Category: Politic

Pernyataan Kapolri Tito Karnavian dan Kelompok Saracen

Pernyataan Kapolri Tito Karnavian dan Kelompok Saracen

Adahati.com – Kapolri Tito Karnavian angkat bicara terkait kelompok Saracen yang menurut berita yang ada telah ditangkap ketua dan beberapa anggotanya.

Kelompok Saracen adalah kelompok yang menyebarkan konten ujaran kebencian dan berbau SARA di media sosial sesuai pesanan. Sekali pesan tarifnya lumayan besar, yaitu Rp 72 juta, sudah termasuk untuk pembuatan website Rp 15 juta dan membayar 15 buzzer Rp 45 juta/bulan, serta “jatah preman” sang ketua sebesar Rp 10 juta.

Entah seperti apa websitenya hingga dihargai sampai Rp 15 juta. Mungkin canggih sekali, padahal hanya untuk menyebar konten ujaran kebencian. Namun terlepas dari itu semua yang penting pemesan bersedia membayarnya.

Gaji 15 buzzer sebesar Rp 45 juta/bulan atau Rp 3 juta/buzzer/bulan pun terkesan berlebihan. Mosok hitungan hariannya setiap buzzer dibayar Rp 100 ribu? Boleh dibilang ada yang hidup makmur di kelompok Saracen itu setiap kali ada pemesanan.

Presiden Jokowi sudah menginstruksikan Kapolri Tito Karnavian untuk mengusut tuntas kasus kelompok Saracen ini karena ulahnya menyebarkan ujaran kebencian dan SARA sangat mengerikan. Maka dari itu harus dituntaskan kasus ini hingga ke akar-akarnya.

Tanggapan dari Kapolri Tito Karnavian?

“Saya sampaikan tangkap-tangkapin saja. Yang mesan, tangkapin. Yang danain, tangkapin. Ada lagi sejenis dengan itu, tangkapin,” ujarnya di sini.

Ya memang, tangkap saja kalau sudah ada bukti yang cukup. Tunggu apa lagi? Mosok harus tunggu perintah dari Kapolri Tito Karnavian? Ada apa sih sebenarnya? Mungkin saja ada sebagian pihak yang merasa heran dan bertanya seperti itu.

Sementara saat ini sudah tersebar isu-isu yang tidak sedap, antara lain ada pemesan ujaran kebencian kepada kelompok Saracen tadi memiliki hubungan yang cukup dekat dengan petinggi parpol tertentu. Isu ini bisa diketahui benar atau tidaknya setelah para pemesan itu ditangkap. Jelas, kalau sudah jelas bukan isu lagi namanya.

Namun ada pernyataan Kapolri Tito Karnavian yang cukup mengherankan. Menurutnya tak mudah menelusuri siapa saja yang terlibat dalam aktivitas kelompok Saracen itu.

“Karena mereka mainnya di cyber space. Maka kita melacaknya juga di cyber space, bukannya di lapangan,” katanya.

Mosok sih tim cyber dari pihak kepolisian kalah canggih dibanding kelompok Saracen sehingga tidak bisa atau sulit melacak, termasuk siapa saja para pemesannya?

Pihak kepolisian pun telah menangkap 4 orang dari kelompok Saracen. Setelah diinterogasi bisa terungkap siapa saja para pemesan itu. Kecil kemungkinannya 4 orang tadi tutup mulut sampai mati seperti dalam film mafia The Godfather atau lainnya. Dengan kata lain cepat atau lambat bakalan “nyanyi” juga.

Seandainya pun sang pemesan tidak bodoh, yaitu tidak melakukan pembayaran lewat transfer, apalagi atas nama rekening sendiri, sepertinya tidak terlalu sulit bagi pihak kepolisian untuk mengungkap tuntas kasus kelompok Saracen ini.

Jangan-jangan perkataan Kapolri Tito Karnavian tadi – tak mudah menelusuri siapa saja yang terlibat – sekadar trik belaka? Dengan tujuan antara lain membuat para pemesan merasa nyaman dan lengah? Atau pihak kepolisian sedang menunggu bukti yang sudah cukup menjadi lebih dari cukup, atau bukti yang ada pun sudah kuat dan meyakinkan?

Sepertinya para pemesan ujaran kebencian dan berbau SARA kepada kelompok Saracen hanya tinggal menghitung hari saja untuk ditangkap oleh pihak kepolisian.

Sumber berita.


Donald Trump Frustrasi, Rusia dan China pun Tertawa

Donald Trump Frustrasi, Rusia dan China pun Tertawa

Adahati.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump frustrasi, dan dunia sedang menunggu aksi atau keputusan politik yang akan diambilnya terhadap Kim Jong Un dan Korea Utara.

Beberapa hari lalu (29/8/17) rudal Hwasong-12 berhasil diluncurkan oleh Korea Utara melewati Pulau Hokkaido, Jepang dan jatuh di Samudera Pasifik. Hanya “rudal kosong”, tapi pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un menyambut gembira keberhasilan peluncuran rudal balistik tadi, sementara Donald Trump frustrasi, belum tahu apa yang mesti ia lakukan terhadap Kim Jong Un yang bangor (keras kepala) ini.

Meski Donald Trump frustrasi, tapi ia tidak terlalu khawatir karena Korea Utara hanya berhasil meluncurkan “rudal kosong” saja. Dunia kembali dikejutkan oleh sebuah ledakan yang terjadi kemarin (3/9/17) di lokasi berjarak 22 kilometer dari Sungjibaegam, Korea Utara. Tak lama kemudian Korea Utara mengumumkan keberhasilannya membuat Bom H (Hidrogen) berdaya 100 Kiloton atau lima kali lebih dahsyat dari bom nuklir yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Nagasaki pada Perang Dunia kedua lalu.

Donald Trump frustrasi lagi atau tambah frustrasinya mengingat Bom H tadi bisa dimasukkan ke dalam rudal balistik Korea Utara, artinya rudal Hwasong-12 bukan lagi sekadar “rudal kosong”, tapi sewaktu-waktu bisa berisi Bom H.

Senjata mengerikan berada di tangan orang bangor seperti Kim Jong Un? Wajar Donald Trump frustrasi mengingat pemimpin Korea Utara tadi bisa saja iseng memerintahkan peluncuran rudal balistik yang berisi Bom H ke wilayah Amerika Serikat atau negara sekutunya seperti Korea Selatan dan Jepang. Ratusan ribu nyawa pun melayang, dan hal ini bisa terjadi karena stigma “orang gila” sudah disematkan kepada Kim Jong Un.

Donald Trump frustrasi, tapi Rusia dan China tertawa. Krisis di semanjung Korea ini memang bisa berpotensi lucu, antara lain disebabkan:

Pertama, Amerika Serikat meminta dunia memberikan sanksi ekonomi dan mengucilkan Korea Utara, tapi di sisi lain tahu bahwa ekonomi Korea Utara bergantung pada siapa, karena sekitar 80% nilai ekonomi perdagangan Korea Utara dengan China. Jadi yang dimaksud “dunia” tadi sebenarnya China. Nah, kalau China menolak, mau bilang apa?

Kedua, bukannya membantu krisis yang sedang berlangsung, China dan Rusia justru memperingatkan Amerika Serikat. Menurut Putin sanksi dan ancaman militer tidak akan menolong banyak. “Provokasi, tekanan, retorik ofensif tidak akan membawa kita ke mana-mana,” kata Vladimir Putin di siniDonald Trump frustrasi lagi.

Ketiga, Trump pun menyalahkan sekutunya Korea Selatan yang menurutnya tidak mau mendengar saran dari Washington. “Saya sudah memberitahu Korsel strategi mereka berdialog dengan Korut tidak akan berjalan,” katanya.

Kemitraan dagang dengan Korea Selatan pun sedang dikaji untuk dihentikan. Ujung-ujungnya terkait dengan ekonomi juga, bukan komunisme, agama, kemanusiaan karena rudal balistik berisi Bom H bisa memusnahkan banyak manusia, atau hal lainnya. China pun diam saja atau tidak menolong terkait krisis di semanjung Korea ini karena perdagangannya sedang disulitkan. Entahlah kalau barang-barang China dimudahkan masuk ke Amerika Serikat. Mungkin bisa lain ceritanya, sebab China tinggal sentil kuping Kim Jong Un yang bangor itu langsung patuh pada perintah China.

Keempat, Rusia dan China saat ini tertawa melihat Donald Trump frustrasi, tapi suatu saat nanti mungkin saja ada presiden Amerika Serikat yang bisa berdialog dan memengaruhi Kim Jong Un atau pemimpin Korea Utara berikutnya. Hubungan diplomatik dan perdagangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara pun berjalan baik, bahkan Korea Utara bergantung secara ekonomi dan politik kepada Amerika Serikat, bukan China lagi, atau Rusia. Rudal balistik berisi Bom H Korea Utara pun diarahkan ke Beijing dan Moskwa yang membuat China dan Rusia pun panik.

Kelima, karena kemungkinan keempat di atas tadi bisa terjadi, maka China, Rusia, Amerika Serikat dan sekutunya “menghabiskan” Kim Jong Un atau pemimpin Korea Utara lainnya yang berbahaya dan membahayakan negara mereka. Akhir cerita ditutup dengan kesimpulan yang sederhana seperti biasa, yaitu negara maju tadi itu tidak bodoh, misalnya saling lepas rudal nuklir di antara mereka hanya karena seorang Kim Jong Un atau pemimpin negara terbelakang, maksudnya negara berkembang lainnya.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji krisis di semanjung Korea yang bukan disebabkan masalah yang berkait dengan komunisme, agama, kemanusiaan atau lainnya, tapi semata masalah politik yang ujung-ujungnya berkait dengan masalah ekonomi juga. Donald Trump frustrasi pun ikut dikaji dan dicermati, karena orang yang sudah frustrasi bisa gila, atau melakukan suatu tindakan yang tak terduga.


Jokowi Pasti Maju dan JK Sudah Menolak

Jokowi Pasti Maju dan JK Sudah Menolak

Adahati.com – Jokowi pasti maju, keyakinan ini dilontarkan oleh Tjahyo Kumolo, dan masih berkait dengan tulisan sebelumnya – JK Ketua Timses Jokowi di Pilpres 2019? -.

Meski Pilpres 2019 masih sekitar 2 tahun lagi, tapi Tjahyo Kumolo mengatakan tahun 2018 nanti merupakan tahun politik karena ada sejumlah agenda politik pada tahun itu, termasuk pendaftaran capres dan cawapres untuk Pilpres tahun berikutnya.

Belum ada tanda-tanda atau pernyataan langsung dari Presiden Jokowi untuk maju Pilpres lagi, tapi Tjahyo Kumolo yakin hal itu akan terjadi.

“Pak Jokowi pasti maju,” tegasnya di sini.

Sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa keyakinan Tjahyo tadi. Jauh sebelumnya pun sudah cukup banyak pihak yang yakin Jokowi pasti maju, begitu juga Prabowo. Masih sama pertarungan kandidat presiden yang terjadi pada Pilpres 2014 dan Pilpres 2019.

Jokowi pasti maju, Prabowo juga pasti maju, mereka pun kembali bertarung untuk memperebutkan kursi RI satu. Namun politik memerlukan strategi dan taktik yang jitu untuk memenangkan pertarungan itu agar tidak menjadi pecundang nantinya.

Frasa “Jokowi pasti maju” ini biasa saja kalau dilontarkan oleh rakyat biasa, tapi karena yang mengucapkannya seorang menteri kabinet, juga seorang politikus senior PDIP, maka bobot politiknya pun boleh dibilang cukup tinggi.

Adu strategi dan taktik pun sebenarnya sudah dimulai, termasuk di dalamnya usulan atau wacana untuk menjadikan JK sebagai ketua timses Jokowi yang dilontarkan oleh Tjahyo Kumolo yang bisa juga diartikan oleh sebagian pihak merupakan sebuah sindiran halus kepada JK agar tidak maju lagi pada Pilpres 2019 nanti.

Mungkin saja JK tidak maju lagi karena faktor usia – biasanya orang yang sudah tua cepat lelah dan ngantuk – , tapi tidak majunya sebagai cawapres, bukan capres. Hal ini pun masih memungkinkan karena tidak ada larangan bagi JK untuk tidak boleh maju lagi sebagai capres. Sudah pernah dibahas, dan kutipan tulisan sebelumnya antara lain:

“Kedua, usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi bisa juga diartikan Tjahyo Kumolo sedang menyindir secara halus agar JK tidak mencalonkan diri lagi. Meski tidak disebut karena faktor usia, tapi JK memang sudah tua, dan tentunya bertambah tua pada tahun 2019 nanti. Mungkin saja JK tidak mencalonkan diri sebagai cawapres, tapi bisa saja sebagai capres karena masih penasaran dan ingin menjadi presiden, atau belum puas hanya sebatas wakil presiden dua periode dengan presiden yang berbeda pula”.

Tjahyo Kumolo pun antara lain mengatakan seperti ini: “Pak JK akan maju lagi sebagai Presiden masih bisa, Wapres masih bisa, tim sukses pasti bisa.”

Usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi pun mentah atau layu sebelum berkembang karena JK sudah menolak. Alasannya antara lain JK ingin memastikan roda pemerintahan tetap berjalan maksimal dan hal ini sulit dilakukan jika JK menjadi ketua timses Jokowi. Bisa berantakan roda pemerintahan jika keduanya sibuk mengurus masalah Pilpres saja, begitu antara lain kata JK lewat juru bicaranya.

Jika ada sebagian pihak yang merasa terharu setelah mendengar alasan penolakan JK tadi, silakan saja. Tidak ada larangan untuk terharu hingga air mata jatuh berlinang sekalipun, seperti halnya tidak ada larangan bagi JK untuk kembali maju Pilpres.

Jokowi pasti maju, Prabowo juga pasti maju, dan seandainya JK pun seperti itu, maka cukup banyak kemungkinan kejadian atau hal yang berpotensi lucu di sini.

Pertama, jika JK maju sebagai capres dan sah, maka ada tiga kandidat presiden nantinya. Diperkirakan cukup banyak pengamat politik yang melongo, karena analisis politiknya yang mengatakan hanya ada dua kandidat saja keliru

Kedua, jika JK maju sebagai cawapres, dan ternyata capresnya Prabowo, makin banyak saja pengamat politik yang melongo karena tidak menduga hal itu bisa terjadi. Tambah melongo lagi jika sebaliknya, yaitu JK yang menjadi capres, sedangkan Prabowo cawapres dengan alasan JK lebih berpengalaman di dunia politik, serta diperkirakan pasangan kandidat ini cukup besar peluangnya untuk memenangkan Pilpres 2019.

Ketiga, jika JK maju lagi, entah sebagai cawapres Prabowo atau sebaliknya, dan Jokowi pasti maju sebagai capres, makin banyak saja pengamat politik dan pihak lain yang melongo, seandainya Tjahyo Kumolo yang dipilih sebagai cawapres.

Rusak sudah, dan hancur semua analisis politik yang ada selama ini.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji siapa saja capres dan cawapres pada Pilpres 2019 nanti sambil melirik isu-isu lucu dan berpotensi lucu.

Sumber gambar. 


JK Ketua Timses Jokowi di Pilpres 2019?

JK Ketua Timses Jokowi di Pilpres 2019?

Adahati.com – JK ketua timses Jokowi di Pilpres 2019 masih sebuah usulan atau wacana yang datang dari seorang menteri kabinet, dan juga salah satu politikus senior PDIP, yaitu Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Alasan atau pertimbangannya jika JK tidak lagi mencalonkan diri. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pun mengatakan tahun 2018 adalah tahun politik karena ada sejumlah agenda politik pada tahun itu, termasuk pendaftaran capres dan cawapres untuk Pilpres 2019. Maka dari itu, Tjahjo Kumolo pun mengharapkan seluruh menteri kompak mendukung Jokowi. Bukan hanya seluruh menteri, tapi Wapres JK juga.

“Mungkin Pak JK tidak maju lagi, mungkin beliau akan siap menjadi ketua timsesnya misalnya begitu. Kalau saya pribadi kalau bisa Pak JK ketua timses nya. saya pribadi loh ya,” kata Tjahjo Kumolo di sini.

Usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi tadi ditanggapi oleh Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Firman Soebagyo. Menurutnya sah saja usulan atau wacana itu, tapi tergantung yang bersangkutan mau menerima atau tidak, karena hal itu merupakan hak politik JK. “Tapi kalau Pak JK enggak berkenan kan itu hak pribadi perorang,” tegasnya.

Mungkin saja nantinya usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi ini akan terus berkembang, tapi bisa juga sebaliknya, atau layu sebelum berkembang.

Entah mana yang benar, tapi wacana JK ketua timses Jokowi di Pilpres 2019 ini berpotensi lucu atau bisa berkembang menjadi lucu dengan pertimbangan sbb:

Pertama, usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi seakan menegaskan Jokowi sudah dipastikan akan mencalonkan diri lagi, padahal Jokowi sendiri belum memastikan atau mengatakannya secara langsung mengenai hal ini. Mungkin saja Jokowi tidak mencalonkan diri lagi, misalnya dengan alasan capek berurusan dengan politik di negeri ini yang secara keseluruhan cenderung tidak jelas arahnya.

Kedua, usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi bisa juga diartikan Tjahjo Kumolo sedang menyindir secara halus agar JK tidak mencalonkan diri lagi. Meski tidak disebut karena faktor usia, tapi JK memang sudah tua, dan tentunya bertambah tua pada tahun 2019 nanti. Mungkin saja JK tidak mencalonkan diri sebagai cawapres, tapi bisa saja sebagai capres karena masih penasaran dan ingin menjadi presiden, atau belum puas hanya sebatas wakil presiden dua periode dengan presiden yang berbeda pula.

Ketiga, usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi dikatakan tergantung JK mau menerima atau tidak, karena hal itu merupakan hak politik JK, padahal Jokowi pun memiliki hak untuk mengatakan tidak, seandainya pun JK menerima usulan itu.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji usulan atau wacana JK ketua timses Jokowi dengan harapan dapat menemukan hal lain yang berpotensi lucu.

Sumber berita.


Kader PKS yang Satu Ini Dilaporkan ke Polisi

Kader PKS yang Satu Ini Dilaporkan ke Polisi

Adahati.com – Siapa kader PKS yang dilaporkan ke polisi? Namanya sudah tidak asing lagi atau cukup terkenal di dunia maya karena diduga sering menyebarkan ujaran kebencian (hate speech) lewat akun media sosialnya.

Namun ada juga sebagian pihak yang berpendapat bahwa kader PKS yang satu ini namanya bisa cukup terkenal di dunia maya justru dibesarkan oleh lawannya.

Benar atau tidak pendapat tadi, kembali lagi bahas tentang kader PKS yang dilaporkan ke polisi oleh Muannas Al Aidid, pengurus Badan Advokasi dan Hukum (Bahu) NasDem.

Berawal dari pernyataan kader PKS yang bernama Jonru Ginting dalam sebuah acara talkshow salah satu stasiun televisi swasta. Ada dugaan kuat postingan Jonru Ginting yang menuduh PBNU menerima Rp 1,5 triliun sebagai sogokan penerbitan Perppu Ormas. Jonru pun diduga telah menyebarkan ujaran kebencian karena menyatakan asal-usul Presiden Jokowi tidak jelas dalam akun media sosialnya.

Maka dari itu, Jonru Ginting pun dilaporkan ke polisi. Masih menurut pendapat sang pelapor, kader PKS ini bukannya mengkritik, tapi lebih cenderung menyebarkan kebencian, karena sebuah kritik bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Beda dengan akun ini, dia tak melakukan klarifikasi,” ujarnya.

Terkait ujaran kebencian sebenarnya bukan hal yang baru. Presiden Jokowi pun beberapa waktu lalu sudah mengutarakan kecemasannya, namun tidak sedikit orang bebal di dunia ini yang tetap senang melakukannya. Bukan karena salah bunda mengandung, tapi mungkin saja bebal itu memang sudah bawaan orok.

Baru-baru ini saja pihak kepolisian telah menangkap anggota kelompok Saracen yang justru bisnisnya memanfaatkan mereka yang senang dengan ujaran kebencian dan meminta kelompok Saracen untuk melakukan sekaligus menyebarkannya.

Bingung ada semacam “proyek ujaran kebencian”? Sebaiknya jangan mudah bingung, karena orang bebal dan orang yang memanfaatkan orang bebal tetap ada hingga dunia ini kiamat, atau tidak akan pernah punah. Hal ini disebabkan antara lain orang bebal memiliki daya tahan hidup yang lebih baik dibanding dinosaurus.

Sungguh sebuah pertanyaan orang bebal, jika ia bertanya seperti ini misalnya.

“Mengapa kader PKS itu dilaporkan ke polisi, bukan dilaporkan ke sapi?”

Diperkirakan kader PKS Jonru Ginting akan merasa senang jika dilaporkan ke sapi. Bukan lantaran kader PKS itu cukup akrab berteman dengan sapi, tapi karena sapi tidak bisa bicara dalam bahasa manusia. Sia-sia saja laporannya jika melapor ke sapi.

Di samping itu, kader PKS Jonru Ginting kemungkinan besar tidak pernah melakukan pencemaran nama baik atau ujaran kebencian kepada sapi, tapi sekali lagi bukan berarti kader PKS itu selama ini cukup akrab berteman dengan sapi.

Jadi sudah benar advokat dan politikus Nasdem itu melaporkan Jonru ke polisi.

Sumber berita.


Tatapan Mata Najwa Shihab dan Surat Ahok

Tatapan Mata Najwa Shihab dan Surat Ahok

Adahati.com – Ada apa dengan tatapan mata Najwa Shihab? Sebelum membahas lebih lanjut tentang hal ini ada baiknya sejenak menyimak berita dari Mako Brimob, Depok.

Apa khabar mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok? Kasus penistaan agama yang kental dengan nuansa politik telah membawa Ahok ke dalam balik jeruji. Putusan Majelis Hakim – yang tak lama kemudian ada dua hakim yang dipromosikan jabatannya – sempat menjadi polemik, dan ada kemungkinan beberapa tahun yang akan datang pun kembali ramai dibicarakan di media massa.

Ahok kini sedang menjalani masa hukuman, tapi masih sempat bicara tentang tatapan mata Najwa Shihab. Berawal dari akun Instagram Basuki Tjahaja Purnama yang memuat postingan baru berisi foto tulisan atau surat Ahok yang diunggah oleh @timbtp. 

Entah mengapa surat Ahok itu baru diunggah kemarin, sedangkan suratnya ditulis Ahok pada 16 Agustus 2017, tapi dalam surat Ahok tadi bercerita pengalamannya yang sempat beberapa kali menjadi narasumber dalam acara Najwa Shihab. Menurut Ahok, meski Najwa melontarkan pertanyaan dengan tajam, jawab saja secara jujur.

Hadapi pertanyaan dan tatapan Mata Najwa, hanya satu kuncinya. Kita harus jawab sesuai dengan yang ada di hati nurani, mulut dan otak harus sama. Di situ Nana dan penonton akan terima semua jawaban kita,” begitu antara lain isi surat Ahok di sini.

Entah apa menariknya tatapan mata Najwa Shihab, tapi Ahok sempat menyinggungnya. Mungkin karena Ahok beberapa kali diundang dalam acara Najwa sehingga cukup sering bertatapan, sementara bagi mereka yang tidak begitu tertarik dengan acara itu, atau jarang menyaksikannya mungkin akan mengatakan tatapan mata Najwa Shihab biasa saja. Masih jauh lebih menarik tatapan mata Winona Ryder, misalnya.

Tapi terlepas tatapan mata siapa yang lebih menarik, terkait dengan frasa “tatapan mata” ini sebenarnya bisa berpotensi lucu.

Teringat dengan nasihat bijak yang mengatakan hati-hati bila berada di dalam bis kota karena copet memiliki tatapan mata yang tajam dan bisa menembus dompet anda. Juga tidak ada salahnya hati-hati dengan tatapan mata perempuan yang mengatakan secara langsung atau tidak langsung terpesona dengan penampilan seorang lelaki, karena ada kemungkinan atau bisa saja ujung-ujungnya minta ditraktir atau seperti itu.

Tentu saja tidak semua copet dan perempuan seperti itu, atau bukan berarti sudah bisa dipastikan copet atau minta ditraktir, kalau tatapan matanya tajam setajam silet.


Angie Takut Dilaporkan kepada Putra Bungsu SBY

Angie Takut Dilaporkan kepada Putra Bungsu SBY

Adahati.com – Angelina Sondakh atau Angie takut dilaporkan kepada putra bungsu SBY, yaitu Eddhy Baskoro Yudhoyono (Ibas). Hal ini terungkap pada persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta (30/8/2017), dan Angie menjadi saksi di sana.

Angie takut tentu ada sebabnya. Mantan anggota Komisi X DPR itu mengatakan Muhammad Nazaruddin memiliki pengaruh yang besar dalam mengurus proyek. Siapa yang tidak mengikuti perintahnya akan digeser dari komisi atau dipindahkan ke tempat lain. Ancaman Nazaruddin lainnya yang membuat Angie takut adalah akan dilaporkan oleh Nazaruddin kepada putra bungsu SBY, Ibas.

“Seumpamanya saya tidak mengerjakan yang diperintahkan Pak Nazar, nanti besok dia pasti akan bilang, kamu akan saya geser ke komisi yang lain, atau kamu akan saya pindahkan,” ujar Angie di sini. Bukan hanya itu saja, Angie pun mengatakan Nazaruddin bisa mengatur proyek. Apabila anggaran proyek disetujui banggar DPR, maka beberapa partai politik akan mendapatkan jatah, juga ada jatah untuk anggota komisi.

“Jadi 2 persen untuk partai, dan 1 persen untuk anggota komisi,” ujar Angie.di sini.

Entah benar atau tidak semua perkataan Angie tadi, tapi sebagai saksi ia sudah berada di bawah sumpah untuk memberikan keterangan yang sebenarnya.

Nama putra bungsu SBY kembali mencuat, setelah sekian lama tidak disebut dalam kasus-kasus yang sempat menghebohkan dan membuat beberapa petinggi partai, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum masuk penjara.

Selain ada “jatah preman” proyek untuk partai dan anggota komisi seperti disebut Angie tadi, hal menarik lainnya adalah apakah putra bungsu SBY, Ibas akan berada dalam posisi yang sulit ke depan nanti setelah namanya kembali disebut pada sebuah persidangan. Masih tanda tanya, dan waktu jualah yang bisa menjawabnya.

Namun di sisi lain ada juga keterangan Angie di persidangan yang berpotensi lucu.

Angie takut kepada Nazaruddin yang sangat berpengaruh, dan Angie takut dilaporkan kepada Ibas, makanya ia dan anggota DPR lainnya melakukan gerak jalan.

“Jadi semuanya disuruh, ya kita gerak jalan. Karena kan dia kalau enggak, (bilangnya) nanti dilaporin si Ibas,” kata Angie.

The Lohmenz Institute mencermati dan mengkaji ucapan Angie tadi. Jadi kalau takut sama Nazaruddin atau Ibas, hal terbaik yang mesti dilakukan adalah gerak jalan.

Sumber gambar. 


“NKRI Harga Mati” Dijadikan Bahan Buat Ngeles

“NKRI Harga Mati” Dijadikan Bahan Buat Ngeles

Adahati.com – Frasa “NKRI Harga Mati” belakangan ini cukup populer. Tidak jelas sejak kapan sebenarnya mulai ada dan bergema, tapi diperkirakan sejak munculnya kelompok yang ingin menggantikan Pancasila dan UUD 1945.

Kelompok yang bukan pendukung “NKRI Harga Mati” itu antara lain Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan oleh pemerintah. Sekadar informasi, dalam persidangan uji materi Perppu Ormas di Gedung Mahkamah Konstitusi (30/8/2017), pihak pemerintah yang diwakili oleh Mendagri menayangkan video yang menampilkan orasi salah satu petinggi HTI yang menyebutkan perihal 4 pilar Khilafah, yaitu:

Pertama, ia menyerukan untuk meninggalkan hukum dan sistem jahiliah dengan menegakan hukum Syariat Islam. Kedua, ia menyerukan agar ada perubahan kekuasaan dari tangan para pemilik modal menjadi milik umat. Ketiga, ia meminta untuk meninggalkan sekat-sekat nasionalisme. Keempat, menyerukan untuk meninggalkan hukum perundang-undangan buatan manusia serta voting (dikutip dari sini).

Seruan “NKRI Harga Mati” boleh dibilang sebuah perlawanan balik dari mereka yang tetap ingin mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. Entah terlalu lama diam atau baru sadar ada ancaman yang serius terhadap keutuhan bangsa dan negara, maka timbul dan populerlah frasa “NKRI Harga Mati” tadi.

Rupanya “NKRI Harga Mati” ini digunakan juga buat ngeles (menghindar) oleh orang yang sebenarnya justru ingin memecah belah bangsa dan negara, antara lain lewat ujaran kebencian, hoax, dan eksploitasi isu SARA. Kelompok Saracen yang menjadikan hal itu sebagai ladang bisnisnya baru-baru ini ditangkap oleh pihak kepolisian.

Nah, salah satu anggota kelompok Saracen mengubah nama grup Saracen menjadi “NKRI Harga Mati” setelah ketua Saracen, Jasriadi, ditangkap.

Meski sudah berusaha ngeles dengan mengganti nama grupnya menjadi “NKRI Harga Mati”, tapi tetap saja ia ditangkap oleh pihak kepolisian seperti diberitakan di sini.

Minimal ada tiga hal berpotensi lucu terkait cara ngeles yang digunakan oleh anggota kelompok Saracen di atas tadi.

Pertama, cara ngelesnya boleh dibilang lugu banget. Tentu saja pihak kepolisian yang sudah memantau, mengawasi, dan memiliki data terkait kelompok Saracen itu tidak bisa dibohongi hanya dengan mengganti nama grup menjadi “NKRI Harga Mati”.

Kedua, cara ngeles yang lugu ini bisa juga digunakan oleh mereka yang senang berkubang dengan trik murahan seperti “playing the victim”, antara lain mengatakan “Saya sudah dizolimi” atau “Saya mau dikriminalisasi” ketika berhadapan dengan hukum, kemudian kabur dan gak pulang-pulang bukan karena nyasar mulu.

Ketiga, cara ngeles yang lugu pun bisa saja digunakan oleh kelompok yang sebenarnya anti NKRI, dan selama ini tidak pernah menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, tapi tiba-tiba menyanyikannya dengan penuh semangat 45, pun terlihat heroik bak pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang dengan tubuh penuh luka.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji “cara ngeles yang lugu”, sambil bertanya siapa lagi yang akan menggunakannya esok atau lusa nanti.

Sumber gambar. 


Fadli Zon dan Fahri Hamzah Cenderung Senang Menuding?

Fadli Zon dan Fahri Hamzah Cenderung Senang Menuding?

Adahati.com – Fadli Zon dan Fahri Hamzah memiliki jabatan yang sama, yaitu Wakil Ketua DPR RI, tapi benarkah Fadli Zon dan Fahri Hamzah sama saja kalau bicara atau berpendapat, yaitu lebih cenderung menuding?

Belakangan ini sedang hangat berita terkait kelompok Saracen. Fadli Zon pun angkat bicara mengenai masalah ini. Menurutnya sebuah kritik, tapi masih perlu dipertanyakan lebih lanjut. “Saya ingin mengkritik Presiden yang berkali-kali mengumpulkan buzzer-buzzer politik di Istana,” kata Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya di sini.

Namun berita itu pun menulis, “Fadli menuding sebagian pegiat media sosial yang diundang ke Istana merupakan buzzer politik”.

Sebenarnya mengkritik atau menuding?

Ia pun mencontohkan bahwa salah satu buzzer yang diundang ke Istana pernah menyebarkan hoax terkait Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Siapa salah satu buzzer yang dimaksudnya itu? Tak satupun nama disebutnya.

Teringat ucapan Fahri Hamzah di sini,  “Jadi gini, anggota DPR dipilih rakyat untuk ngomong. Kalau jubir jangan ngomong kalau nggak dikasih perintah dari Presiden. Diam, tutup mulut,” kata Fahri Hamzah ketika berseteru dengan Juru Bicara Johan Budi.

Namun Fahri Hamzah pun sepertinya lebih cenderung senang menuding. “Dia harus disiplin. Apa yang dikatakan Presiden itu yang dia katakan. Jangan bermanuver, jangan bermain opini dan jangan jadi agen Novel, jangan jadi agen KPK di Istana.”

Pertanyaannya, apakah selama ini Johan Budi adalah agen KPK, makanya Fahri mengatakan “jangan”? Bisa dibuktikannya hal itu?

Fahri Hamzah pun mengatakan dirinya dipilih rakyat untuk ngomong atau bicara, tapi Fadli Zon sama sekali tidak bicara atau menyebut siapa buzzer yang dimaksudnya tadi.

Sebenarnya mengkritik atau menuding Fadli Zon dan Fahri Hamzah ini? Benarkah ada kemiripan antara Fadli Zon dan Fahri Hamzah saat bicara atau berpendapat, sebenarnya lebih cenderung senang menuding? Pertanyaan ini cukup menarik dan juga dicermati lebih lanjut sebelum mengambil sebuah kesimpulan, supaya bukan asal bicara.

Terkait kasus Saracen yang sedang ditangani oleh pihak kepolisian, Fadli Zon pun mengatakan, “Saya cenderung menilai kasus Saracen ini sekadar dagelan baru.”

Karena Fadli Zon ada mengatakan “dagelan”, jadi teringat kenaikan dana parpol dari Rp 108 menjadi Rp 1000 per suara sah seperti pernah dibahas sebelumnya di siniDana itu diperlukan untuk menunjang kebutuhan dan operasional parpol.

Ada juga berita tentang anggaran dewan untuk RAPBN 2018 yang tadinya disepakati sebesar Rp 5,7 triliun, tapi Badan Urusan Rumah Tangga DPR berharap dapat disesuaikan kembali menjadi Rp 7,2 triliun, artinya minta kenaikan sebesar Rp 1,5 triliun.

Dagelan yang luar biasa, jika dana parpol sudah dinaikkan hampir 10 kali lipat, pun anggaran dewan nantinya dinaikkan, tapi tidak diimbangi dengan kualitas otak dari kader-kader parpol yang ada, termasuk kader-kader parpol yang duduk di DPR itu.

Ter la lu…, jika benar faktanya seperti itu nantinya. The Lohmenz Institute pun ingin mengucapkan prihatin, meniru ucapan yang pernah dilontarkan oleh SBY.

Sumber gambar. 


Wali Kota Tegal Luar Biasa, Gubernur dan Menteri pun Sedih

Wali Kota Tegal Luar Biasa, Gubernur dan Menteri pun Sedih

Adahati.com – Benarkah Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno atau biasa dipanggil Bunda Sitha termasuk orang yang luar biasa?

Sebelum membahas lebih lanjut di mana luar biasanya Wali Kota Tegal ini, ada baiknya mengikuti sejenak perkembangan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK yang beritanya sedang semarak belakangan ini.

Tegal, Jakarta dan Balikpapan adalah tiga kota tempat berlangsungnya OTT karena merupakan rangkaian kegiatan penindakan terhadap kejahatan yang melibatkan Wali Kota Tegal Bunda Sitha yang juga kakak kandung Sekjen Partai Amanat Nasional.

Penjelasan KPK mengapa Wali Kota Tegal ditangkap, karena ada indikasi dugaan suap pada proyek alat kesehatan, tapi sebenarnya tidak ada yang luar biasa dengan OTT yang dilakukan oleh KPK ini, karena bukan sesuatu yang baru. Juga biasa saja jika ada seorang Wali Kota terjerat OTT, karena jabatan yang lebih tinggi pun pernah mengalami hal yang sama. Uang yang disita oleh KPK sebanyak ratusan juta rupiah pun biasa saja.

Adakah sesuatu yang berpotensi lucu?

Diberitakan sejumlah warga menggeruduk rumah dinas Wali Kota, tapi tidak terlihat kejadian ini sesuatu yang berpotensi lucu. Begitupun ketika diberitakan ada sejumlah PNS yang bersujud syukur setelah mengetahui atasannya ditangkap oleh KPK. Penjelasan dari Partai Golkar tak lagi mendukung Bunda Sitha pada Pilkada 2018 dengan berbagai alasannya setelah terjerat OTT KPK pun tidak berpotensi lucu.

Namun setelah dicermati dan dikaji lebih lanjut ternyata ada juga hal yang berpotensi lucu terkait ditangkapnya Wali Kota Tegal ini, yaitu antara lain:

Pertama, Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno atau Bunda Sitha mampu membuat sedih atasannya, yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

“Menyedihkan. Saya sudah ingatkan. Hati-hati, informasi terbuka,” ujarnya di sini.

