Jawaban Presiden Jokowi Lebih Cenderung Perbaba

 PolCat

adahati.com – Jawaban Presiden Jokowi lebih cenderung perbaba terkait isu atau wacana Ahok jadi menteri dalam negeri yang belakangan ini beritanya hangat menghiasi media massa.

Sebelum membahas jawaban Presiden Jokowi yang lebih cenderung perbaba, ada baiknya simak terlebih dahulu pendapat berbagai pihak terkait isu atau wacana tadi.

Pilkada DKI 2017 sudah berakhir dengan kemenangan telak pasangan cagub Anies-Sandiaga, sekaligus memperbesar peluang Prabowo Subianto meraih jabatan Presiden Republik Indonesia, mengacu pada pendapat yang mengatakan Pilkada DKI 2017 merupakan “batu loncatan” untuk Pilpres 2019.

Tak lama setelah Pilkada DKI 2017 berakhir merebak isu atau wacana reshuffle kabinet. “Saya bekerja memang selalu memakai target,” kata Presiden Jokowi dalam Kongres Ekonomi Umat yang diselenggarakan oleh MUI.

Mengenai targetnya terlalu tinggi, itu urusan menteri, dan jika target tadi tidak tercapai jawaban Presiden Jokowi seperti ini: “Kalau memang tidak selesai, pasti urusannya akan lain. Bisa diganti, bisa digeser, bisa dicopot dan yang lain-lainnya. Ya saya blak-blakan saja. Dengan menteri juga seperti itu.” (kompas.com, 22/4/17).

Dari sinilah merebak isu atau wacana reshuffle kabinet, kemudian berkembang lagi dengan adanya isu atau wacana Ahok jadi menteri dalam negeri.

Partai Nasdem cenderung tidak keberatan jika Ahok jadi menteri dalam negeri karena hak prerogratif presiden. Hal yang sama dikatakan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Reshuffle itu hak prerogatif Presiden,” katanya singkat. Sedangkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan: “Karena ini hak prerogatif Presiden, kalau ada ya ditunggu saja, tapi tak usah dibincangkan ya.”

Diperkirakan merebaknya isu atau wacana Ahok jadi menteri dalam negeri ini cukup menghibur para pendukung Ahok yang sedang dirundung sedih karena pasangan cagub Ahok-Djarot kalah telak pada Pilkada DKI 2017 lalu. Memang ada benarnya juga, ketika hati sedang sedih perlu dihibur sejenak dengan pernyataan-pernyataan yang cukup menyenangkan, meski hanya sebatas isu atau wacana.

Namun meski reshuffle kabinet adalah hak prerogatif presiden, ada saja pernyataan dari “si tukang nyinyir” yang satu ini. Walau membenarkan reshuffle kabinet adalah hak prerogatif presiden, menurut Fadli Zon penunjukan Ahok sebagai menteri akan menimbulkan opini Jokowi mendukung Ahok selama ini.

“Kalau menganggap Ahok sebagai yang di rumor itu, ya nanti orang beranggapan Presiden memberikan dukungan kepada Ahok selama ini kan. Silakan saja, tentu dengan segala risikonya, kan?” (detik.com, 25/4/17).

Sebenarnya pernyataan Fadli Zon tadi nyinyir atau cenderung perbaba?

Perbaba (pernyataan basa-basi) entah mengapa senang dilontarkan oleh para politikus. Di tengah merebaknya isu atau wacana Ahok jadi menteri dalam negeri tadi, jawaban Presiden Jokowi pun cenderung perbaba.

“Pak Ahok itu masih gubernur DKI Jakarta sekarang ini, sampai Oktober (2017),” begitu jawaban Presiden Jokowi (kompas.com, 25/4/17).

Bukan iya, bukan juga tidak. Namun meski jawaban Presiden Jokowi cenderung perbaba bisa diambil kesimpulan Ahok jadi menteri dalam negeri kecil kemungkinannya akan terjadi. Juga semakin menguatkan bahwa isu atau wacana tersebut sekadar menghibur hati para pendukung Ahok yang sedang sedih atau gundah gulana.

Menurut pendapat Tante C, daripada sedih atau gundah gulana yang berkepanjangan, lebih baik senangkan hati dengan menikmati Trik dan Problem Catur yang Sederhana.

  • Partai ini merupakan pertandingan antara juara dunia Magnus Carlsen dan Georg Meier di turnamen catur “GRENKE Chess Classic 2017”.
  • Hitam (Magnus Carlsen) baru saja melakukan langkah Bf6-f4.
  • Me4xe5 …… Mg5xMe5
  • Be3xMe5Kd4-f3+

  • Rd2-e3Kf3xBe5
  • Re3xBf4
  • Langkah hitam selanjutnya?

Gens Una Sumus.

Ilustrasi dan sumber berita: kompas.com, chess24.com

Leave a Reply

fifteen − 12 =