Bukan untuk Memilih Pemimpin Agama

 Politic

Adahati.com – Bukan untuk memilih pemimpin agama, kalimat ini diucapkan oleh Megawati di hadapan kader-kader partai di kantor DPP PDIP, Jakarta (Sabtu, 11/11/17).

Selain mengatakan “bukan untuk memilih pemimpin agama”, Megawati pun antara lain mengatakan sulitnya ia menentukan calon PDIP secara obyektif, bukan karena like and dislike, dan himbauannya untuk tidak memainkan isu SARA.

Mengenai isu SARA, menurutnya PDIP tidak akan melakukan hal itu. Meski kalah, tapi tetap merasa terhormat. “Ketika mengalami kekalahan saya tetap merasa terhormat biar kalah kita tetap melakukan hal positifnya saya berlakukan,” ujarnya.

Saat Megawati mengatakan “bukan untuk memilih pemimpin agama” terkait Pilkada Serentak di atas tadi, sekitar delapan bulan lalu di Pilkada DKI 2017 dan PDIP mengusung pasangan cagub Ahok-Djarot, ia pun pernah mengatakan hal yang sama.

Megawati mengaku merasa mudah memasangkan Ahok dan Djarot karena tidak perlu memerhatikan unsur agama, suku, dan ras. “Yang harus kita katakan pada ibu-ibu yang belum mengerti, sekarang kita bukan pilih pemimpin agama,” ujarnya di Rumah Lembang, Jakarta Pusat (15/3/17).

Bukan untuk memilih pemimpin agama, tapi untuk pemerintahan, PDIP tetap akan berkampanye secara positif, dan jika calon-calon yang diusungnya kalah karena lawannya memainkan isu SARA tetap merasa terhormat.

Kalah tapi terhormat? Frasa ini lebih dulu populer dibanding “bukan untuk memilih pemimpin agama”, tapi di sisi lain Megawati pun menyadari bahwa kekalahan calon-calon PDIP di Pilkada Serentak berpengaruh cukup besar di Pemilu 2019.

Sebelumnya di Pilkada DKI kalah, di Pilkada Banten pun kalah, dan jika calon-calon yang diusungnya di Pilkada Jabar, Jateng, Jatim serta lainnya kalah lagi, apakah artinya Megawati dan PDIP “semakin banyak merasa terhormat”?

Hanya pecundang yang sering kalah. Maka dari itu, sebaiknya Megawati dan PDIP lebih memikirkan strategi dan taktik yang jitu guna menghadapi isu SARA yang kemungkinan besar masih tetap akan dimainkan oleh lawan-lawan politiknya.

Kalah tapi terhormat? Mungkin saja ada pihak lain yang mengatakan “menang adalah segalanya, meski lewat cara apa pun, karena kalah itu menyakitkan”.

Sumber berita: merdeka.com dan sumber gambar: youtube.com.

Related Posts