Apa yang telah dilakukan oleh Bunda Sitha pun bisa menggerakkan seorang gubernur untuk berencana mengumpulkan kepala daerah. “Ada sih (rencana mengumpulkan kepala daerah). Kita ngobrol-ngobrol lagi,” kata Ganjar Pranowo di sini.

Kedua, Bunda Sitha pun mampu membuat sedih seorang menteri kabinet.

“Sedih saya,” kata Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo di sini.

Luar biasa Bunda Sitha ini. Biasanya atasan itu marah-marah kalau ada bawahannya yang melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji, tapi justru dibuatnya sedih. Termasuk langka, atau jarang ada bawahan yang bisa membuat atasannya sedih.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji isu-isu lucu dan berpotensi lucu lainnya, termasuk tetap mengikuti perkembangan dari kasus Wali Kota Tegal ini.

Sumber gambar. 

[metaslider id=5178]


Presiden Jokowi Lebih Baik dari Mantan Presiden SBY

Presiden Jokowi Lebih Baik dari Mantan Presiden SBY

Adahati.com – Presiden Jokowi lebih baik dari mantan presiden SBY. Pernyataan ini bisa saja membuat sebagian pihak merasa tidak senang, sebagian pihak lainnya dengan antusias mengamini pernyataan tersebut, dan sebagian pihak lagi bingung!

Mereka yang tidak senang mungkin pengagum SBY yang terkenal dengan kata “prihatin” itu, atau sebagian pihak yang selama ini memang anti Jokowi, sedangkan yang mengamini pernyataan Presiden Jokowi lebih baik dari SBY diperkirakan mereka yang menilai SBY tidak melakukan apa-apa selama 10 tahun, dan SBY hanya pintar memainkan politik “playing the victim” sehingga wajar saja Jokowi lebih baik.

Sementara sebagian pihak lainnya yang bingung bertanya. Bagaimana ceritanya Presiden Jokowi lebih baik dari SBY? Bukankah SBY pernah menjabat presiden selama dua periode, sedangkan Presiden Jokowi baru sekitar 3 tahun? Apa alasannya?

Di bawah ini ada sebuah kesimpulan atau pernyataan dari seorang politikus Partai Hanura serta memberikan alasannya mengapa Presiden Jokowi lebih baik dari SBY.

Wakil Sekjen Hanura Tri Dianto bersyukur dana partai politik (parpol) dinaikkan oleh pemerintahan Presiden Jokowi hingga 10 kali lipat. Parpol yang sebelumnya hanya menerima Rp 108 per suara sah kini menjadi Rp 1.000 per suara sah.

Sebenarnya dana yang Rp 1.000 per suara sah tadi belum cukup untuk menunjang kebutuhan dan operasional parpol. “Tapi tetap Alhamdulillah, karena lebih baik daripada zaman Presiden SBY,” kata politikus Hanura tadi di sini.

Sekadar keterangan tambahan, keputusan kenaikan dari Rp 108 menjadi Rp 1000 per suara sah tadi tertuang dalam Surat Menteri Keuangan Nomor 277/MK.02/2017 tanggal 29 Maret 2017.  Alokasi dananya diambil dari APBN dan telah melalui kajian, sedangkan hasil kajian dari KPK menyebut dana partai idealnya Rp1.071 per suara sah.

Demikianlah dasar atau alasan politikus Partai Hanura tadi mengatakan pemerintahan Presiden Jokowi lebih baik dari SBY, namun di sisi lain ada dua potensi lucu di sini.

Pertama, jika kenaikan dana parpol tadi tidak diimbangi dengan kualitas otak para kader-kader parpol yang duduk di DPR, ya percuma saja. Contoh, ada Anggota Dewan yang mengatakan ekonomi sedang sulit saat ini, tapi Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR tetap optimis anggaran dewan untuk RAPBN 2018 yang tadinya disepakati sebesar Rp 5,7 triliun dapat disesuaikan kembali menjadi Rp 7,2 triliun.

Katanya ekonomi sedang sulit, tapi kesannya enteng saja minta naik anggaran sebesar Rp 1,5 triliun dari kesepakatan yang ada sebelumnya.

Potensi lucu yang kedua adalah politikus Partai Hanura yang mengatakan pemerintahan Presiden Jokowi lebih baik dari SBY tadi ternyata dulunya kader Partai Demokrat.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji isu-isu lucu serta berpotensi lucu lainnya terkait pernyataan para politikus untuk kembali dibahas nantinya.

Sumber gambar.


Presiden Jokowi Sebenarnya Bisa “Skak Mat” Fahri Hamzah

Presiden Jokowi Sebenarnya Bisa “Skak Mat” Fahri Hamzah

Adahati.com – Presiden Jokowi sebenarnya bisa memberikan semacam “skak mat” kepada Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, dan juga Wakil Ketua Pansus Angket KPK di DPR, Masinton Pasaribu, tapi sampai saat ini tidak atau belum dilakukannya.

Berawal dari pernyataan Fahri Hamzah yang mengusulkan Pansus Angket KPK memanggil Presiden Jokowi. Hal ini dilakukan sebagai tanggung jawab Presiden selaku kepala negara terkait lembaga KPK. Atas pernyataan atau usulan Fahri Hamzah tadi, Juru Bicara Presiden, Johan Budi menanggapinya seperti ini: “Pak Fahri itu Pansus bukan?”

Fahri Hamzah pun meradang. Menurutnya komentar Johan itu tidak tepat, bahkan ia menyebut Johan sebagai agen KPK di Istana. “Dia harus disiplin. Apa yang dikatakan Presiden itu yang dia katakan. Jangan bermanuver, jangan bermain opini dan jangan jadi agen Novel, jangan jadi agen KPK di Istana,” katanya di sini.

Wakil Ketua Pansus Angket KPK di DPR Masinton Pasaribu pun terkesan membela Fahri Hamzah. “Iyalah, nggak usah ngomentari di luar tupoksinya. Presiden saja nyantai kok. Kalau presidennya nyantai, jubirnya jangan kayak cacing kepanasan. Presiden saja nyantai, kok jubir yang panas,” katanya di sini.

Sementara Juru Bicara Presiden, Johan Budi tidak bersedia menanggapinya lagi. “Saya tidak mau mengomentari hal itu,” katanya kepada wartawan, Jumat (25/8/17).

Ada potensi lucu dari pernyataan Fahri Hamzah dan Masinton tadi.

Pertama, Fahri Hamzah yang mengaku dirinya dipilih oleh rakyat untuk bebas ngomong itu, tapi omongannya berisi tudingan, antara lain mengatakan “jangan jadi agen KPK di Istana”. Pertanyaannya, apakah selama ini Johan Budi adalah agen KPK, makanya Fahri mengatakan “jangan”? Bisa dibuktikannya hal itu?

Kedua, Masinton mengatakan Juru Bicara Presiden jangan kayak cacing kepanasan. Pertanyaannya, apa salah cacing sehingga dilibatkan dalam persoalan ini?

Potensi lucu berikutnya jika Presiden Jokowi mengatakan seperti ini: “Ya, memang saya perintahkan Pak Johan Budi untuk bicara seperti itu. Memangnya ada masalah?”

Langsung “skak mat”, tapi sampai saat ini The Lohmenz Institute belum menemukan pernyataan Presiden Jokowi seperti itu. Entahlah kalau esok atau lusa nanti.

Sumber gambar.


Sekapur Sirih Tentang The Lohmenz Institute

Sekapur Sirih Tentang The Lohmenz Institute

The Lohmenz Institute

Adahati.com – The Lohmenz Institute saat ini masih sebatas wacana atau gagasan saja. Pada dasarnya lembaga ini akan fokus pada isu-isu lucu dan berpotensi lucu dalam ruang lingkup regional, nasional, maupun global dengan harapan nantinya bisa memberikan kontribusi dalam melahirkan orang-orang lucu.

Mengapa akan fokus pada isu-isu lucu dan berpotensi lucu dalam ruang lingkup regional, nasional, maupun global? Mengapa pula harapannya bisa memberikan kontribusi dalam melahirkan orang-orang lucu, sementara orang lucu sudah banyak?

Memang orang lucu sudah banyak, tapi kelucuannya belum tentu bisa menjadi jaminan mutu. Contoh, orang nyasar di Jembatan Semanggi saja dibilang lucu. Seharusnya yang lucu itu pergi sekian lama keluar negeri, tapi gak pulang-pulang karena nyasar mulu.

Meski baru sebatas wacana atau gagasan, mudah-mudahan bisa terbentuk suatu saat nanti. Tapi dari mana dana untuk menyokong kegiatan-kegiatannya, sementara dananya saat ini tidak ada? Nah, bukankah hal ini termasuk lucu? Makanya The Lohmenz Institute kemungkinan besar akan sukses nantinya.

Sebaiknya jangan sinis dulu dan meremehkan wacana atau gagasan terbentuknya The Lohmenz Institute yang akan memantau isu-isu lucu dan berpotensi lucu terkait politik, olahraga, selebriti, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, atau apa saja yang lucu dan memiliki potensi lucu serta layak untuk dicermati, dikaji dan dibahas nantinya. Jika salah menilai, maksudnya yang diungkapkan ternyata tidak lucu, maklumi saja.

Cukup banyak tanggapan positif yang masuk lewat email, SMS, WA, Telegram, Facebook, Google+, Twitter, Istagram dan lainnya. Mereka terkesan antusias dan kagum ada lembaga dengan nama The Lohmenz Institute peduli dengan isu-isu lucu dan berpotensi lucu. Mereka pun tahu saat ini The Lohmenz Institute masih belum bisa terwujud, salah satu alasannya karena tidak memiliki dana.

Makdarit (maka dari itu), mereka pun mengirimkan doa-doa agar suatu saat nanti dana yang dibutuhkan tadi bisa terkumpul. Sama sekali tidak menanyakan berapa nomor rekening yang ada agar bisa mentransfer sejumlah uang ke sana.

Meskipun demikian, The Lohmenz Institute tetap mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Demikianlah sekapur sirih tentang The Lohmenz Institute.

Sumber gambar: koleksi pribadi.

Video 


Pertemuan SBY dan Prabowo Hanya Lelucon Politik?

Pertemuan SBY dan Prabowo Hanya Lelucon Politik?

Adahati.com – SBY dan Prabowo diberitakan mengadakan pertemuan di Puri Cikeas, Bogor (27/7/2017). Menurut pengakuan SBY pertemuannya dengan Prabowo terkait Undang Undang Pemilu yang telah disahkan oleh DPR beberapa hari sebelumnya.

Entah apa menariknya pertemuan antara SBY dan Prabowo ini, namun tidak sedikit media massa yang meliputnya. Di sisi lain tak bisa juga disalahkan jika ada sebagian pihak lainnya justru terlihat antusias, kemudian memberikan analisis politiknya terkait pertemuan antara dua ketua umum partai politik ini.

Ada anekdot yang mengatakan bahwa politisi itu seperti pelawak saja, bahkan lawakannya lebih lucu. Jika seorang pelawak yang baik harus berpikir keras untuk mencari bahan lawakan dan melontarkan lawakannya, seorang politisi tak perlu harus seperti itu. Hanya melontarkan sebuah kata, misalnya “prihatin” atau “bocor” saja sudah lucu.

Bagi mereka yang sejak awal tidak tertarik dengan pertemuan antara SBY dan Prabowo cenderung mengatakan bahwa kedua ketua umum parpol ini sedang melakukan lelucon politik tingkat rendah. Menurut KBBI online, arti kata “lelucon” adalah hasil melucu, tindak (perkataan) yang lucu, penggeli hati, percakapan yang jenaka.

Seusai melakukan “percakapan yang jenaka”, di depan konferensi pers SBY menyatakan Partai Demokrat dan Partai Gerindra sepakat untuk mengawal pemerintahan sekarang tanpa harus berkoalisi, juga pengawalan pada gerakan moral yakni mengawal kebijakan penyelenggara negara. Jika kepentingan rakyat diciderai, kedua partai sepakat untuk mengingatkan serta mengoreksi pemerintah.

Terharu? Karena ada disebut “gerakan moral” dan “kepentingan rakyat”?

Prabowo pun tak kalah jenakanya terkait presidential threshold bahwa partai atau gabungan partai baru bisa mengajukan calon presiden-calon wakil presiden jika memperoleh 20 persen kursi parlemen atau 25 persen suara nasional. “Presidential threshold 20 persen, menurut kami, adalah lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia,” ujar Prabowo.

Air mata pun jatuh berlinang karena disebutnya “rakyat Indonesia”?

Jika menyimak pernyataan-pernyataan politisi sebelumnya memang sering digunakan kata “rakyat” ini. Demi kepentingan rakyat, atas nama rakyat, rakyat adalah segala-galanya, tanpa rakyat kami bukan siapa-siapa, apalah artinya kami ini tanpa dukungan rakyat, dan seterusnya. Boleh dibilang semua pernyataan tadi hanya lelucon politik tingkat rendah.

Namun pendapat sebagian pihak yang mengatakan pertemuan antara SBY dan Prabowo tadi hanya lelucon politik tingkat rendah tidak serta merta harus setuju.

Menganggapnya sebagai sebuah pertemuan yang penting juga boleh. Atau hanya sebuah pertemuan biasa seperti kata SBY pun boleh.

Boleh-boleh saja.

Sumber berita: kompas.com


Kapolri Menyatakan Situasi Sudah Aman dan Kondusif

Kapolri Menyatakan Situasi Sudah Aman dan Kondusif

Adahati.com – Kapolri Badrodin Haiti berkait kerusuhan di Tolikara, Papua menyatakan seperti ini, “Di sana pun situasi sudah aman dan kondusif. Bupati juga akan memperbaiki kios-kios yang terbakar dan saat ini sedang dilakukan pembersihan,”.

Karena yang menyatakan bukan si polan, si anu atau orang yang tidak jelas identitasnya, tapi Kapolri sendiri yang mengatakannya tentu layak dipercaya dan benar seperti itu adanya. Pernyataan Kapolri tadi sungguh melegakan.

Beberapa hari belakangan ini kerusuhan di Tolikara menjadi topik hangat di medua sosial. Selain komentar yang bernada menyejukkan, ada juga komentar sebaliknya dengan berbagai analisisnya berkait penyebab kerusuhan di sana.

Meski menyatakan pendapat adalah hak setiap warga negara, tapi pendapat atau komentar yang tidak menyejukkan itu rsanya kurang elok, apalagi tidak tahu persis kejadian sebenarnya, atau data yang dimilikinya sangat minim, tapi terkesan mudah sekali beranalisis seperti itu yang seolah-olah berada di tempat kejadian. Lebih mengenaskan lagi orang tersebut termasuk tokoh masyarakat atau Anggota Dewan.

Sejak awal ditengarai cukup banyak pihak yang cenderung setuju dengan pendapat yang mengatakan lebih baik kerusuhan di Tolikara tadi diserahkan saja kepada pihak kepolisian dan instansi yang berkait untuk menanganinya. Mereka pasti bisa dan mampu melakukannya. Terbukti, pernyataan Kapolri di atas tadi dengan jelas mengatakan Situasi di Tolikara saat ini sudah aman dan kondusif.

Pihak yang berwewenang pun diharapkan akan mencari dan menghukum siapa saja yang bertanggungjawab berkait dengan kerusuhan ini, tapi di sisi lain tidak tertutup kemungkinan masih saja ada sebagian pihak yang tidak percaya, kemudian memberikan komentar yang cenderung tidak menyejukkan dengan analisis abal-abalnya.

Situasi yang aman dan kondusif memang diperlukan, bukan hanya di Tolikara, Papua saja, tapi di seluruh wilayah Republik Indonesia. Masyarakat pun bisa beraktivitas apa saja tanpa perlu merasa takut atau cemas.

Ingin berbisnis, silakan. Mengunjungi sanak saudara, boleh. Berolahraga atau melakukan aktivitas lainnya pun tidak dilarang, dan hal ini berlaku tidak hanya di Tolikara, Papua saja, tapi di daerah manapun, jika situasinya aman dan kondusif.

Sumber berita kompas.com, sumber gambar youtube.com.


Pernyataan atau Komentar Fadli Zon yang Cukup Menarik?

Pernyataan atau Komentar Fadli Zon yang Cukup Menarik?

Pernyataan atau Komentar Fadli Zon yang Cukup Menarik

Adahati.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mentersangkakan pengacara kondang papan atas OC Kaligis Berkait kasus dugaan penyuapan.

Pengacara OC Kaligis dijadikan tersangka oleh KPK dan hal ini mengundang beragam pernyataan atau komentar dari berbagai kalangan, tapi dari sekian banyak pernyataan atau komentar tadi, pernyataan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon cukup menarik juga.

Fadli Zon mengatakan, “Saya kira ini memprihatinkan. Suap di PTUN harus diselidiki. Artinya, di bagian eksekutif, legislatif dan yudikatif harus diperbaiki.”

Sebelumnya Wakil Ketua DPR RI dari Partai Gerindra yang namanya cukup sering menghiasi media massa ini mengatakan, “Sangat disayangkan bisa terjadi begitu. Mudah-mudahan tidak terjadi pada yang lain, jadi pelajaran yang berharga.”

Apanya yang menarik dari pernyataan atau komentar Fadli Zon di atas tadi?

Prihatin? Mantan Presiden SBY di masa lalu pun terkenal atau dibuat menjadi terkenal dengan pernyataan “Saya Prihatin”. Kadang dijadikan bahan olokan oleh sebagian pihak.

Bukan hanya SBY, Presiden Jokowi pun pernah mengucapkan kata “prihatin” ini melalui perantara pembantunya, yaitu Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Praktikno pada saat sedang hangatnya wacana dana aspirasi DPR beberapa waktu lalu.

Selain SBY dan Jokowi, masih banyak tokoh masyarakat dan pemimpin lainnya yang pernah mengucapkan kata prihatin, dan yang terbaru datang dari seorang Wakil Ketua DPR RI berkait ditangkapnya pengacara kondang OC Kaligis oleh KPK.

Dengan kata lain mengucapkan “prihatin” atas situasi tertentu yang kurang baik boleh dibilang sudah lumrah, dan biasa juga digunakan dalam dunia politik, atau berkait dengan politik yang bisa mendatangkan simpati publik nantinya.

Fadli Zon pun mengatakan “jadi pelajaran yang berharga”.

Ada kata “pelajaran” disebutnya, dan maksud Fadli Zon tentu tidak ada kaitannya dengan mata pelajaran sekolah, tapi sekali lagi pertanyaannya adalah, apanya yang cukup menarik dari pernyataan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon ini?

Sepertinya biasa saja, dan mungkin saja ada sebagian pihak yang cenderung tidak peduli atau tidak menganggap pernyataan Fadli Zon sebagai sesuatu yang cukup menarik.

Sumber berita kompas.com, sumber gambar youtube.com.


Presiden Jokowi Sedang Menyindir JK Secara Halus?

Presiden Jokowi Sedang Menyindir JK Secara Halus?

Adahati.com – Benarkah Presiden Jokowi sedang menyindir Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)?

Pilkada DKI 2017 telah usai dengan kekalahan pasangan cagub Ahok-Djarot, namun meski Anies-Sandiaga menang, sebagian pihak menyindir kemenangannya hanya kebetulan saja karena Ahok tertimpa kasus penghinaan agama. Pun tidak sedikit pihak yang menilai banyak intrik-intrik busuk politik yang telah terjadi di Pilkada DKI 2017 tadi.

Intrik-intrik busuk politik cenderung dilakukan oleh politikus busuk, juga mereka yang busuk meski sebenarnya bukan politikus tapi melacurkan diri dalam politik.

Busuk tetap busuk, meski ada juga sebagian pihak yang mengatakan tak peduli dengan busuk asal bisa meraih kemenangan karena kemenangan adalah sesuatu yang sangat berharga baginya. Berapapun harga yang harus dibayar tak mengapa.

Setelah Pilkada DKI 2017 berlalu, Ahok diputuskan bersalah oleh pengadilan yang tak lama kemudian hakim-hakimnya mendapat promosi jabatan, Rizieq Shihab kabur atau pergi ke luar negeri dan belum kembali meski pihak kepolisian sudah beberapa kali menghimbau agar datang sebagai saksi “kasus chat mesum”, terjadi bom bunuh diri di Kampung Melayu yang selanjutnya disebut Bom Kampung Melayu.

Rentetan peristiwa di atas tadi menarik perhatian masyarakat baik dalam maupun luar negeri. Khusus Bom Kampung Melayu yang dilakukan oleh teroris dan diakui oleh ISIS, perhatian masyarakat pun tertuju kepada Presiden Jokowi dan Wakil Presiden JK yang datang bersamaan meninjau lokasi tempat kejadian Bom Kampung Melayu tadi.

Tumben akrab, bukankah selama ini ada perpecahan?

Dibantah oleh Presiden Jokowi. Tidak ada perpecahan antara dirinya dan JK, pun tidak benar roda pemerintahan “dijalankan sendiri-sendiri” selama ini. “Itu kan menghabiskan energi kita. Sebetulnya saya juga inginnya tidak masukkan ke pikiran. Tapi kalau semakin berkembang semakin berkembang dan kita tidak jelaskan, itu akan menghabiskan energi kita. Rakyat juga terbawa masuk ke sana,” kata Presiden Jokowi.

Tudingan dan bantahan hal yang biasa dalam politik. Ada yang menuding, ada yang membantah. Media massa tinggal meyajikan tudingan dari pihak yang satu, kemudian menyajikan bantahan dari pihak lainnya atas tudingan tadi. Tak perlu terharu.

Namun ada pernyataan Presiden Jokowi yang terkesan sedang menyindir Wakil Presiden JK secara halus. Presiden Jokowi mengakui memang ada perbedaan pandangan politik antara dirinya dengan JK pada Pilkada DKI 2017 lalu.

Presiden Jokowi dengan tegas memosisikan diri tidak memihak ke pasangan calon manapun, sementara JK memilih untuk mendukung pasangan Anies-Sandiaga.

Jokowi netral, JK berpihak, bahasa sederhananya seperti itu.

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini

  • Putih giliran melangkah.
  • Jika putih Bc5xKe5, hitam Bb6xGa6. Hitam pun tersenyum karena merasa dirinya tidak kalah satu perwira. Tapi senyum hitam tadi menjadi kecut setelah disindir secara halus oleh putih lewat langkah seperti ini:
  • Ga6-d3!

Gens Una Sumus.

Sumber berita.


Karangan Bunga untuk Ahok Telah Mencapai 3000 Buah

Karangan Bunga untuk Ahok Telah Mencapai 3000 Buah

Adahati.com – Karangan bunga untuk Ahok beritanya cukup menghebohkan belakangan ini. Entah mengapa ada sebagian masyarakat yang bingung dan heran serta meributkannya pula, kemudian mengaitkannya dengan Pilkada DKI 2017. Pasangan cagub Ahok-Djarot kalah telak, tapi mengapa banyak karangan bunga untuk Ahok dari masyarakat? Kemarin, jumlahnya telah mencapai 3000 buah (tempo.co, 27/4/17).

Para pengirim karangan bunga tadi umumnya ingin mengungkapkan tanda terima kasih selama Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta. Menurut penilaian mereka secara keseluruhan telah bekerja dengan baik dan berhasil membangun kota Jakarta.

Di sisi lain ada juga sebagian masyarakat yang bingung, heran atau meributkannya tapi cenderung bernada sinis. Karangan bunga untuk Ahok tadi adalah “settingan” atau Ahok sendiri yang pesan. Meski sudah dibantah oleh Ahok masih saja diributkan. Mungkin ada kebanggaan tersendiri bersikap seperti itu.

Ujung-ujungnya kental berbau politik dan masih berkait dengan Pilkada DKI 2017 yang sudah berlalu. Entah siapa sebenarnya yang belum bisa “move on”. Kesimpulan sederhananya, ke dua belah pihak, baik pendukung Ahok atau sebaliknya memang sama sama belum bisa “move on”? Saling ejek atau sindir, dan bukan hanya mereka yang berusia muda saja, tapi ada juga yang sudah tua pun ikut-ikutan seperti anak kecil yang senang mendapat mainan baru.

Bingung?

Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak lainnya, di luar ke dua belah pihak tadi, pun ikut bingung. Mengapa hanya gara gara karangan bunga untuk Ahok saja saling ejek atau sindir yang tak jelas juntrungannya, sementara yang diributkan tak ada duitnya? Kecuali menghasilkan atau mendapat duit yang banyak. Tapi bukankah yang mendapat duit yang banyak adalah para penjual karangan bunga itu?

Semuanya bingung gara-gara karangan bunga untuk Ahok. Maka dari itu, sodorkan Trik dan Problem Catur yang Sederhana supaya semuanya tambah bingung!

  • Pion hitam e5 adalah “pion terbelakang”. Jika pion tersebut bisa dilenyapkan, maka kemenangan putih pun sudah berada di depan mata.
  • Caranya? Korbankan saja Menteri putih.
  • Md3-g3!

  • Bingung?
  • Pegangan.

Mengapa Megawati Diam Pasca Kekalahan Ahok-Djarot?

Mengapa Megawati Diam Pasca Kekalahan Ahok-Djarot?

Mengapa Megawati Diam Pasca Kekalahan Ahok-Djarot?

Adahati.com – Megawati diam atau tidak memberikan komentarnya pasca kekalahan telak Ahok-Djarot di Pilkada DKI 2017. Apakah Ketua Umum PDIP Megawati diam karena ia sedang bingung mengingat calon gubernur (cagub) yang diusung oleh partainya semakin banyak saja yang kalah atau satu persatu tumbang?

Alasan Megawati diam bukan karena bingung atau belum bisa dipastikan sebabnya. Hal ini mengacu pada pernyataan Wakil Sekretraris Jendral PDIP, yaitu Achmad Basarah yang meenurut keterangannya saat ini Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sedang berada di luar kota, dan sampai saat ini belum bertemu, juga belum ada jadwal pembahasan atau evaluasi terkait kekalahan Ahok-Djarot tadi.

Selain nantinya akan dibahas terkait kekalahan Ahok-Djarot, dibahas juga masalah persiapan menghadapi Pilkada 2018. Ada 5 calon gubernur yang diusung sendiri oleh PDIP, juga Pilpres 2019 dimasukkan ke dalam agenda rapat untuk menyusun road map sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah politik atau strategi dan taktik politik PDIP untuk ke depannya nanti.

“Dalam waktu dekat kami akan menyusun road map untuk Pilkada serentak 2018. Mungkin minggu depan sudah dimulai pembahasan Pilkada 2018,” kata Wakil Sekjen PDIP Achmad Basarah (kompas.com, 26/4/2017).

Jika sebagian besar dari 5 calon gubernur yang diusung sendiri oleh PDIP di Pilkada 2018 tadi kalah lagi, apakah kembali Megawati diam? Pamor PDIP pun otomatis merosot drastis? Juga ikut berdampak buruk pada Pilpres 2019 sehingga hal ini akan memperkecil peluang Jokowi untuk menjabat Presiden Republik Indonesia selama dua periode? Saat ini kebingungan sedang melanda parpol pendukung pemerintah?

Megawati diam seharusnya bukan hal yang aneh, karena selama ini Ketua Umum PDIP itu memang dikenal tidak terlalu banyak bicara meski ketua umum parpol besar. Yang mengherankan justru jika ada pentolan ormas atau ketua umum parpol gurem tapi berisiknya lebih nyaring dari penjual obat pinggir jalan.

Terlepas Megawati diam karena bingung atau sebaliknya, tapi kekalahan Ahok-Djarot, dan calon gubernur yang didukung oleh PDIP sebelumnya memang perlu dievaluasi, kemudian mengambil strategi dan taktik yang jitu untuk ke depannya nanti.

Sumber gambar.

 

 


Cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019

Cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019

Adahati.com – Cawapres (calon wakil presiden) di Pilpres 2019 nanti cukup menentukan posisinya. Masih sekitar 2 tahun lagi. Kemungkinan pertarungan capres (calon presiden) antara Jokowi dan Prabowo Subianto pun masih bisa terjadi seperti Pilpres 2014.

Tulisan sebelumnya di sini – Prabowo Sedang di Atas Angin, Prabowo Presiden Indonesia Berikutnya? – membahas peluang Prabowo Subianto cukup besar untuk menjabat Presiden Republik Indonesia setelah kemenangan telak pasangan cagub Anies-Sandiaga. Hal ini mengacu pada pendapat sebagian pihak yang mengatakan Pilkada DKI 2017 adalah “batu loncatan” untuk Pilpres 2019.

Jika perkiraan di atas tadi benar, wajar kubu Jokowi merasa ketar-ketir, kemudian berusaha mencari strategi dan taktik yang jitu. Dua tahun bukan waktu yang lama, dan siapa yang menempati posisi cawapres cukup menentukan, baik untuk Jokowi maupun Prabowo Subianto. Tapi sekali lagi, siapa cawapres yang menjanjikan dan layak mendampingi mereka jika ingin memenangkan Pilpres 2019 nanti?

Berikut ini perkiraan cawapres yang akan mendampingi Jokowi:

Puan Maharani, ia adalah putri Megawati Ketua Umum PDIP, juga parpol ini pendukung utama, maka wajar saja nama Puan masuk dalam bursa cawapres.

Gatot Nurmantyo, Panglima TNI saat ini, bagian dari kabinet Jokowi, plus peran militer masih memengaruhi kondisi politik Indonesia, bisa jadi pendamping Jokowi nantinya.

Sri Mulyani Indrawati, pilihan alternatif cawapres Jokowi. Mungkin rakyat sudah bosan dan jenuh melihat kandidat yang berasal dari parpol dan militer, atau lebih suka calonnya berasal dari kalangan intelektual.

Sedangkan perkiraan cawapres Prabowo Subianto di Pilpres 2019?

Anies Baswedan, meski ada sebagian pihak mengatakan ia hanya “menang kebetulan” saja karena Ahok tertimpa kasus dugaan penistaan agama, tapi popularitasnya cukup menjanjikan untuk menjadi pendamping Prabowo, apalagi saat menjabat Gubernur DKI Jakarta nanti ternyata sukses menjalankan program rumah DP nol persen atau DP nol rupiah yang masih diragukan oleh sebagian kalangan masyarakat.

Sohibul Iman, Presiden PKS, namanya bisa masuk dalam bursa pendamping Prabowo mengingat hubungan antara Partai Gerindra dan PKS sedang mesra saat ini, serta diperkirakan masih tetap mesra hingga Pilpres 2019 nanti.

Sandiaga Uno dan Hari Tanoe dimasukkan sebagai calon pendamping Prabowo Subianto salah satu alasannya memiliki finansial yang kuat, dan Pilpres butuh dana yang besar atau tidak sedikit dana kampanye yang akan dikeluarkan nantinya.

Demikianlah perkiraan cawapres Jokowi dan Prabowo Subianto, tapi masih ada kemungkinan kandidat lainnya, yaitu putra sulung SBY, Agus Yudhoyono.

Meski terbilang masih bau kencur di dunia politik, tapi magnetnya cukup kuat menarik dukungan masyarakat. Jika tidak ada serangan politik Antasari Azhar menjelang hari H Pilkada DKI 2017 diperkirakan Agus Yudhoyono yang lolos ke putaran kedua, bukan Anies. Mengingat kasus dugaan penistaan agama yang menimpa Ahok ternyata besar pengaruhnya, seharusnya Agus Yudhoyono Gubernur DKI Jakarta.

Tapi memang menjadikan Agus Yudhoyono sebagai cawapres memiliki kendala mengingat hubungan SBY dan Megawati kurang mesra, begitu pun dengan Prabowo, tapi tidak ada kawan dan lawan yang abadi masih memungkinkan Agus Yudhoyono yang bisa menarik dukungan dari kalangan muda, dan juga sudah bosan melihat politikus tua seperti JK masuk ke dalam bursa cawapres Jokowi dan Prabowo.

Cukup menarik memperkirakan siapa cawapres Jokowi dan Prabowo nantinya dengan asumsi capres yang bertarung di Pilpres 2019 masih merupakan perseteruan antara mereka berdua, tapi mungkin saja konstelasi politik sekitar dua tahun ke depan berubah atau ada cawapres lainnya, juga capres ketiga yang berasal dari perkiraan cawapres di atas tadi, atau mungkin juga di luar perkiraan siapapun.

Sumber gambar.


Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia ke 8?

Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia ke 8?

Adahati.com – Benarkah Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia  berikutnya? Pertanyaan ini cukup menarik jika mengacu pada pendapat yang mengatakan bahwa Pilkada DKI 2017 adalah “batu loncatan” untuk Pilpres 2019.

Siapa yang memenangkan Pilkada DKI 2017, maka capres yang berasal dari kubu pemenang pengusung cagub akan memengaruhi sekaligus memenangkan Pilpres 2019. Pasangan cagub Anies-Sandiaga diusung oleh Partai Gerindra dengan Ketua Umumnya Prabowo Subianto. Hasil perhitungan cepat seperti sudah diketahui dimenangkan oleh pasangan cagub Anies-Sandiaga.

Kemenangannya pun telak, dan diperkirakan pendukung Ahok-Djarot serta Anies-Sandiaga pun heran atas hasil perhitungan cepat tadi. Ada yang janggal? Ada atau tiada terserah saja, saat ini yang dibahas masih seputar Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia ke 8, benar atau tidak.

Jauh sebelumnya sudah ada wacana Gerindra akan kembali mengusung Prabowo sebagai capres pada Pilpres 2019 nanti. Di sisi lain Jokowi pun akan tampil kembali sebagai capres yang didukung oleh PDIP. Diperkirakan capres dan parpol pendukung yang bertarung di Pilpres 2019 nanti masih seperti Pilpres 2014 lalu.

Jika perkiraan tadi benar, Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia berikutnya? Karena Jokowi, entah siapa pun cawapresnya, kalah telak seperti dialami oleh Ahok-Djarot pada Pilkada DKI 2017? Kecil kemungkinannya ada pasangan capres yang kalah telak pada Pilpres 2019 nanti, kecuali ada capres yang terkena kasus dugaan penistaan agama atau isu-isu politik besar lainnya.

Terlepas menangnya tipis, tapi tetap saja Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia berikutnya? Pada Pilpres 2014 lalu Prabowo pun kalah tipis, dan kekalahan itu menyebabkan Prabowo menyandang status “si kalah”. Namun kemenangan telak Anies-Sandiaga menghapus status “si kalah” tadi.

Tak heran Prabowo terlihat berseri-seri dan gembira menyambut kemenangan telak Anies-Sandiaga di Pilkada DKI 2017.

Sebelumnya ada perkiraan skenario seperti ini.

Pertama, Ahok-Djarot memenangkan Pilkada DKI 2017, kedua Ridwan Kamil yang diusung oleh PDIP memenangkan Pilkada Jabar 2018, dan ketiga Prabowo kembali kalah di Pilpres 2019, tapi perkiraan skenario tadi meleset.

Pasangan cagub yang didukung PDIP bertambah kalahnya setelah Anies-Sandiaga memenangkan Pilkada DKI 2017. Jika benar PDIP mendukung Ridwan Kamil, tapi kembali kalah lagi pada Pilkada Jabar 2018, sudah bisa dipastikan Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia berikutnya? Makanya keramaian politik di Pilkada DKI 2017 akan pindah ke Pilkada Jabar 2018?

Benar atau tidaknya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia ke 8, dan Pilkada Jabar 2018 akan berlangsung seru seperti Pilkada DKI 2017, silakan saja tunggu dengan hati yang berdebar-debar atau sebaliknya.

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini

  • Putih giliran melangkah.
  • Langkah kemenangan putih?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Me5-c7+!

  • Bingung?
  • Bagaimana jika hitam Ke6xMc7?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.

Sumber gambar.


Prabowo Subianto Sedang Berada di Atas Angin

Prabowo Subianto Sedang Berada di Atas Angin

Adahati.com – Prabowo Subianto sedang berada di atas angin karena hasil perhitungan cepat Pilkada DKI 2017 menunjukkan pasangan cagub Anies-Sandiaga menang telak atas pasangan cagub Ahok-Djarot.

Mengapa Ahok-Djarot bisa kalah? Tak lama lagi banyak analisis yang bertebaran, tapi kalah ya kalah, tidak perlu banyak alasan yang dicari-cari atau seperti itu.

Jika konsisten dengan pendapat yang mengatakan bahwa Pilkada DKI 2017 adalah “batu loncatan” untuk Pilpres 2019, dan jika calon presidennya masih antara Jokowi dan Prabowo, maka kemungkinan besar Prabowo Subianto Presiden RI berikutnya.

