Amien Rais itu “Sakit” atau Pura-pura “Sakit”?

Adahati.com – Sebenarnya Amien Rais itu “sakit” atau pura-pura “sakit”?

Kata “sakit” di sini artinya bukan secara harfiah seperti sakit flu, pilek, demam, pusing, dan seterusnya. Tapi lebih cenderung memiliki arti “ada yang tidak beres dalam pikirannya” atau “logikanya sudah mulai ngawur” dan sejenisnya.

Pernyataan-pernyataan Amien Rais belakangan ini dinilai oleh sebagian pihak cenderung gazebo (gak zelas bo). Belum lama ia mengatakan “partai setan”, kemudian ada politikus Partai Hanura yang menyebutnya “Politikus Comberan“.

Baru-baru ini pun Amien Rais mengeluarkan pernyataan yang cenderung gazebo lagi. “Kami yakin memang harus 2019 ganti presiden itu sudah unstoppable tidak mungkin dibendung lagi. Nah jadi ini menarik ya,” katanya di sini.

Di mana pernyataan Amien Rais tadi yang cenderung gazebo?

Pertama, siapa yang dimaksud dengan “kami yakin” itu? Apakah jumlah “kami” tadi cukup untuk ganti presiden pada 2019? Kedua, hasrat siapa? Jika maksudnya “hasrat kami”, sekali lagi, memangnya sudah pasti jumlah “hasrat kami” itu cukup untuk ganti presiden? Ketiga, ini menarik ya, kata Amien Rais. Menarik buat siapa?

Amien Rais pun menyinggung soal KPK di sini. “Dan yang kedua, jangan sampai KPK itu jadi Obstruction of Justice ya. Karena digunakan oleh kekuatan politik untuk membidik lawan-lawan politik dicari-cari kesalahannya ini juga aib bin tidak masuk akal.”

Mana contohnya kalau KPK itu pernah menjadi Obstruction of Justice? Kalau hanya sebuah nasihat atau seperti itu, dasarnya apa? Masih ada lagi pernyataan Amien Rais lainnya dalam berita itu, tapi cenderung “lagu lama” yang terus diputar ulang.

Jadi ini tidak menarik ya…

Apakah gara-gara pernyataannya yang cenderung klaim sepihak dan gazebo, lalu timbul kecurigaan bahwa Amien Rais itu “sakit”? Atau pura-pura “sakit”?

Kalau ada sebagian pihak yang mulai curiga Amien Rais itu “sakit” atau pura-pura “sakit”, terserah saja. Siapa yang bisa membendung pikiran orang? Seperti pikiran Amien Rais dengan pernyataan-pernyataannya selama ini. Di sisi lain, sudah biasa politikus itu mengeluarkan pernyataan yang cenderung klaim sepihak dan gazebo.

Contoh klaim sepihak yang masih digunakan sampai saat ini adalah kata “rakyat”.

Rakyat mendukung saya, rakyat tidak setuju dengan adanya tenaga kerja asing, rakyat ingin ganti presiden, dan seterusnya. Rakyat yang mana? Gazebo, gak zelas bo.

Tapi begitulah pernyataan-pernyataan politikus yang senang melakukan klaim sepihak dan gazebo, antara lain tujuannya agar banyak orang tertarik dengan pernyataan-pernyataannya tadi. Maka dari itu, tidak salah jika disebut atau istilahnya “politik caper (cari perhatian)”, bukan “sakit” atau pura-pura “sakit”.

Sebenarnya “politik caper” itu sudah merupakan taktik umum para politikus, tapi sebaiknya jangan terlalu sering atau setiap hari. Nanti banyak rakyat yang muntah.

Rakyat yang mana?

Category: Politic, The Lohmenz InstituteTags: