Stiker Agus-Sylvi Kembali Mengundang Kelucuan?

 Politik

adahati.com – Stiker Agus-Sylvi yang dipasang di rumah Pataresia Tetty (Kamis, 29/12/2016) oleh petugas yang mengaku dari kelurahan sempat mengundang gelak tawa sebagian pihak, setelah pemilik rumah tersebut curhat di akun Facebooknya.

Pataresia Tetty, pemilik rumah tadi akan memilih pasangan cagub Ahok-Djarot, bukan Agus-Sylvi. Sementara petugas perempuan yang mengaku dari kelurahan tadi dan mendata pemilih Pilkada DKI 2017 beralasan sedang menjalankan tugas. Siapa yang memberikannya tugas untuk memasang stiker Agus-Sylvi di rumah warga? Sudah empat hari berlalu, tapi belum jelas juga siapa orangnya.

Ketua KPU DKI Sumarno menanggapi masalah pemasangan stiker Agus-Sylvi tadi mengatakan: “Kan yang di rumah-rumah bisa dikomplain bisa menolak, masak petugas KPU menempel stiker pasangan calon,” katanya di sini.

Ia ada mengatakan “petugas KPU”, padahal Pataresia Tetty di akun Facebooknya hanya mengatakan dirinya didatangi “petugas dari kelurahan”. Apakah “petugas dari kelurahan” sudah pasti adalah “petugas KPU”?

Ketua KPU DKI Sumarno mengaku belum pernah ada kasus warga melaporkan terkait pemaksaan stiker pada saat pilkada. “Memang belum pernah ada yang melaporkan di KPU, kalau warga itu senang dengan penempelan stiker itu enggak ada masalah. Kalau tidak bisa menerima tidak boleh dipaksakan kehendaknya.”

Bukan masalah senang atau tidak senang, tapi apakah petugas dari kelurahan dan katanya sedang menjalankan tugas itu memang dibolehkan memasang stiker cagub di rumah warga? Masih sesuai aturan yang berlaku? Jika simpatisan cagub tertentu minta izin pasang stiker di rumah warga bukan sesuatu yang mengherankan. Ini seorang petugas dari kelurahan, dan sedang menjalankan tugas pula.

Selain itu, sudah jelas Pataresia Tetty di akun Facebooknya mengatakan kalau ketauan Bawaslu bisa dianggap pelanggaran loh.

KPU DKI mendapat dana hibah lebih dari Rp 478 miliar, dan Sumarno sendiri pernah mengatakan sebagian besar dana tersebut digunakan  untuk honorarium petugas dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan hingga TPS.

Atau jangan-jangan Ketua KPU DKI Sumarno belum baca secara keseluruhan curhat Pataresia Tetty di akun Facebooknya terkait pemasangan stiker Agus-Sylvi di rumah warga? Padahal sekarang sudah jaman modern. Tinggal angkat handphone, tanyakan petugas KPU setempat untuk mengetahui masalah sebenarnya, misal siapa nama petugas dari kelurahan itu, siapa yang memberikannya tugas untuk memasang stiker Agus-Sylvi di rumah warga, benarkah ia seorang petugas KPU.

Tidak sampai empat hari rasanya sudah bisa terjawab semua pertanyaan-pertanyaan di atas tadi. Atau baru bertindak setelah ada laporan warga?

Entah lucu atau tidak terkait frasa “baru bertindak setelah ada laporan warga”.

Ilustrasi: kompas.com

Related Posts