Boleh saja tidak percaya, tapi yang jelas saat ini Prabowo Subianto sedang berada di atas angin, dan anginnya bisa turun, bisa juga naik. Masih ada waktu sekitar 2 tahun lagi. Tinggal keahlian tim sukses masing-masing kubu menggoreng dan menangkis isu-isu yang ada. Kerja berat untuk tim sukses Jokowi, apalagi jika hasil kerja pemerintahan Jokowi dinilai gagal nantinya, maka makin berat saja, sedangkan Prabowo jangan melakukan blunder hingga Pilpres 2019 tiba.

Apakah setelah Anies-Sandiaga resmi menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur, maka dengan sendirinya Jakarta pun dalam keadaan damai? Damai itu membosankan dan cenderung tidak kreatif, menurut pendapat sebagian pihak. Bukankah siapapun yang menang sebenarnya Jakarta tetap akan ramai hingga Pilpres 2019? Sebaiknya jangan seperti burung unta yang senang menyembunyikan kepalanya ke dalam tanah.

Prabowo Subianto sedang berada di atas angin, apakah nantinya akan membuat pendukung Ahok yang kecewa dengan hasil Pilkada DKI 2017 akan menjauhi Jokowi untuk merapat kepada Prabowo? Tak ada kawan dan lawan yang abadi, juga tidak ada pendukung pro dan kontra yang abadi. Semua masih bisa berubah, atau tidak ada yang pasti. Satu hal yang sudah bisa dipastikan adalah menang itu indah.

Selain indah, menang juga ramai. Apapun alasannya, menang itu indah. Kalah yang tidak mengenakkan. Tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan dari sebuah kemenangan.

Saat ini Prabowo Subianto sedang di atas angin, wajar jika Jokowi dan pendukungnya pun mulai merasa ketar-ketir menghadapi Pilpres 2019 yang hanya tinggal sekitar 2 tahun lagi, dan Jakarta masih tetap akan ramai nantinya.

Sumber gambar. 


Luhut Puji Puan untuk Meredam Kemarahan Megawati?

Luhut Puji Puan untuk Meredam Kemarahan Megawati?

Adahati.com – Ada apa Luhut puji Puan Maharani? Apakah masih berkaitan dengan pidato Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri beberapa waktu lalu?

Selain “Petugas Partai” dan kata “Keluar” yang mengundang perdebatan berkait pidato politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tadi, juga disinggungnya tentang  “Penumpang Gelap” yang melahirkan sebuah gunjingan.

Siapa yang dimaksud dengan “Penumpang Gelap” oleh Megawati? Ke mana arah dan tujuannya? Apakah Kepala Staff Kepresidenan, makanya Luhut puji Puan?

Tak satu pun nama disebut Megawati, tapi menurut analisis sebagian pengamat politik, “Penumpang Gelap” tadi salah satunya ditujukan kepada Luhut.

Kepala Staff Kepresidenan ini memiliki tugas dan wewenang yang melebihi menteri, bahkan memandulkan peran Wakil Presiden Jusuf Kalla, kata sebagian pengamat politik tadi. Bukan hanya itu saja, Luhut pun ikut berperan berkait terjadinya komunikasi politik yang buruk antara presiden Jokowi dan PDIP.

Ada maksud tertentu di balik Luhut puji Puan Maharani, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang juga anaknya Megawati?

Luhut puji Puan yang menurutnya banyak memberikan masukan soal pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 2015 yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Bandung pada 19-24 April mendatang. Cucu Soekarno ini tahu persis bagaimana sejarah KAA saat masa pemerintahan kakeknya, Bung Karno itu.

Pidato politik Megawati menyebut istilah “Penumpang Gelap” dan diduga salah satunya ditujukan kepada Luhut, kemudian Luhut puji Puan. Apakah semua ini bagian dar taktik atau trik murahan, kalau emaknya marah, puji anaknya?

Menurut sebagian pihak yang selama ini tidak suka dengan Kepala Staff Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan kemungkinan besar setuju, memang ada maksud tertentu di balik Luhut puji Puan anak perempuannya Megawati itu.

Namun di sisi lain mungkin saja ada pembelaan dari sebagian pihak yang mengatakan apa salahnya Luhut puji Puan kalau memang benar banyak kontribusinya dalam perencanaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 2015?

Entah ada atau tiada di balik maksud Luhut puji Puan Maharani tadi, sebenarnya hal yang biasa dalam politik menerapkan strategi dan taktik yang jitu sesuai situasi dan kondisi yang ada, serta bukan sesuatu yang aneh dan baru.

Sumber berita: tempo.co, sumber gambar yiutube.com.


Kesempatan Terakhir Anies-Sandiaga Malam Ini?

Kesempatan Terakhir Anies-Sandiaga Malam Ini?

Adahati.com – Kesempatan terakhir Anies-Sandiaga mewujudkan harapan yang masih tersisa ada di malam ini (12/4/17). Pasangan cagub ini diperkirakan oleh sebagian pengamat politik beruntung bisa melaju ke putaran kedua, karena ada serangan politik dari mantan Ketua KPK Antasari Azhar di menit-menit akhir yang menyebabkan pasangan cagub Agus-Sylvi pun tersingkir.

Seharusnya Anies-Sandiaga yang beruntung lolos ke putaran kedua berbenah diri, tapi apa lacur, blunder-blunder yang tak perlu dilakukannya, yaitu antara lain rumah DP nol persen atau nol rupiah, semua ormas mendapat dana dari APBD DKI, juga program OKE OCE yang cenderung tidak jelas atau masih di awang-awang.

Harapan Anies-Sandiaga menduduki kursi jabatan gubernur dan wakil gubernur DKI pun menipis. Memang ada survei yang mengatakan masyarakat Jakarta puas dengan kinerja Ahok-Djarot, tapi elektabilitas Anies-Sandiaga sedikit lebih unggul sehingga terjadilah paradoks. Mungkin ada sebagian pihak yang kagum dengan hasil survei tadi, atau sebaliknya. Jika sudah memiliki pelayan (pembantu) yang baik tentu akan mempertahankannya, bukan mencari pelayan baru yang belum jelas kinerjanya.

Blunder-blunder tadi menipiskan harapan, namun masih ada kesempatan terakhir Anies-Sandiaga, dengan catatan harus menang. Imbang, apalagi kalah ke laut sudah. Hal ini pernah dialami oleh Agus-Sylvi. Tidak sedikit pengamat politik yang mengatakan, selain serangan politik Antasari Azhar, juga ketidakpiawaian Agus-Sylvi berdebat menyebabkan mereka harus tersingkir dari Pilkada DKI 2017.

Malam ini debat terakhir cagub akan dipandu oleh Ira Kusno. Kesempatan terakhir Anies-Sandiaga mewujudkan harapan yang masih tersisa. Sekali lagi harus menang, tidak boleh imbang, apalagi kalah. Kemenangan dalam debat cagub terakhir ini bisa menarik para pemilih untuk memberikan suaranya. Maka dari itu, Anies-Sandiaga butuh disuap atau diberi masukan-masukan materi debat yang bagus dari tim suksesnya.

Cukup menarik, bukan? Ya, menurut sebagian pihak, tapi sebagian pihak lainnya justru mengantuk saat menonton “debat teletubbies” yang ada selama ini. Ketika bangun dari tidur yang terdengar saling klaim kemenangan dari ke dua kubu.

Karena bingung, diputuskan saja hasil debatnya berakhir imbang.

Sumber gambar. 


Benarkah Prabowo Mulai Panik atau Menenangkan Diri?

Benarkah Prabowo Mulai Panik atau Menenangkan Diri?

Adahati.com – Prabowo mulai panik? Benarkah Ketua Umum Partai Gerindra ini mulai panik, atau sedang berusaha menenangkan diri karena ada kemungkinan pasangan cagub Anies-Sandiaga akan kalah pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua nanti?

Tanda-tanda kekalahan Anies-Sandiaga semakin terlihat karena blunder-blunder yang dilakukannya. Tidak jelas program-program yang ditawarkan, contohnya rumah DP nol persen atau nol rupiah itu. Taktik politik basi yang hanya mengumbar janji dan memberikan angin surga yang tidak jelas arahnya.

Sementara terkait taktik yang dimainkan Ahok-Djarot ada perubahan atau kemajuan. Djarot lebih sering tampil di media massa, dan Ahok sekali-kali menyerang lawan politiknya. Diperkirakan taktik ini sesuai nasehat atau saran Megawati.

Aksi 313 yang cenderung merupakan aksi politik mendukung pasangan cagub Anies-Sandiaga pun gagal total, bahkan berujung dugaan makar terhadap pentolannya yang tidur di hotel mewah sehari sebelum aksi 313 itu berlangsung.

Maka dari itu, Prabowo mulai panik? Banyak pengamat politik yang memperkirakan Pilkada DKI 2017 merupakan “batu loncatan” untuk Pilpres 2019. Kemungkinan besar pertarungan yang terjadi di Pilpres 2019 nanti masih antara Jokowi dan Prabowo. Kalah di Pilkada DKI 2017 akan membawa dampak yang buruk. Perlu alasan untuk menutupi kekalahan itu.

Karena Prabowo mulai panik, ia pun mengklaim Anies-Sandiaga akan memenangkan Pilkada DKI 2017 putaran kedua, jika tidak terjadi kecurangan. “Yang kami waspadai adalah usaha-usaha yang tidak baik. Usaha-usaha curang. Siapapun yang menang, asal tidak curang tidak apa-apa,” ujarnya (kompas.com, 1/4/2017).

“Menang jika tidak terjadi kecurangan”, atau “menang kalau tidak dicurangi” ini taktik politik basi yang bisa dijadikan alasan untuk menutupi dampak buruk dari sebuah kekalahan. Tapi kalah tetap kalah. Sebaiknya tidak membiasakan diri mencari alasan yang tidak jelas dari sebuah kekalahan. Kebiasaan buruk tidak mengakui kekalahan sebaiknya dihilangkan.

Apakah benar Prabowo mulai panik? Karena Prabowo mulai panik, maka lahirlah frasa “menang jika tidak terjadi kecurangan” atau “menang kalau tidak dicurangi”?

Tentu saja yang bisa menjawab dengan pasti adalah Prabowo sendiri. Namun terlepas benar atau tidaknya, Tante C sekadar menyarankan saja. Usahakan dalam keadaan seperti apapun sebaiknya hindari yang namanya panik diri tadi.

Kalau panik tidak akan menyelesaikan masalah atau problem yang ada.

  • Putih giliran melangkah, dan dituntut harus menang, tidak boleh remis, apalagi kalah. Apakah semua ini membuat putih menjadi panik?
  • Ah tidak, biasa saja.
  • Kf4-e6!

  • Bingung?
  • Pegangan.

Ilustrasi: radarlampung.co.id.


Ahok Tak Perlu Dengar Nasihat atau Saran Megawati

Ahok Tak Perlu Dengar Nasihat atau Saran Megawati

Adahati.com – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta yang kemungkinan besar akan terpilih kembali – karena Anies Baswedan dan Sandiaga Uno cukup sering melakukan blunder, antara lain rumah DP nol persen, DP nol rupiah atau apalah ngelesnya itu, juga menjanjikan semua ormas akan mendapat dana yang diambil dari APBD DKI – ternyata pernah menerima nasihat atau saran Megawati.

Adapun nasihat atau saran Megawati tadi adalah Ahok jangan terlalu banyak bicara atau cerewet, mengingat kondisi politik yang sedang tidak stabil saat ini.

“Jadi saya sempat bilang ke Pak Ahok, ‘sudahlah jangan cerewet. Karena sekarang kamu itu kena (sorot kamera) TV terus’,” kata Megawati (kompas.com, 30/3/2017).

Pilkada DKI 2017 putaran kedua ini sepertinya Djarot lebih sering tampil ke muka, dibanding saat Pilkada DKI putaran pertama. Sebuah taktik baru, atau ada kemajuan, tidak seperti pasangan cagub Anies-Sandiaga yang masih memainkan taktik yang sama, yaitu berupa janji-janji muluk yang cenderung bikin ngantuk saja.

Apakah taktik Ahok-Djarot tadi perwujudan dari nasihat atau saran Megawati? Terlepas benar atau tidaknya, nasihat atau saran Megawati supaya Ahok tidak cerewet cukup baik saat ini, tapi abaikan saja, apabila menyangkut masalah korupsi.

Korupsi adalah musuh nomor satu bangsa ini, pun mengingat APBD DKI Jakarta kelak lebih dari Rp 70 triliun, Ahok tidak boleh tidak cerewet, jika ada indikasi korupsi yang dilakukan oleh “bandit-bandit berdasi”, atau bandit lainnya.

Tante C pun cerewet, jika menyangkut masalah Trik dan Problem Catur yang Sederhana. Semua ini demi kebaikan dan kemajuan penggemar catur yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong agar taktik yang digunakan bukan taktik basi, seperti taktik pasangan cagub Anies-Sandiaga berupa janji muluk yang cenderung meninabobokan atau bikin ngantuk saja.

Tanpa banyak basa-basi, markiper (mari kita perhatikan) diagram catur di bawah ini:

  • Putih giliran melangkah.
  • Sepertinya masih sulit bagi putih untuk menembus pertahanan hitam.
  • Tapi menurut nasihat atau saran Tante C, Menteri putih maju saja selangkah.
  • Mg3-g4!
  • Mudah, bukan?
  • Tidak sulit dan rumit.

Nasihat atau saran Megawati supaya Ahok tidak cerewet ada baiknya didengar saat ini, tapi Ahok harus cerewet, bahkan lebih cerewet lagi dibanding sebelumnya, jika menyangkut masalah korupsi.

Tante C dan teman-temannya pun cerewet, tapi bukan sekadar cerewet.

Sumber gambar. 


Anies-Sandiaga dan Skenario Masa Depan

Anies-Sandiaga dan Skenario Masa Depan

Adahati.com – Anies-Sandiaga diusung oleh Partai Gerindra pada Pilkada DKI 2017. Tulisan sebelumnya di sini membahas tentang “blunder yang beranak pinak”.

Satu blunder saja sudah bisa mendatangkan kekalahan, apalagi banyak blunder. Perjuangan Partai Gerindra agar Anies-Sandiaga bisa mengalahkan Ahok-Djarot pun kini terasa berat. Belum usai satu persoalan, datang lagi persoalan lainnya. Bermula dari manuver politik Partai Nasdem yang berniat mengusung Ridwan Kamil pada Pilkada Jabar 2018. Bagaimana tanggapan atau reaksi Partai Gerindra?

“Kami tidak mungkin mengusungnya lagi,” kata Ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum Daerah Partai Gerindra Jabar, Sunatra (merdeka.com, 21/3/17).

Sebab, salah satu kesepakatan tertulis antara Nasdem dan Ridwan Kamil adalah mendukung Jokowi kembali menjadi presiden, sedangkan capres yang akan diusung oleh Partai Gerindra pada Pilpres 2019 adalah Prabowo Subianto.

Diperkirakan Pilpres 2019 nanti merupakan pengulangan Pilpres 2014, atau terjadi lagi pertarungan antara Jokowi dan Prabowo Subianto. Entah siapa saja parpol yang ada di dalam kedua koalisi, pertarungan yang terjadi masih seperti itu. Baik Pilkada DKI 2017, Pilkada Jabar 2018, dan Pilpres 2019 calon gubernur dan presiden yang diusung tak lepas dari peran PDIP cs, dan Partai Gerindra cs.

Kemungkinan skenario yang terjadi bisa seperti ini:

Pertama, Ahok kembali menjabat gubernur DKI Jakarta, dan Anies Baswedan terpuruk. PDIP cs yang menang, sedangkan Partai Gerindra cs kalah.

Kedua, Ridwan Kamil yang diusung oleh PDIP cs pun memenangkan Pilkada Jabar 2018, dan tampil sebagai gubernur Jawa Barat. Skor sementara 2-0 untuk keunggulan PDIP cs.

Ketiga, Prabowo Subianto kembali gagal menduduki kursi RI satu, dan Jokowi tetap Presiden RI untuk periode 5 tahun berikutnya. Partai Gerindra cs pun menciptakan hat-trick kekalahan, atau tiga kali kalah secara berturut-turut.

Jika skenario di atas tadi menjadi kenyataan, selain “blunder yang beranak pinak”, ada juga “kekalahan yang beranak pinak”?

Sebaiknya kita tunggu saja, sebab tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang sudah pasti, juga demi mengobati kerinduan para penggemar catur yang baik hati, rajin menabung, senang berpikir ke depan dan tidak sombong, di bawah ini ada Trik dan Problem Catur yang Sederhana.

  • Meski hitam unggul satu perwira Gajah, tapi posisi buah caturnya buruk. Putih yang giliran melangkah pun memiliki pandangan jauh ke depan sehingga sukses memenangkan pertandingan ini. Apa langkah putih selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Be1-e6!

  • Bingung?
  • Mudah-mudahan tidak.

Ilustrasi: detik.com.


Ada Apa di Balik Muka Setya Novanto yang Cerah?

Ada Apa di Balik Muka Setya Novanto yang Cerah?

Adahati.com – Ketua Umum Partai Golkar, dan juga Ketua DPR RI Setya Novanto belakangan ini namanya sering disebut oleh media massa terkait kasus korupsi e-KTP.

Cukup banyak nama besar yang diduga telah menerima uang haram dari proyek bernilai sekitar Rp 5,9 triliun ini. Namun di sisi lain bukan sesuatu yang aneh dan mengejutkan jika ada bantahan sambil bersumpah, juga tak ketinggalan kata-kata magis seperti “tidak menerima sepeserpun” atau “tidak menerima satu sen pun”.

Menurut KPK, Setya Novanto terlibat, dan termasuk salah satu dari lima orang penggerak korupsi e-KTP. “Iya lima orang itu dulu,” kata Jaksa KPK, Irene Putri.

Lima orang yang dimaksud adalah Diah Anggraini (Sekjen Kementerian Dalam Negeri), Irman (mantan Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri), Sugiharto (mantan Pejabat Pembuat Komitmen Kementerian Dalam Negeri), Andi Agustinus alias Andi Narogong (pengusaha yang bermitra dengan Kementerian Dalam Negeri), dan Setya Novanto yang menjabat ketua fraksi Golkar.

Uang pelicin sebesar Rp 520 miliar pun mengalir ke seluruh partai politik yang dianggap terlibat proyek e-KTP ini.

1. Partai Golkar mendapat Rp 150 miliar
2. Partai Demokrat mendapat Rp 150 miliar
3. PDI Perjuangan mendapat Rp 80 miliar
4. Marzuki Ali, ketua DPR saat itu, mendapat jatah Rp 20 miliar
5. Anas Urbaningrum mendapat Rp 20 miliar
6. Chaeruman Harahap, ketua Komisi II DPR saat itu, mendapat Rp 20 miliar
7. Partai-partai lainnya mendapat Rp 80 miliar

Namun di tengah kegarongan ini, justru ada berita yang menyebut Ketua KPK Agus Rahardjo diminta mundur dari jabatannya oleh Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. Meski Fahri memiliki alasan, tapi kesannya ingin mengalihkan perhatian.

Jika melihat daftar di atas tadi, Partai Golkar berada di urutan pertama. Uang sebesar Rp 150 miliar bukan jumlah yang sedikit, dan Setya Novanto pun disebut ikut terlibat kasus korupsi e-KTP. Partai Golkar pun panik?

Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Golkar, Priyo Budi Santoso saat bertemu di Gedung DPR (14/3/17) melihat wajah Setya Novanto cerah dibalut senyum lebar. “Saya menangkap wajah Novanto tak ada kesedihan apapun. Senyum dan cerah. Tanda baik saya peluk, gitu saja. Tapi hati saya enggak tahu,” katanya.

Tak ada kesedihan apapun, senyum dan cerah. Memang tidak disebutkan dunia berseri-seri, bunga-bunga mekar mewangi, dan burung-burung pun ikut bernyanyi. Tapi benarkah semua ini pertanda bahwa Ketua Umum Partai Golkar, dan juga Ketua DPR RI Setya Novanto pada dasarnya tidak terlibat kasus korupsi e-KTP?

Kalau begitu, siapa sebenarnya “wajah garong” di balik kasus korupsi e-KTP ini?

Sumber gambar, sumber berita: merdeka.com.


Haji Lulung Belum Memikirkan Langkah Selanjutnya

Haji Lulung Belum Memikirkan Langkah Selanjutnya

Adahati.com – Haji Lulung belakangan ini namanya cukup sering menghiasi media massa, tapi sayangnya bukan karena prestasinya, tapi cenderung berkonotasi negatif.

Kemarin, Ketua Umum PPP Muktamar Jakarta, Djan Faridz mengumumkan pemecatannya karena tidak sejalan dengan kebijakan partai, yaitu mendukung pasangan cagub Ahok-Djarot. Bagaimana reaksi Haji Lulung setelah dipecat dari PPP?

Seperti biasa, jika ada politikus yang dipecat oleh partainya akan melakukan pembelaan diri, klarifikasi, atau bantahan, tapi semua itu cenderung tidak terlalu menarik untuk dibahas lebih lanjut. Justru pertanyaan ke mana perginya Haji Lulung setelah dipecat oleh Djan Faridz cukup mengundang penasaran.

Kubu PPP pimpinan Romahurmuziy membuka pintu untuknya, begitu juga Partai Gerindra. “Ya kalau Gerindra itu semua yang mau bergabung berjuang bersama kita tampung. Kita kan wadah perjuangan,” kata Fadli Zon.

Entah wadah perjuangan seperti apa yang dimaksud oleh Fadli Zon tadi. Pun entah apa untungnya Partai Gerindra menampung mantan politikus PPP ini, tapi kata “perjuangan” yang diucapkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra tadi mengingatkan pada parpol pimpinan Megawati Soekarnoputri.

Apakah ada juga tawaran dari PDIP? Kemungkinan besar hingga ayam berkokok di pagi hari selama bertahun-tahun pun tidak akan ada tawaran seperti itu.

Lalu, ke mana perginya Haji Lulung? Pindah ke parpol apa? “Belum terpikir, soal pindah partai, ini kan kejadiannya kan baru kemarin, yang dipecat bukan saya saja, semua anggota dewan (DPRD DKI dari PPP),” begitu antara lain kata Haji Lulung.

Tante C hanya bisa menghimbau, semoga Haji Lulung tidak terlalu lama belum berpikir, dan langkah selanjutnya bukan langkah blunder, tapi langkah yang baik dan jitu, seperti terlihat pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini.

  • Hitam giliran melangkah.
  • Belum terpikir langkah hitam selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Gc8-g4!

  • Masih belum terpikir langkah hitam selanjutnya, jika putih Md1xGg4 atau h3xGg4?
  • Jika memang demikian, berarti sama dengan Haji Lulung yang belum terpikir juga.

Sumber gambar, sumber berita” merdeka.com.


Partai Politik SBY Tidak Digandeng oleh PDIP

Partai Politik SBY Tidak Digandeng oleh PDIP

Adahati.com – Pilkada DKI 2017 putaran pertama sudah berakhir, dan menurut perhitungan sementara KPU DKI perolehan suara pasangan cagub Agus-Sylvi yang diusung oleh partai politik SBY paling sedikit dibanding lainnya, namun di sisi lain tersingkirnya Agus-Sylvi tadi menimbulkan hal yang cukup menarik.

Partai Demokrat adalah pendukung utama Agus-Sylvi. Sekitar 17% hasil perolehan suaranya pada putaran pertama Pilkada DKI 2017 ibarat “anggur manis” yang diperebutkan oleh Ahok-Djarot dan Anies Baswedan. Manuver politik pun dimulai. Timbul suara yang mengklaim bahwa SBY dan Agus Yudhoyono telah memberikan restu untuk mendukung pasangan cagub Anies-Sandiaga, tapi dibantah oleh Agus Yudhoyono.

Tapi mengapa partai politik Megawati, yaitu PDIP tidak tertarik dengan “anggur manis”tadi? Apa alasannya tidak ingin menggandeng partai politik SBY? Menurut Wasekjen PDIP Ahmad Basarah, sikap politik Demokrat secara nasional selama ini adalah partai penyeimbang sehingga tidak akan mendukung pasangan cagub Ahok-Djarot. “Sebagai partai penyeimbang tentu logika politik tentu terkait putaran kedua ini Demokrat akan mengambil posisi sebagai penyeimbang,” katanya.

Secara tidak langsung ia ingin mengatakan hal yang sama berlaku juga untuk Anies-Sandiaga, atau partai politik SBY tidak akan mendukung kedua pasangan cagub tadi. Frasa “partai penyeimbang” ini menjadi semacam brand partai politik SBY, dan sebagian pihak mengatakan  “politik bermuka dua” atau “politik dua kaki”.

Tapi walau mengklaim sebagai “partai penyeimbang” diduga kuat partai politik SBY ini lebih condong mendukung Anies-Sandiaga, seperti Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 lalu. Makanya tidak terlalu mengherankan jika PDIP tidak ingin menggandeng partai politik SBY. Sikap Megawati pun selama ini sudah jelas tersirat seperti itu.

Pertimbangan lainnya, meski partai politik SBY dan Agus Yudhoyono menghimbau para pemilihnya untuk mengalihkan suaranya kepada salah satu pasangan cagub belum tentu signifikan hasilnya mengingat perilaku politik masyarakat Jakarta yang pragmatis , atau tergantung situasi dan kondisi politik yang ada.

Di sisi lain “tidak ada makan siang gratis”. Apa yang diberikan pasangan cagub yang ingin mendapat “anggur manis” tadi? Terlalu berharap pun, apalagi sampai memelas seperti pengemis hanya akan menaikkan posisi partai politik SBY saja.

Sumber gambar, sumber berita: merdeka.com.


Ahok Kirim Sesuatu untuk Sahabat Presiden Jokowi

Ahok Kirim Sesuatu untuk Sahabat Presiden Jokowi

Adahati.com – Pilkada DKI 2017 putaran pertama baru saja berakhir, tapi Ahok kirim sesuatu untuk sahabat Presiden Jokowi, yaitu Ketua Umum Partai Demokrat SBY.

Sebelumnya anak SBY yang termasuk salah satu cagub DKI telah mengakui kekalahannya. Agus Yudhoyono secara sportif, jantan, atau ksatria telah mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat kepada lawan lawan politiknya setelah tahu perolehan suaranya paling sedikit dibanding cagub lainnya.

Padahal Agus Yudhoyono itu “hanya” pensiunan Mayor saja, tapi sportif atau ksatria meski perhitungan suara resmi dari KPU belum diumumkan. Sah-sah saja jika ia menunggu hingga KPUD Jakarta mengeluarkan pengumuman resmi, kemudian baru mengakui kekalahannya.

Sikap Agus Yudhoyono yang sportif, jantan, atau ksatria tadi berbeda dengan si ono. Kalau si ono kan bilangnya tunggu pengumuman resmi dari KPU, tapi setelah pengumuman resmi KPU keluar dan kalah pun masih juga tidak mengaku kalah.

Kalah atau menang itu biasa, tak perlu berlebihan, apalagi terkesan cengeng. Ternyata bukan hanya Agus saja, Sylvi yang jenis kelaminnya perempuan pun ingin mengucapkan selamat sebagai tanda pengakuan kalah, lalu ia menelpon Ahok. Namun Ahok tak sempat angkat, kemudian balik menelpon Sylvi.

Di sinilah Ahok kirim sesuatu untuk sahabat Presiden Jokowi. “Semalam sudah telepon. Sudah ngomong, Bu Sylvi, karena kita sudah kenal baik kan. Saya kirim salam juga kepada Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) begitu,” kata Ahok.

Ooo…kirim salam. Kirain kirim kue atau kirim apaan.

Tante C pun ingin kirim salam. Pilkada DKI 2017 putaran kedua menyisakan pasangan cagub Ahok-Djarot dan Anies-SAndiaga. Salah satu dari mereka nantinya ada yang kalah. Sebaiknya siapapun yang kalah jangan cengeng. Kalah atau menang itu biasa. Salam malu dari Agus Yudhoyono yang sportif mengakui kekalahannya.

Selain kirim salam malu, Tante C pun ingin kirim sesuatu yang menyenangkan, apalagi kalau bukan Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Hitam giliran melangkah.
  • Bagaimana cara menangnya hitam? Boleh gak hitam kirim sesuatu?
  • Dalam bentuk apa?
  • Dalam bentuk Gajah…Gd4-g1!

 

  • Bingung?
  • Pegangan.

SBY Sebenarnya Ditolong oleh Antasari Azhar?

SBY Sebenarnya Ditolong oleh Antasari Azhar?

Adahati.com – Mantan Ketua KPK Antasari Azhar “berkicau” yang cenderung menyudutkan SBY, seperti pernah ditulis sebelumnya di sini. Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang merasa prihatin dengan keadaan SBY saat ini.

Terlepas percaya atau tidak, sebenarnya “kicauan” Antasari tadi adalah sebuah pertolongan yang tak terduga, sebab SBY tidak jadi “kehilangan muka” alias malu.

Sebagian pihak menduga SBY rela “mengorbankan” anaknya, Agus Yudhoyono yang memiliki karir militer yang cemerlang untuk ditarik ke dunia politik. Memang SBY dan kubu Partai Demokrat telah memberikan penjelasan, tapi sebagian pihak tadi cenderung lebih percaya bahwa SBY telah “mengorbankan” anaknya demi mewujudkan sebuah ambisi politiknya.

Diperkirakan SBY memiliki kalkulasi politik sendiri, katakanlah “kalkulasi politik kemenangan”. Jika tidak, masak sih SBY sampai rela “mengorbankan” anaknya?

“Kalkulasi politik kemenangan” tadi, meski sudah menjalankan taktik yang menjanjikan kemenangan, buyar menjelang hari H Pilkada DKI karena ada serangan balik politik yang datang. Beberapa hasil survei seperti Litbang Kompas, SMRC, dan Poltracking pun menunjukkan elektabilitas Agus-Sylvi berada di posisi terbawah.

Tanda-tanda kekalahan itu sudah mulai terlihat, meski tidak terlalu mencolok, tapi datang lagi serangan politik lainnya sehari menjelang hari H Pilkada DKI berupa “kicauan” Antasari Azhar, sehingga kekalahan Agus-Sylvi tidak tipis lagi, tapi cukup telak seperti terlihat dari perhitungan cepat Litbang Kompas di bawah ini.


Sebenarnya ada atau tidak ada “kicauan” Antasari Azhar, “kalkulasi politik kemenangan” SBY sudah meleset, atau Agus-Sylvi memang sudah diperkirakan akan kalah dan tersingkir. Hanya bedanya kekalahannya menjadi telak, dan Anies-Sandiaga yang lebih banyak mendapat “muntahan suara” dibanding pasangan cagub Ahok-Djarot.

Makanya “kicauan” Antasari itu ada sisi baiknya, blessing in disguise, sebuah pertolongan yang membuat SBY tidak jadi “kehilangan muka”, dan dimanfaatkan oleh SBY untuk “berkicau” lewat akun Twitternya.

Kalau tidak ada “kicauan” Antasari, Agus-Sylvi tidak akan kalah, seperti itu kira-kira pesan yang ingin disampaikannya. Padahal, sekali lagi, ada atau tidak ada “kicauan” Antasari, Agus-Sylvi tetap kalah dan tersingkir.

Sumber gambar. 


Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Hak Angket “Ahok Gate” Hanya Buang-buang Waktu

Adahati.com – “Kami dari Fraksi Gerindra dan saya kira nanti akan ada kawan-kawan dari fraksi lain, sedang menginisiasi sebuah pansus angket, ini kita belum bertemu. Tapi dari Gerindra akan mengajukan pansus angket Ahok Gate…,” begitu antara lain kata Wakil Ketua DPR RI dari Partai Gerindra Fadli Zon di sini.

Fraksi Partai Gerindra, PAN, PKS, dan Partai Demokrat setuju diadakan hak angket “Ahok Gate”, tapi Fraksi PDIP dengan tegas menolaknya.  Menurut Arif Wibowo hak angket itu digunakan untuk urusan yang sangat penting dan strategis. Kalau tidak, sama saja menurunkan derajat atau kualitas dari penggunaan hak dewan itu sendiri.

Direktur Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti pun menilai hak angket sering diobral. “Oleh karena itu, jangan mudah mengobral isu angket kalau bukan hal mendasar.” Sementara menurut Prof Hibnu Nugroho di sini, ada multitafsir pada Undang-Undang yang dijadikan alasan untuk memberhentikan sementara Ahok. Selain itu, dakwaan yang dijerat kepada Ahok adalah dakwaan alternatif, bukan dakwaan tunggal.

Mengapa bisa multitafsir? Memangnya siapa yang membuat Undang-Undang itu? Apakah saat membuat Undang Undang tadi tidak dipikirkan secara matang?

Setelah membaca tentang ketentuan hak angket, ternyata perjalanannya masih panjang sekali. Usulan menjadi hak angket jika mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari 1/2 jumlah anggota DPR. Jika hal itu dipenuhi dan lebih dari 1/2 dari jumlah Anggota Dewan yang hadir setuju, dibentuk Panitia Angket.

Kemudian Panitia Angket akan meminta keterangan dari pemerintah, saksi, pakar, organisasi profesi, dan/atau pihak terkait lainnya. Setelah itu, Pasal 181, (1): Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna DPR paling lama 60 (enam puluh) hari sejak dibentuknya panitia angket. (2) Rapat paripurna DPR mengambil keputusan terhadap laporan panitia angket.

Hak angket bisa lanjut atau gugur, dan Pasal 182 (3): Keputusan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah anggota DPR dan putusan diambil dengan persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah anggota DPR yang hadir.

Memangnya seperti apa komposisi 560 Anggota DPR saat ini?

Dari 10 Fraksi yang ada, PDIP 109 orang, Golkar 91 orang, Gerindra 73 orang, Demokrat 61 orang, PAN 49 orang, PKB 47 orang, PKS 40 orang, PPP 39 orang, Hanura 16 orang dan Nasdem 35 orang. Total jumlah Anggota Dewan dari Fraksi Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS adalah 223 orang, tidak sampai 1/2 jumlah Anggota Dewan.

Fraksi Partai Nasdem pun menilai pembentukan pansus hak angket terkait dengan pemberhentian sementara Ahok dari jabatannya hanya buang-buang waktu saja.

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini:

  • Hitam giliran melangkah.
  • Bisakah hitam mengalahkan putih tanpa buang-buang waktu?
  • Bisa saja, apa yang tidak bisa?
  • Bg8-g2!

  • Bingung?
  • Pegangan.

Sumber gambar. 


Ahok-Djarot 64%, Anies-Sandiaga 20%, Agus-Sylvi 16%?

Ahok-Djarot 64%, Anies-Sandiaga 20%, Agus-Sylvi 16%?

Adahati.com – Ahok-Djarot mendapat 64%, sedangkan pasangan cagub lainnya, yaitu Anies-Sandiaga dan Agus-Sylvi masing-masing mendapat 20% dan 16% saja. Panik?

Kepanikan bisa terjadi, ketika harapan dan keyakinan yang tadinya sudah membumbung tinggi ke langit, namun tiba-tiba sebentar lagi akan jatuh terhempas ke bumi. Kecewa, kemudian menangis guling-guling di ubin. Begitulah orang yang mudah panik, padahal masalah yang membuatnya panik tadi belum tentu jelas.

Begini penjelasannya. Ahok-Djarot mendapat 64%, Anies-Sandiaga 20% dan Agus Sylvi hanya 16% saja, bukan perkiraan hasil perolehan suara di Pilkada DKI 2017, tapi share of media yang didapat oleh ketiga pasangan cagub tadi.

Menurut pantauan aplikasi rakyat memilih (rame.id) pada 23 September 2016-13 Januari 2017 terhadap 28 situs online, dari total 31.370 pemberitaan yang ada, pasangan Ahok-Djarot mendapat 64%, dan sisanya dibagi dua untuk pasangan cagub lainnya.

Pengamat politik Gun Gun Heryanto menanggapi, bahwa debat publik antar cagub memberikan dampak terhadap preferensi pemilih. contohnya, karakteristik ketiga pasangan cagub yang mengalami naik turun.

“Ada korelasi debat pada opini warga,” jelasnya di sini.

Menyedihkan, terutama untuk Agus-Sylvi? Dalam hal share of media pun kalah dan berada di urutan terbawah. Sebelumnya hasil survei dari Litbang Kompas, SMRC, dan Poltracking menjelang Pilkada DKI 2017 pun menunjukkan elektabilitas Ahok-Djarot teratas, Anies-Sandiaga di tengah, dan Agus-Sylvi di urutan terbawah.

