Donald Trump Frustrasi, Rusia dan China pun Tertawa

 The Lohmenz Institute

Adahati.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump frustrasi, dan dunia sedang menunggu aksi atau keputusan politik yang akan diambilnya terhadap Kim Jong Un dan Korea Utara.

Beberapa hari lalu (29/8/17) rudal Hwasong-12 berhasil diluncurkan oleh Korea Utara melewati Pulau Hokkaido, Jepang dan jatuh di Samudera Pasifik. Hanya “rudal kosong”, tapi pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un menyambut gembira keberhasilan peluncuran rudal balistik tadi, sementara Donald Trump frustrasi, belum tahu apa yang mesti ia lakukan terhadap Kim Jong Un yang bangor (keras kepala) ini.

Meski Donald Trump frustrasi, tapi ia tidak terlalu khawatir karena Korea Utara hanya berhasil meluncurkan “rudal kosong” saja. Dunia kembali dikejutkan oleh sebuah ledakan yang terjadi kemarin (3/9/17) di lokasi berjarak 22 kilometer dari Sungjibaegam, Korea Utara. Tak lama kemudian Korea Utara mengumumkan keberhasilannya membuat Bom H (Hidrogen) berdaya 100 Kiloton atau lima kali lebih dahsyat dari bom nuklir yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Nagasaki pada Perang Dunia kedua lalu.

Donald Trump frustrasi lagi atau tambah frustrasinya mengingat Bom H tadi bisa dimasukkan ke dalam rudal balistik Korea Utara, artinya rudal Hwasong-12 bukan lagi sekadar “rudal kosong”, tapi sewaktu-waktu bisa berisi Bom H.

Senjata mengerikan berada di tangan orang bangor seperti Kim Jong Un? Wajar Donald Trump frustrasi mengingat pemimpin Korea Utara tadi bisa saja iseng memerintahkan peluncuran rudal balistik yang berisi Bom H ke wilayah Amerika Serikat atau negara sekutunya seperti Korea Selatan dan Jepang. Ratusan ribu nyawa pun melayang, dan hal ini bisa terjadi karena stigma “orang gila” sudah disematkan kepada Kim Jong Un.

Donald Trump frustrasi, tapi Rusia dan China tertawa. Krisis di semanjung Korea ini memang bisa berpotensi lucu, antara lain disebabkan:

Pertama, Amerika Serikat meminta dunia memberikan sanksi ekonomi dan mengucilkan Korea Utara, tapi di sisi lain tahu bahwa ekonomi Korea Utara bergantung pada siapa, karena sekitar 80% nilai ekonomi perdagangan Korea Utara dengan China. Jadi yang dimaksud “dunia” tadi sebenarnya China. Nah, kalau China menolak, mau bilang apa?

Kedua, bukannya membantu krisis yang sedang berlangsung, China dan Rusia justru memperingatkan Amerika Serikat. Menurut Putin sanksi dan ancaman militer tidak akan menolong banyak. “Provokasi, tekanan, retorik ofensif tidak akan membawa kita ke mana-mana,” kata Vladimir Putin di siniDonald Trump frustrasi lagi.

Ketiga, Trump pun menyalahkan sekutunya Korea Selatan yang menurutnya tidak mau mendengar saran dari Washington. “Saya sudah memberitahu Korsel strategi mereka berdialog dengan Korut tidak akan berjalan,” katanya.

Kemitraan dagang dengan Korea Selatan pun sedang dikaji untuk dihentikan. Ujung-ujungnya terkait dengan ekonomi juga, bukan komunisme, agama, kemanusiaan karena rudal balistik berisi Bom H bisa memusnahkan banyak manusia, atau hal lainnya. China pun diam saja atau tidak menolong terkait krisis di semanjung Korea ini karena perdagangannya sedang disulitkan. Entahlah kalau barang-barang China dimudahkan masuk ke Amerika Serikat. Mungkin bisa lain ceritanya, sebab China tinggal sentil kuping Kim Jong Un yang bangor itu langsung patuh pada perintah China.

Keempat, Rusia dan China saat ini tertawa melihat Donald Trump frustrasi, tapi suatu saat nanti mungkin saja ada presiden Amerika Serikat yang bisa berdialog dan memengaruhi Kim Jong Un atau pemimpin Korea Utara berikutnya. Hubungan diplomatik dan perdagangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara pun berjalan baik, bahkan Korea Utara bergantung secara ekonomi dan politik kepada Amerika Serikat, bukan China lagi, atau Rusia. Rudal balistik berisi Bom H Korea Utara pun diarahkan ke Beijing dan Moskwa yang membuat China dan Rusia pun panik.

Kelima, karena kemungkinan keempat di atas tadi bisa terjadi, maka China, Rusia, Amerika Serikat dan sekutunya “menghabiskan” Kim Jong Un atau pemimpin Korea Utara lainnya yang berbahaya dan membahayakan negara mereka. Akhir cerita ditutup dengan kesimpulan yang sederhana seperti biasa, yaitu negara maju tadi itu tidak bodoh, misalnya saling lepas rudal nuklir di antara mereka hanya karena seorang Kim Jong Un atau pemimpin negara terbelakang, maksudnya negara berkembang lainnya.

The Lohmenz Institute masih mencermati dan mengkaji krisis di semanjung Korea yang bukan disebabkan masalah yang berkait dengan komunisme, agama, kemanusiaan atau lainnya, tapi semata masalah politik yang ujung-ujungnya berkait dengan masalah ekonomi juga. Donald Trump frustrasi pun ikut dikaji dan dicermati, karena orang yang sudah frustrasi bisa gila, atau melakukan suatu tindakan yang tak terduga.