Gatot Nurmantyo Sudah Sewajarnya Harus Diganti

 The Lohmenz Institute
Gatot Nurmantyo
Gatot Nurmantyo

Adahati.com – Panglima TNI Gatot Nurmantyo akan pensiun bulan April 2018, dan menurut berita yang sedang hangat saat ini akan diganti oleh Marsekal Hadi Tjahjanto.

Komisi I DPR pun telah meminta Marsekal Hadi Tjahjanto untuk segera menyiapkan diri menghadapi uji kelayakan dan kepatutan calon panglima TNI.

“Pak Hadi sebagai KSAU sudah harus menyiapkan diri untuk ikut uji kelayakan,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin di sini.

Mengapa Gatot Nurmantyo tidak diperpanjang masa pensiunnya? Begitu antara lain tanya sebagian pihak yang menyayangkan atau merasa seharusnya Gatot Nurmantyo tak perlu diganti, setidak-tidaknya hingga Pemilu 2019.

Apakah belakangan ini Gatot Nurmantyo dianggap senang berpolitik praktis? Atau Gatot Nurmantyo bernafsu ingin jadi presiden? Diperkirakan akan menjadi capres pada Pemilu 2019 nanti? Bukankah kalau hal ini menjadi kenyataan dan menang, artinya Gatot Nurmantyo mengulangi prestasi Anies Baswedan?

Anies Baswedan ditendang dari kabinet, dan maju Pilkada DKI 2017, sekarang jadi Gubernur DKI. Gatot Nurmantyo bisa saja mengulangi prestasi Anies tadi, malah bukan hanya menjadi gubernur tapi presiden. Artinya Jokowi dua kali melakukan blunder?

Halah…segala macam ilmu cocoklogi dibawa-bawa.

Gatot Nurmantyo memang sudah sewajarnya harus diganti, atau tidak diperpanjang masa pensiunannya karena begitulah keinginan presiden. Sama halnya mengapa hanya Hadi Tjahjanto yang diajukan sebagai penggantinya atau calon tunggal. Presiden maunya seperti itu, dan tidak melanggar Undang Undang yang ada.

Kalau presiden mau ganti Panglima TNI di tengah jalan pun mau apa? Itu hak prerogratif presiden kok. Akan ada implikasi politik yang cenderung negatif atau merugikan Presiden Jokowi nantinya?

Anggaplah memang benar rugi, tapi hari kan masih panjang, dan masih terbuka kesempatan yang lebar bagi Presiden Jokowi untuk mencari untung.

Hari ini rugi, besok untung, lusa untung banget, sudah biasa.

Jika sejenak menengok ke belakang, seharusnya tidak perlu bingung dan bertanya. Presiden Jokowi cenderung tidak suka dengan “orang yang berisik”. Rizal Ramli dan Sudirman Said contohnya. Tiada maaf bagi “orang yang berisik”.

Mengapa tidakkah kau maafkan
Mengapa kubertanya
Mengapa tiada maaf darimu

Ada Yuni Shara?

*Sumber gambar: youtube.com.