Panik? Butuh bantuan hasil survei LSI? Diperkirakan Pilkada DKI 2017 akan berlangsung dua putaran, dan pasangan cagub Ahok-Djarot sudah bisa dipastikan melaju ke sana. Tapi, dari tiga hasil survei di atas tadi yang lebih layak dipercaya adalah elektabilitas Anies-Sandiaga dan Agus-Sylvi hanya beda tipis saja.

Artinya salah satu dari kedua pasangan cagub tadi ada yang tersingkir. Panik? Karena hanya tersisa satu tiket yang mesti diperebutkan? Entah siapa yang tersingkir, bagi pasangan cagub yang tersingkir, ya sudah…Adios Amigo.

adios amigo, adios my friend
the road we have traveled has come to an end

adios compadre, let us shed no tears
may all your mananas bring joy through the years –
Jim Reeves.

Ilustrasi: tempo.co.


Agus Yudhoyono Tersingkir dari Pilkada DKI 2017?

Agus Yudhoyono Tersingkir dari Pilkada DKI 2017?

Adahati.com – Agus Yudhoyono tersingkir dari Pilkada DKI 2017, jika mengacu hasil survei yang ada saat ini yang bisa dipercaya, karena surveinya cenderung netral.

Namun sebelum bahas hal ini lebih lanjut, telah terjadi lagi “skak mat” atau perlakuan yang tidak manis terhadap mantan presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, yaitu Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Beberapa hari lalu mantan presiden ini berkicau lewat akun Twitternya terkait sekitar 300 mahasiswa yang menyerbu rumahnya di Mega Kuningan.

Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*.”

Tapi bukan jawaban manis yang diterima. “Sekarang semua jadi bertanya kepada Presiden dan Kapolri, iya kan? Banyak pertanyaan tentang segala soal. Lalu, saya sendiri bertanyanya kepada siapa?” kata Presiden Jokowi di sini.

Sebelumnya SBY menuduh dua atau tiga orang di sekitar Presiden Jokowi yang selama ini menghalangi pertemuan mereka, tapi dari pihak istana mengatakan silakan kirim surat permohonan kalau ingin bertemu layaknya seorang tamu saja.

Jawaban atau tanggapan yang tidak manis kepada SBY tadi diperkirakan merupakan serangan balik politik yang sengaja ditujukan kepadanya karena Ketua Umum Partai Demokrat ini diduga ikut terlibat aksi 4 November 2016.

Serangan balik politik tadi pun ikut memengaruhi posisi politik anaknya. Dengan demikian Agus Yudhoyono tersingkir?

Litbang Kompas pada 28 Januari-4 Februari 2017 melakukan survei di sini. Hasilnya elektabilitas Ahok-Djarot 36,2%, Anies-Sandiaga 28,5% dan Agus-Sylvi 28,2 %. Sebelumnya elektabilitas Agus-Sylvi sebesar 37,1%. Artinya, turun 8,9%.

Mungkin ada sebagian pihak yang tidak setuju hasil survei di atas tadi, atau tidak benar Agus Yudhoyono tersingkir dari Pilkada DKI 2017.

Masih ada keyakinan yang cukup tinggi untuk lolos ke Pilkada DKI putaran kedua mengingat elektabilitasnya hanya beda tipis saja dengan pasangan cagub Anies-Sandiaga. Apapun masih bisa terjadi dan masih ada waktu untuk mengejar ketinggalan elektabilitas Agus Yudhoyono tadi.

Maka dari itu, benar atau tidaknya Agus Yudhoyono tersingkir dari Pilkada DKI 2017 sebaiknya tunggu hingga hari H perhitungan suara selesai nanti.

Sumber gambar. 


Surat Permohonan SBY untuk Bertemu Presiden Jokowi

Surat Permohonan SBY untuk Bertemu Presiden Jokowi

Adahati.com – Ada apa dengan surat permohonan SBY? Sebelumnya SBY sempat menuduh ada pihak-pihak yang menghalangi atau melarang pertemuan antara dua sahabat, yaitu SBY dan Presiden Jokowi.

Menurut Ketua DPP Partai Demokrat Didik Mukrianto di sini, SBY mengingatkan Presiden Jokowi tidak bisa mengelola negara sendiri, dan membutuhkan masukan dari banyak pihak termasuk SBY sebagai mantan presiden.

Ada dikatakannya “tidak bisa mengelola negara sendiri”. Ya memang, tapi apakah Presiden Jokowi pernah mengatakan dirinya mampu mengelola negara ini sendiri? Seorang presiden dikelilingi oleh pembantunya yang disebut menteri. Banyak menteri di sekeliling presiden, artinya presiden tidak mengelola negara ini sendiri.

Di sisi lain, bukankah dari pihak Istana sudah merespon keinginan SBY untuk bertemu dengan Presiden Jokowi? Tapi dengan mengajukan surat permohonan agar bisa diatur waktu pertemuannya. Sudah dibuat surat permohonan SBY itu?

“Kita belum verifikasi ke DPP, nanti tentu yang kami melihat bukan substansi surat itu, tetapi bagaimana pesan yang disampaikan oleh negarawan kita, Pak SBY, bahwa semangatnya adalah mengelola bangsa ini untuk bersama, mengelola bangsa ini tidak hanya bisa dijalankan sendiri,” kata Didik Mukrianto menjelaskan.

Sudah beberapa hari berlalu, tapi belum juga dibuat. Sulit sekali rupanya membuat surat permohonan SBY itu? Katanya mantan presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat SBY ingin bertemu, tapi surat permohonannya pun belum dibuat juga.

Lumayan kocak atau lucu. Maunya banyak, tapi tidak ada kemauan yang kuat untuk mewujudkannya. Mengapa bikin surat permohonan saja sulit sekali? Di mana sulitnya? Cukup mengherankan, masalah keinginan SBY bertemu dengan Presiden Jokowi sempat menjadi isu nasional, tapi begitu ada kesempatan tidak dimanfaatkan dengan sebaiknya, atau mungkin semua ini berkait dengan gengsi seseorang.

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini:

  • Putih giliran melangkah, dan hitam mati dalam tiga langkah.
  • Sulitkah mematikan hitam dalam tiga langkah?
  • Tidak ada yang sulit dan rumit di dunia ini.
  • Mf4-f6!

  • Mudah, bukan? Tidak sulit dan rumit.
  • Masih bingung?
  • Pegangan

Sumber gambar. 


Rumah Sahabat Presiden Jokowi Diserbu 300 Mahasiswa

Rumah Sahabat Presiden Jokowi Diserbu 300 Mahasiswa

Adahati.com – Rumah sahabat Presiden Jokowi yang terletak di Mega Kuningan, Jakarta Selatan diserbu oleh sekitar 300 mahasiswa setelah usai mengikuti kegiatan Jambore di Cibubur, Jakarta Timur. Pada saat rumah sahabat Presiden Jokowi diserbu tadi, kebetulan sahabat Presiden Jokowi, yaitu SBY sedang berada di sana.

SBY pun curhat lewat akun Twitternya.

“Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*.”

Jelas ditulisnya kata “bertanya”, tapi apakah Presiden Jokowi akan menjawab pertanyaan sahabatnya yang satu ini? Atau belum ada waktu untuk menjawab pertanyaan itu karena kesibukannya sebagai seorang presiden?

Tapi memang tidak ada keharusan seorang presiden RI untuk menjawab setiap pertanyaan yang ada, apalagi hanya sebuah pertanyaan yang dilontarkan lewat akun media sosial seperti Twitter.

Sekitar 300 mahasiswa yang menyerbu rumah sahabat Presiden Jokowi tadi boleh dibilang mahasiswa yang tidak jelas, karena berita yang ada tidak menyebut dari mana asal perguruan tingginya, tapi mereka menyerbu rumah sahabat Presiden Jokowi setelah usai mengikuti acara Jambore Mahasiswa Indonesia di Cibubur yang juga dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

Partai Demokrat pun meminta polisi untuk mengusut “aktor politik” di balik demo yang berlangsung tidak lama, hanya berorasi saja, tapi pihak Kepala Staf Kepresidenan mengatakan kehadiran Teten atas undangan Panitia Jambore, dan ia pun sekadar menyampaikan materi mengenai bagaimana menjaga NKRI. Secara langsung atau tidak langsung ingin mengatakan bukan Teten “aktor politik”nya.

Rumah sahabat Presiden Jokowi diserbu, dan SBY pun beberapa kali berkicau lewat akun Twitternya. “Saudara-saudaraku yg mencintai hukum & keadilan, saat ini rumah saya di Kuningan “digrudug” ratusan orang. Mereka berteriak-teriak. *SBY*.

Ada lagi kicauan SBY lainnya. “Saya hanya meminta keadilan. Soal keselamatan jiwa saya, sepenuhnya saya serahkan kpd Allah Swt. *SBY*,”

Sahabat Presiden Jokowi yang satu ini dalam kicauannya tadi ada menyebut kata “hukum”, “keadilan”, keselamatan jiwa” hingga “Allah” yang mengesankan atau seolah-olah dirinya terancam bahaya yang luar biasa sekali.

Timbul pertanyaan. Memangnya tidak ada Paspampres yang menjaga keselamatan mantan seorang presiden? Menko Polhukam santai saja menjelaskannya kepada pers di sini. “Kan grupnya (Grup D Paspampres) ada. Grupnya ada, orangnya ada. Kadang hal-hal yang situasional diatasi. Begitu saja, kan,” kata Wiranto.

Tersenyum, mengingat lebay bisa menjadi bagian dari taktik “playing the victim”. Kejadian yang sebenarnya biasa saja, tapi dikesankan luar biasa sekali.

sumber foto: youtube.com.


“Bapak Prabowo presidenku!”, Siapa Bilang?

“Bapak Prabowo presidenku!”, Siapa Bilang?

Adahati.com – Pilpres 2019 diperkirakan masih sekitar 2,5 tahun lagi dihitung dari sekarang, tapi sudah ada orang yang berteriak seperti ini: “Bapak Prabowo presidenku!”.

Sekadar informasi terkait Pilpres 2019, Mahkamah Konstitusi menyatakan diadakannya Pemilu dua kali (Pilpres dan Pileg) bertentangan dengan UUD 1945, sehingga tidak bisa lagi dijadikan dasar penyelenggaraan Pemilu (23/1/14).

“Mengabulkan permohonan pemohon: Pasal 3 ayat 5, pasal 12 ayat 1 dan 2, pasal 14 ayat 2, dan pasal 112 UU No 42 Tahun 2008 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva.

Keputusan Mahkamah Konstitusi ini menyebabkan Pilpres dan Pileg akan dilakukan serentak, bukan terpisah lagi. Menurut Aliansi Masyarakat Sipil, Pemilu yang berlangsung dua kali telah menyalahi konstitusi dan memboroskan uang rakyat hingga Rp 120 triliun.

Kembali bahas frasa “Bapak Prabowo presidenku!”. Siapa yang bilang seperti itu?

Prabowo menghadiri kampanye akbar pasangan cagub Anies-Sandiaga yang diselenggarakan di Lapangan Banteng (5/2/2017). Sejumlah orang yang mengibarkan bendera Partai Gerindra menyerukan “Bapak Prabowo presidenku!”.

Ketua Umum Partai Gerindra ini pun ada mengatakan seperti ini: “Kalau kalian ingin saya jadi presiden 2019, Anies-Sandi Gubernur DKI, betul?.” Tapi sebelumnya berita ini menulis, “Prabowo pun menanggapinya dengan candaan”.

Sebenarnya bercanda atau serius? Sebagian pihak mengatakan “politik itu tidak jelas”. Meskipun demikian, adalah hak Prabowo untuk maju pada Pilpres 2019 nanti.

Jika benar Prabowo Subianto adalah salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti dipastikan ia akan memenangkan Pilpres 2019, tapi dengan catatan hajatan atau pesta demokrasi tadi diselenggarakan di kantor-kantor Partai Gerindra. Pemilih yang boleh mencoblos pun hanya pendukung Partai Gerindra serta simpatisannya saja.

Kali ini benar-benar bercanda, bukan serius.

Tapi entah serius atau bercanda, tidak sedikit pihak yang mengatakan Pilpres 2019 nanti merupakan pengulangan dari Pilpres 2014, artinya akan terjadi lagi pertarungan antara Jokowi dan Prabowo. Tingkat berisik politiknya pun diperkirakan tak jauh berbeda, bahkan bisa lebih berisik dibanding sebelumnya.

Siapa pemenang Pilpres 2019 nanti? Masih ada waktu sekitar 2,5 tahun lagi, dan belum tentu juga kandidatnya hanya mereka berdua saja.

Sumber gambar. 


Sahabat Jokowi Senang Memainkan “Trik Politik Basi”?

Sahabat Jokowi Senang Memainkan “Trik Politik Basi”?

Adahati.com – Sahabat Jokowi yang satu ini, yaitu SBY menurut sebagian pihak posisinya saat ini sudah lemah sejak melakukan blunder atau termakan asumsinya sendiri bahwa ada penyadapan percakapan antara dirinya dan Ketua MUI, Ma’ruf Amin.

Posisi sahabat Jokowi yang sudah lemah ini berimbas atau memengaruhi juga posisi politik anaknya, Agus Yudhoyono yang sedang berusaha untuk merebut kursi DKI satu. Tentu saja keadaan ini cukup memprihatinkan, apalagi hari H Pilkada DKI 2017, mengutip lagu Krisdayanti, tinggal menghitung hari saja.

Menghitung hari, detik demi detik
Masa kunanti apa kan ada
Jalan cerita, kisah yang panjang, menghitung hari…

Meski posisinya sudah lemah dan terpojok, sahabat Jokowi masih berusaha melakukan perlawanan untuk mengembalikan posisinya atau tidak semakin terpuruk saja. Beberapa waktu lalu ia sempat berkicau di sini.

“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang? *SBY*.”

Kemarin, sahabat Jokowi kembali berkicau lewat akun Twitternya di sini. “Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bangsa ini rukun dan bersatu -Susilo Bambang Yudhoyono-“. Ada yang terharu atau terenyuh?

Sebelumnya pun sahabat Jokowi sudah berkicau seperti ini: “Bpk Ma’ruf Amin, senior saya, mohon sabar & tegar. Jika kita dimata-matai, sasarannya bukan Bpk. Kita percaya Allah Maha Adil *SBY*.”

Kali ini diperkirakan ada sebagian pihak yang tersenyum, mengingat kicauannya itu mengesankan bukan dirinya yang patut dikasihani meski posisinya sudah lemah dan terpojok, melainkan Ketua MUI, Ma’ruf Amin.

Sebagai seorang sahabat, SBY pun sempat menuduh ada dua atau tiga orang di sekitar Presiden Jokowi yang menghalang-halangi pertemuan mereka selama ini.

Frasa “orang di sekitar Presiden Jokowi” ini mengesankan ada “pengkhianat” yang memberikan informasi kepada SBY. Seolah-olah ada perpecahan di tubuh pemerintahan Presiden Jokowi, namun trik ini boleh dibilang “trik politik basi”.

Memang sahabat Jokowi yang satu ini diasumsikan senang memainkan “trik politik basi” yang sudah ketinggalan zaman. Posisinya pun tetap lemah dan terpojok, juga memengaruhi posisi anaknya, Agus Yudhoyono untuk merebut kursi DKI satu, padahal hari H Pilkada DKI 2017 tinggal menghitung hari saja.

Maka dari itu, kursi DKI satu pun sudah dianggap hilang, atau pergi entah ke mana.

Pergi saja…cintamu pergi
Bilang sajaaaa… pada semua
Biar semua tahu adanya
Diriku kini sendiri

Sumber gambar


Sahabat Presiden Jokowi Sudah Terpojok?

Sahabat Presiden Jokowi Sudah Terpojok?

Adahati.com – Memangnya siapa yang dimaksud sahabat Presiden Jokowi sudah terpojok? Tak perlu dijelaskan lagi, karena pernah ditulis di sinidi sini, dan di sini.

SBY mengaku sahabat Presiden Jokowi. Terlepas sekadar perbaba (pernyataan basa-basi) atau bukan, sahabat Presiden Jokowi sudah terpojok sekarang ini.

SBY diduga “menabur angin” sebelum terjadi aksi 4 November 2016, karena ada ucapannya yang dianggap memanasi situasi dan kondisi saat itu. Sahabat Presiden Jokowi ini telah melakukan serangan politik, maka cepat atau lambat akan ada serangan balik politik yang setara atau lebih.

SBY memang membantah dirinya telah “menabur angin” atau terlibat aksi 4 November, tapi tidak ada keharusan untuk percaya bantahannya itu. Mereka yang tidak percaya segera menyusun strategi dan taktik untuk menyerang balik. Meski “segera”, bukan berarti serangan balik itu dilakukan segera juga.

Kapan? Menjelang hari H Pilkada DKI 2017 karena ada anggapan SBY telah “menabur angin” demi terpilihnya cagub Agus Yudhoyono.

Serangan balik politik akan tetap dilakukan, dan SBY pun terkena trik maut serta masuk perangkap politik tingkat tinggi. Berawal dari Ahok dan tim kuasa hukumnya yang mencecar Ketua MUI tentang adanya percakapan antara dirinya dan SBY. Dibantah, tapi SBY justru mengakui memang benar ada percakapan itu.

Kemudian SBY pun berusaha memainkan taktik “playing the victim” dengan berasumsi ada penyadapan. Meskipun demikian, tetap saja SBY terkena trik maut dan masuk perangkap politik tingkat tinggi. Sahabat Presiden Jokowi sudah terpojok, makanya  SBY akan “diskakmatkan” sebentar lagi?

Kemungkinan besar tidak, karena masih kental aroma “Politik Teletubbies”, yaitu apapun masalahnya akan berakhir dengan berpelukan dan cipika-cipiki.

Tapi apakah benar sahabat Presiden Jokowi sudah terpojok? Apakah benar SBY terkena pepatah “siapa yang menabur angin akan menuai badai”? Apakah benar ada serangan balik politik yang mematikan menjelang hari H Pilkada DKI 2017?

Trik dan Problem Catur yang Sederhana hari ini

  • Putih giliran melangkah.
  • Jika putih Mf3xBa3, pion hitam dua langkah kemudian promosi.
  • Jika Raja putih mendekati Menteri, tetap saja pion hitam tak terkejar lagi.
  • Apa yang harus dilakukan oleh putih?
  • Bukan mendekat, tapi Raja putih menjauh saja dari Menteri putih…Rh3-h4!

  • Remis.
  • Bingung?
  • Pegangan.

sumber foto: youtube.com.


Sahabat Presiden Jokowi Terperangkap?

Sahabat Presiden Jokowi Terperangkap?

Adahati.com – Mantan presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat, SBY mengaku sahabat Presiden Jokowi seperti pernah dibahas sebelumnya di sini , dan juga di sini.

Sahabat? Seperti itulah yang dikatakan SBY, tapi sampai saat ini belum ada pengakuan balik dari Presiden Jokowi bahwa SBY pun sahabatnya.

Sebagai seorang sahabat, SBY menuduh ada dua atau tiga orang di sekitar Presiden Jokowi yang melarang atau menghalangi pertemuan mereka berdua selama ini.

Tuduhan SBY tadi telah dibantah oleh Sekretaris Kabinet, Pramono Anung. SBY pun seperti terkena “skak mat”, karena ia hanya dianggap sebagai tamu, bukan sahabat, merujuk pada kata-kata yang diucapkan oleh Pramono Anung, bahwa “Semuanya tamu yang meminta waktu kepada Presiden Jokowi tentunya akan kami sampaikan.”

Bukan hanya Pramono Anung saja yang memberikan “skak mat”, karena dipicu oleh pernyataan sahabatnya Presiden Jokowi yang satu ini.

SBY pun menyebut nama BIN dan Polri terkait asumsinya bahwa ada penyadapan telepon ketika ia sedang bercakap dengan Ketua MUI Ma’ruf Amin. Bagaimana tanggapan BIN dan Polri mengenai hal ini? BIN dan Polri dengan tegas menyatakan tidak menyadap. Wiranto pun enggan menanggapinya, karena penyadapan itu masih kemungkinan yang belum jelas fakta dan kebenarannya.

“Kalau kemungkinan-kemungkinan bagaimana sih? Kemungkinan itu banyak, kok bicara kemungkinan,” kata Menko Polhukam Wiranto di sini.

SBY pun semakin terpojok? Termakan oleh asumsinya sendiri bahwa ada penyadapan? Kali ini gagal memainkan taktik “playing the victim”? Atau sahabat Presiden Jokowi ini masuk perangkap politik tingkat tinggi? Terkena trik maut yang sudah dirancang sedemikian rupa, menjadi bagian dari serangan balik politik mematikan yang sengaja dimainkan saat menjelang hari H Pilkada DKI 2017?

Seperti kata Wiranto tadi, masih banyak kemungkinan. Begitu juga kemungkinan yang berangkat dari asumsi SBY yang hasilnya cenderung mengecewakan itu.

Semakin kecewa, karena Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara terkait asumsi SBY bahwa percakapannya telah disadap, komentarnya pun cukup nyelekit.

“Seperti kurang kerjaan dengerin itu,” katanya.

Sumber gambar.


SBY Mengaku Sahabat dan Penjelasan Presiden Jokowi

SBY Mengaku Sahabat dan Penjelasan Presiden Jokowi

Adahati.com – Tulisan sebelumnya di sini menyebutkan mantan presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, yaitu SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi.

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi? Entah berapa banyak cerita yang pernah ditulis tentang seorang sahabat. Entah itu ditulis dalam sebuah cerpen, cerbung, atau novel. Bukan hanya tulisan, juga sudah cukup banyak film-film yang menceritakan betapa penting dan berartinya seorang sahabat itu.

Secara garis besarnya dideskripsikan sahabat adalah orang yang rela menolong kawannya yang sedang mengalami kesusahan atau masalah tanpa mengindahkan dirinya. Tidak sedikit tulisan atau film yang menceritakan tentang pengorbanan seorang sahabat demi menolong kawannya tadi, bahkan hingga rela mengorbankan nyawanya. Semua ini menunjukkan seorang sahabat memiliki arti yang khusus.

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi, kemudian curhat. Saat sidang kasus dugaan penistaan agama kemarin, Ahok dan kuasa hukumnya menanyakan soal percakapan antara Ketua MUI Ma’ruf Amin dan SBY. Hal inilah yang membuat SBY mengambil kesimpulan bahwa dirinya disadap.

“Kalau institusi negara, Polri, BIN, menurut saya, negara bertanggung jawab. Saya berharap berkenan Pak Presiden Jokowi menjelaskan dari mana transkrip penyadapan itu siapa yang bertanggung jawab,” begitu antara lain kata mantan presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat tadi di sini.

Dimulai dengan kata “kalau”, SBY meminta penjelasan kepada sahabatnya, Presiden Jokowi. Meski agak janggal, tapi seorang sahabat seharusnya tidak terlalu memasalahkannya. Tanggapan Presiden Jokowi seperti ini: “Begini loh, saya hanya ingin menyampaikan yang kemarin ya. Itu kan isu pengadilan, dan yang bicara itu kan pengacaranya Pak Ahok dan Pak Ahok. Iya nggak? Iya kan,” katanya di sini.

Presiden Jokowi pun merasa aneh atas permintaan tersebut. Menurutnya, isu transkrip rekaman tersebut tidak ada hubungan dengan dirinya.

“Lah kok ‘barangnya’ dikirim ke saya, ya nggak ada hubungannya.”

SBY mengaku sahabatnya Presiden Jokowi, sementara jawaban yang diterimanya seperti itu. Jangan-jangan pengakuan SBY tadi hanya pengakuan sepihak saja, dan secara tidak langsung Presiden Jokowi sudah menyatakannya di atas tadi.

Sumber gambar. 


SBY Menuduh dan Mengaku Sahabat Presiden Jokowi

SBY Menuduh dan Mengaku Sahabat Presiden Jokowi

Adahati.com – Sebelum SBY menuduh, sempat terjadi kehebohan setelah sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama yang digelar oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara kemarin (1/1/2017) yang menghadirkan Ketua MUI Ma’ruf Amin. Penasihat hukum Ahok, Humprey Djemaat ada menanyakan kepada Ketua MUI terkait komunikasi teleponnya dengan SBY.

Rupanya hal ini membuat hati SBY gundah-gulana hingga mengadakan jumpa pers. Menurutnya bukan dia yang menelpon Ma’ruf Amin, tapi ada staf atau ajudannya, kemudian baru ada percakapan antara dirinya dan Ma’ruf Amin.

“Ada staf, bukan saya menelepon langsung Pak Maruf Amin. Ada staf yang di sana yang menyambungkan percakapan saya dengan Pak Maruf Amin yang kaitannya seputar pertemuan. Saya katakan suatu saat ingin diskusi. Percakapan itu ada,” tegas mantan presiden SBY di sini.

Lucu? Cukup tersenyum simpul saja. Tapi entahlah, lucu atau tidak terkait SBY yang ingin bertemu dengan Presiden Jokowi, namun sampai saat ini belum bisa terwujud, kemudian SBY mengatakan: “Saya diberitahu oleh orang kalau beliau ingin bertemu dengan saya tapi beliau dilarang oleh dua dan tiga orang di sekeliling beliau.”

SBY menuduh ada dua atau tiga orang yang melarang Presiden Jokowi bertemu dengannya setelah diberitahu oleh orang? Siapa orangnya? Tidak disebutkan, SBY pun mengatakan bahwa dirinya adalah sahabatnya Presiden Jokowi.

“Nah dalam hati saya, hebat juga orang itu bisa melarang presiden kita untuk bertemu dengan sahabatnya yang juga mantan presiden.”

Sudah ada tanggapan balasan dari Presiden Jokowi yang mengakui juga SBY sebagai sahabatnya? Sampai saat ini belum ada, tapi sudah ada tanggapan dari Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang menegaskan sama sekali tidak ada pihak yang melarang pertemuan antara SBY dan Presiden Jokowi.

“Semuanya tamu yang meminta waktu kepada Presiden Jokowi tentunya akan kami sampaikan oleh Setneg atau Seskab kepada Presiden Jokowi karena mekanismenya seperti itu,” kata Pramono Anung di sini.

Tamu? Bukannya sahabat?

Sakitnya hati ini, namun aku rindu
Bencinya hati ini, tapi aku rindu – Diana Nasution.

sumber berita: merdeka.com, sumber foto: youtube.com.


Penyesalan Prabowo yang Bikin Orang Tersenyum Simpul

Penyesalan Prabowo yang Bikin Orang Tersenyum Simpul

Adahati.com – Prabowo Subianto bisa juga menyesal atau ada penyesalan Prabowo di sini. Dia menyesal telah memilih Ahok dan memenangkannya pada Pilkada DKI lalu.

“Kita sudah cari yang paling terbaik, kali ini bener deh. Gue minta maaf deh pernah ngakuin yang dulu itu. Maafin deh yah, jangan liat ke belakang,” begitu penyesalan Prabowo, Ketua Umum Partai Gerindra.

Penyesalan Prabowo ini bikin orang tersenyum simpul saja. Memang penyesalan selalu datang belakangan. Percuma menyesali kejadian yang telah lalu, sebab masa lalu tidak akan kembali lagi, kecuali ditemukan mesin waktu yang bisa membawa manusia ke masa silam.

Selain ada penyesalan Prabowo, ia pun mengomentari kepemimpinan Ahok selama ini. Menurutnya, Indonesia butuh kepemimpinan yang sejuk, tidak tukang marah dan maki-maki orang, apalagi terus menyalahkan anak buah. Sebenarnya beberapa bulan lalu pun sudah ada pihak yang mengatakan seperti itu. Kaset rusak yang diputar ulang? Mengapa masih mengandalkan kaset rusak yang cenderung membosankan dan bikin orang lain ngantuk?

Apakah tidak ada bentuk serangan politik lainnya yang lebih kreatif dan tidak bikin orang ngantuk? Mungkin ada sebagian pihak yang heran dan bertanya seperti itu.

Tapi apakah benar komentar Prabowo tadi hanya bikin ngantuk saja? Mungkin ada sebagian pihak yang tidak merasa ngantuk, dan menilai komentar Prabowo tadi sudah tepat, apalagi diucapkannya saat kampanye demi memenangkan pasangan cagub Anies-Sandiaga yang didukung oleh Partai Gerindra.

Menurut pendapat Tante C, ngantuk atau tidak ngantuknya seseorang mendengar ocehan orang lain bisa banyak faktor penyebabnya. Bisa karena ini, bisa karena itu. Namun, jika Anda ingin menghilangkan ngantuk yang ada sebenarnya tidak sulit dan rumit. Perhatikan saja Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Markikir, mari kita berpikir supaya tidak mengantuk.
  • Apa langkah putih selanjutnya agar putih bisa memenangkan pertandingan ini?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Bd1xKd7!

  • Jika hitam Bd8xBd7, putih Mf4-b8+, mat.
  • Jika hitam Rc8xBd7, hitam tetap kalah.
  • Bingung?
  • Pegangan.

Sumber gambar. 


Ucapan Prabowo Subianto Ini Membingungkan?

Ucapan Prabowo Subianto Ini Membingungkan?

Adahati.com – Ucapan Prabowo Subianto bahwa Pilkada DKI 2017 memiliki arti yang khusus dan lebih, cukup membingungkan. Apa maksud maksud ucapan Prabowo Subianto tadi bahwa “Pilkada DKI memiliki arti yang khusus dan lebih”?

Beberapa waktu lalu Megawati sempat mengatakan keheranannya terkait banyaknya energi yang terkuras di Pilkada DKI 2017, padahal sebentar lagi akan berlangsung juga pilkada-pilkada lain yang tak kalah pentingnya.

Ternyata begini maksud ucapan Prabowo Subianto tadi. “Pemilihan gubernur di DKI kali ini punya arti yang khusus, arti yang lebih dari pada pemilihan-pemilihan gubernur yang lain. Pemilihan tahun ini telah menjadi pertarungan, pertarungan antara nilai yang baik melawan nilai yang tidak baik,” katanya di sini.

Apa maksud ucapan Prabowo Subianto tentang “nilai yang baik” dan “nilai yang tidak baik”? Selanjutnya ia pun mengatakan, “Nilai yang benar melawan nilai yang tidak benar. Nilai yang jujur melawan nilai yang tidak jujur. Nilai yang lurus melawan nilai yang akal-akalan dan licik-licikan.” Nilai yang benar itu sama atau tidak dengan nilai yang baik? Apa bedanya antara nilai yang tidak benar dan nilai yang tidak baik?

Ia pun merasa negara Indonesia sedang sakit, karena orang yang memiliki uang banyak dihormati, sementara yang akhlaknya baik kurang dihormati.

Ada yang merasa ngantuk? Karena ucapan Prabowo Subianto tadi bukan sesuatu yang baru? Sudah lama ada yang mengatakan “negara Indonesia sedang sakit”, pun tidak sedikit pihak yang mengatakan orang kaya dihormati dan bisa “membeli hukum”.

Apakah benar ucapan Prabowo Subianto tadi membingungkan dan bikin ngantuk saja? Mungkin ada yang tidak bingung terkait antara “nilai baik dan nilai benar” atau “nilai tidak baik dan nilai tidak benar”. Begitu juga ada yang tidak mengantuk terkait ucapan Prabowo Subianto tentang “negara Indonesia sedang sakit”, dan orang kaya atau banyak uang dihormati. Biasa ucapan seperti itu dilontarkan saat kampanye.

Terlepas ada yang bingung dan ngantuk atau sebaliknya, saran Tante C lupakan saja. Ingat kata Megawati, jangan menguras energi dan perhatian untuk masalah yang tidak terlalu penting. Masih ada yang jauh lebih penting untuk dibahas dan diperhatikan.

Misalnya Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Putih giliran melangkah dan menang.
  • Bingung, belum tahu langkah menangnya putih?
  • Perhatikan saja garis diagonal b2-g7 dan garis vertikal g5-g8.

 

  • Makdarit, langkah menang putih?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Bd1xd7!

 

  • Masih bingung juga?
  • Pegangan.

sumber berita: detik.comsumber foto: youtube.com.

 


ISIS Hancur Lebur di Tangan Presiden Donald Trump?

ISIS Hancur Lebur di Tangan Presiden Donald Trump?

Adahati.com – ISIS selama masa pemerintahan Obama cenderung bertingkah, tapi sebentar lagi hanya tinggal cerita. Hal ini disebabkan tekad yang kuat, sekaligus memenuhi janji yang terucap pada masa kampanye pemilihan presiden kemarin.

“Kita harus memusnahkan ISIS. Kita tak punya pilihan,” kata Donald Trump yang dikenal cukup kontroversial dan baru seminggu lalu dilantik. Sebelumnya ia pun pada hari Jum’at waktu setempat telah menandatangani keputusannya untuk  tidak menerima pengungsi dan pemberian visa bagi wisatawan dari tujuh negara Muslim, yaitu Irak, Suriah, Iran, Sudan, Libya, Somalia, dan Yaman.

Keputusannya ini sempat dikeluhkan oleh pemenang hadiah Nobel termuda asal Pakistan, yaitu Malala Yousafzai. “Hati saya hancur karena hari ini Presiden Trump menutup pintu pada anak-anak, kaum ibu dan ayah yang lari dari kekerasan dan perang,” katanya di sini.

Kecil kemungkinannya presiden Amerika Serikat tersebut terenyuh, kemudian membatalkan keputusannya tadi. Jargon politik “Make America Great Again” dan “America First”-nya lebih penting dibanding keluhan seorang Malala Youssafzai.

Terkait tekad Trump yang ingin menghancurkan kelompok radikal ISIS tadi, diperkirakan tak lama lagi ia akan memerintahkan Menteri Pertahanan AS James Mattis untuk menyusun langkah-langkah strategis, cepat dan tepat sasaran.

Selama ini diduga ISIS sengaja “dipelihara” oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Barack Obama, juga mendapat bantuan dari Turki dan Arab Saudi, makanya bisa berkembang dan masih tetap eksis sampai sekarang.

Cukup mengherankan, jika benar ISIS sengaja “dipelihara” oleh Amerikat Serikat, tapi mengapa sekarang ingin dihancurkan? Apakah Trump ingin mempermalukan Obama? Atau ia ingin menarik simpati rakyatnya yang saat ini masih cukup banyak yang gerah dan tak suka melihat dirinya terpilih sebagai presiden Amerika?

Satu hal yang sudah jelas, Trump ingin menghancurkan kelompok radikal ISIS antara lain karena: “Ini iblis. Ini level iblis yang belum pernah kita lihat,” katanya.

Sepertinya ISIS hanya tinggal menghitung hari, dan tahun 2017 ini kelompok radikal tersebut akhirnya hancur lebur di tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Sumber gambar dan sumber berita


Donald Trump, Tujuh Negara Muslim, dan Secret Service

Donald Trump, Tujuh Negara Muslim, dan Secret Service

Adahati.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan kebijakannya yang tidak menerima pengungsi dan pemberian visa bagi wisatawan dari tujuh negara Muslim diperkirakan akan menuai kontroversi. Sosok yang satu ini memang dikenal kontroversial, dan dibenci oleh sebagian rakyat Amerika Serikat. Bahkan pada saat pelantikannya menjadi presiden pun diprotes serta menimbulkan keonaran.

Tapi benarkah kebijakan Donald Trump yang tidak menerima pengungsi dan pemberian visa bagi wisatawan dari tujuh negara Muslim (Irak, Suriah, Iran, Sudan, Libya, Somalia, dan Yaman) adalah sebuah kebijakan yang salah, atau anti Muslim?

Pertama, kebijakan Donald Trump di atas tadi masih sebatas rencana. Kedua, ada masa berlakunya, yaitu selama 120 hari ke depan. Ketiga, rencana kebijakan Donald Trump tadi tidak bermaksud untuk melarang Muslim masuk ke negaranya.

“Tidak, ini bukan larangan untuk kaum Muslim, [larangan ini] hanya untuk sejumlah negara yang memiliki potensi teror yang luar biasa dan warga-warga negara itu hanya akan membuat masalah besar,” kata Donald Trump di sini.

Sebagai Presiden Amerika Serikat wajar saja jika ia menerapkan kebijakan untuk melindungi rakyatnya. Ia pun tentunya sudah menerima masukan dari orang-orang di sekitarnya dengan informasi yang bisa dipercaya sehingga timbul niat atau rencananya untuk menerapkan kebijakan tadi. Bukan hanya Donald Trump, seluruh presiden atau pemimpin di dunia ini wajar saja menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk melindungi rakyatnya.

