Ganti Presiden, Asal Jangan Prabowo dan Gatot?

0 753

Adahati.com – Ganti presiden? Boleh saja sebagian pihak mengatakan atau menginginkan hal seperti itu, sama halnya dengan sebagian pihak lainnya yang tidak menginginkan adanya pergantian presiden dengan pertimbangan negara ini akan kembali mundur secara politik dan ekonomi karena para calon potensial pengganti presiden yang ada sekarang ini kemungkinan besar tidak akan lebih baik nantinya.

Presiden Jokowi melontarkan lelucon politik terkait frasa ganti presiden tadi dengan mengatakan masak kaos bisa ganti presiden. Tapi masih ada kata-kata tambahannya, yaitu yang bisa melakukan pergantian presiden adalah rakyat.

Lelucon politik ganti presiden tadi dibalas oleh seorang ketua umum “partai gurem” Yusril Ihza Mahendra dengan lelucon politik lainnya. Masak baju kotak-kotak bisa jadi presiden, mengacu pada bagian kampanye politik Jokowi pada Pilpres 2014 lalu.

Yusril Ihza Mahendra pun terkait frasa ganti presiden tadi mengatakan: “Aspirasi orang ya boleh-boleh saja. Kalau misal dikatakan ada orang bikin kaus #2019GantiPresiden ya sah saja. Aspirasi nggak bisa dihalang-halangi,” ujarnya di sini.

Presiden Jokowi mengatakan yang bisa ganti presiden adalah rakyat, sedangkan Yusril Ihza Mahendra mengatakan sah saja kalau ada orang yang bikin kaos ganti presiden karena hal itu merupakan aspirasi masyarakat.

Pertanyaannya, apakah masih banyak pihak-pihak yang merasa terharu? Air matanya jatuh berlinang dan bercucuran setelah mendengar ungkapan yang bisa menggantikan presiden adalah rakyat, pakai kaos ganti presiden adalah aspirasi masyarakat?

Jika masih ada pihak-pihak yang merasa terharu dan air matanya pun jatuh berlinang serta bercucuran, tidak tertutup kemungkinan lebih banyak lagi pihak-pihak yang merasa heran. Kok begitu saja terharu? Bukankah yang namanya aspirasi rakyat atau aspirasi masyarakat itu sudah ada sejak “zaman kuda gigit besi”?

Pernyataan seperti anti pihak asing, asing sudah menguasai ekonomi, rakyat jadi susah karena pihak asing, bukankah pernyataan seperti ini pun sudah ada sejak “zaman kuda gigit besi”? Meski di sisi lain terpingkal-pingkal karena ada yang yakin dengan pendapat pihak asing, negeri ini akan bubar beberapa tahun lagi.

Tapi itulah lelucon politik.

Jadi, ganti presiden itu boleh saja, asal jangan Prabowo dan Gatot Nurmantyo, itu pun dengan catatan seandainya mereka maju Pilpres 2019.

Apa alasannya? Alasan ini dan alasan itu bisa dicari, tapi kalau sudah merupakan aspirasi rakyat atau aspirasi masyarakat, mau bilang apa?

Makanya, jangan mudah terharu, ketawa aja.

Category: Politic, The Lohmenz InstituteTags: