Jokowi Menegaskan, Fahri Hamzah Ambil Untung?

 The Lohmenz Institute
Jokowi menegaskan

Adahati.com – Presiden Jokowi menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan KPK dibekukan. Hal ini bermula dari pernyataan anggota Pansus Angket KPK, Henry Yosodiningrat yang mengatakan dari hasil penyelidikan selama ini ada banyak hal di KPK yang harus dibenahi dan pembenahan ini butuh waktu lama.

“Maka, jika perlu, untuk sementara KPK distop dulu. Kembalikan (wewenang memberantas korupsi) kepada kepolisian dan Kejaksaan Agung dulu,” katanya.

Pernyataan anggota Pansus Angket KPK dan politikus PDIP tadi cukup kontroversial mengingat KPK selama ini masih dipercaya oleh rakyat untuk memberantas penyakit akut dan kronis yang sudah berlangsung sejak dulu, apa lagi kalau bukan korupsi.

“KPK sebagai sebuah institusi, yang dipercaya oleh masyarakat, sangat dipercaya masyarakat, ya harus kita perkuat. Harus itu, harus kita perkuat untuk mempercepat pemberantasan korupsi,” kata Presiden Jokowi menegaskan di sini.

Namun meski Presiden Jokowi menegaskan seperti di atas tadi, tidak tertutup kemungkinan ada sebagian pihak yang tersenyum simpul mengingat langkah konkretnya belum jelas seperti apa. Sekadar cuap-cuap saja, atau kembali sedang melakukan sebuah pencitraan?

Pertanyaan di atas tadi biasanya dilontarkan oleh sebagian pihak yang selama ini dikenal sebagai pihak yang anti Jokowi, tapi terlepas dari semua itu, sebenarnya wacana pembekuan KPK yang cukup kontroversial tadi bisa berpotensi lucu.

Pertama, meski Henry Yosodiningrat mengatakannya sebagai anggota Pansus Angket, tapi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dengan cepat menanggapinya bukan merupakan keputusan partai, atau partainya tidak meminta KPK agar dibubarkan atau dibekukan. Seperti biasa, petinggi parpol lainnya pun akan mengatakan seperti itu, bukan hanya PDIP saja.

Masih ingat kasus M Sanusi kader Partai Gerindra yang terlibat kasus korupsi itu? Fadli Zon dengan cepat mengatakan hal itu merupakan kesalahan pribadi, bukan partai atau tidak ada hubungannya dengan partai. Lagu lama, kalau ada kader parpol yang berprestasi diakui sebagai kadernya, tapi kalau terjadi sebaliknya terkesan cepat sekali buang badannya.

Kedua, bukan hanya Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saja yang menanggapi wacana pembekuan KPK tadi, Ketua Pansus Angket KPK, Agun Gunandjar pun menegaskan – selain Presiden Jokowi menegaskan juga, meski beda pernyataan penegasannya – bahwa wacana pembekuan KPK adalah usulan perseorangan, bukan Pansus. Masih terkesan buang badan lagi, entah secara tegas atau setengah tegas.

Ketiga, Fahri Hamzah pun ikut nimbrung, dan terkesan ambil untung. Menurut pendapatnya masyarakat tak perlu khawatir, karena semua ini masih dalam evaluasi. “Enggak perlu takut, sebab KPK bisa diperkuat dengan memperbaiki yang ada di dalamnya, membersihkan dari regulasi yang menyimpang dari aturan…,” begitu antara lain katanya di sini.

Di sisi lain, meski terkesan Fahri Hamzah ambil untung lewat pernyataannya yang cukup menyejukkan tadi, tapi berbeda dengan Hasto Kristiyanto dan Fadli Zon yang pernyataannya secara jelas dan tegas menguntungkan partai tempat ia bernaung selama ini, sedangkan Fahri Hamzah tidak jelas apa partai politiknya saat ini.

Fahri Hamzah pun sempat menyebut model pemberantasan korupsi seperti di Korea Selatan yang menurut pendapatnya lebih sistematis dan menyeluruh.

Apakah artinya sebentar lagi akan ada study banding anggota DPR ke Korea Selatan? Tidak khawatir Kim Jong Un akan melepaskan rudal yang berisi Bom Hidrogen?

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji wacana pembekuan KPK sambil berharap masih beruntung bisa menemukan hal-hal lain yang berpotensi lucu.