Kerry O’Graddy, seorang agen Secret Service senior, pendukung Hillary Clinton sempat menulis di akun Facebooknya bahwa ia lebih baik masuk penjara daripada melindungi Trump dari terjangan peluru. Konyolnya lagi, semua itu dilakukannya dengan sadar. Tidak ada lagi rasa malu atas hilangnya sebuah loyalitas sebagai seorang agen Secret Service. Memang ia telah menghapus kata-katanya di Facebook tadi, tapi Secret Service tetap menindaknya, meski tidak dijelaskan lebih lanjut bentuk tindakannya itu.

Meski rencana kebijakan Donald Trump tadi diperkirakan akan menuai kontroversi, namun bertujuan melindungi rakyatnya, sementara orang seperti Kerry O’Graddy yang tugasnya memang melindungi, dalam hal ini melindungi Presiden Amerika Serikat dari ancaman bahaya seperti peluru, menolak untuk melakukan tugasnya.

hSumber gambar dan sumber berita: cnnindonesia.com.


Hakim Konstitusi Ditangkap, Mengapa SBY Jadi Sasaran?

Hakim Konstitusi Ditangkap, Mengapa SBY Jadi Sasaran?

Adahati.com – Hakim Konstitusi Patrialis Akbar ditangkap oleh KPK (Rabu, 25/1/2017). Uang sebanyak $ 20.000,- dan SGD 200.000,- langsung diamankan, juga KPK menyita dokumen, catatan, dan aspek lain yang relevan dengan perkara.

Hakim Konstitusi Patrialis Akbar dan beberapa orang lain – Kamaludin, Basuki, dan Feni – kemudian ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan suap uji materil UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Berita yang sedang hangat di media massa ini mengundang keprihatinan dari berbagai pihak. Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat sampai minta ampun kepada Tuhan karena tidak bisa menjaga Mahkamah Konstitusi. Wakil Presiden Jusuf Kalla pun prihatin atas ditangkapnya Hakim Konstitusi Patrialis Akbar tadi.

Tapi mengapa ada suara yang menjadikan SBY sebagai “sasaran tembak” atas ditangkapnya Patrialis Akbar ini? Alasannya karena ia yang menunjuk Patrialis Akbar sebagai Hakim Konstitusi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 87/P/2013 tertanggal 22 Juli 2013, padahal waktu itu sempat ada protes yang tidak menginginkan Hakim Konstitusi berasal dari seorang politikus.

Juga dua kali politikus PAN tersebut gagal lolos seleksi – gagal  fit and proper test dan mengundurkan diri saat seleksi – untuk pengisian jabatan Hakim Konsitusi. Maka dari itu, SBY ikut bertanggungjawab secara moral.

Kasihan SBY, sebelumnya pun sebuah cuitannya di sini – SBY Mendesah, Wiranto Kasih Skak Mat – dibombardir dengan ejekan atau nada-nada sinis. Namun terkesan berlebihan menyalahkan SBY atas ditangkapnya Hakim Konstitusi Patrialis Akbar oleh KPK ini. Di samping kejadiannya sudah berlangsung cukup lama, pun Undang-Undang mengizinkan SBY untuk menunjuk seorang Hakim Konstitusi.

Perihal mengapa SBY tetap bersikeras atau terkesan ngotot menunjuk Patrialis Akbar, meski ada suara sumbang sekadar “politik balas jasa”. Sebelumnya politikus PAN ini pernah menjabat Menteri Hukum dan HAM Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2011).

Diperkirakan tidak akan ada cuitan SBY melalui akun twitternya terkait ditangkapnya Patrialis Akbar, karena jika ada cuitan itu, maka kesan lebay (berlebihan) pun tak terhindarkan lagi.

SBY rasanya cukup cerdas kalau menyangkut masalah yang satu ini.

Sumber gambar, sumber berita: detik.com


SBY Mendesah, Wiranto Kasih ‘Skak Mat’ yang Tak Terduga

SBY Mendesah, Wiranto Kasih ‘Skak Mat’ yang Tak Terduga

Adahati.com – Cuitan SBY lewat akun Twitternya beberapa hari lalu mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai pihak. Ada yang mengatakan SBY kembali curhat, mengeluh, tapi bisa juga dikatakan pada saat itu sebenarnya SBY mendesah.

Mendesah atau berdesah artinya menarik napas kuat-kuat untuk menghilangkan kesal hati dan sebagainya. Hanya SBY mendesah lewat akun Twitternya.

Entah SBY mendesah, curhat, mengeluh atau apapun itu, mendapat tanggapan dari pemerintah maupun pihak oposisi. Mengagumkan sekali? Ah tidak juga, biasa saja.

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menanggapinya, tapi lebih cenderung sebuah pernyataan standar, atau kurang menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Tanggapan dari pihak oposisi terkait SBY mendesah tadi antara lain datang dari Fadli Zon. Menurut pendapatnya banyak berita hoax, tapi tidak diiringi dengan penindakan hukum yang cepat dan tegas dari aparat kepolisian. “Saya juga sudah berapa bulan lalu melaporkan ke Bareskrim sampai hari ini enggak ada follow up. Saya mau tanya tuh, ada 2-3 laporan di Bareskrim tentang berita-berita yang memfitnah saya enggak ada tuh respons sampai hari ini. Ya bagaimana rakyat ya.”

SBY curhat, ditanggapi dengan curhat juga oleh Fadli Zon.

Tanggapan yang cukup menarik justru datang dari Menko Polhukam Wiranto. Cuitan SBY lewat akun Twitternya begini. “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang? *SBY*”.

Tanggapan Wiranto? “Itu kan cuitan beliau kepada Tuhan. Ya kepada Tuhan mengeluhnya.” Santai dan kocak, orang lain pun tersenyum.

Teringat pendapat sebagian pihak yang mengatakan media sosial seperti Facebook dan Twitter seharusnya bukan tempat untuk curhat atau mengeluh kepada Tuhan. Memangnya Tuhan punya akun Facebook dan Twitter?

Tanggapan santai Wiranto tadi ibarat skak mat yang tak terduga.

Penggemar catur yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, Tante C juga kesal melihat pecatur yang mudah mendesah, mengeluh atau curhat.

Seharusnya dalam situasi dan kondisi apapun tetap optimis dan mampu menemukan langkah-langkah yang canggih, bila perlu sebuah langkah skak mat yang tak terduga seperti terlihat pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Kuda putih terancam, dan hitam pun mengajak tukar Menteri.
  • Putih yang giliran melangkah pun curhat, mendesah, atau mengeluh mengingat posisi buah caturnya yang kurang menguntungkan?
  • Tentu saja tidak…Bd1-d8+!

  • Jika hitam Bb8xBd8, Menteri hitam melayang.
  • Jika hitam Gb6xBd8, skak mat selangkah kemudian.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar, dan sumber berita: merdeka.com.


Megawati Tetap Dukung Ahok Jadi Gubernur DKI Jakarta

Megawati Tetap Dukung Ahok Jadi Gubernur DKI Jakarta

Adahati.com – Megawati, termasuk Prabowo Subianto dan Presiden Jokowi belakangan ini kalah tenar dibanding Rizieq Shihab seperti pernah ditulis sebelumnya di sini

Namun bukan berarti nama Megawati tenggelam. Masih ada beritanya, dan judul beritanya pun cukup keren, yaitu Buku Jadi Tanda ‘Cinta’ Megawati untuk Ahok.

Rizieq Shihab pun sempat mengatakan ‘cinta’. “Besok yang dipanggil Ustaz Bachtiar Nasir dan Haji Munarman. Saya mestinya besok, tapi dimundurin tanggal 1 Februari. Kelihatannya polisi cinta sama kita, pingin kita kumpul terus.”

Mengapa jadi rajin bicara cinta? Apakah karena cinta bisa membuat dunia ini ceria, dan jauh dari ujaran kebencian? Tapi jangan sekali-kali mengatakan “cinta atau kasih sayang tak mengenal jenis kelamin”. Mungkin bisa mengamuk boss FPI tadi.

Nama Megawati kali ini masuk berita terkait ulang tahunnya yang ke 70. Di sinilah Ketua Umum PDIP itu mengatakan alasannya untuk tetap mendukung Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sambil memberikan buku yang berjudul “Megawati dalam catatan wartawan bukan media darling biasa” kepada Ahok, ia mengatakan:

“Itu adalah nurani saya, lho kalau cari pemimpin ya beneran saja dan saya lihat beliau bisa memimpin dan saya tetap memilih dia dan tetap mendukung dia.”

Masih ada parpol yang mencari pemimpin tidak benar atau asal cari pemimpin? Mungkin ada sebagian pihak yang heran, kemudian timbul pertanyaan seperti ini. Adakah pemimpin yang tidak benar, tapi masih berusaha keras untuk menjadi pemimpin seperti Gubernur DKI Jakarta? Megawati tidak menjelaskan maksud ucapannya “kalau cari pemimpin ya beneran saja”, juga tidak menjelaskan seperti apa kriteria pemimpin yang benar tadi.

Jangan-jangan maksudnya putri Bung Karno dan Ketua Umum PDIP tadi seperti ini. Kalau cari pemimpin jangan asal pilih, tapi pilihlah orang yang pernah memimpin dan terbukti serta teruji kemampuannya menjadi seorang pemimpin, misalnya pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta. Sudah jelas ada hasil karyanya, dapat dirasakan oleh masyarakat, bukan seperti kandidat gubernur lain yang sampai saat masih belum jelas dan teruji kemampuannya.

Sumber gambar.


Wakil Ketua KPK Ditahan, Siapa Selanjutnya?

Wakil Ketua KPK Ditahan, Siapa Selanjutnya?

Adahati.com – Bambang Widjojanto, Wakil Ketua KPK ditahan setelah ditangkap oleh pihak kepolisian hari ini, Jum’at, 23 Januari 2015.

Beritanya pun cepat menyebar, dan komentar, pernyataan, pendapat, atau opini dan sejenisnya langsung berhamburan seketika dari berbagai kalangan masyarakat.

Komentar, pernyataan, pendapat, atau opini dan sejenisnya tadi mampu membuat sebagian pihak pun tersenyum. Hal ini disebabkan antara lain:

  • Menurut pihak kepolisian, Bambang Widjojanto, Wakil Ketua KPK ditahan sama sekali tidak ada kaitannya atau bukan disebabkan Budi Gunawan telah dijadikan tersangka oleh KPK, melainkan ada bukti yang sudah cukup. Alasan “ada bukti yang sudah cukup” ini persis dikatakan KPK saat menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka.
  • Ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa Wakil Ketua KPK ditahan oleh pihak kepolisian ini adalah sebuah langkah yang berbahaya, tapi tidak dijelaskan lebih lanjut di mana berbahayanya, dan siapa yang akan mengalami bahaya.
  • Ketua KPK Abraham Samad diberitakan menangis saat memberikan keterangan di hadapan pers mengenai masalah yang sedang menimpa KPK saat ini. Entah menangis yang sungguh-sungguh menangis atau sekadar mencari simpati dan empati masyarakat hanya Abraham Samad yang tahu persis keadaannya. Mudah-mudahan bukan air mata buaya atau sejenisnya.

Tapi di antara semua itu yang bisa membuat sebagian pihak pun tersenyum lebar adalah kemungkinan adanya bola liar, bola panas, dan bola lainnya.

Pertama Budi Gunawan, kemudian Bambang Wijanarko, Wakil Ketua KPK ditahan, lalu siapa lagi yang akan ditahan selanjutnya, baik oleh KPK maupun pihak kepolisian?

Situasi dan kondisi saat ini di mana hubungan antara Polri dan KPK yang tidak harmonis, cenderung saling menyalahkan dan menjatuhkan satu sama lainnya tentu sangat memprihatinkan bagi bangsa ini. Entah sampai kapan drama yang melibatkan Polri dan KPK ini berlangsung, dua institusi penegak hukum yang seharusnya bekerja sama dalam menegakkan hukum, tapi justru yang terjadi sebaliknya.

Kedua belah pihak cenderung ngotot dan mengklaim apa yang dilakukannya adalah benar dan sudah sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sumber gambar: wikipedia.


Agus Yudhoyono Terkena Serangan Balik Politik?

Agus Yudhoyono Terkena Serangan Balik Politik?

Adahati.com – Agus Yudhoyono terkena serangan balik politik? Media massa memberitakan Sylvi terseret kasus dugaan korupsi pembangunan masjid Al-Fauz di kantor Wali Kota Jakarta Pusat, kemudian terseret lagi terkait kasus dugaan korupsi Pengelolaan Dana Bantuan Sosial Pemprov DKI Jakarta di Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DKI Jakarta tahun anggaran 2014 dan 2015.

Bagaimana tanggapan putra sulung SBY, Agus Yudhoyono?

Ia melihat ada tindakan atau upaya yang kental dengan unsur politik untuk menjatuhkan dirinya dan Sylvi. “Inilah yang memang sangat saya sayangkan. Rasa-rasanya aroma politiknya terlalu tinggi, mencari-cari sesuatu yang tidak ada,” katanya di sini.

Jika benar seperti kata Agus tadi, apakah saat ini Agus Yudhoyono terkena serangan balik politik? SBY sempat dianggap memanas-manasi situasi politik beberapa hari menjelang aksi 4 November lalu dan dianggap ikut terlibat. SBY dan Partai Demokrat membantahnya, tapi sebagian pihak menganggap SBY telah melakukan serangan politik. Maka dari itu, akan ada serangan politik balasan atau serangan balik politik.

Serangan balik politik tersebut dilakukan sekarang? Makanya Agus Yudhoyono terkena serangan balik politik baru sekarang? Menjelang hari H Pilkada DKI 2017 serangan balik politik tadi akan semakin gencar saja? Mengapa serangan balik politiknya berupa kasus dugaan korupsi? Karena masyarakat masih ingat elit kader Partai Demokrat yang terjerat kasus korupsi yang membuat perolehan suaranya anjlok pada Pilpres 2014 lalu?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya, mengacu pada pernyataan Agus Yudhoyono di atas tadi bahwa ia melihat ada tindakan atau upaya yang kental dengan unsur politik. Tapi sekali lagi, apakah benar saat ini Agus Yudhoyono terkena serangan balik politik? Apakah benar pernyataannya tentang kentalnya aroma politik pada kasus dugaan korupsi yang menyeret Sylvi?

“Enggak ada,” tegas Kabagpenum Divhumas Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul. Pemanggilan Sylvi merupakan sikap Polri menindaklanjut laporan masuk dari masyarakat, dan polisi memiliki kewajiban untuk memproses laporan itu.

Di atas tadi Agus Yudhoyono antara lain mengatakan, “Rasa-rasanya aroma politiknya terlalu tinggi, mencari-cari sesuatu yang tidak ada.”

Rasa-rasanya?

sumber foto: youtube.com.


Pantaskah Desy Ratnasari Jadi Seorang Wakil Gubernur?

Pantaskah Desy Ratnasari Jadi Seorang Wakil Gubernur?

Adahati.com – Pantaskah Desy Ratnasari seorang artis yang sempat terkenal dengan ucapan “no comment” itu menjadi seorang Wakil Gubernur Jawa Barat?

Hasil survei Lembaga Indonesia Strategic Institute (Instrat) menempatkan Desy Ratnasari di peringkat tertinggi sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Barat 2018 dengan suara sebanyak 33,4%, mengalahkan Dede Yusuf (26,2%), Rieke Diah Pitaloka (23,1%), dan istri Gubernur Jawa Barat, Netty Heryawan (15,3%).

Tanggapan Desy Ratnasari atas hasil survei di atas tadi?

“Saya mengapresiasi survei yang dilakukan dan alhamdulillah jika hasilnya menyatakan demikian,” katanya di sini. Sebuah pernyataan yang wajar, normal, atau standar saja. Kemudian ia menambahkan, “Saat ini, saya belum memutuskan hal apa pun selain fokus menjalankan tugas sebagai anggota DPR.”

Kembali sebuah pernyataan yang wajar, normal atau standar. Bukankah ciri-ciri seorang pejabat pemerintah antara lain seperti itu? Standar saja, atau tidak mengeluarkan pernyataan yang kontroversial.

Ridwan Kamil pun menilai Desy Ratnasari memiliki potensi untuk mendongkrak popularitas pasangannya di Pilkada Jabar 2018 nanti. Jangan dipandang sebelah mata, jangan-jangan memang sudah luar biasa, sosok yang mudah disukai masyarakat, cantik, populer, khas orang sunda, likeable, begitu katanya.

Kemudian timbullah suara-suara yang mengatakan pasangan Ridwan Kamil-Desy Ratnasari cocok disatukan menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.

Jadi, pantaskah Desy Ratnasari menjadi Wakil Gubernur? Konstelasi politik bisa berubah, survei-survei pun bermunculan lagi, tapi kali ini surveinya mengatakan Desy Ratnasari berada di peringkat teratas sebagai calon Gubernur.

Muncul lagi suara-suara, terutama dari kaum perempuan yang mengatakan pantas seorang perempuan menjadi Gubernur, yang laki jadi Wakil Gubernur saja.

Pertanyaan berikutnya. Siapa wakil Desy Ratnasari nantinya? Wali Kota Bandung Ridwan Kamil? Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang panik atau kebakaran jengot, kemudian mulai mengorek masa lalunya untuk menjatuhkan atau menjegalnya tampil sebagai seorang calon Gubernur.

Bagaimana tanggapan Desy Ratnasari sendiri? Apakah masih sebuah pernyataan yang wajar, normal, biasa, atau standar layaknya seorang pejabat pemerintah?

Entahlah, tapi sepertinya belanda masih jauh.

sumber foto: youtube.com.


Mengapa Elektabilitas Agus Yudhoyono Turun Drastis?

Mengapa Elektabilitas Agus Yudhoyono Turun Drastis?

Adahati.com – Elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis, siapa bilang? Sebelum bahas lebih jauh terkait elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis ini, ada baiknya terlebih dahulu menyimak pernyataan dari Sandiaga Uno, calon wakil gubernur DKI Jakarta.

Menurut Sandiaga Uno, hasil survei LSI yang dikeluarkan baru-baru ini berbeda jauh dari hasil survei internal pihaknya, atau tidak benar hasil survei LSI tadi. Kemudian ia menambahkan, pihaknya tidak menggunakan survei untuk menggiring opini publik.

Survei LSI Denny JA mengatakan elektabilitas Anis-Sandiaga turun dan berada di urutan terbawah serta ada tiga alasannya.

Pertama, karena kunjungan Anies ke markas FPI dan bertemu Rizieq Shihab yang tidak sejalan dengan pemilih Anies-Sandiaga yang moderat. Alasan kedua, tidak ada program unggulan yang dikampanyekan secara masif. Contohnya seperti “rumah apung”? Tidak disebutkan contohnya oleh LSI Denny JA. Alasan ketiga, daya tarik pasangan cagub Anies-Sandiaga kalah dibanding Ahok-Djarot dan Agus-Sylvi.

Tiga alasan elektabilitas Anies-Sandiaga turun menurut LSI Denny JA yang dibantah oleh Sandiaga Uno, karena menurut hasil survei dari pihaknya tidak demikian adanya.

Ada-ada saja. Tante C pun hanya bisa tersenyum simpul menyimak jawaban atau pernyataan kandidat dan pihak yang pro kubu tertentu. Meski disampaikan secara serius, tapi tetap saja kesannya lucu.

Maka dari itu, tak perlu heran jika elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis kata si anu, si polan, atau siapa saja. Alasannya elektabilitas Agus Yudhoyono turun drastis bisa dibuat nanti. Memangnya butuh berapa banyak alasan?

Sandiaga Uno pun mengatakan survei itu “menggiring opini publik”. Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini pun ada kaitannya dengan kata menggiring.

Diambil dari partai babak pertama Tata Steel Chess 2017 untuk kelompok Chalengers antara Markus Ragger dan Jeffery Xiong. Langkah hitam sebelumnya, Ma2-d2.

  • Bc1-f1 …… Bf8-e8
  • Bf1-f3 ……. a5-a4
  • Bf3-g3+ …. Rg8-f8
  • Mf6-g7+ … Rf8-e7
  • f5-f6+ ……. Re7-d8

  • Mg7xf7 …… a4-a3
  • Mf7-a7 …… Md2-c1+
  • Rh1-h2 …… Mc1-f4
  • Ma7-b8+ … Re8-e7
  • Mb8-b5+ … Re7-e8

  • Raja hitam hanya bisa pasrah digiring oleh Menteri putih.
  • Mb5xb4 …… h7-h5
  • Mb4xd6+ … Rd8-c8
  • Md6-c6+ ….. Rc8-d8
  • f6-f7

Gens Una Sumus.

sumber foto: youtube.com dan sumber berita: news.detik.com.


Agus Yudhoyono Kena Sentil oleh Ahok

Agus Yudhoyono Kena Sentil oleh Ahok

Adahati.com – Agus Yudhoyono kena sentil oleh Ahok? Biasanya kalau ada kata “sentil” akan dikuti oleh kata “kuping”. Misalnya, kuping anak kecil itu disentil oleh abangnya. Mengapa disentil? Bisa jadi abangnya sedang kesal, atau sekadar iseng kurang kerjaan.

Tapi yang dimaksud Agus Yudhoyono kena sentil oleh Ahok di sini masih berkait dengan “perang pernyataan”. Berawal dari kubu Agus Yudhoyono yang mengklaim bahwa kantong-kantong suara di Jakarta sudah dikuasai, lalu ditanggapi oleh Ahok seperti ini: “Enggak apa-apa. AHY kan artinya juga Ahok Hakul Yakin.”

Tak lama kemudian ada pernyataan Agus yang menyentil balik. Ia mengatakan jangan memilih pemimpin yang tukang gusur, katanya dalam sebuah kampanye di Kelurahan Bungur, Jakarta Barat. Ahok pun diam saja, tidak balas menyentil?

Salah satu penyebab banjir di Jakarta terjadinya penyempitan sungai dan tali air. Tidak terlalu sulit mengatasinya, yaitu dengan menormalkan kembali bentuknya.

“Orang bilang gusur, sekarang gua tanya, normalisasi sungai tanpa menghilangkan rumah-rumah yang menduduki trase sungai itu caranya gimana? Diapungin rumahnya,” kata Ahok di sini.

Konsep “rumah apung” sempat viral di medsos beberapa waktu lalu, dan menjadi bahan tertawaan sebagian pihak. Agus Yudhoyono kena sentil lagi oleh Ahok.

Sampai saat ini belum ada sentilan balasan dari Agus Yudhoyono. Mudah-mudahan masih ada sentilan balasan lainnya yang lebih keras.

Menurut pendapat Tante C, hal yang biasa dalam politik saling sentil.

Sentil menyentil pun biasa terjadi di dunia catur. Sentilannya bisa lunak, bisa juga keras seperti terlihat pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Putih giliran melangkah.
  • Siapa yang akan kena sentil?
  • Ada terlihat garis diagonal e3-a7 yang berkaitan dengan garis horizontal a7-d7.
  • Selain itu ada pula garis vertikal c5-c8 dan garis horizontal c8-g8.

 

  • Makdarit (maka dari itu), siapa yang sebentar lagi kena sentil?
  • Sakitkah sentilan putih ini?
  • Ba2-a7!

  • Kalau langkah hitam begini, yang kena sentil itu.
  • Kalau langkah hitam begitu, yang kena sentil ini.

Gens Una Sumus.

sumber foto: youtube.com.


Agus Yudhoyono Sempoyongan di Debat Cagub?

Agus Yudhoyono Sempoyongan di Debat Cagub?

Adahati.com – Benarkah Agus Yudhoyono sempoyongan di debat cagub? Pertanyaan ini mungkin membuat sebagian pihak bingung, terutama pada kata sempoyongan.

Menurut KBBI online, arti kata sempoyongan adalah “terhuyung-huyung hendak jatuh”. Tentu kata “sempoyongan” ini jangan diartikan secara harfiah. Agus Yudhoyono sempoyongan yang dimaksud tadi adalah putra SBY tersebut gelagapan, atau gugup pada debat cagub pertama yang akan diadakan tanggal 13 Januari 2017 nanti (debat cagub kedua dan ketiga diadakan tanggal 27 Januari dan 10 Februari 2017).

Apa alasannya Agus Yudhoyono sempoyongan? Karena ia baru terjun di dunia politik dan minim pengalaman, begitu juga Sylvi. Ahok-Jarot dan Anies-Sandiaga akan melancarkan serangan-serangan politik yang bisa membuat Agus Yudhoyono sempoyongan karena grogi atau gugup tadi.

Agus pun sepertinya sudah pasrah, jika menyimak dari pernyataannya di sini. “Debat bukanlah segalanya. Segalanya bagi saya adalah bertemu dengan rakyat.”

Menurut pengakuan putra SBY ini, ia telah telah mempersiapkan diri, juga telah belajar dari sejumlah mentor yang memiliki kompetensi di bidang politik dan tata negara. “Tentu saya banyak belajar dari siapapun termasuk dari mentor-mentor yang saya anggap sudah memiliki pengalaman luar biasa,” katanya.

Tapi sekali lagi, pengalaman politik Agus masih minim atau nol, dan pengalaman tidak bisa dibeli. Diperkirakan Agus Yudhoyono sempoyongan di debat cagub nanti.

Tentu saja semua ini hanya perkiraan saja. Siapa tahu Agus lihai dalam berdebat nanti, meski pengalaman politiknya minim. Keberuntungan pun bisa datang tanpa diduga.

Benar atau tidaknya Agus Yudhoyono sempoyangan di debat cagub nanti, markisak (mari kita saksikan) saja apa yang terjadi sesungguhnya pada 13 Januari 2017 nanti.

Bukan hanya di politik, pengalaman pun diperlukan dalam permainan catur supaya tidak dihajar dari kiri dan kanan seperti buah catur hitam yang sempoyongan pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Diambil dari partai antara juara dunia Alexander Alekhine (putih) dan A. Cruz (hitam) pada tahun 1941. Setelah langkah 14, diagram caturnya seperti di atas.
  • g2-g4 … Kb8-d7
  • h4-h5 … Kd7-f6

 

  • Menteri putih diancam oleh Kuda hitam, tapi putih santai saja.
  • Langkah putih selanjutnya?
  • Kg5xf7!

 

  • Hitam langsung sempoyongan. Jika hitam Kf6xMe4, putih Kf7xMd8+, dst.
  • Langkah hitam selanjutnya, Be7xKf7 yang dibalas oleh putih dengan h5xg6.
  • Kf6xMe4?

 

  • Hitam minim pengalaman, dua langkah kemudian Raja hitam pun sempoyongan, dan akhirnya jatuh tersungkur di petak pojok sana.
  • Masih bingung juga?
  • Pegangan lagi.

sumber foto: youtube.com.


Prabowo Diusung Jadi Capres 2019, Ada yang Keliru?

Prabowo Diusung Jadi Capres 2019, Ada yang Keliru?

Adahati.com – Prabowo diusung jadi capres 2019 masih sebatas rencana Partai Gerindra, tapi seandainya pun nanti rencana tersebut akhirnya menjadi kenyataan, biasa saja. Cukup banyak pihak yang sudah memperkirakan seperti halnya Jokowi akan kembali tampil sebagai salah satu capres pada Pilpres 2019 nanti.

Tidak ada yang salah atau keliru dengan rencana Prabowo diusung jadi capres pada Pilpres 2019. Ada yang keliru, jika rencana tersebut akhirnya menjadi kenyataan, tapi Prabowo kembali gagal atau kalah lagi. Entah di mana, tapi pastinya ada yang keliru.

Ada yang cukup menarik dari pernyataan Fadli Zon terkait rencana Prabowo diusung jadi capres 2019 ini. Menurutnya, hal yang biasa jika Prabowo tampil lagi sebagai capres, meski sebelumnya pernah gagal atau kalah. Kemudian ia mengambil contoh Abraham Lincoln. “Presiden Abraham Lincoln saja berkali-kali, biasa itu. Kalau enggak salah belasan kali angkanya. Itu biasa di dalam politik. Hidup saja kita sering gagal, lulus, gagal lulus, biasa saja,” kata Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di sini.

Ada kata “sering gagal” diucapkannya, tapi mengapa dianggap hal yang biasa? Bukankah “sering gagal” itu sebuah aib atau hal yang memalukan? Jangan-jangan Fadli Zon sudah memperkirakan bahwa Prabowo akan gagal lagi.

Mengapa kesannya jadi pesimis?

Menurut pendapat Tante C, keliru mereka yang belum apa-apa, tapi sudah pesimis tadi. Meski dalam keadaan terjepit, tapi sebaiknya tetap yakin dan optimis seperti buah catur hitam pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Menteri hitam terancam, selain posisi hitam saat ini sepertinya sudah tidak ada harapan lagi memenangkan pertandingan ini.
  • Namun, karena hitam tidak senang sering gagal, dan tetap optimis, maka ia melihat ada garis horizontal h2-f2 dan d7-b7, serta garis vertikal d7-d1.

  • Makdarit (maka dari itu), langkah hitam selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Bd5-c5!

  • Hitam tidak keliru, jika ia tidak senang sering gagal, dan tetap optimis.
  • Makanya putih pun menyerah kalah setelah langkah hitam Bd5-c5 tadi.

sumber gambar: youtube.com.


Rizieq Shihab akan Dijemput Paksa

Rizieq Shihab akan Dijemput Paksa

Adahati.com – Rizieq Shihab boss FPI diadukan oleh Soekmawati Soekarnoputri atas tuduhan melecehkan Pancasila. Ia pun dituduh telah menghina kehormatan dan martabat sang proklamator, Bung Karno.

Tidak sedikit pihak yang mengira masalahnya sudah dilupakan, karena beritanya nyaris tak terdengar lagi. Menurut Kapolri, Rizieq Shihab telah dipanggil pada 5 Januari 2017 lalu, tapi tidak datang dengan alasan sakit. Rencananya pemanggilan kedua akan dilakukan 12 Januari 2017 nanti.

Bagaimana kalau Rizieq Shihab masih mangkir? Kapolri menegaskan pihaknya akan melakukan upaya paksa. “Kita lihat, datang atau tidak. Jika datang diperiksa. Jika tidak, sesuai hukum, KUHAP tentu kita lakukan surat perintah membawa,” tegasnya di sini.

Rizieq Shihab termasuk salah satu pihak yang menuntut keras supaya Ahok diproses secara hukum saat merebaknya kasus dugaan penistaan agama. Ahok pun tidak beralasan sakit, dan atas kemauannya sendiri datang ke kantor polisi

Penggemar catur yang baik hati, tidak sakit-sakitan, sehat selalu, juga gemar menabung dan tidak sombong, Tante C cukup tertarik dengan kata “paksa” terkait berita tentang Rizieq Shihab yang dituduh telah menghina Pancasila, juga kehormatan dan martabat proklamator Bung Karno di atas tadi.

Kata “paksa” ini cenderung berkonotasi negatif, tapi tidak selamanya seperti itu. Kapolri Tito Karnavian pun ada mengatakan “sesuai hukum” atau KUHAP yang menjadi dasar menerapkan kata “paksa” tadi.

Bagaimana kalau kata “paksa” ini diterapkan di catur?

Tidak masalah, bahkan bisa meraih kemenangan seperti ditunjukkan pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Hitam sudah kalah satu perwira Gajah, tapi ia memiliki keunggulan posisi.
  • Gajah hitam di petak c6 mengancam Benteng putih di petak f3.
  • Diagonal c6-f3-h1 dan e2-f1-h3 terlihat pada bentuk bangunan caturnya.

 

  • Langkah hitam selanjutnya? Mudah saja, tidak sulit dan rumit, karena hitam sampai saat ini masih sehat atau tidak sakit-sakitan atau pura-pura sakit.
  • Bg8-g4!

 

  • Langkah hitam tadi pun memaksa putih bertekuk lutut atau menyerah kalah.
  • Karena Menteri putih terhalang pandangannya ke petak f3.
  • Masih bingung juga?
  • Pegangan.

Gens Una Sumus.

sumber gambar: youtube.com.


Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Agus Yudhoyono Sudah Mulai Dijadikan “Musuh Bersama”?

Adahati.com – Hari H Pilkada DKI 2017 tinggal sekitar sebulan lagi. Bagi kubu masing-masing pasangan cagub waktu yang tersisa mesti dimanfaatkan sebaik mungkin demi menuai perolehan suara yang memuaskan, juga menghasilkan kemenangan.

Awalnya Ahok dijadikan “musuh bersama”, tapi hasilnya kurang memuaskan. Serangan-serangan politik yang dibangun sedemikian rupa selama ini tidak memberikan pengaruh negatif yang cukup signifikan terhadap Ahok.

Konsep “rumah apung” ditanggapi sinis oleh Ahok. Menurutnya “rumah apung” bisa diwujudkan, tapi mungkin 100 tahun lagi. Ahok pun pernah melihat “rumah apung” di film-film Hollywood, tapi gantung di langit (detik.com).

Nada sinis pun dilontarkan oleh kubu Anies-Sandiaga. Lewat pernyataan M Taufik dikatakan Agus Yudhoyono terbebani statusnya sebagai anak SBY. Mana ada di dunia ini “kota apung”? Tapi yang lebih nyelekit lagi pernyataannya tentang sedotan air. “Masa sedotan. Emangnya air lemon pakai sedotan,” kata M Taufik di sini.

Benarkah taktik menjadikan Agus Yudhoyono sebagai “musuh bersama” sudah mulai dimainkan? Tidak terlalu mengherankan, jika Agus Yudhoyono sudah mulai dijadikan “musuh bersama” mengingat beberapa pertimbangan di bawah ini:

Pertama, awalnya Ahok yang dijadikan “musuh bersama”, tapi hasilnya cenderung mengecewakan, karena Ahok masih tetap tangguh hingga saat ini.

Kedua, beberapa pengamat politik mengatakan Pilkada DKI 2017 akan berjalan dua putaran. Salah satu alasannya Ahok masih terjerat kasus dugaan penistaan agama. Makdarit, satu dari tiga pasangan cagub harus tersingkir atau disingkirkan.

Ketiga, hasil beberapa survei lalu menunjukkan elektabilitas Agus di posisi teratas. Wajar saja dijadikan sasaran tembak, apalagi ada dugaan “survei pesanan”. Istilahnya “senjata makan tuan” dengan menjadikan Agus Yudhoyono sebagai “musuh bersama”.

Keempat, kubu Ahok-Djarot pun cenderung memilih Anies-Sandiaga sebagai lawannya di putaran kedua nanti, mengingat ada kecurigaan terjeratnya Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama adalah permainan “politik busuk” yang dilakukan oleh kubu Agus Yudhoyono. Meski sudah beberapa kali dibantah, tapi kubu Ahok-Djarot sepertinya belum hilang kecurigaannya tadi.

Kelima, memainkan taktik Agus Yudhoyono dijadikan “musuh bersama” cenderung menguntungkan kubu Ahok-Djarot maupun Anies-Sandiaga. Kalkulasi politiknya kubu Ahok-Djarot lebih ringan menghadapi Anies-Sandiaga di putaran berikutnya, sedangkan kubu Anies-Sandiaga bersyukur bisa lolos ke putaran kedua.

Apakah memainkan taktik “musuh bersama” ini bisa berbalik menguntungkan kubu Agus Yudhoyono, misalnya dibalas dengan memainkan taktik “playing the victim”?

Mengingat sisa waktu Pilkada 2017 boleh dibilang sudah mepet, sepertinya tidak efektif lagi memainkan taktik “playing the victim”. Apalagi jika kubu Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga melakukan serangan politiknya tidak secara bersamaan, melainkan bergantian atau mengatur sebaik mungkin serangan politiknya.

Jika hal itu berhasil, dan Pilkada DKI 2017 berjalan dua putaran, sudah bisa ditebak siapa dua pasangan cagub yang akan tampil nantinya.

sumber gambar: youtube.com.


“Fitsa Hats” Meningkatkan Elektabilitas Ahok Tinggi Sekali?

“Fitsa Hats” Meningkatkan Elektabilitas Ahok Tinggi Sekali?

Adahati.com – Benarkah “Fitsa Hats” yang sedang menjadi pembicaraan yang cukup hangat di kalangan masyarakat atau sedang ngetrend saat ini bisa meningkatkan elektabilitas Ahok? Seberapa besar bisa meningkatnya elektabilitas Ahok tadi?

Keyakinan akan meningkatnya elektabilitas Ahok seusai sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama kemarin (3/1/2017) dikatakan oleh Ace Hasan Syadzily dari tim sukses Ahok seperti diberitakan oleh detik.com di sini.

Menurutnya banyak hal yang cukup mengherankan terkait saksi-saksi yang dihadirkan kemarin. Perlahan-lahan masyarakat pun akan sadar serta paham bahwa kasus dugaan penistaan agama yang menimpa Ahok saat ini hanya permainan politik semata.

