak terus diperjuangkan, bukannya malah terkesan pasrah? Jika karena perjuangan tadi timbul polemik, mengapa harus khawatir terus berpolemik?

Rupanya seorang Djarot lebih senang menunggu.

Sumber gambar youtube.com.