Tapi mengapa tim sukses Ahok tidak mengutip peribahasa yang berbunyi “yang busuk itu lama-lama berbau juga”? Padahal mungkin saja dengan mengutip peribahasa yang mencantumkan kata “busuk” itu bisa mempercepat kesadaran masyarakat bahwa memang ada “politik busuk” di balik kasus dugaan penistaan agama ini.

Apakah sebusuk kelakuan tidak sportif dari pihak-pihak tertentu yang selama ini merekayasa penghadangan terhadap Ahok yang sedang blusukan saat kampanye yang menjadi hak setiap cagub pada Pilkada DKI 2017?

Busuk memang bisa ditutupi, tapi bukan berarti selamanya. Cepat atau lambat akan tercium juga bau busuk tadi, meski sudah ditutupi atau diberi wangi-wangian kembang tujuh rupa sekalipun. Peribahasa “yang busuk itu lama-lama berbau juga” cukup menyakitkan bagi mereka yang tidak sportif tadi.

Tim sukses Ahok yakin elektabilitas cagub yang didukungnya akan meningkat setelah usai sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama kemarin, tapi mengapa tidak disebutnya secara spesifik bahwa “Fitsa Hats” sebagai penyumbang tertinggi? Bukankah faktanya memang benar seperti itu? Mungkin ia memiliki kalkulasi atau perhitungan sendiri, atau mungkin juga ia enggan menyebut “Fitsa Hats”, karena ada kekhawatiran nanti salah sebut atau salah ucap menjadi “Pitsa Hats”.

Tapi benarkah elektabilitas Ahok akan meningkat tinggi seperti keyakinan timses Ahok tadi? Sebaiknya sabar menunggu, biarlah waktu yang menjawab. Termasuk sabar menunggu, sampai kapan “Fitsa Hats” tidak lagi dibicarakan oleh masyarakat.

Ilustrasi dan sumber berita: detik.com.


Ahok ada Mengatakan “Fitsa Hats”, dan Dunia pun Tertawa?

Ahok ada Mengatakan “Fitsa Hats”, dan Dunia pun Tertawa?

Adahati.com – “Fitsa Hats” menjadi pembicaraan yang cukup hangat di media massa saat ini, dan kemungkinan besar masih akan seperti itu untuk beberapa hari ke depan.

Kemarin (3/1/2017), Ahok menjalani sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama di aula Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan. Sidangnya tertutup, tapi setelah sidang usai, ada yang Ahok buka di hadapan umum terkait Novel Bamukmin, Sekjen Ketua Dewan Syuro DPP FPI Jakarta, yang menjadi salah satu saksi di sidang ini karena posisinya sebagai pelapor. Sebelum sidang dimulai seperti biasa seorang saksi ditanya hal yang berkait dengan identitasnya.

“Nama saksinya Habib Novel. Dia kerja dari tahun 92 sampai 95 di Pizza Hut. Tapi mungkin karena dia malu kerja di Pizza Hut karena itu punya Amerika, dia sengaja menuliskan Fitsa Hats,” kata Ahok di sini.

Masyarakat pun tertawa terpingkal-pingkal.

Memang lucu itu tidak jelas. Katakanlah si A yang mendengar, membaca, atau melihat sesuatu menurut pendapatnya lucu yang membuat si A pun tersenyum simpul atau tertawa biasa saja, tapi menurut pendapat si B bukan sesuatu yang lucu. Lain lagi menurut pendapat si C. Ia malah tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar ada “Fitsa Hats”, karena menurut pendapatnya lucu sekali apabila huruf “P” sengaja diganti menjadi huruf “F” seperti kata “Pizza” menjadi “Fitsa”. Mengapa bukan “Pitsa”? Ada-ada saja, dan cukup menggelikan.

Namun terlepas lucu itu jelas atau sebaliknya, sampai saat ini belum ada tanggapan Novel Bamukmin terkait serangan balik “Fitsa Hats” Ahok setelah usai menjalani sidang yang sifatnya tertutup, tapi ada juga beberapa hal yang dibuka oleh Ahok sehingga masyarakat pun tahu ada “Fitsa Hats”, akhirnya jadi heboh nasional sekarang ini.

Belum ada juga tanggapan dari Pizza Hut atas kata-kata “Fitsa Hats” yang ditulis oleh Novel Bamukmin pada laporan identitasnya itu. Tapi diperkirakan nama Pizza Hut semakin terkenal saja, dan mungkin makin banyak orang yang makan di sana.

Tentu bukan makan pizza basi yang dibuat tahun 1992-1995.

sumber gambar: youtube.com.


Benarkah Ahok Dihadang oleh Seorang Ibu yang Menangis?

Benarkah Ahok Dihadang oleh Seorang Ibu yang Menangis?

Adahati.com – Ahok dihadang oleh beberapa orang saat blusukan di suatu tempat cukup sering beritanya menghiasi media massa. Namun meski dihadang, ia tetap blusukan. Ibarat peribahasa “anjing menggonggong, kafilah berlalu”.

Peribahasa tadi artinya biarkan saja orang lain bicara, mencemooh, atau mempergunjingkan, tapi tak perlu dihiraukan. Bisa juga artinya seperti ini, meskipun ada halangan atau rintangan, rencana tetap jalan terus.

Terkait Ahok dihadang oleh beberapa orang tadi diduga ada rekayasa atau skenario dari pihak-pihak tertentu yang cenderung berjiwa pengecut atau tidak sportif, karena ada kekhawatiran Ahok akan memenangkan Pilkada DKI 2017.

Namun terlepas dari itu semua, selain peribahasa “anjing menggonggong, kafilah berlalu”, ada peribahasa lainnya, yaitu “yang busuk itu lama-lama berbau juga”.

Tapi benarkah Ahok dihadang oleh seorang ibu yang menangis sambil menggendong cucunya saat Ahok blusukan di Cilincing, Jakarta Utara (2/1/2017)?

Ibu itu memang menangis di hadapan Ahok, tapi bukan berniat menghadang, justru ia menangis saat Ahok datang menghampirinya.

Ia pun curhat kepada Ahok, bahwa suaminya sudah bekerja selama 25 tahun, tapi diberhentikan dari PHL Sudin Kebersihan Jakarta Utara sejak 1 Januari 2016 karena usianya sudah memasuki 55 tahun. Padahal selama ini, meski hanya tukang sapu jalanan, suaminya mendapat gaji bulanan sesuai UMR sebesar Rp 2,7 juta, juga fasilitas BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Tapi semua itu hilang sejak suaminya tidak bekerja lagi, dan ibu itu pun menangis mengingat beban hidupnya semakin berat saja. Ia pun memohon agar cagub nomor urut dua ini mempekerjakan kembali suaminya sebagai tukang sapu jalanan.

Ahok pun langsung meminta dua ajudannya supaya mencatat nomor kontak ibu yang menangis tadi agar permohonannya bisa diurus dan diselesaikan oleh stafnya, bahkan ibu itupun mendapat nomor kontak staf Ahok tersebut.

Memang Ahok berhenti, tapi bukan karena dihadang, justru ibu itu yang menangis dan curhat saat Ahok datang menghampirinya.

Tidak selamanya “kafilah berlalu”, tapi perlu juga “kafilah berhenti” untuk mendengar suara rakyat kecil yang membutuhkan pertolongan.

sumber berita: kompas.com, sumber gambar: youtube.com.


Ahok Janji Tidak akan Gusur dan Agus Yudhoyono Sewot?

Ahok Janji Tidak akan Gusur dan Agus Yudhoyono Sewot?

Adahati.com – Agus Yudhoyono sewot? Agus adalah salah satu cagub pada Pilkada DKI 2017 dan cawagubnya adalah Silvy yang suaminya Gde Sardjana telah diperiksa oleh pihak kepolisian terkait pendanaan kasus dugaan makar. Ada keterangan dari pihak kepolisian seperti ini: “Pengakuan Pak Gde, dia transfer buat dana kampanye, kan timsesnya nomor urut satu,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya di sini.

Keterangan pihak kepolisian tadi yang membuat Agus Yudhoyono sewot?

Sebenarnya Agus Yudhoyono sewot terkait pernyataan tim sukses Anies-Sandiaga yang merasa pola kampanyenya ditiru. Buktinya lokasi kampanye mereka juga dikunjungi calon lain. Anies pun ketika ditanya bagaimana menangani masalah banjir mengatakan: “Saya cenderung enggak cerita, ini bahan buat debat, ada yang suka imitasi soalnya.” Tanggapan Agus Yudhoyono?

“Ha..ha..ha… yang niru siapa ya? Makanya pada beli kaca yang gede.”

Menurut pendapat atau anggapan Agus Yudhoyono lucu. “Ha..ha..ha…. Lucu juga pertanyaannya, ha..ha…. Ya mudah mudahan ini lah, ha..ha, speechles saya dibilang meniru karena yang meniru siapa, kita cari saja.”

Setidak-tidaknya ada dua kelucuan menyangkut berita di atas tadi.

Pertama, jika menyimak tanggapan Agus tadi tidak terkesan ia sewot, tapi mengapa judul beritanya terkesan Agus Yudhoyono sewot? Ada “tanda seru” di judul berita detik.com ini yang mengesankan Agus Yudhoyono sewot.

Kelucuan kedua, timses Anies-Sandiaga tidak menyebut siapa yang nyontek, tapi mengapa ada komentar Agus seperti ini, “speechles saya dibilang meniru.”

Entah siapa sebenarnya yang lucu, tapi berita terkait Ahok ini tidak terkesan sewot atau lucu saat ia berdialog dengan warga di Jati Padang.

Ahok mengatakan dulu ada 2.000 titik banjir di Jakarta, tapi sekarang sudah berkurang hingga 400. Ia pun menampik bila dirinya akan menggusur daerah tersebut. Justru daerah tersebut akan ditata agar tidak banjir. Prinsipnya tidak ada penggusuran, kecuali terpaksa atau tidak ditemukan solusi yang lebih baik.

“Prinsipnya, kita nggak gusur kecuali terpaksa. Kita lihat dulu bantaran sungainya. Kalau mereka warga asli, dapat tinggal rusun. Lebih sehat, naik bus gratis,” kata Ahok di sini.

Tidak ada kesan sewot saat Ahok mengatakan hal itu.

sumber berita: detik.com, sumber gambar: youtube.com.


Reshuffle Kabinet Jilid Empat Masih Sebatas Isu, tapi Lucu

Reshuffle Kabinet Jilid Empat Masih Sebatas Isu, tapi Lucu

Adahati.com – Reshuffle kabinet jilid empat berhembus belakangan ini menjelang tahun 2016 berakhir. Mungkin ada sebagian pihak yang merasa heran. Telah tiga kali reshuffle kabinet dan sekarang mau yang keempat? Memangnya sudah berjalan berapa tahun pemerintahan Presiden Jokowi? Mengapa ganti menteri mulu?

Di masa lalu lawan-lawan politik Jokowi memang pernah menjulukinya “presiden boneka”, sebuah sindiran bahwa Jokowi di bawah kontrol Megawati Soekarnoputri (PDIP) khususnya, dan partai-partai politik pendukungnya secara keseluruhan.

Entah siapa yang pertama kali meniupkan isu reshuffle kabinet jilid empat ini, tapi reaksi dari parpol-parpol pendukung Jokowi bisa disimak di bawah ini.

Partai Nasdem lewat pernyataan politikusnya, Jhonny G Plate, reaksinya cenderung perbaba (pernyataan basa-basi). Nasdem mendukung rencana reshuffle kabinet asal tujuannya memperkuat kinerja dan konsolidasi parpol-parpol pendukung pemerintah, restruktur dan reposisi kekuatan koalisi adalah hal yang wajar, stabilitas politik memang diperlukan.

Sedangkan reaksi PPP lewat pernyataan politikusnya Arsul Sani, Hanura (Dadang Rusdiana), dan PKB (Daniel Johan) pun cenderung basi. Reshuffle kabinet adalah hak prerogatif presiden. Berharap kursi kabinetnya tidak diutak-atik?

Bagaimana reaksi PDIP terkait isu reshuffle kabinet jilid empat ini? PDIP lewat pernyataan Darmadi Durianto, bahkan sudah memperkirakan pos-pos menteri yang akan terkena reshufle kabinet, yaitu Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan alasan yang dikemukakannya cenderung basi juga, misalnya reshuffle kabinet diperlukan merujuk pada program nawacita yang menjadi perhatian khusus Presiden Jokowi.

Lalu, bagaimana reaksi atau tanggapan Presiden Jokowi sendiri? “Nggak ada,” katanya di sini. Tak lama kemudian ia mengulangi kalimat “Nggak ada” tadi.

Presiden mengatakan tidak ada reshuffle kabinet. Mengapa parpol-parpol pendukungnya berisik mengatakan ada? Dagelan atau lucu-lucuan menyambut Tahun Baru 2017? Biasanya kalau ada berisik politik yang tidak jelas sekadar pengalihan isu saja, tapi pengalihan isu dari apa? Situasi dan kondisi politik saat ini cenderung baik-baik saja atau tidak ada kejadian yang cukup menghebohkan.

Di sisi lain, kalau diperhatikan lebih lanjut, para politikus yang berkoar tadi masih “politikus kelas teri”. Bisa saja parpol-parpol pendukung Presiden Jokowi tadi buang badan, jika keadaannya tidak menguntungkan dengan mengatakan bukan sikap resmi partai kami menginginkan adanya reshuffle kabinet jilid empat.

Sumber gambar dan sumber berita: merdeka.com.


Mengapa Ahok Tetap Blusukan Meski Dihadang?

Mengapa Ahok Tetap Blusukan Meski Dihadang?

Adahati.com – Ahok tetap blusukan dan “jualan obat” di masa kampanye Pilkada DKI 2017. Bukan hanya Ahok, cagub lainnya pun “jualan obat” atau mempromosikan diri.

Cara mempromosikan diri atau “jualan obat” lainnya lewat sebuah perdebatan di acara televisi swasta, tapi beberapa waktu lalu ada pasangan cagub yang tidak mengikutinya, entah karena takut atau ada alasan lainnya. Tentu saja blunder, jika mengakui takut. Maka dari itu, perlu alasan untuk menangkis tuduhan takut tadi dengan mengatakan lebih baik blusukan daripada berdebat di acara televisi swasta.

Hal yang biasa berdalih, memberikan alasan atau memainkan taktik seperti itu. Justru mengherankan apabila bersedia “menari di atas gendang yang ditabuh oleh orang lain”.

Ahok tetap blusukan hari ini (30/12/2016), meski dihadang oleh seorang warga di Jati Padang, Jakarta Selatan seperti diberitakan detik.com di sini.

“Pak Ahok, mana izinnya, kenapa tiba-tiba ke sini tanpa izin RT/RW?” katanya.

Menurut Suparno (40) warga lainnya mengatakan bahwa pria yang cenderung lebay (berlebihan) tadi adalah seorang kader dari partai pendukung cagub lain.

“Biasa Mas, itu pendukung cagub lain. Memang warga asli, tapi yang nolak dia aja.”

Menurut pendapat Tante C sebaiknya jadi orang jangan terlalu lebay atau berlebihan. Biasa saja menanggapi sesuatu meski kurang berkenan di hati. Santai saja.

Ahok tetap blusukan, meski dihadang. Begitupun dengan Tante C, tetap akan memberikan Trik dan Problem Catur yang Sederhana, meski ada sebagian pihak yang merasa tertipu, atau dibohongi pakai Ahok. Santai saja, tak perlu berlebihan dan mengatakan diri ini sudah dibohongi pakai judul tulisan yang cenderung bombastis.

  • Putih giliran melangkah, dan kemenangan putih tak bisa dihadang lagi.
  • Bukankah bentuk bangunan caturnya masih sulit dan rumit?
  • Ingat, jangan lebay atau berlebihan.
  • Ba7-a8!

  • Benteng putih blusukan dari petak a7 ke petak a8.
  • Kemenangan putih tak bisa dihadang, meski langkah hitam berikutnya Be8xBa8, h7-h6, Mg6-f7 atau langkah hitam lainnya.
  • Masih bingung juga?
  • Pegangan lagi.

Gens Una Sumus.

sumber berita: detik.com, sumber gambar: youtube.com.


Mengapa Menteri Tenaga Kerja Marahi Pekerja Tiongkok?

Mengapa Menteri Tenaga Kerja Marahi Pekerja Tiongkok?

Adahati.com – Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri marah terhadap kelakuan seorang pekerja asing asal Tiongkok. Berawal dari sidaknya ke PT Huaxing, di Jalan Narogong KM 20, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/12/2016).

Di perusahaan tersebut ada 38 pekerja asing asal Tiongkok yang semuanya legal, artinya memiliki izin tinggal dan izin kerja. Namun 18 di antaranya terindikasi melanggar izin kerja. Misal, izin kerjanya teknisi listrik, tapi pekerjaannya marketing.

Hanif Dhakiri kemudian meminta semua pekerja di perusahaan tersebut keluar dan menampakkan diri di hadapannya. Namun seorang manager terlihat cuek saja bicara dengan seseorang lewat handphonenya saat Hanif menyuruhnya duduk.

Menteri Tenaga Kerja pilihan Presiden Jokowi ini pun marah. “Sit down! Sit down!” bentaknya dengan nada tinggi, seperti diberitakan oleh detik.com di sini.

Sit down, sit down…memangnya ada kursi? Tentu saja ada. Mosok datang dari Tiongkok ingin berusaha kemudian bikin perusahaan di sini, tapi kursi saja tak punya.

Sit down, sit down…teriak Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri marah. Mengapa marahnya pakai bahasa Inggris? Karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri pun tidak bisa berbahasa Tiongkok.

Bagi mereka yang pernah bekerja atau berhubungan kerja dengan perusahaan Tiongkok kemungkinan besar tidak heran lagi jika menemukan banyak pekerja asing asal Tiongkok yang tidak fasih berbahasa Inggris. Jangankan yang level bawah, yang level manager pun jarang yang bahasa Inggrisnya bagus dan enak didengar, apalagi kalau bicaranya lewat handphone, antara ngomong dan kumur-kumur beda tipis saja.

Sang manager cuek, terus saja bicara dengan seseorang lewat handphone, tapi ada kemungkinan tidak sedang kumur-kumur, karena ia sedang berbicara dengan atasannya. “Gawat pak boss. Ada yang marah-marah di perusahaan kita”.

Mungkin tidak seperti itu, tapi apapun isi pembicaraan sang manager asal Tiongkok tadi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri sudah terlanjur naik pitam atau marah sambil teriak dalam bahasa Inggris yang jelas, “Sit down! Sit down!”.

Sumber gambar , sumber berita: detik.com.


Mempermalukan Siapa yang Dimaksud Ahok?

Mempermalukan Siapa yang Dimaksud Ahok?

Adahati.com – Siapa yang dimaksud Ahok? Mengapa ia mengeluarkan kata “mempermalukan”? Sebelumnya Ahok menjalani sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama dan eksepsi pembelaannya ditolak oleh majelis hakim.

Mengingat jalannya sidang nanti cukup lama, sedang cuti Ahok akan berakhir tanggal 11 Februari 2017, maka ia akan dinonaktifkan.”12 Februari, Saya nggak mungkin kembali bertugas jadi gubernur, pasti akan di non aktifkan,” kata Ahok di sini.

Ia pun meminta para pendukungnya agar tidak meragukan Djarot, karena wakilnya itu memiliki kemampuan dan pengalaman sebagai Bupati, selain dirinya pun masih bisa tetap berkoordinasi dengan Djarot nantinya.

Ahok juga berharap keadilan tetap ditegakkan. Siapa pun yang diduga melakukan penistaan agama harus diproses. “Kita harap keadilan tetap ditegakkan. Yang melakukan penistaan agama, siapa pun harus diproses,” kata Ahok di sini.

Apakah Ahok sedang menyindir kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Rizieq Shihab? Berita tersebut tidak menjelaskannya lebih lanjut.

Kembali ke pertanyaan semula. Mempermalukan siapa yang dimaksud Ahok?

“Saya harap tetap berjuang untuk menang satu putaran. Kalau kita menang satu putaran, akan mempermalukan orang-orang yang selama ini menyudutkan saya,”

Penggemar catur yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, menurut pendapat Tante C, sulit bagi pasangan cagub Ahok-Djarot untuk memenangkan Pilkada DKI satu putaran saja mengingat ada kasus dugaan penistaan agama.

Bukannya tak mungkin Ahok-Djarot menang satu putaran, dan mempermalukan orang-orang yang menyudutkannya selama ini. Hari H Pilkada DKI 2017 masih sekitar satu setengah bulan lagi. Mungkin saja ada cagub lain yang melakukan blunder juga.

Sebuah blunder bisa membuat orang menyesal karena blunder itu menyakitkan, seperti blunder pada Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini:

  • Putih masih sulit menembus pertahanan hitam, tapi memang dasarnya hitam mreki (pelit), langkah hitam selanjutnya seperti ini:
  • b7-b5?

  • Hitam terlalu pelit, takut pionnya dimakan, dan akhirnya blunder.
  • Langkah putih selanjutnya?
  • Kd6-f5!

  • Hitam pun menyerah kalah.
  • Masih bingung, kenapa putih yang menang?
  • Pegangan.

Sumber gambar. 


Ahok Mendoakan dan Minta Didoakan, Ada yang Salah?

Ahok Mendoakan dan Minta Didoakan, Ada yang Salah?

Adahati.com – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendoakan Julia Perez (Jupe) yang saat ini sedang terbaring di RS Cipto Mangunkusomo karena terkena penyakit kanker serviks stadium empat. Setelah Ahok mendoakan Jupe, ia pun berkata seperti ini: “Dan jangan lupa doain saya juga ya,” kata Ahok sambil tersenyum ramah ke Jupe yang mengamini (detik.com).

Meski berita tersebut tidak menyebut seperti apa bentuk doa Ahok kepada Jupe, tapi bisa diperkirakan Ahok mendoakan Jupe agar cepat sembuh. Mengenai Ahok minta didoakan, apakah ia minta didoakan agar terlepas dari kasus dugaan penistaan agama yang dialaminya? Berita tersebut pun tidak menjelaskannya secara rinci.

Tapi bicara tentang kasus dugaan penistaan agama, terbetik sebuah berita bahwa pentolan FPI, yaitu Rizieq Shihab dilaporkan oleh Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) ke Polda Metro Jaya karena ceramahnya di Pondok Kelapa pada 25 Desember 2016.

Berita selengkapnya bisa dilihat di sini.

Ada yang menarik dari permintaan para pelapor tadi, yaitu mereka meminta agar penanganan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Rizieq Shihab diproses secara cepat. Kata “cepat” ini pun pernah dilontarkan oleh sebagian pihak di awal merebaknya kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok hingga keluar pernyataan “Lebaran Kuda”. Apakah pernyataan “Lebaran Kuda” itu gaungnya pun akan kembali menggema, atau ada istilah lainnya?

Balik lagi bahas Ahok dan Jupe yang terkena kanker dan berbaring di RS Cipto Mangunkusumo. Hal yang biasa kata “cepat” terucap saat mendoakan orang yang sedang sakit, misalnya “semoga cepat sembuh”. Terasa janggal jika mengatakan “semoga penyakitnya cepat diproses oleh pihak kepolisian”.

Penyakit adalah urusan dokter, bukan polisi kecuali “penyakit sosial” seperti senang miras, berjudi, penyalahgunaan narkoba, dan seterusnya.

Ahok mendoakan Jupe, kemudian minta didoakan, ada yang salah? Tentu saja tidak, karena doa mengandung nilai yang positif. Umumnya orang yang masih waras atau normal cenderung senang didoakan, terlepas siapa yang mendoakan.

Sumber gambar, dan berita detik.com.


Ada Apa Ahok Ucapkan Selamat kepada Slank?

Ada Apa Ahok Ucapkan Selamat kepada Slank?

Adahati.com – Ahok ucapkan selamat, tapi berbeda dengan ucapan selamat Erdogan. Tulisan sebelumnya di sini – Yahudi Melarang, Presiden Turki Ucapkan Selamat – Erdogan mengucapkan selamat hari Natal. “Saya mengucapkan selamat Natal untuk warga Kristen Turki dan umat Kristen di seluruh dunia,” katanya.

Di mana perbedaan ucapan selamat antara Ahok dan Erdogan yang dimaksud tadi? Perbedaannya, Ahok ucapkan selamat ditujukan kepada Slank lewat akun Istagramnya hari ini (26-12-2016), karena Slank berulangtahun yang ke 33.

“Selamat ulang tahun ke-33 @slankdotcom. Semoga terus berkarya dan tak henti menyuarakan PLUR: Peace Love Unity & Respect bersama Slankers!”, tulis Ahok berikut fotonya dengan Djarot dan personel Slank.

Sebelumnya Slank sudah menyatakan dukungannya kepada Ahok-Djarot dan berharap pasangan cagub ini menang satu putaran saja. Jika terjadi dua putaran, Slank baru akan turun gunung. “Kita janji kalau putaran kedua, kita akan ‘turun gunung’, tetapi mudah-mudahan sekali sudah langsung lewat,” ujar Bimbim.

Penggemar catur yang baik hati dan tidak sombong di manapun Anda berada saat ini. Menurut Tante C, Pilkada DKI 2017 akan berlangsung satu putaran saja, dengan catatan kasus dugaan penistaan agama yang dikenakan kepada Ahok dinyatakan tidak terbukti, dan Ahok dibebaskan oleh majelis hakim paling lambat akhir Januari 2017 nanti. Jika status terdakwa Ahok masih berlaku hingga hari H, maka akan terjadi dua putaran, tapi entah siapa lawan Ahok-Djarot di putaran kedua itu.

Demikianlah prediksi atau perkiraan Tante C. Prediksi atau perkiraan ini bisa salah, bisa juga benar. Namun terlepas salah atau benar tidak terlalu penting dibanding Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini.

  • Hitam baru saja melakukan langkah Kg8-h6.
  • Kd5-b4 ….. a7-a5
  • Ma4-c6+ … Rb7-b8
  • Kb4-a6+ … Rb8-a7

  • Apa langkah putih selanjutnya?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Ka6-c5!

  • Ahok ucapkan selamat kepada Slank, dan Tante C ucapkan selamat kepada putih (Paul Keres) atas kemenangannya melawan Vladas Mikenas di Tbilisi tahun 1946.
  • Masih bingung di mana menangnya putih?
  • Pegangan.

Gens Una Sumus.

htSumber gambar, summber berita: detik.com.


Yahudi Melarang, Presiden Turki Ucapkan Selamat

Yahudi Melarang, Presiden Turki Ucapkan Selamat

Adahati.com – Sejumlah tokoh agama Yahudi melarang hadirnya pohon Natal yang berkelap-kelip itu. Bahkan seorang Rabbi, tokoh agama Yahudi melarang mahasiswa memasuki aula, meski keperluannya hanya untuk membeli makanan.

Apakah makanan itu terkontaminasi racun karena ada pohon Natal di dekatnya? Ternyata alasan tokoh agama Yahudi melarang tadi karena menurutnya pohon Natal itu berhala seperti ia tulis di akun Facebooknya.

Di Jerusalem, pemuka agama Yahudi melarang pengelola hotel di kota itu memasang pohon Natal dengan alasan melanggar hukum agama Yahudi. Pemilik atau pengelola hotel sebenarnya ingin mengabaikan larangan itu, tapi khawatir akan ada pembalasan dari para Rabbi yang bisa merugikan bisnis mereka.

Sekitar 25 persen dari seluruh penduduk Israel tidak memeluk agama Yahudi, dan ternyata masalah pohon Natal serta perayaan tahunan keagamaan lain beberapa bulan terakhir ini selalu muncul dan menyulut perdebatan di sana.

Mengapa kejadiannya hampir mirip di sini ya? Kemiripan lainnya larangan adanya pohon Natal tadi diucapkan oleh sejumlah Rabbi di sejumlah kota saja, artinya tidak berlaku untuk semua kota atau daerah di Israel. Berita yang dirilis kompas.com ini memang tidak menyebut ada sejumlah Rabbi lain yang menentang larangan tadi, tapi mengingat masalah ini masih menjadi perdebatan, tidak tertutup kemungkinan sejumlah Rabbi lainnya pun menolak ada larangan tadi.

Lain di Israel, lain pula di Turki. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengucapkan selamat hari Natal untuk umat Kristen Turki dan Dunia. “Saya mengucapkan selamat Natal untuk warga Kristen Turki dan umat Kristen di seluruh dunia,” kata Erdogan.

Karena ada ucapan selamat hari Natal tadi, logika sederhananya Erdogan tidak melarang adanya pohon Natal atau larangan penggunaan atribut Natal di Turki yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel ini.

“Dunia” yang dimaksud Erdogan tadi tentunya termasuk Indonesia. Bagaimana tanggapan MUI dan kader parpol tertentu yang konon mengagumi Erdogan?

Sampai saat ini belum ada komentar atau tanggapannya. Mungkin esok atau lusa, atau entah kapan, tapi yang jelas Erdogan telah mengucapkan selamat hari Natal.

Sumber gambar, sumber berita: kompas.com.


Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Prabowo Subianto Sindir Politik Dinasti?

Adahati.com – Prabowo Subianto rencananya akan turun gunung bulan Januari 2017 nanti, atau ikut kampanye akbar demi memenangkan pasangan cagub Anies-Sandiaga.

Menurut hasil beberapa survei belakangan ini posisi Anies-Sandiaga di urutan paling bawah dibanding pasangan cagub lainnya. Hal ini tentu cukup memprihatinkan bagi kubu Anies-Sandiaga yang didukung oleh Partai Gerindra. Anies pun merasa heran atas hasil survei-survei yang menempatkan pososinya pada urutan terbawah tadi. Ia pun sempat memanfaatkan fenomena “Om Telolet Om”.

“Saya lihat survei juga banyak telolet,” ujar Anies sambil tertawa di sini.

Meski Anies tidak menjelaskankan apa maksudnya banyak survei yang “telolet” tadi, tapi diperkirakan ia memelesetkan kata “Telolet” menjadi “Tulalit” yang artinya kurang cerdas, atau berkaitan dengan telmi (telat mikir) dan sejenisnya.

Prabowo sendiri yang selama ini memantau kampanye Anies-Sandiaga mengatakan sebenarnya ia bergejolak hebat ingin segera turun gunung melakukan kampanye akbar untuk memenangkan pasangan cagub yang didukung oleh partainya itu.

Kemudian ia mengatakan, “Walaupun semua orang tahu, mungkin yang lain dananya sangat besar, tapi kita berjuang atas dasar nilai nilai berjuang untuk demokrasi. Jadi bagi saya Anies-Sandi lambang demokrasi, lambang keadilan, kerakyatan, bukan simbol oligarki, bukan simbol politik dinasti atau kekeluargaan.”

Apa maksudnya Prabowo Subianto mengatakan “simbol politik dinasti atau kekeluargaan”? Selama ini masyarakat lebih teringat dengan “Trah Soekarno” jika bicara tentang politik dinasti atau kekeluargaan, tapi baik cagub maupun cawagub di Pilkada DKI 2017 tidak ada yang berasal dari “Trah Soekarno”. Pun belum pernah mendengar ada “Trah Ahok”, “Trah Djarot”, “Trah Anies” atau “Trah Sandiaga”.

Jangan-jangan Prabowo sedang menyindir SBY? Saat ini Agus Yudhoyono ikut dalam pemilihan calon gubernur DKI Jakarta. Namun bisa saja sindiran Prabowo tadi hanya pernyataan politik yang tidak jelas arahnya, atau sekadar meramaikan suasana politik yang ada saat ini sebelum turun gunung bulan Januari 2017 nanti.

Sebaiknya jangan terlalu cepat curiga dengan pernyataan Prabowo tadi, juga jangan terlalu cepat mengatakan: “Saya prihatin”.

Sumber gambar, dan gambar: merdeka.com.


Perusuh Saat Natal dan Tahun Baru Bakal Didor?

Perusuh Saat Natal dan Tahun Baru Bakal Didor?

Adahati.com – Perusuh saat Natal dan Tahun Baru bakal didor. “(Perintah tembak) Kalau mengganggu, anarkis, ya kita lakukan itu,” kata Kapolda Metro Jaya.

Apakah langsung didor tanpa peringatan? Tentu saja tembak di tempat tadi harus melalui sebuah proses terlebih dahulu.

“Ya kalau mengganggu keamanan ibu kota kita dibekali senjata untuk itu, tapi ada pentahapannya,” kata Kapolda Metro Irjen Pol M Iriawan di sini.

Singkatnya perintah Kapolda Metro menembak perusuh saat Natal dan Tahun Baru tadi tetap mengacu atau sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur).

Pernyataan Kapolda Metro tadi cenderung sebuah “pernyataan yang standar”? Jangankan saat Natal dan Tahun Baru, hari biasa pun memang sudah seharusnya mengacu atau sesuai dengan SOP.  Sebelumnya pun di sini ada juga sebuah peringatan. “Aparat hukum jangan ragu menindak tegas ormas yg melawan hukum dan meresahkan masyarakat –Jkw,” tulis Presiden Jokowi lewat akun Twitternya (19/12/16).

Tidak heran, siapapun yang melawan hukum memang harus ditindak tegas.

Bagi mereka yang menanyakan tentang “pernyataan yang standar” Kapolda Metro dan Presiden Jokowi di atas tadi mungkin lupa bahwa kapasitas otak manusia itu terbatas. Perlu terus diingatkan dan diberi peringatan, bahkan didor kalau masih saja bebal.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, arti kata “bebal” adalah sukar mengerti; tidak cepat menanggapi sesuatu (tidak tajam pikiran), bodoh.

Bagaimana supaya terhindar dari “tidak tajam pikiran”? Salah satu cara yang mudah dan murah meriah adalah rajin mengikuti Trik dan Problem Catur yang Sederhana.

  • Putih giliran melangkah.
  • Benteng putih sudah berada di baris 7, dan sesuai dengan salah satu prinsip dasar bermain catur yang baik dan benar.
  • Meskipun demikian, tidak ada salahnya Benteng putih itu ditinggal saja.
  • Md2-h6!

  • Putih mengancam mat di petak f8.
  • Hitam pun menyatakan dirinya menyerah kalah.
  • Bagaimana jika langkah hitam selanjutnya, Ke8-f6?

  • Hitam kalah satu perwira Benteng.
  • Selanjutnya putih mudah saja, tidak sulit dan rumit mengalahkan buah catur hitam.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar. 


Tambah Satu Lagi Artis yang Dukung Ahok

Tambah Satu Lagi Artis yang Dukung Ahok

Adahati.com – Tambah satu lagi artis yang dukung Ahok pada Pilkada DKI 2017. Siapa dia? Dia adalah penyanyi yang pertama kali populer atau mengangkat namanya di blantika musik pop Indonesia lewat sebuah lagu yang liriknya antara lain seperti ini:

Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
Mudah putus asa dan kehilangan arah

Dia adalah Ruth Sahanaya dengan lagu “Astaga” ciptaan James F Sundah itu. Menurut Ruth Sahanaya yang mendatangi Rumah Lembang, ia mendukung Ahok karena kagum atas kinerjanya, terutama kebersihan kota Jakarta yang ada saat ini.

“Mendukung Ahok sebagai rasa kagum saya terhadap Pak Ahok. Saya datang ke sini tidak dipaksa, tidak dibayar,” kata Ruth Sahanaya di sini.

Tambah satu lagi artis yang dukung Ahok dan sepeserpun tidak dibayar atas dukungan yang diberikannya, meski ia seorang artis dan termasuk salah satu dari tiga diva Indonesia selain Krisdayanti dan Titi DJ.

Biasa saja, jika ada artis yang mendukung salah satu kandidat, baik di Pilkada maupun Pilpres. Tak perlu kaget sambil mengucap astaga. Dari dulu pun sudah ada, bahkan Anggota Dewan yang berlatar belakang artis pun saat ini jumlahnya sudah cukup banyak, meski ada beberapa di antaranya oleh sebagian pihak dianggap kurang paham atau tidak memiliki kapasitas yang memadai sebagai wakil rakyat.

Tapi mungkin saja sebagian pihak yang berpendapat seperti itu tadi hanya orang sirik yang tak mampu menjadi artis, sekaligus Anggota Dewan.

Artis yang mendukung Ahok sebelum Ruth Sahanaya pun jumlahnya tidak sedikit, namun hal yang sama terjadi pada Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan. Sedangkan siapa saja artis yang mendukung ketiga cagub tadi, tak perlulah disebutkan satu persatu di sini. Bisa panjang lebar tulisan ini, dan isinya hanya nama-nama artis.

Tanpa panjang lebar, bagi mereka yang belum tahu, atau sudah lupa lagu “Astaga” yang pernah dipopulerkan, dan mengangkat nama Ruth Sahanaya di blantika musik pop Indonesia bisa disimak di bawah ini.

Sumber gambar. 


Memangnya Ahok Tahu Maksudnya “Om Telolet Om”?

Memangnya Ahok Tahu Maksudnya “Om Telolet Om”?

Adahati.com – Ahok kena “dikerjain” oleh relawan pendukungnya seusai acara Apel Siaga Ahok-Djarot yang digelar di Balai Kartini, Jakarta Selatan tadi malam. Ahok pun seperti dipaksa untuk memegang kertas bertulisan “Om Telolet Om”.

Memangnya Ahok tahu maksudnya “Om Telolet Om”?

“Tadi iseng aja relawannya minta tolong pegang (kertas Om Telolet Om) ke Pak Ahok. Aku juga enggak yakin sih Pak Ahok mengerti soal Om Telolet Om tuh apa. Kayaknya pasrah-pasrah aja (diminta foto relawan),” kata Amalia Ayuningtyas di sini.

Mengenai “Om Telolet Om” yang menjadi viral di dunia maya hingga beberapa “selebritis kaki lima” (bukan selebritis papan atas) dunia pun ikut terjangkit demam rasanya tak perlu dijelaskan lebih lanjut, atau bisa dilihat di sini penjelasannya.

Fenomena “Om Telolet Om” pun ditanggapi oleh Agus Yudhoyono. Ternyata sebelumnya pun Agus tidak tahu apa maksudnya “Om Telolet Om” ini.

“Saya baru dibisikin, belum lihat langsung,” katanya.

Bagaimana dengan cagub lainnya, Anies Baswedan? Apakah ia pun terjangkit demam atau ikut menanggapinya? “Iya, survei juga ada yang telolet, memang telolet. Ada banyak jenis telolet. Saya lihat survei juga banyak telolet,” ujar Anies sambil tertawa.

Belakangan ini survei-survei yang ada menempatkan elektabilitas Anies-Sandiaga Uno pada posisi paling bawah. Meski Anies tidak menjelaskan maksudnya, tapi bisa ditebak atau diperkirakan ia memelesetkan “Tolalet” menjadi “Tulalit” yang artinya kurang cerdas, atau berkaitan dengan telmi (telat mikir) dan sejenisnya.

Ada-ada saja, tapi bisa juga dilihat dari sudut lain bahwa ketiga cagub tadi sedang memainkan sebuah taktik “numpang tenar” agar popularitasnya meningkat.

Bosan atau jenuh dengan trik kuno seperti itu?

Mudah-mudahan Trik dan Problem Catur yang Sederhana di bawah ini tidak membosankan dan bisa meningkatkan kecerdasan agar tidak tolalet (tulalit).

  • Putih giliran melangkah.
  • Apa langkah putih selanjutnya agar putih bisa memenangkan pertandingan ini?
  • Mudah saja, tidak sulit dan rumit.
  • Md1-e1+!

  • Bagaimana kalau langkah hitam selanjutnya, Be2xMe1?
  • Tinggal dorpi (dorong pion).
  • g2-g3+, mat.

Gens Una Sumus.

Sumber gambar, dan sumber berita: detik.com.


Ada Masalah Adik Dukung Ahok, Kakak Pilih yang Lain?

Ada Masalah Adik Dukung Ahok, Kakak Pilih yang Lain?

Adahati.com – Apakah ada masalah, jika Pilkada DKI 2017 yang semakin mendekati hari H ini, ketiga pasangan cagub sibuk kampanye atau ‘jualan obat’?

Promosi diri sesuai strategi dan taktik masing-masing. Apakah masih ada masalah, jika semua pasangan cagub ‘jualan obat’ tadi?

Jika ada sebagian pihak yang mengatakan strategi dan taktik ‘jualan obat’ yang digunakan oleh ketiga pasangan cagub tadi sebenarnya cenderung sama, atau tidak ada strategi dan taktik yang baru, ada benarnya juga.

Pilkada DKI 2017 pun bisa dijadikan ‘kambing hitam’.

Misal, gara-gara Pilkada DKI 2017 rusak hubungan keluarga dan pertemanan. Perbedaan pilihan atau dukungan menyebabkan kakak dan adik bertengkar, sesama teman jadi ribut, dengan tetangga pun bertengkar dan seterusnya. Tapi tidak tertutup kemungkinan memang sudah rusak hubungan keluarga atau pertemanannya tadi. Hanya selama ini cenderung ditutupi-tutupi atau tidak ingin diketahui orang lain.

Tidak ada masalah jika di antara anggota keluarga atau teman ada perbedaan pilihan. Demokrasi membolehkan perbedaan tadi. Jika ada sebagian pihak yang menilainya sebagai masalah, patut dicurigai, jangan-jangan dirinya yang bermasalah.

Soraya Haque mendatangi Rumah Lembang dan menyatakan dukungannya kepada pasangan cagub Ahok-Djarot nomor urut dua, padahal kakaknya, Marissa Haque adalah salah satu juru bicara pasangan cagub Agus-Sylvi. Ada masalah?

“Setiap individu akan berkembang sesuai dengan pendidikan yang ia miliki. (Pilihan) pasti akan berbeda, tidak akan sama satu, tidak apa-apa,” kata Soraya Haque di sini. Ia pun mengatakan tidak ada masalah, meski berbeda pilihan dengan sang kakak, dan keluarganya pun tetap kompak.

“Setiap orang bebas melakukan apapun sesuai dengan hak politiknya.”

Maka dari itu, jika ada yang mengatakan hubungan keluarga dan pertemanannya jadi rusak gara-gara Pilkada DKI 2017, jangan-jangan sebelumnya hubungan itu memang sudah rusak. Hanya selama ini cenderung ditutup-tutupi, sok manis, juga sok imut.

Meski hubungan keluarga atau hubungan pertemanan itu sebenarnya sudah rusak, tapi tetap saja cipika-cipiki atau terlihat mesra di depan umum.

Kemudian ngerumpi, dan Pilkada DKI 2017 pun dijadikan ‘kambing hitam’.

Sumber gambar. 


Sumbangan Kampanye Ahok-Djarot Mencapai Rp 27 Miliar?

Sumbangan Kampanye Ahok-Djarot Mencapai Rp 27 Miliar?

Adahati.com – Sumbangan kampanye dari masyarakat untuk pasangan gubernur Ahok-Djarot seperti diberitakan oleh liputan.com di sini telah mencapai Rp 27 miliar. Menurut pengakuan Ahok, ada temannya yang merasa heran. Untuk apa ia capek mengumpulkan uang sumbangan kampanye, karena temannya itu bersedia menyumbang Rp 30 miliar.

Namun Ahok menolak. Alasannya ia tidak ingin dimiliki oleh sekelompok atau orang tertentu saja. Ia pun ingin sumbangan kampanye dilakukan secara non tunai dan terbuka. Akar masalah negara ini adalah korupsi. Transparansi akan mengikis penyakit akut korupsi tadi.

Memang terdengar indah kata-kata yang diucapkan oleh para kandidat pada musim kampanye. Bukan hanya Ahok, begitu juga cagub lainnya, Agus dan Anies. Dari dulu pun sudah seperti itu. Mana ada tukang loak yang menjelek-jelekan barang dagangannya sendiri.

Pernyataan Ahok pernah menolak sumbangan Rp 30 miliar dari temannya tadi, siapa yang tahu? Itu kan hanya klaim sepihak. Mungkin saja tidak pernah ada kejadian seperti itu. Namun, rekam jejak (track record) seseorang bisa dijadikan acuan untuk menilai pernyataannya tadi.

Sebagai contoh, lahan parkir DKI merupakan ‘lahan basah’ atau gudang duit bagi para ‘mafia parkir’ selama bertahun-tahun. Ratusan miliar bahkan triliunan rupiah yang diraih oleh para ‘mafia parkir’ tadi selama periode jabatan seorang gubernur.

Seandainya Ahok bersedia ‘main mata’, uang Rp 30 miliar mudah masuk ke kantong pribadinya, namun Ahok justru menyatakan perang terhadap ‘mafia parkir’ tadi. Makanya seorang politikus yang selama ini menguasai lahan parkir DKI pun uring-uringan dan menyerang Ahok. Tadinya lahan parkir adalah ‘lahan basah’, tapi kini kering kerontang seperti tanah di musim kemarau panjang.

Baru dari satu lahan saja, tidak sedikit uang yang bisa dikantongi Ahok, seandainya ia bersedia ‘main mata’ dengan bandit atau para mafia tadi. Belum lagi dari lahan-lahan lainnya. Apalah artinya uang Rp 30 miliar itu?

Sumbangan kampanye Rp 27 miliar tidak seberapa untuk membiayai kampanye sebuah Pilkada. Masih sedikit jumlah uang Rp 27 miliar tadi, sedangkan Agus yang pensiunan Mayor saja, menurut KPU DKI jumlah hartanya lebih dari Rp 21 miliar.

Sumber gambar. 


Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Ahok Dinasihati oleh Jokowi, Siapa yang Kehilangan?

Adahati.com – Ahok dinasihati oleh Jokowi, tapi bukan baru-baru ini kejadiannya, melainkan saat Ahok masih mendampingi Jokowi sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Menurut Ahok, Jokowi menasihatinya untuk lebih tenang dan tak perlu meledak-ledak, meski tahu ada yang keliru dalam sistem pemerintahan. “Selow, pelan-pelan,” ujar Ahok menirukan perkataan Jokowi.

Tidak dijelaskannya lebih lanjut, apakah selow atau pelan-pelannya seperti keong atau bukan.  Gubernur DKI Jakarta yang sedang cuti terkait Pilkada DKI 2017 ini terkesan kurang garang penampilannya sejak kasus dugaan penistaan agama merebak ke permukaan. Ahok mengakui, semua ini atas saran, nasihat, atau masukan dari berbagai pihak yang perhatian dan dekat dengannya. Di sisi lain Ahok pun mengakui bahwa karakternya memang keras, sering kesal melihat hal-hal yang tidak benar. Emosinya cepat meletup dan melabraknya.

“Ya karena karakter, kadang-kadang aku kesal juga sama orang-orang lihat situasinya (yang enggak benar) kesal aja. Dari pada kesal-kesal nahan-nahan jantungan, mendingan keluar. Tapi aku cepat lupa kok,” ujarnya sambil tersenyum simpul.

Perihal perubahan dirinya yang garang, kemudian cenderung menjadi lebih pendiam dan tenang ternyata sempat membuat istrinya, Veronica Tan tak mengenalinya lagi. Begitulah, Ahok yang tadinya garang bak seekor harimau, setelah menerima saran, nasihat atau masukan dari berbagai pihak menjadi cenderung  selow, pelan-pelan, pendiam dan tenang. Perubahan dirinya ini mungkin saja akan mengundang simpati dari sebagian pihak. Jempol, bagus, cakep dan sederet pujian lainnya.

Namun bisa juga sebagian pihak lainnya sebal karena kehilangan Ahok yang lugas dan bicara apa adanya. Apalagi kesannya seperti keong yang selow atau jalan pelan-pelan, sementara Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya sudah lama mengidap penyakit korupsi stadium tingkat tinggi perlu perubahan yang drastis dan cepat menuju ke arah yang lebih baik. Kapan selesainya kalau perubahannya berjalan seperti keong?

Nasihat sederhana lainnya yang mungkin lebih baik, bagus dan tepat untuk Ahok adalah nasihat lama seperti ini,  ‘be your self’, atau jadilah dirimu sendiri.

sumber berita: merdeka.com.


Ahok Mulai Ketar-ketir karena Manuver Politik PDIP?

Ahok Mulai Ketar-ketir karena Manuver Politik PDIP?

Ahok Mulai Ketar-ketir karena Manuver Politik PDIP?

Adahati.com – Nama Yusril Ihza Mahendra mulai berkibar. Selama ini ia dianggap bakal cagub yang memiliki peluang terkecil diusung oleh Gerindra untuk maju pada Pilkada DKI 2017. Sjafrie Sjamsoeddin dan Sandiaga Uno dianggap lebih besar peluangnya, tapi hasil survei SMRC membuktikan elektabiltas Yusril yang tertinggi.

Yusril pun mulai percaya diri akan ada parpol yang mengusungnya. Meski saat ini elektabilitas Ahok masih jauh di atasnya, ia yakin seiring perjalanan waktu elektabilitasnya akan naik, sementara Ahok sebaliknya. Maka dari itu, Yusril pun tidak takut bersaing dengan Ahok, meski Ahok didukung oleh PDIP sekalipun.

“Saya dalam posisi tidak takut jika PDIP mendukung Ahok, atau mendukung Risma juga saya tidak gentar,” kata Yusril Ihza Mahendra yang sudah percaya diri.

Menurutnya sebagian besar pendukung Ahok adalah pendukung PDIP juga.

“Jadi Ahok dan PDIP konstituennya sama. Andaipun PDIP dukung (Ahok), tak akan betul-betul tambah kekuatan,” katanya.

Sebelumnya peluang Yusril diusung oleh parpol masih kecil, tapi kini Yusril semakin percaya diri. Sebaliknya Ahok mulai ketar-ketir disebabkan manuver politik PDIP.

Ahok mengatakan sehabis Lebaran akan memastikan dirinya maju lewat jalur independen atau parpol, tapi hingga saat ini belum juga ada pernyataannya tersebut.

Diperkirakan Ahok masih mengharapkan dukungan politik PDIP, namun baru-baru ini PDIP telah menyerahkan 6 nama bakal cagubnya kepada Megawati. Risma pun sudah dipanggil ke Jakarta yang mengisyaratkan PDIP akan meninggalkan Ahok.

Ahok mulai ketar-ketir, terlihat dari jawabannya saat ditanya wartawan perihal Risma akan diusung oleh PDIP. Jangan gosip, begitu saja jawabannya. Jika Ahok percaya diri seperti Yusril tadi seharusnya jawaban Ahok lebih meyakinkan lagi.

Benarkah PDIP akan meninggalkan Ahok yang membuat Ahok mulai ketar-ketir?

Prediksi politiknya seperti ini. Ahok sudah didukung oleh tiga parpol, yaitu Nasdem, Hanura, dan Golkar, tapi selama ini masyarakat melihatnya Ahok sebagai ‘pengontrol’, bukan ketiga parpol tadi. Sebagai satu-satunya partai yang berhak mengusung cagubnya sendiri, PDIP tidak ingin dikontrol oleh Ahok.

PDIP akan memberikan dukungan politiknya, tapi Ahok harus di bawah kontrol PDIP. Jika tidak, Risma atau kader PDIP lainnya yang akan maju. Di sisi lain Ahok menyadari, jika dirinya di bawah kontrol PDIP akan ada balas budi atau semacam itu.

Posisi Ahok pun jadi serba salah. Dikontrol oleh PDIP salah, tidak mau dikontrol, maka dukungan politik PDIP pun tidak diberikan. Makanya Ahok mulai ketar-ketir.

*Sumber gambar: youtube.com.


Politikus Gaek Amien Rais Mulai Serang Ahok

Politikus Gaek Amien Rais Mulai Serang Ahok

Politikus Gaek Amien Rais Serang Ahok

Adahati.com – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diserang bertubi-tubi oleh lawan-lawan politiknya, tapi sampai saat ini Ahok masih tetap tegar.

Ahok diserang oleh bakal cagub-cagub DKI, anggota-anggota DPRD DKI Jakarta, para politisi sampai Fadli Zon yang Wakil Ketua DPR RI pun ikut menyerangnya, tapi cenderung gagal, kenudian diserang balik oleh Ahok.

Serangan bertubi-tubi terhadap Ahok masih belum berhenti. Kali ini seorang politisi gaek pun ikut menyerangnya, tapi masih ‘lagu lama’, atau itu-itu saja pola serangannya, seperti Ahok arogan, kasar, tidak sopan dan santun.

Politiikus gaek yang dimaksud tadi pernah mengatakan Jokowi tidak layak jadi presiden. Sekarang ia pun mengatakan Ahok kurang pantas jadi gubernur.

“Jangankan presiden, gubernur saja bagi saya kurang pantas,” begitu antara lain kata politikus gaek Amien Rais (kompas.com, 24/4/16).

Politikus gaek Amien Rais pernah bernazar akan jalan kaki Yogyakarta-Jakarta jika Jokowi jadi presiden, tapi sampai saat ini tidak pernah membuktikan ucapannya.

Tapi di sisi lain, kasihan juga kalau Amien Rais jalan kaki sejauh itu. Bisa gempor kakinya, atau sengkle jalannya nanti.

Memang boleh saja politikus gaek Amien Rais menyatakan pendapatnya tentang Ahok tadi, tapi orang lain pun boleh juga menyatakan pendapatnya tentang Amien Rais.

Misalnya, Amien Rais yang sudah tua sebaiknya duduk manis saja menikmati hari tua, atau tak usah lagi banyak koar karena sudah bukan zamannya lagi.

Amien Rais pun ada mengatakan seperti ini, “Kalau saya orang Jakarta, pasti akan turun gunung, sayang saya orang Yogyakarta.”

Turun gunungnya jalan kaki juga? Jika benar seperti itu, ada kemungkinan politikus gaek Amien Rais gempor atau sengkle kakinya di tengah perjalanan menuruni gunung. Entah kapan sampainya politikus gaek Amien Rais di Jakarta.

Oh, bukan begitu maksudnya ‘turun gunung’ tadi? Tapi seolah-olah politikus gaek Amien Rais bak pendekar saja saat menggunakan istilah “turun gunung”.

Entah pendekar macam apa, mungkin hanya Amien Rais yang bisa menjawabnya.

*Sumber gambar: youtube.com.


Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Perjuangan Yusril Ihza Mahendra Menuju Kursi DKI Satu

Adahati.com – Yusril Ihza Mahendra adalah Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) sebuah ‘partai gurem’ yang tidak satu pun kader PBB yang menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta. Saat ini Yusril Ihza Mahendra sedang rajin bersafari politik demi memuluskan niatnya yang ingin menjadi calon gubernur (cagub) pada Pilkada DKI 2017 nanti.

Ia pun rajin mengambil formulir pendaftaran cagub dari parpol-parpol, termasuk rajin mengisi dan mengembalikan formulir tersebut.

Berkaitan dengan hal ini ada sejumlah pihak yang menyindirnya, dan Yusril Ihza Mahendra menanggapi sindiran tadi seperti ini:

“Ketika saya jadi ketua partai, saya kan pertama kali mencalonkan SBY-JK. Jadi, bukan sesuatu yang aneh. Pak SBY dan JK juga datang ke saya saat itu. Hal seperti itu normal saja. Entah kenapa sekarang dianggap aneh.” (Kompas.com, 8/4/16).

Yusril pun mengatakan “Pak SBY dan JK juga datang ke saya saat itu”, tapi tidak disebutkannya apakah SBY dan JK pun mengambil formulir PBB, mengisi dan mengembalikannya. Juga mengingat SBY dan JK tidak pernah menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta, apakah contoh yang diberikan oleh Yusril tadi masih relevan?.

Sebelumnya Ahok mengatakan, “Ini pertama dalam sejarah ada ketua umum partai yang enggak dapat suara melamar ke partai lain. Seru juga!” katanya.

Yusril Ihza Mahendra mengatakan ‘aneh’, sementara Ahok bilang ‘seru’. Dua hal yang berbeda maknanya. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Biasa saja, atau normal jika ada orang yang merasa lucu, kemudian tertawa, apalagi sampai saat ini secara keseluruhan belum ada larangan untuk tertawa di muka umum.

Safari politik yang dilakukan Yusril Ihza Mahendra – termasuk rajin mengambil, mengisi dan mengembalikan formulir pendaftaran parpol-parpol tadi demi menjadi cagub pada Pilkada DKI 2017 – adalah sebuah perjuangan demi mencapai cita-cita yang cukup mulia, yaitu menuju kursi DKI satu.

Mungkin saja nanti ada yang mengusulkan supaya SBY membuat lagu yang berjudul ‘Perjuangan Yusril’, namun berhasil tidaknya perjuangan Yusril nanti, itu soal lain.

Sumber gambar. 


Fahri Hamzah Meradang dan Tuding Presiden PKS

Fahri Hamzah Meradang dan Tuding Presiden PKS

Fahri Hamzah Meradang dan Tuding Presiden PKS

Adahati.com – Fahri Hamzah meradang dan menyerang petinggi-petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) setelah ia dipecat dari seluruh jenjang keanggotaan PKS, dan kader-kader PKS pun dilarang berhubungan serta membahas masalah Fahri.

Menurut Fahri para pengurus PKS telah melakukan teror kepada pengurus daerah agar tidak peduli atau tidak membela dirinya. Ia pun merasa setengah dari hidupnya yang indah bersama PKS selama ini sudah dirampas oleh sepucuk surat pemecatan.

Fahri curiga ada operasi intelejen yang sudah direncanakan jauh-jauh hari untuk menjatuhkan dirinya sebelum keluar surat pemecatan itu. “Karena saya kira ada operasi lain di belakang keputusan DPP, operasi intelijen menjadikan persoalan saya jadi bias dan berkembang,” kata Fahri Hamzah meradang (merdeka.com, 8/4/16).

Atas tuduhan-tuduhan terhadap dirinya yang sering melontarkan kritik ke berbagai pihak yang menyebabkan ia dipecat sebagai kader PKS, Fahri merasa heran kenapa kritikan itu dianggap dosa besar, tapi tidak demikian halnya dengan Tifatul Sembiring.

“Kalau kita saling kritik kok jadi dosa besar? Kenapa kalau mister Tifatul sendiri yang berkali buat kontroversi bukan dosa besar?” katanya.

Terkait pembelaannya terhadap Setya Novanto dalam kasus “Papa Minta Saham”, menurut penilaian Fahri Hamzah hal itu masih wajar karena tidak menemukan kesalahannya, dan diperkuat dengan pihak kejaksaan yang tidak menindaklanjuti kasusnya. Di samping itu juga sudah ada keputusan dari Koalisi Merah Putih agar memberikan pembelaan kepada Setya Novanto.

Pernyataannya yang lebih keras lagi terkait pemecatan dirinya Fahri Hamzah meradang dan menuding Presiden PKS Sohibul Iman telah melakukan kebohongan publik.

“Itu ditandatangani oleh Presiden PKS, maka Presiden PKS dapat saya tuduh melakukan kebohongan publik dan tak boleh pejabat negara melakukan kebohongan publik,” katanya.

Kata “publik” menunjukkan banyak orang atau pihak yang sudah dibohongi, bukan hanya Fahri Hamzah saja. Jadi teringat cerita Pinokio yang hidungnya bertambah panjang setiap kali berbohong. Akhirnya Pinokio yang masih kecil dan tubuhnya pendek itu terlihat lucu dengan hidungnya yang panjang.

*Sumber gambar: youtube.com.


Serangan Balik Presiden Jokowi yang Mematikan

Serangan Balik Presiden Jokowi yang Mematikan

Serangan Balik Presiden Jokowi yang Mematikan

Adahati.com – SBY belakangan ini dituding sering nyinyir dan cari perhatian. Selama “Tour de Java” pun SBY menyindir pemerintahan Presiden Jokowi seolah-olah ingin mengatakan saat ia memimpin keadaannya jauh lebih baik dari sekarang.

SBY dan rombongan melakukan safari politik keliling Pulau Jawa tadi terkesan kuat ingin membangun dan meningkatkan citra dirinya dan Partai Demokrat, tapi serangan balik Presiden Jokowi berupa aksi blusukan ke Proyek Hambalang yang terlantar (18/3/16), citra SBY dan Partai Demokrat pun kembali terpuruk.

Presiden Jokowi pun tak banyak cakap, cukup dengan pernyataan seperti ini, “Sedih melihat aset negara di proyek Hambalang cukup lama mangkrak. Alang-alang sudah tumbuh tinggi,” dan serangan balik Presiden Jokowi pun langsung mengena sasaran.

Kasus korupsi di Proyek Hambalang yang melibatkan kader-kader Partai Demokrat seperti Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum ini mengingatkan kembali masyarakat akan “Monumen Korupsi” sisa-sisa peninggalan masa pemerintahan SBY.

Netizen pun sontak tertawa dan memuji humor politik Presiden Jokowi tadi. Gambar-gambar meme pun bermunculan di dunia maya.

Memang ada keputusan dari Komisi X DPR RI dan KPK agar Proyek Hambalang dihentikan terlebih dahulu terkait dengan masalah hukum seperti yang dikatakan oleh Roy Suryo yang menggantikan posisi Andi Mallarangeng sebagai Menpora tahun 2013.

Meski Roy Suryo mengklaim sebenarnya ia ingin melanjutkan proyek tersebut, dan mengatakan, “Jangan membanding-bandingkan sebuah keputusan yang memang saat dulu dilarang oleh KPK dan sekarang sudah diperbolehkan oleh KPK” (liputan6.com, 19/3/16), tapi tetap saja serangan balik Presiden Jokowi berupa aksi blusukan ke Proyek Hambalang tadi sudah terlanjur membuat nitizen tertawa.

SBY dan rombongan telah menutup safari politik atau “Tour de Java” dengan mengunjungi Jembatan Suramadu di Surabaya. Katanya masih ada rencana safari politik selanjutnya ke Pulau Sumatera – “Tour de Sumatera” – dan tour lainnya.

Cukup menarik menunggu tour-tour SBY selanjutnya, tapi lebih menarik lagi menunggu langkah blusukan Presiden Jokowi setelah tour-tour SBY dan rombongannya selesai.

*Sumber gambar: youtube.com.


Yusril Ihza Mahendra Masih Sibuk dan Kalah Lawan Ahok

Yusril Ihza Mahendra Masih Sibuk dan Kalah Lawan Ahok

Adahati.com – Pada 6 Februari 2016 Yusril Ihza Mahendra menyatakan kesiapannya menjadi cagub jika “head to head” dengan Ahok seperti Jokowi dan Prabowo.

Pada 22 Februari 2016 Yusril Ihza Mahendra optimis bisa mengumpulkan 1 juta KTP dukungan dalam waktu 4 bulan yang dimulai dari tanggal 1 Maret 2016 demi jalur independen yang akan ditempuhnya pada Pilkada DKI 2017, dan seminggu kemudian (29/2/2016), ia pun sempat bertemu dengan SBY, tapi tidak ada dukungan politik yang diucapkan langsung oleh SBY saat itu.

Harapan Yusril Ihza Mahendra tadi – “head to head” dengan Ahok – saat ini boleh dibilang kecil kemungkinannya akan terealisasi, sementara jumlah KTP dukungan yang diperolehnya setelah hampir 3 minggu berjalan masih belum jelas.

Rupanya ia masih sibuk mencari dukungan politik dari parpol dan masyarakat. Menurutnya peluang menang lebih besar jika ia diusung oleh parpol. Makanya ia masih terus melakukan negosiasi dengan parpol parpol yang ada.

Sudah adakah ketua umum/parpol yang memberikan dukungan politiknya kepada Yusril Ihza Mahendra? “Saya belum bisa menyebutkan dan mohon maaf yang bisa menyatakan itu kewenangan partai itu sendiri. Saya yakin tiba saatnya partai tersebut yang mengumumkan”, begitu antara lain pernyataannya (merdeka.com, 17/3/16).

Tersirat belum ada ketua umum/parpol yang memberikan dukungan politik, sementara Ahok sudah mendapat dukungan politik dari Partai Nasdem yang diucapkan langsung oleh Surya Paloh. Skor sementara 1-0 antara Ahok dan Yusril Ihza Mahendra.

Partai Hanura pun sudah menyatakan dukungan politiknya kepada Ahok. Wiranto tak segan mengancam kader Hanura yang membangkang. “Siapa yang tak loyal keputusan partai, silahkan minggir. Karena keputusan ini dilakukan semata-mata guna kemajuan DKI yang akan dinikmati rakyat (liputan6.com).

Yusril Ihza Mahendra masih sibuk, skor berubah lagi menjadi 2-0, tapi keunggulan Ahok ini masih sementara. Masa pendaftaran cagub untuk Pilkada DKI 2017 masih cukup lama. Ibarat pertandingan sepakbola baru sekitar 10-15 menit waktu yang bergulir, dan Yusril Ihza Mahendra masih bisa mengejar ketinggalannya tadi.

Di sisi lain tidak tertutup kemungkinan Ahok akan mendapat dukungan politik dari parpol lainnya. Skor sementara bisa berubah lagi menjadi 3-0, 4-0, 5-0, dan seterusnya yang membuat Yusril Ihza Mahendra pun semakin terpuruk saja.

*Sumber gambar: youtube.com.


Ahok Rugi, Haji Lulung Lebih Rugi Lagi

Ahok Rugi, Haji Lulung Lebih Rugi Lagi

Ahok Rugi, Haji Lulung Lebih Rugi Lagi

Adahati.com – Ahok rugi secara politis karena Haji Lulung mengatakan, “Kita minta Ahok agar cepat ditangkap,” terkait kasus RS Sumber Waras? (Kompas.com, 17/2/16).

Bukan hanya itu saja, Haji Lulung pun berpendapat rencana penertiban Kalijodo merupakan pengalihan isu. “Ada apa ini dengan Kalijodo? Buset, pemberitaannya kok gila, luar biasa. Makanya, saya anggap Kalijodo itu pengalihan isu (RS) Sumber Waras.”

Ahok pun membantah pernyataan Haji Lulung tadi. “Pengalihan gimana? (Kasus) RS Sumber Waras itu sudah ramai dipanggil BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), apa yang mau pengalihan?”. Kemudian Ahok menantang kasus RS Sumber Waras dibawa ke pengadilan saja agar semuanya menjadi terang benderang.

“Saudara Lulung pernah mengatakan draf APBD yang mereka paraf itu asli dan di situ jelas ada niat jahat dengan membeli UPS sebanyak Rp 12,1 triliun.”

Yang satu mengungkit kasus RS Sumber Waras, satunya lagi kasus UPS. Haji Lulung menduga Ahok “ada main” di kasus Sumber Waras, sedangkan Ahok menduga Haji Lulung “ada main” di kasus UPS. Di sisi lain kasus RS Sumber Waras belum ada tersangka, sedangkan kasus UPS sudah sampai ke pengadilan.

Diperkirakan cukup banyak pihak yang bosan mendengar ocehan kedua pejabat negara tadi. Kasus RS Sumber Waras dan UPS seperti dijadikan komoditas politik masing-masing pihak. Juga bosan dengan leletnya kinerja KPK dan pihak kepolisian. Sudah berbulan-bulan belum bisa dipastikan benar atau tidaknya ada dugaan keterlibatan Ahok di kasus RS Sumber Waras dan Haji Lulung di kasus UPS.

Di sisi lain kedua kasus ini “membelenggu” dan membuat Ahok rugi, begitu pun Haji Lulung. Secara politis mencemarkan nama baik dan menurunkan kredibilitas mereka, apabila dugaan keterlibatan mereka belum juga bisa dipastikan .

Keduanya mungkin saja akan maju pada Pilkada DKI 2017. Leletnya penyelidikan dan kepastian benar atau tidaknya ada dugaan keterlibatan Ahok di kasus RS Sumber Waras akan membuat Ahok rugi, dan Haji Lulung lebih rugi lagi, sebab seandainya ia jadi maju sebagai calon gubernur – dengan Yusril Ihza Mahendra sebagai calon wakil gubernur, misalnya -, pasangan ini nyaris mustahil menang, dan semua ini gegara dugaan keterlibatan Haji Lulung di kasus UPS masih belum jelas.

*Sumber gambar: youtube.com.


Ahok Setuju dengan Pernyataan Haji Lulung yang Satu Ini

Ahok Setuju dengan Pernyataan Haji Lulung yang Satu Ini

Ahok Setuju dengan Pernyataan Haji Lulung

Adahati.com – Ahok setuju dengan pernyataan Haji Lulung bahwa masih banyak tempat prostitusi terselubung yang belum ditertibkan.

“Alexis izinnya griya sehat. Ada pelacuran di sana. Mau enggak Ahok tertibkan di sana. Malioboro izinnya griya sehat, yang ada pelacuran,” kata Haji Lulung (12/2/16).

Ahok setuju dan mengakui sulitnya memberantas bisnis prostitusi kelas bawah maupun atas di Jakarta. Contohnya bisnis prostitusi kelas atas di Hotel Alexis, Jakarta Utara tadi. Bukan hanya menawarkan PSK lokal, tapi mancanegara.

Entah menyindir atau bukan, kata Ahok di lantai 7 Hotel Alexis adalah sorga dunia.

Kesimpulan sederhananya Ahok setuju dengan pernyataan Haji Lulung, tapi mengapa tidak ditertibkan? Menurut pengakuan Ahok sudah dikirim petugas ke sana, tapi belum cukup atau tidak ada bukti yang meyakinkan hingga saat ini.

“Oh benar pak di sana lengkap dari mana-mana ada. Ya sudah kalau begitu tutup dong? oh enggak bisa pak, enggak ada bukti. Pas kita datang mereka baik-baik saja, masa harus ketuk pintu satu per satu,”, kata Ahok (Merdeka.com, 16/2/16).

Ahok ingin bukti? Apakah diumumkan atau ada semacam pengumuman saat mengirim petugas ke sana? Atau sebelumnya pihak Hotel Alexis sudah tahu?

Padahal tidak terlalu sulit jika ingin mendapatkan bukti tadi. Misal, petugas yang dikirim ke sana menggunakan kumis atau jenggot palsu, dan tentunya tidak mengatakan dirinya adalah petugas yang dikirim oleh Ahok.

Bila perlu bawa alat perekam yang ukuran mini. Lalu pura-pura pesan PSK. Selanjutnya? Tidak perlu penjelasan lebih lanjut untuk masalah yang sederhana seperti ini.

Bagaimana dengan tempat lainnya? Bukankah Haji Lulung pun mengatakan selain Hotel Alexis masih ada satu tempat lagi? Tidak disinggung oleh Ahok dalam berita tadi.

Ada atau tiada disinggung oleh Ahok, masalah prostitusi masih akan menjadi persoalan, sejak dulu, kini dan di masa yang akan datang. Tapi setidak-tidaknya Ahok setuju dengan pernyataan Haji Lulung terkait prostitusi di Jakarta ini.

Tumben akur.

*Sumber gambar: youtube.com.


Sekjen PKS Mundur, Inikah Alasan yang Sebenarnya?

Sekjen PKS Mundur, Inikah Alasan yang Sebenarnya?

Adahati.com – Sekjen PKS (Partai Keadilan Sejahtera), Taufik Ridho diberitakan mengundurkan diri dari jabatannya secara resmi pada Senin lalu (8/2/16).

Cukup mengherankan. Mengapa setelah lebih dari seminggu baru diketahui dan diberitakan mundur? Ada apa sebenarnya di dalam tubuh PKS? Ada kubu-kubuan kah?

“Dari dulu, PKS enggak ada kubu-kubuan. Ketimbang ada prasangka, mending tanya aja langsung (ke Taufik Ridho),” kata Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini.

Kalau bukan lantaran ada kubu-kubuan, apa sebab Sekjen PKS mundur?

Menurut Tifatul Sembiring, mundurnya Taufik Ridho mungkin karena ia sekarang ingin konsentrasi di bisnisnya. “Kemarin dia (Taufik) ‘full’ di DPP, lalu mungkin sekarang ingin konsentrasi di bisnisnya.” (Tempo.co, 16/2/16).

Tifatul Sembiring mendapat informasi surat pengunduran diri Sekjen PKS itu hari Senin, 15 Februari 2016, dan sesuai dengan mekanisme internal partai akan diproses oleh Dewan Pertimbangan Tinggi Partai. Artinya ia pun mendapat informasi itu telat seminggu mengingat surat pengunduran diri Sekjen PKS tanggal 8 Februari 2016.

Mosok setelah seminggu kemudian baru diinformasikan? Apa sih sebenarnya penyebab mundurnya Sekjen PKS? Taufik Ridho sendiri tidak ingin mengatakannya, meski membenarkan ia telah mengundurkan diri. Bukannya menjelaskan alasan mundur, tapi ia malah minta ma’af jika selama ini ada kesalahan. Normatif sekali pernyataannya itu dan cenderung membosankan.

Alasan mundurnya Taufik Ridho ini pun menjadi kabur atau tidak jelas. Tifatul Sembiring mengatakan “mungkin” karena ingin konsentrasi di bisnisnya, sedangkan Jazuli Juwaini menyarankan agar tanya langsung kepada yang bersangkutan. Tapi di sisi lain Sekjen PKS Taufik Ridho sendiri pun tidak ingin menjelaskannya secara rinci, malah minta ma’af yang cenderung normatif tadi.

Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang menduga atau berspekulasi terkait alasan mundurnya Sekjen PKS tadi karena ada kesan ditutup tutupi penyebab sebenarnya. Mungkin publik pun tidak akan pernah alasan sebenarnya mengapa Taufik Ridho mundur dari jabatannya, padahal jabatan Sekjen merupakan jabatan yang cukup prestisius dan berpengaruh di partai politik.

Ada apa sebenarnya di tubuh Partai Keadilan Sejahtera saat ini?

*Sumber gambar: youtube.com.


Lawan Terberat Ahok Sebenarnya Mudah Diperkirakan

Lawan Terberat Ahok Sebenarnya Mudah Diperkirakan

Lawan Terberat Ahok Sebenarnya Mudah Diperkirakan

Adahati.com – Nama Deasy Ratnasari dan Eko Patrio pun masuk dalam bursa calon pasangan Pilgub DKI 2017? Mau melawak atau bagaimana?

Entah apa maksud dan tujuan Partai Amanat Nasional memasukkan nama mereka. Sekadar iseng, cari sensasi, ikut meramaikan pemberitaan di media, atau apa?

Gak masuk dalam hitungan banyak orang, atau dengan kata lain pasangan ini nyaris mustahil terdaftar namanya dalam Pilkada DKI 2017 nanti.

Bagaimana dengan kader-kader dari Partai Gerindra yang ada saat ini? Sama juga atau belum level lawan Ahok. Kader partai lain, misalnya Tantowi Yahya dari Golkar? Tidak jauh berbeda. Bagaimana dengan Adhyaksa Dault? Sudahlah.

Bukannya tak respek terhadap mereka yang namanya disebut di atas tadi, tapi menurut perhitungan atau logika yang sehat, mereka bukan lawan terberat Ahok.

Apakah Ridwan Kamil yang bisa menjadi saingan terberat Ahok seperti kata sebagian pengamat politik? Atau Risma ya Wali Kota Surabaya itu? Masih tidak termasuk lawan terberat Ahok di Pilkada DKI 2017 nanti.

Bukan Deasy Ratnasari, Eko Patrio, Tantowi Yahya, Adhyaksa Dault, Ridwal Kamil, Risma atau lainnya yang menjadi lawan terberat Ahok, tapi dirinya sendiri.

Dari dulu pun sudah ada cukup banyak pihak yang mengatakan lawan terbesar atau lawan terberat dalam hidup ini adalah dirimu sendiri. Hal ini berlaku di mana saja, bukan hanya terkait dengan Pilkada DKI 2017, tapi dalam segala hal. Sepertinya tak perlu dijelaskan panjang dan lebar tentang hal ini. Justru lebih menarik untuk melihat ke depannya nanti, apakah ahok mampu mengalahkan dirinya sendiri.

Atau ia lupa diri sehingga tak sadar dikalahkan dirinya sendiri yang merupakan lawan terberat Ahok. Mungkin juga kesialan yang datang tanpa diduga bisa mengalahkan Ahok di Pilkada DKI 2017 nanti, dan sial bisa menimpa siapa saja.

Lawan terberat Ahok bisa juga datang dari orang-orang yang ada di sekitarnya yang selama ini terlihat sebagai teman yang bisa dan layak dipercaya, tapi pengkhianatan bukan cerita baru di dunia politik.

*Sumber gambar: youtube.com.


Presiden Jokowi Membebek, Benar atau Ngawur?

Presiden Jokowi Membebek, Benar atau Ngawur?

Presiden Jokowi Membebek, Benar atau Ngawur?

Adahati.com – Sebelumnya Fahri Hamzah melontarkan kritik kerasnya kepada Presiden Jokowi terkait kereta cepat Jakarta Bandung. Alon-alon asal kelakon, salah alamat, bukan kereta cepat, tapi kereta lambat adalah rangkuman dari kritik keras Fahri tadi di sini – Mainan Baru Presiden Jokowi Menurut Fahri Hamzah.

Ada lagi sebuah organisasi yang menamakan dirinya GPN (Gerakan Pemuda Nasantara) yang bersuara keras terkait kereta cepat Jakarta-Bandung itu. Kalau nama Fahri Hamzah cukup sering terdengar. Media massa pun tak sedikit yang mengutip pernyataan, komentar atau kritik pedasnya kepada pemerintah. Tapi kalau GPN tadi siapa? Sejak kapan terbentuk organisasinya?

Menurut pernyataan dari Sekjen DPP GPN tadi, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung antara lain seperti ini:

  • Penggunaan dana BUMN pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung itu akan sia-sia, selain kerugian yang akan timbul nantinya di kemudian hari.
  • Proyek tersebut dinilainya sebagai kebijakan yang diskriminatif, karena di luar Jawa, khususnya Indonesia bagian timur pembangunannya masih jauh tertinggal.
  • Curiga proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menjadi pengumpulan “pundi-pundi” persiapan agenda politik 2019.

Namun pernyataannya yang membuat tercenung adalah, “Siapa sebenarnya Rini Soemarno sampai Jokowi bertekuk lutut dan membebek tanpa reservasi?” (*).

Membebek? Presiden Jokowi membebek? Kasarkah kata “membebek” yang diucapkan oleh Sekjen DPP GPN tadi? Bisa kasar, bisa juga tidak atau biasa saja.

Ahok ngomong “bajingan” pun tidak semua pihak menganggapnya kasar. Justru tidak sedikit pihak yang mendukungnya. Memang pantas kalau koruptor atau orang-orang yang brengsek itu disebut bajingan. Malah ada sebagian pihak yang merasa kecewa karena Ahok sudah tidak pernah lagi atau sudah cukup lama tidak menyebut kata “bakingan” yang aduhai tadi karena ada alasannya.

Kalau alasan Sekjen DPP GPN melontarkan kata “Presiden Jokowi membebek” tadi? Rupanya ia heran, karena menurutnya Presiden Jokowi mengikuti saja setiap kemauan Menteri BUMN Rini Soemarno. Tapi benarkah Presiden Jokowi membebek?

Kalau tidak benar, berarti tuduhannya tidak beralasan, asbun (asal bunyi) atau ngawur.

*Sumber gambar: youtube.com.


Mainan Baru Presiden Jokowi Menurut Fahri Hamzah

Mainan Baru Presiden Jokowi Menurut Fahri Hamzah

Mainan Baru Presiden Jokowi Menurut Fahri Hamzah

Adahati.com – Fahri Hamzah kembali bersuara keras terkait kebijakan pemerintah, dan menurutnya kereta cepat Jakarta-Bandung adalah mainan baru Presiden Jokowi.

Kita ini bangsa yang alon-alon asal kelakon, biar lambat asal selamat. Jadi secara konseptual, kultur, dan teknis, kereta cepat Jakarta-Bandung itu salah alamat.

Kemudian Fahri menambahkan kritik kerasnya tadi. Menurutnya kereta cepat Jakarta-Bandung bukan kereta cepat lagi, tapi kereta lambat. Jarak Jakarta-Bandung sekitar 142 km, sedangkan kemampuan berlari kereta tersebut bisa mencapai 350 km/jam, tapi karena harus berhenti di empat stasiun kecepatannya pun tidak maksimal.

“Jadi, kereta itu akan jalan lagi 35 kilometer, stop, jalan lagi, 35 kilometer stop lagi, dengan jarak itu sama saja dengan kereta lambat. Jadi buat apa?” kata Fahri di sini.

Alon-alon asal kelakon, salah alamat, bukan kereta cepat, tapi kereta lambat adalah rangkuman dari kritik keras Politikus PKS Fahri Hamzah di atas tadi. Bukan hanya itu saja, Fahri pun mengharapkan jangan sampai ada dugaan bahwa kereta cepat itu menjadi mainan baru Presiden Jokowi. Ia pun menghimbau agar pemerintah mengkaji ulang dan mengembalikan visi poros maritim dalam pemerintahan.

Mainan baru Presiden Jokowi? Meski menurut Fahri “jangan sampai ada dugaan”, tapi kata “mainan baru Presiden Jokowi” itu cukup menarik, dan sempat menimbulkan pertanyaan, apa maksudnya Fahri dengan mainan baru itu? Memang cukup banyak mainan untuk anak kecil, seperti mobil mobilan, motor motoran, sepeda sepedaan, kereta keretaan, dan seterusnya.

Presiden sebelumnya pun – BJ Habibie – oleh sebagian pihak pernah dikritik pula karena memiliki mainan mahal pesawat terbang. Entah berapa banyak dana yang dialokasikan untuk mainan pesawat terbangnya itu, namun hasilnya cenderung kurang memuaskan, bahkan sempat diberitakan pesawat terbang tersebut ditukar dengan beras ketan item dari Thailand.

Apa maksud politikus PKS Fahri Hamzah mengatakan mainan baru Presiden Jokowi tadi? Apakah nantinya akan sia-sia juga seperti mainan pesawat terbang mantan Presiden BJ Habibie sekian tahun silam?

*Sumber gambar: youtube.com.


JK Tersinggung atas Saran Mantan Presiden BJ Habibie?

JK Tersinggung atas Saran Mantan Presiden BJ Habibie?

JK Tersinggung atas Saran Mantan Presiden BJ Habibie?

Adahati.com – Gonjang-ganjing konflik internal Partai Golkar masih terus berlangsung sampai saat ini. Kemarin ada pernyataan yang sama, yaitu baik Ical maupun Agung Laksono tidak akan mencalonkan diri lagi jika Munaslub Partai Golkar akhirnya jadi digelar. Pun diharapkan ketua umum yang baru nanti dapat memersatukan kembali kader-kader partai yang selama ini terpecah belah.

BJ Habibie sebagai salah satu tokoh senior menyarankan agar calon ketua umum Partai Golkar nanti berasal dari generasi muda dengan rentang umur 40-60 tahun.

Sementara JK tokoh senior Partai Golkar lainnya tidak setuju dengan saran BJ Habibie tadi. “Bukan soal umur, soal kemampuan, dan bisa diterima,” katanya di sini.

Penolakan JK atas dikotomi umur ini, apakah secara langsung atau tidak langsung bentuk ketersinggungannya atau JK tersinggung atas saran BJ Habibie tadi?

Saran dan harapan BJ Habibie terkait dengan regenerasi di tubuh Partai Golkar tadi sebenarnya bukan hal yang baru. Saat Pilpres 2014 yang lalu ia pun pernah mengatakan hal yang sama, yaitu calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia sebaiknya dari generasi muda dan berumur antara 40-60 tahun.

“Sukarno itu 44 tahun. Presiden kedua Soeharto itu 45 tahun. Setelah itu, ketiga saya sudah lewat masa muda. Sebagai orangtua saya menyesal kalau tidak memberikan toleransi kepada yang muda untuk berkembang,” kata BJ Habibie di sini.

Saran dan harapan BJ Habibie tadi hanya terpenuhi setengahnya saja. Jokowi memenuhi kriteria umur 40-60 tahun, tapi JK sudah berusia 72 tahun masih menjabat wakil presiden, dan salah satu alasan tim sukses waktu itu adalah JK bisa mendulang suara yang cukup banyak dari Indonesia bagian timur.

Tapi benarkah JK tersinggung karena Habibie kembali mengulangi saran dan harapannya terkait dengan regenerasi tadi?

Entahlah, mungkin JK tersinggung atau sebaliknya. Mungkin juga JK memiliki pertimbangan lain. Misalnya belum ada kader muda yang bisa memersatukan Partai Golkar yang saat ini sedang terpecah belah karena konflik internal yang masih berlarut-larut hingga saat ini.

*Sumber gambar: youtube.com.


Fahri Hamzah Ribut dengan Anggota KPK di Gedung DPR

Fahri Hamzah Ribut dengan Anggota KPK di Gedung DPR

Fahri Hamzah Ribut dengan Anggota KPK di Gedung DPR

Adahati.com – Beberapa hari yang lalu anggota KPK ditemani oleh anggota Brimob bersenjata melakukan penggeledahan terkait kasus dugaan korupsi yang melibatkan kader PDIP, Damayanti Wisnu Putranti. Selanjutnya Fahri Hamzah ribut atau terjadi keributan antara Fahri Hamzah dan anggota KPK tadi di gedung DPR.

Fahri Hamzah menjelaskan keributan tersebut kepada pimpinan DPR. Setelah menerima penjelasan dari Fahri rencananya minggu depan Kapolri dan pimpinan KPK akan dipanggil oleh DPR untuk ditanyai lebih lanjut terkait masalah ini.

Sebenarnya “Dipanggil” atau “Diundang”?. Judul berita yang ada di sini menulis kata “Panggil”, sementara Ketua DPR RI Ade Komarudin mengatakan, “Kami pimpinan fraksi dan dewan bersepakat akan segera mengundang Kapolri dan pimpinan KPK untuk klarifikasi penggeledahan di ruang kerja anggota DPR.”

Selain Kapolri dan pimpinan KPK, juga Panglima TNI dan Kepala BIN dipanggil, diundang atau apalah istilahnya. Kalau memanggil konotasinya cenderung lebih keras. Yang dipanggil pun kemungkinan besar akan datang. Sementara kalau mengundang, terserah orang yang diundang, mau datang atau sebaliknya.

Mungkinkah ada “penghalusan kata atau bahasa” di sini? Seperti “utang”, dihaluskan menjadi “bantuan luar negeri”, atau kata “pelacur” yang sudah beberapa kali mengalami penghalusan, dan terakhir menjadi “Pekerja Seks Komersial (PSK)”.

Entah masih ada penghalusan kata lagi atau tidak nantinya. Saking halusnya bisa saja jadi lucu atau janggal. Misal, politisi yang menjadi Anggota Dewan seharusnya berpolitik demi kepentingan rakyat, bukannya sibuk mencari proyek atau melacurkan diri demi uang. Namun jangan katakan Anggota Dewan tersebut adalah “Pelacur Politik”, tapi sebaiknya sebut saja “Pekerja Seks Komersial Politik”.

Kembali bahas masalah di atas tadi setelah Fahri Hamzah ribut, kemudian Kapolri, pimpinan KPK, Panglima TNI dan Kepala BIN akan dipanggil atau diundang.

Kita lihat saja minggu depan nanti, apakah pejabat- pejabat negara tadi datang atau tidak ke gedung DPR untuk klarifikasi penggeledahan yang berujung Fahri Hamzah ribut atau terjadi keributan antara Fahri Hamzah dan anggota KPK di gedung DPR.

*Sumber gambar: youtube.com.


Reshuffle Jilid Dua akan Ada Dua Menteri Diganti?

Reshuffle Jilid Dua akan Ada Dua Menteri Diganti?

Adahati.com – Ada sebuah saran terkait desakan terus menerus dari politisi PDIP agar Presiden Jokowi melakukan reshuffle jilid dua dan mengganti Menteri BUMN Rini Soemarno, atau merotasi posisinya dari Menteri BUMN menjadi Menteri Perdagangan.

Megawati Soekarnoputri sendiri secara terang-terangan di Rakernas PDIP kemarin di depan para pejabat tinggi dan politisi dari berbagai partai politik mengkritik peran BUMN yang dinilainya tidak sesuai dengan fungsi utama karena perusahaan pelat merah saat ini sudah tak mampu lagi menjadi sokoguru perekonomian nasional.

“Sekarang diperlakukan seperti korporasi swasta. Mengedepankan bisnis semata sebagai pendekatan business to business,” katanya.

Jauh hari sebelumnya sebuah informasi mengatakan ia pernah mengirim surat kepada Presiden Jokowi yang isinya ingin jabatan menteri BUMN diganti. Presiden Jokowi pun membalas surat tersebut dan setuju, namun dengan catatan, Rini Soemarno tetap berada di kabinet, hanya posisinya digeser dari Kementerian BUMN.

Masih adakah pimpinan kementerian lain yang diperkirakan kemungkinan besar akan ada pergantian pada reshuffle jilid dua nanti?

Pada masa Pilpres 2014 yang lalu media “Obor Rakyat” sempat menyerang dan memfitnah Jokowi. Namun salah satu mantan redaktur majalah tersebut – Darmawan Sepriyossa –  malah diundang sebagai pembicara dalam acara pelatihan menulis di Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Sebelumnya kebijakan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi yang menilai dan membuka rapor kementerian/lembaga kepada publik mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Meski Presiden Jokowi sudah mengatakan “Saya sampaikan, yang menilai kinerja menteri adalah presiden. Itu prinsip. Saya ulang, saya ingin sekarang ini menteri terus bekerja,”, tapi tak lama kemudian Yuddy Chrisnandi memberikan pernyataan (bawa-bawa nama konstitusi pula) seperti ini:

“Berdasarkan peraturan perundang-undangan, pelaksanaan evaluasi akuntabilitas kinerja instansi pemerintah adalah tugas konstitusional Kementerian PAN-RB.”

Diperkirakan pada reshuffle jilid dua nanti sedikitnya ada dua menteri yang akan dicopot dari jabatannya, yaitu Menteri BUMN dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Namun perkiraan ini masih bisa salah.

*Sumber berita merdeka.com, sumber gambar: youtube.com. 


Menteri BUMN Rini Soemarno akan Diganti?

Menteri BUMN Rini Soemarno akan Diganti?

Adahati.com – PDIP kembali ingin membentuk opini masyarakat lewat pernyataannya bahwa Menteri BUMN Rini Soemarno akan terkena reshuffle atau dicopot dari jabatannya dengan alasan sesuai rekomendasi Panitia Khusus PT Pelindo II.

Menurut hasil temuan Pansus, Menteri BUMN Rini Soemarno telah melakukan pelanggaran terhadap undang-undang.

PDIP pun sudah menyiapkan nama yang akan direkomendasikan kepada Presiden Jokowi. “Kalau preferensinya PDI-P sudah ada di sakunya Ibu Ketua Umum (Megawati Soekarnoputri). Jangan disebutkan sekarang, nanti orangnya bisa GR (gede rasa),” kata Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno.

Mengapa selama ini kesannya PDIP ngotot agar Menteri BUMN Rini Soemarno diganti? Jawaban mudahnya seperti dugaan sebagian pihak selama ini adalah BUMN merupakan ladang basah yang bisa menjadi lumbung uang bagi partai politik yang menempatkan kader-kadernya di sana sebagai Menteri dan staf-staf di bawahnya.

Namun jawaban mudah seperti ini cenderung basi, dan kurang setimpal dengan kengototan PDIP selama ini. Adakah kemungkinan jawaban mudah lainnya?

Ada, sebenarnya PDIP hanya ingin menyingkirkan Menteri BUMN Rini Soemarno dari kabinet, bukan ingin mengangkangi BUMN. Perseteruan antara Megawati dan Rini adalah pemicunya, apalagi Megawati diduga orang yang tidak mudah melupakan sakit hatinya, bercermin pada perseteruan antara dirinya dan SBY.

Benarkah? Untuk menguji kebenarannya Presiden Jokowi bisa melakukan trik seperti ini (tentu saja jika Presiden Jokowi bersedia melakukannya).

Saat melakukan reshuffle Presiden Jokowi merotasi Menteri BUMN Rini Soemarno menjadi Menteri Perdagangan (kapabilitas Rini diasumsikan masih mumpuni di pos ini), dan memberikan pos Kementerian BUMN kepada kader PDIP.

Masih ngototkah PDIP? Jika tidak, berarti benar, PDIP hanya mengincar jabatan Menteri BUMN, tapi jika masih mencari-cari kesalahan Menteri BUMN Rini Soemarno, maka dugaan di atas tadi yang benar (Megawati sakit hati terhadap Rini).

Tapi sekali lagi Presiden Jokowi yang memiliki hak prerogatif untuk mengganti atau merotasi menteri, termasuk melakukan semacam trik atau uji coba seperti usulan tadi terkait kengototan PDIP yang terus menerus menyerang Menteri BUMN Rini Soemarno.

*Sumber berita, sumber gambar: youtube.com.


Benarkah Presiden Jokowi Tidak Tegas Terkait Reshuffle?

Benarkah Presiden Jokowi Tidak Tegas Terkait Reshuffle?

Benarkah Presiden Jokowi Tidak Tegas Terkait Reshuffle?

Adahati.com – Isu reshuffle kabinet semakin kuat berhembus belakangan ini. Beberapa pengamat politik pun cukup yakin tak lama lagi akan menjadi kenyataan.

Presiden Jokowi tidak tegas jawabannya saat ditanya oleh wartawan mengenai isu reshuffle tadi kapan akan dilakukan. “Bisa bulan 1, bulan 2, bulan 3, bulan 4, terus,” katanya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (8/1/2016).

Tidak tegas? Memang benar Presiden Jokowi tidak tegas, kata haters. Jawabannya cenderung plintat-plintut. Menentukan kapan dilakukan reshuffle saja tidak tegas.

Para lovers pun membantah. Presiden Jokowi tidak tegas hanya menurut pendapat sebagian pihak yang selama ini suka nynyir saja. Presiden Jokowi bukan tidak tegas, tapi menjaga keharmonisan yang ada di kabinet sekarang ini. Misalnya Presiden Jokowi mengatakan bulan ini juga, pernyataannya itu hanya meresahkan saja.

Dibantah lagi oleh haters. Hanya alasan saja demi menjaga keharmonisan yang ada di dalam kabinet, tapi pada dasarnya memang Presiden Jokowi tidak tegas.

Dibantah lagi, kemudian dibantah lagi, akhirnya terjadi saling bantah dan melebar ke mana-mana. Awalnya berkait dengan reshuffle kabinet atau pergantian menteri, tapi masalah lain pun ikut disinggung dan dibawa-bawa.

Baik haters maupun lovers tetap yakin dengan pendapatnya masing-masing dan saling ngotot pula, kemudian ribut yang tak jelas juntrungannya. Lebih mengenaskan lagi ributnya tidak berkaitan dengan reshuffle atau pergantian menteri.

Padahal masalahnya sederhana saja, yaitu ada atau tiada reshiffle kabinet atau pergantian menteri merupakan hak prerogatif presiden. Presiden tidak melakukan reshuffle dan kinerja kabinetnya tidak memuaskan sasaran tembaknya tetap presiden.

Reshuffle kabinet atau pergantian menteri pun dilakukan tapi beberapa bulan kemudian kinerja kabinet yang ada tetap tidak memuaskan, presiden juga yang menjadi sasaran tembaknya, atau dengan kata lain ada atau tiada reshuffle, Presiden Jokowi tetap berpotensi menjadi sasaran kritik, entah berupa tidak mampu menjalankan roda pemerintahan, Presiden Jokowi tidak tegas, plintat-plintut, dan seterusnya.

Presiden Jokowi tegas atau Presiden Jokowi tidak tegas sebenarnya tidak terlalu penting dibanding hasil kinerja kabinetnya, entah ada atau tiada reshuffle kabinet.

Sumber berita, sumber gambar: youtube.com.


Hary Tanoe Sedang dalam Masalah Saat Ini?

Hary Tanoe Sedang dalam Masalah Saat Ini?

Adahati.com – Kejaksaan Agung rencananya akan memeriksa Setya Novanto minggu depan sesuai perintah Jaksa Agung baru-baru ini, tapi rupanya masih ada agenda lain atau tokoh politik yang akan diperiksa, yaitu Hary Tanoe, salah satu pendukung capres Prabowo-Hatta pada Pemilu 2014 lalu, meski waktunya belum ditentukan.

Pemeriksaan ini menyangkut kasus dugaan korupsi terkait restitusi pajak PT Mobile 8 Telecom sewaktu masih dimiliki Hary Tanoe.

“Siapapun yang terlibat dan mengetahui soal kasus ini pasti akan dipanggil,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, Maruli Hutagalung, namun Hary Tanoe belum tersangka, masih menjadi saksi dalam kasus ini.

Mengapa baru sekarang? Sedangkan kasusnya terjadi pada tahun 2007-2009 silam. Apakah karena Hary Tanoe pernah mengritik Presiden Jokowi?

Tanggal 25 Desember 2015 Hary Tanoe pernah mengritik keras Presiden Jokowi, yaitu: 1) Revolusi mental yang menurut Hary Tanoe harus dimulai dari atas, 2) Penegak hukum seharusnya tegas pada kasus pembakaran hutan kemarin, dan menindak pihak yang melakukan pembakaran hutan, 3) Kondisi ekonomi belum membaik di era Presiden Jokowi, dan 4) Pemerintah harus mangkaji ulang pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) karena masyarakat belum siap menghadapinya.

Sekitar dua minggu setelah Hary Tanoe melancarkan kritiknya tadi, Kejaksaan Agung memberikan sinyal akan memeriksanya. Meski baru sebagai saksi, tapi tidak tertutup kemungkinan statusnya akan ditingkatkan menjadi tersangka.

Adakah nuansa politis di dalamnya? Sulit menghindari dugaan seperti itu. Ke mana saja Kejaksaan Agung selama ini? Memang benar tahun 2007-2009 bukan masa pemerintahan Jokowi-JK, tapi seharusnya Kejaksaan Agung tidak terpengaruh siapa pun pihak yang sedang berkuasa kemarin, hari ini atau lusa nanti.

Dugaan adanya nuansa politis ini pun semakin kuat mengingat Koalisi Merah Putih sudah lemah. Nyaris tinggal Partai Gerindra, plus PKS yang katanya masih setia.

Jika benar ada nuansa politis diangkatnya kasus dugaan korupsi terkait restitusi pajak PT Mobile 8 Telecom, dan mengingat Koalisi Merah Putih sudah lemah posisinya, maka pemerintahan Jokowi-JK mungkin saja suatu saat nanti cenderung otoriter. Siapapun yang mengritik akan dicari kesalahannya seperti yang terjadi pada Hary Tanoe.

Sumber 1Sumber 2


Benarkah Ahmad Dhani Masih Kuat?

Benarkah Ahmad Dhani Masih Kuat?

Adahati.com – Siapa yang tak kenal Ahmad Dhani? Grup band Dewa 19 bisa kuat bertahan lama (1996-2008) karena tidak sedikit lagu-lagu ciptaannya yang menarik.


PKS Bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka

PKS Bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka

Adahati.com – Sejumlah petinggi PKS bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta hari Senin (19/12/15) kemarin.

Mengingat selama ini PKS merupakan salah satu partai oposisi atau bagian dari Koalisi Merah Putih, maka tidak sedikit pihak yang merasa heran dan bertanya, ada apa ini?

Jauh hari sebelumnya pun sejumlah petinggi PAN bertemu dengan Presiden Jokowi. Setelah pertemuan itu elit PAN memberikan pernyataan basa basi (perbaba).

PKS seperti halnya PAN setelah bertemu dengan Presiden Jokowi pun membantah ada semacam transaksi politik, tapi sekadar silaturahmi saja. perbaba dari elit PKS seperti ini. “Enggak, kami silaturahmi saja. Betul-betul tidak ada transaksi apa pun, cuma membangun silaturahmi,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PKS di sini.

Belakangan ini pun perbaba sering bermunculan. Contoh, ketika Setya Novanto mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPR RI ada perbaba seperti ini. “Demi masa depan bangsa kita, maka saya sudah menyatakan, saya mengundurkan diri,”. Selain itu, “Saya menyadari, ini juga demi kecintaan saya kepada masyarakat Indonesia di dalam tugas-tugas saya selama ini menjadi pimpinan DPR,” katanya di sini.

Contoh perbaba lainnya. RJ Lino diberhentikan dari jabatannya oleh para pemegang saham dengan alasan guna menghadapi kasus hukum yang ada di KPK.

RJ Lino pun memiliki perbaba di sini. Selain berharap para karyawan tetap bekerja keras, mendukung boss baru, gonjang-ganjing yang ada saat ini berakhir, ia pun mengatakan, “I will always remember my time in IPC hundreds years from now, I love you all.”

Seperti itulah contoh perbaba yang berkait dengan politik.

Namun sila saja jika masih ada sebagian pihak yang merasa kagum, air mata pun jatuh berlinang, setelah ada perbaba dari elit PAN dan PKS setelah bertemu dengan Presiden Jokowi, atau Setya Novanto yang mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPR RI dan RJ Lino yang diberhentikan dari jabatan Dirut PT Pelindo II.

Entah siapa yang mengatakan bahwa basa-basi hal yang lumrah di negeri ini.

Sudah biasa.

Sumber gambar: youtube.com.


Ketua DPR RI Setya Novanto Menyatakan Dirinya Mundur

Ketua DPR RI Setya Novanto Menyatakan Dirinya Mundur

Adahati.com – Ketua DPR RI Setya Novanto telah mengirimkan surat yang menyatakan dirinya mundur dari jabatannya menjelang keputusan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) berkait kasus “Papa Minta Saham”.

Komentar dari Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan seperti ini. “Saya kira itu keputusan terbaik, untuk semua keadaan ini jadi lebih tenang,”  [1], sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) seperti ini. “Menurut saya, itu cara yang baik, tapi sedikit telat. Seharusnya mundurnya minggu lalu, tetapi okelah, baguslah, karena bagaimanapun, mundur atau tidak, akan dimundurkan,” [2].

Pernyataan JK “Seharusnya mundurnya minggu lalu” ini cukup menarik. Dianalogikan seperti orang yang sedang bermain catur. Mengingat posisi buah caturnya sudah kalah dan terdesak, seharusnya Setya Novanto sudah menyerah beberapa langkah sebelumnya.

Tapi menurut Ketua DPR RI Setya Novanto masih ada kesempatan menang atau setidak-tidaknya remis, meski posisi buah caturnya sudah kalah dan terjepit. Maka dari itu, ia tetap terus berjuang dan memanfaatkan keunggulan pion yang dimilikinya. Pion-pion itu diibaratkan anggota MKD yang selama ini masih berpihak kepadanya.

Beberapa saat sebelum mengundurkan diri nyaris tujuannya tercapai. Hal ini bisa dilihat dari komposisi anggota MKD yang berpihak kepadanya masih sedikit unggul atau minimal hasil remis akan diperolehnya, tapi sayang pion-pion itu akhirnya tumbang satu persatu.

Tumbangnya pion-pion yang tadinya diharapkan bisa menghasilkan sebuah kemenangan atau setidak-tidaknya remis itu akhirnya membuat Setya Novanto pun putus asa.

Berkait suara-suara miring yang mengatakan seharusnya Setya Novanto mengundurkan diri sebelum sidang MKD dilakukan, bukan saat posisinya sudah tertekan seperti sekarang ini adalah pendapat yang kurang tepat. Setya Novanto sudah memberikan perlawanan yang cukup ketat, dan berjuang semampunya untuk tetap menjabat Ketua DPR RI, sebuah jabatan yang cukup penting dan strategis di negeri ini.

Namun berbagai upaya taktik yang selama ini dimainkannya tak berhasil jua, dan mengingat satu langkah lagi Rajanya terkena skak mat, Ketua DPR RI Setya Novanto pun menyerah kalah atau mengundurkan diri. Hal yang wajar, atau biasa saja keputusannya itu.

Ia sudah berusaha keras memberikan perlawanan, meski posisinya cenderung kalah. Hanya keunggulan pion dan taktik yang dimainkannya tidak menghasilkan sebuah kemenangan atau setidak-tidaknya remis seperti yang diharapkannya.

Sumber gambar: youtube.com.


Kasus Papa Minta Saham dan Langkah Setya Novanto

Kasus Papa Minta Saham dan Langkah Setya Novanto

Kasus Papa Minta Saham dan Langkah Setya Novanto

Adahati.com – Kasus Papa Minta Saham cenderung akan diselesaikan secara politik, bukan hukum. Meski nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla diduga telah dicatut oleh Setya Novanto berkait perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia, tapi sampai saat ini pihak kepolisian tidak menerima laporan pengaduan dari Presiden Jokowi maupun Wapres Jusuf Kalla karena merasa dirugikan namanya telah dicatut.

Kecenderungan kasus Papa Minta Saham diselesaikan secara politik, bukan hukum ini pun pernah dikatakan oleh Luhut Binsar Panjaitan.

“Kita tidak ada waktu untuk ambil langkah hukum,” katanya di sini.  

Nah, pihak istana tidak akan mengambil langkah hukum, dan yang mengatakan adalah Menko Polhukam (Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan).

Setya Novanto pun pernah mengatakan tidak akan melaporkan Sudirman Said ke polisi. “Tidak, saya tidak akan melaporkan. Semua, saya tentu memaafkan yang sudah-sudah,”.

Tapi hari Rabu (9/12/2015) kemarin melalui pengacaranya Setya Novanto melaporkan Sudirman Said ke Badan Reserse Kriminal Polri atas tuduhan dugaan tindak pidana fitnah, pencemaran nama baik, penghinaan, dan pelanggaran UU ITE.

Tidak sedikit pihak yang mengecam langkah yang diambil oleh Setya Novanto ini, padahal langkah politikus Partai Golkar ini ada sisi baiknya. Publik diingatkan kembali bahwa masih ada Undang-undang atau pasal yang berkesan karet, abal-abal, dan sejenisnya.

Pasal pencemaran nama baik dan UU ITE termasuk “pasal karet”, dan digunakan oleh Setya Novanto untuk melaporkan Sudirman Said. Maka dari itu, seharusnya publik berterimakasih kepada Setya Novanto, dan pihak yang tidak setuju dengan “pasal karet” ini bisa mendesak pemerintah dan DPR agar ditinjau ulang, diperbaiki atau dihilangkan saja.

Demikianlah sisi baik dari langkah Setya Novanto tadi, tapi menurut Ruhut Sitompul sia-sia saja, sebab Sudirman Said memiliki bukti saat melaporkannya ke Mahkamah Kehormatan Dewan berkait kasus Papa Minta Saham, bahkan Ruhut mengatakan, “Itu namanya telmi, telat mikir. Kenapa baru sekarang melaporkan? Mestinya dari awal dong.”

Pasal pencemaran nama baik merupakan delik aduan. Jika, kalau, seandainya Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla suatu hari nanti akhirnya melaporkan Setya Novanto dengan tuduhan itu, publik pun akan teringat kata “telmi” yang diucapkan oleh Ruhut tadi.

Sumber gambar: youtube.com.


Presiden Jokowi Marah atas Kasus Papa Minta Saham

Presiden Jokowi Marah atas Kasus Papa Minta Saham

Adahati.com – Presiden Jokowi marah, bahkan ada yang mengatakan marah besar karena ada dugaan pencatutan namanya yang dilakukan oleh Ketua DPR RI Setya Novanto.

Menurut Presiden Jokowi tidak apa-apa dirinya dikatakan presiden gila, sarap atau koppig, tapi kalau dibilang mencatut, meminta saham, itu yang tidak bisa, kata Presiden di sini.

Sejak Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan Presiden Jokowi marah dengan “Ora Sudi”nya hingga marahnya Presiden Jokowi yang dikatakannya secara langsung jaraknya cukup jauh. Dengan demikian marahnya Presiden Jokowi kali ini diperkirakan karena Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terkesan melindungi Setya Novanto.

Jika MKD tidak seperti itu, apakah tetap saja Presiden Jokowi marah?.

Presiden Jokowi menilai permintaan saham dan pencatutan namanya adalah soal kepatutan, moralitas, dan wibawa negara. Ia tak terima lembaga kepresidenan dimainkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, apalagi ada yang berusaha mencari keuntungan dengan mencatut namanya. Semua ini dikatakan saat Presiden Jokowi marah.

Sebaiknya Presiden Jokowi tak perlu marah, apalagi marah besar. Santai saja, seperti lagu dangdut yang pernah dikumandangkan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama.

Mungkin Presiden Jokowi sedang lelah, syaraf tegang dan otot kejang karena terlalu bekerja keras, sementara investasi asing yang sudah masuk masih belum sesuai target. Ditambah lagi dengan kelakuan MKD yang terkesan melindungi Setya Novanto yang diduga telah mencatut namanya. Akumulasi dari semua itu menyebabkan Presiden Jokowi marah.

Jika ada yang mengatakan wajar saja, dan memang perlu sekali-kali Presiden Jokowi marah masih bisa diterima, tapi jangan sering marah, karena dampak negatif marah itu cukup mengerikan, antara lain stres, tekanan darah tinggi, rentan terhadap peradangan dan nyeri otot, cepat letih, sulit tidur, melemahkan kekebalan tubuh, isolasi sosial, detak jantung lebih cepat, meningkatkan hormon stres, stroke, sakit kepala, masalah pernapasan, sering sakit, cemas, depresi, dan gangguan pencernaan (selengkapnya ada di sini).

Apalagi menurut Teten Masduki marahnya Presiden Jokowi sudah dipendam sejak pagi setelah membaca transkrip percakapan secara utuh antara Setya Novanto, Riza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.

Mengingat masa jabatan Presiden Jokowi masih cukup lama (2019), dan kemungkinan besar masih banyak masalah-masalah yang lebih berat dibanding sekarang ini yang akan terjadi ke depannya nanti, maka sebaiknya Presiden Jokowi jangan terlalu sering marah atau lebih santai menghadapi semua masalah yang ada.

Sumber gambar: youtube.com.